
‘Hanya ini satu – satunya cara untuk membuatmu tetap berada disisiku, aku tak peduli dengan orang tuamu yang kini sudah berada ditangan Rendra, Aku ingin memilikimu seorang diri hanya dirimu yang paling berharga setelah kematian kedua orang tua juga kakakku’
“Tapi mengapa kamu sangat membenci Rendra, jangan menyakitinya. Baik aku akan mencobanya menuruti semua kemauanmu. Tapi biarkan aku keluar dari kamar hanya untuk sekedar melakukan aktifitasku seperti biasa, jangan lagi mengurungku” ujar Shita. Ia memang sangat suntuk dan bosan selama ini berada di kamar itu seorang diri.
“Lagi – lagi kamu hanya mementingkan laki – laki bre***ek itu\, baik tapi jangan macam – macam. Aku mengawasimu 24 jam\, ingat itu. Nasib keluarga dan Rendra ada di tanganku. Sekarang kamu boleh istirahat\, kembalilah ke kamarmu” ucap Tomy sedikit meninggiakan suaranya.
Shita pun menuruti apa yang dikatakan oleh Tomy agar semuanya baik – baik saja, begitu pikirnya.
‘Tak apa Shita, tak apa jika kamu mengorbankan dirimu sedikit saja demi mereka. Kamu wanita yang kuat, kamu wanita yang kuat’ gumamnya dalam hati.
Dreett drreettt
“Halo ada apa Arya?” tanya Tomy setelah ia menggeser tombol hijau tepat saat panggilan dari asistennya masuk ke ponsel yang sedari tadi ia genggam.
“Tuan, maaf saya ingin melaporkan jika ayah nona Shita baru saja meninggal”
“Apa? Bagaimana bisa? Hahahah biarkan saja jika seperti itu berarti satu beban sudah hilang. Bagus kerjakan saja rencana kita selanjutnya”
‘Aku tidak akan membiarkanmu mengetahui apa yang terjadi pada keluargamu juga Rendra karena saat ini kamu hanya bisa diancam dengan mereka saja untuk tetap berada disini bersamaku’
Keesokan harinya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tomy, Shita melakukan apa yang ia sukai, memasak dan berkeliling dirumah besar dan mewah Tomy hanya untuk menghilangkan rasa bosan yang menderanya. Shita menghentikan langkah tepat saat ia berada di taman dan memainkan ponsel baru yang diberikan oleh Tomy kemarin.
“Nona, mengapa sendirian disini? Apa nona sudah diberi ijin oleh tuan muda untuk keluar dari kamar?” tanya Rina yang tiba – tiba datang dan duduk di samping Shita.
“Yah begitulah, dia sudah memberiku ijin untuk keluar. Oh ya Rina kamu sudah bekerja disini lama bukan? Bisakah kamu ceritakan padaku bagaimana tuan mudamu juga keluarganya itu?”
“Mmm maaf nona saya tidak bisa mengatakannya karena hal itu di larang oleh tuan muda jika menyebut nama kedua orang tua juga kakaknya” ucap Rina terbata.
“Apa aku terlihat seperti seseorang yang tidak bisa menjaga rahasia? Aku hanya ingin tahu sedikit saja karena dia adalah sahabat lamaku, kita terpisah sudah lama dan tidak pernah berkomunikasi tapi hari ini aku menyadari beberapa hal jika dia memang menyukaiku sejak lama dan dengan bodohnya aku tidak mengetahui apa yang ia rasakan karena aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku sampai detik ini”
Rina tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Shita yang sejak kedatangannya kesana sudah pasti jika wanita itu memiliki hubungan khusus dengan majikannya.
“Maaf, aku hanya ingin berbagi dengan orang lain tentang perasaanku saat ini dan karena kamu adalah orang yang dekat denganku sejak aku datang ke sini maka aku tidak akan sungkan berbagi denganmu, jangan malu padaku jadi berbicara santailah karena sekarang kita sahabat” ucap Shita dengan pelapalan yang sengaja ia buat sesopan mungkin untuk di katakan,
“Bagaimana kita bisa jadi sahabat jika kamu sendiri adalah nyonya dirumah ini sekarang?”
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika aku hanya sahabat majikanmu jadi aku bukan nyonya dirumah ini seperti apa yang kamu katakan dan kita adalah sahabat jadi tidak ada kata tinggi dan rendah dalam persahabatan. Kita sama Rina, aku bekerja dan kamu juga bekerja hanya bedanya kamu disini dan pekerjaanku disana, juga hatiku"
"Memang nona darimana jika saya boleh tahu?" tanya Rina sopan, "Apa kau lupa jika aku mengatakan untuk tidak sungkan padaku? Jadi panggil saja namaku Shita apa kau ingin berkenalan secara resmi? Baiklah, namaku Shita senang bisa berkenalan denganmu dan aku berasal dari Indonesia" ucapnya sambil menjulurkan tangan tersenyum manis menatap Rina yang tiba - tiba saja tertawa karena tingkah Shita. Ia pun tidak menyangka jika ia bisa langsung sedekat ini dengan seseorang yang terbiasa melayaninya.
"Tidak nona, ah maksudku Shita kamu sudah tahu namaku jadi aku tidak perlu mengenalkan diri lagi bukan? Sepertinya aku pernah mendengar sesuatu tentang Indonesia. Ah ya aku baru ingat jika tuan muda pernah belajar di Indonesia" sahut Rina sembari ia menyambut uluran tangan Shita kemudian melepasnya.
"Mengapa kau begitu curang? Ah senang akhirnya aku memiliki seseorang disini. Dan mengapa aku bisa secerewet ini padamu padahal kita baru saja mulai berbicara santai" kata Shita. Ia menghela nafas panjang mengingat betapa agresifnya ia bicara pada wanita yang kini duduk dengan santai bersamanya mungkin karena perbedaan umur mereka tidak begitu jauh membuat mereka lebih cepat akrab.
"Beberapa tahun ini banyak hal yang berubah dari diriku, kehidupanku caraku berbicara bahkan dengan sahabat dekatku sendiri. Aku bisa berbicara santai dengan mereka jika aku sudah benar - benar dekat dengannya tapi denganmu itu tidak berlaku sama sekali entah kenapa sejak kemarin aku merasa sangat sesak dan membutuhkan tempat berbagi. Apa kau tidak keberatan berteman denganku?"
"Sama sekali tidak Shita, karena kita sahabat bagaimana jika kamu menceritakan hidupmu karena aku ingin tahu apa yang sudah sahabatku lalui hingga ia mengatakan banyak hal yang berubah darinya. Kau tidak keberatan kan sahabat baruku?" goda Rina pelan. Ia menyelidik Shita yang mulai menampakkan perubahan pada wajahnya.
"Rina" teriak seseorang yang ternyata adalah Wita yang baru saja datang dari arah samping. "Kamu disini ternyata dan kenapa kamu duduk sejajar dengan calon istri majikanmu sendiri Rina. Ibu sudah mengatakan berulang kali padamu jika kamu tidak boleh seperti itu bagaimana jika tuan muda tahu apa yang kamu lakukan bisa - bisa kita di pecat Rina" keluh Wita yang segera beranjak dari sana dan menyeret anaknya.
"Bibi maaf tapi ini bukan salah Rina, aku yang memintanya untuk disini menemaniku. Sudah sebulan aku sendirian disini walaupun ada banyak orang tapi selalu aku merasa sendiri tidak bolehkah aku memiliki teman bahkan ketika aku merasa tidak ada orang yang berpihak padaku?" kata Shita yang tangannya kini sudah menahan lengan Wita untuk tidak melanjutkan apa yang telah di lakukan oleh wanita paruh baya itu.
"Keluarga ya bi, huhh bahkan aku tidak boleh memiliki keluarga disini selain keluarga yang sudah ku tinggalkan? Aku tidak lagi memiliki siapapun lagi karena semuanya sudah ku tinggalkan untuk membuat mereka bahagia kecuali anak bibi yang baru saja menjadi sahabatku dan mulai hari ini bibi juga Rina adalah keluargaku. Jika Tomy tidak bisa menerimanya aku akan tetap bersikeras untuk menjadikan kalian bagian dari hidupku sekarang. Aku mohon bi biarkan aku berteman dengan Rina hanya untuk saat ini karena aku sangat merindukan keluargaku" ucap Shita sedikit terbata dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
"Nona tidak semudah itu untuk meminta persetujuan tuan muda karena bibi tahu bagaimana dan seperti apa dia. Apa nona tahu jika nona adalah wanita pertama yang dibawa kemari oleh tuan muda dan bibi juga tahu jika nona adalah orang yang dicintai olehnya, tidak boleh ada seorang pun yang dekat dengan orang yang ia cintai maka dari itu nona segera hentikan niat nona untuk mengatakan semua hal yang mustahil untuk di wujudkan" sahut Wita berlalu pergi bersama anaknya.
'Apa aku benar - benar tidak akan merasakan kehangatan keluarga lagi bahkan saat disini? Apa aku benar - benar tidak bisa mengutarakan niatku pada Tomy tapi apa maksud ucapan bibi tadi, mengapa semakin banyak hal yang tidak aku mengerti' gumam Shita dengan pandangan yang masih saja menatap lekat pintu dimana Wita dan Rina menghilang.
---
Jakarta, 13.00 pm.
Tuut tuut tuut
"Rendra, ini kakek nak. Bagaimana keadaanmu didalam sana? Masihkah kamu ingin mengurung dirimu sendiri disana tanpa berniat bangun dan melihat kami. Kakek begitu rindu padamu cucuku" ucap Anton perlahan. Ia menatap dalam wajah Rendra yang masih saja tak berubah bahkan laki – laki itu masih enggan untuk membuka mata walau hanya sebentar.
Tok tok tok
"Ayah" sapa Hendra yang baru saja masuk ke dalan ruang rawat Rendra. "Ada apa Hendra dan mengapa wajahmu seperti itu? Kau mengatakan ada urusan kemarin apa urusanmu begitu mudah dan sudah selesai?”
“Masuklah” kata Hendra, wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam bahkan ketika ia melihat dua orang wanita beda usia memasuki ruangan dimana Rendra di rawat diikuti oleh anak serta istri Hendra.
“Ayah, perkenalkan mereka adalah besanku, keluarga kekasih Rendra yang bernama Shita aku sengaja membawa mereka kesini karena mereka sudah tidak punya siapa – siapa lagi ayah”
“Apa maksudmu Hendra? Kemarilah nak, sapa kakek” ucap Anton yang sedari tadi menatap wajah sendu Nayna. Wanita itu perlahan mendekati Anton dan menyalami tangannya. “Kau benar – benar sopan cantik”
“Ayah aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Mulai hari ini mereka akan tinggal bersama kita hanya sampai Shita di temukan, aku juga sudah berdiskusi dengan keluargaku dan mereka menyetujui apa keputusanku. Mereka sudah tidak memiliki siapapun sekarang karena ayah Shita baru saja meninggal”
“Apa urusan yang kamu katakan pada ayah adalah semua ini?” kata anton yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Hendra. “Maaf jika kakek tidak mengetahuinya cucuku, kakek turut berduka cita. Saya turut berduka cita atas meninggalnya suamimu nak” ucap Anton memeluk Nayna selayaknya ia memeluk cucunya sendiri.
“Kau bisa memanggilku kakek mulai sekarang karena kamu juga adalah cucuku sama seperti Nana, kamu mau kan cantik?” tanya Anton. Nayna yang masih diliputi rasa sedih kehilangan dua orang yang ia cintai merasa beruntung bisa di terima oleh keluarga Rendra bahkan ketika kakaknya belum sah menjadi bagian dari keluarga itu.
“Bu Widya dengar sendiri bukan semua orang sudah setuju dan tidak ada penolakan lagi untuk semua hal ini karena kita sekarang adalah keluarga, ibu bisa berbagi apapun dengan kami” ucap Ratna. Ia kembali memeluk tubuh wanita yang berada di sampingnya yang terlihat sedikit kecil dari yang ia lihat dulu.
“Terima kasih atas kebaikan kalian, Shita begitu beruntung bisa bertemu dengan kalian” sahut Widya balas memeluk Ratna setelah ia mengusap air mata yang sedari tadi jatuh tak dapat ia tahan.
Perlahan setetes air mata jatuh membasahi pelipis dan berakhir tepat di telinga atas Rendra. Kedua matanya yang masih saja terpejam mengeluarkan cairan bening secara tiba – tiba tanpa di ketahui oleh semua orang yang sejak tadi berada disana.
“Tuan, tuan Hendra” panggil Rian yang masih berada di ambang pintu dengan napas yang masih tersengal – sengal.
“Ada apa Rian, mengapa kamu tidak sabaran seperti itu?”
“Maaf tuan, ada yang ingin saya sampaikan sesuatu”
“Mengapa kau begitu lambat untuk memberitahukan semua ini Rian?” teriak Niko dari arah belakang yang diikuti oleh Wisnu juga Riko.
Semua yang berada disana terkejut mendengar teriakan Niko. “Apa kau berusaha menutupi semuanya lagi? Mengapa kau menjadi jahat seperti ini bahkan setelah apa yang sudah Rendra lakukan untukmu?”
“Maaf tuan, saya benar – benar tidak mengerti apa maksud dari perkataan tuan Niko” ucap Rian menundukkan kepala tidak berani menatap wajah sangar Niko.
“Kau masih saja mengelak Rian kita sudah tahu apa yang kamu lakukan selama ini pada Rendra” timpal Riko. Ia melemparkan beberapa foto dimana Rian tengah berada di sebuah stasiun TV juga cetakan foto yang memperlihatkannya tengah berada di ruangan Rendra yang nampak sangat berantakan.