Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 108



“Tuan, maaf jika saya harus memberitahukan ini sebagian besar relasi di perusahaan tuan muda menarik kembali modal yang sudah lama mereka tanam juga para investor asing yang baru saja menandatangani persetujuan kerjasama membatalkan semuanya tuan, harga saham perusahaan anjlok” tutur Rian yang masih berdiri di samping Hendra yang sedang menjaga Ratna yang masih pingsan sejak tadi.


“Bagaimana bisa semua ini terjadi?”


“Saya tidak tahu tuan, belakangan ini banyak hal yang terlewatkan dari pengawasan saya juga asset perusahaan sepertinya telah di curi oleh orang lain”


“Bagaimana bisa, bagaimana bisa perusahaan yang sudah Rendra bangun bisa hancur seperti ini dalam sekejap. Tolong kamu selidiki semuanya, ingat jangan sampai ada yang terlewat lagi. Sekarang kamu pergilah ke ruangan Rendra ajak Niko juga Wisnu agar ia membantumu” ucap Hendra terlihat memijit pelipisnya.


Di dalam ruangan Nana masih saja melakukan pompa jantung pada kakaknya. Dharma yang sejak tadi hanya melihat sekarang pun ikut membantu Nana. Laki – laki itu berharap keajaiban datang pada Rendra.“Kak Rendra, bangun kak Rendra. Nana janji akan mencari Shita tapi aku mohon jangan pergi dulu kak, aku mohon. Aku sudah menghubungi Shita kak, dia akan segera datang bangunlah bangun”


Nana memukul dengan keras dada Rendra tepat dimana jantung Rendra berada.


“Sudah Nana, sudah iklaskan” ucap Dharma menenangkan. Ketiga sahabat Rendra berdiri tak jauh dari keberadaan Dharma yang menahan tangan Nana menangis menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh perempuan yang sejak air matanya begitu deras seakan enggan untuk berhenti dari tempatnya,  disusul Rian juga Desi yang baru saja datang dengan senyum seringai tampak sekali di wajahnya.


‘Mati saja kamu Rendra dengan ini semuanya akan senang dengan kepergianmu maka aku akan bisa menguasai seluruh perusahaanmu bersama Tomy. Tunggu sebentar lagi Rendra, kau akan benar – benar hancur”


Andi dan Nita juga datang setelah selesai memeriksa orang tua Shita dan melihat betapa tak berdayanya laki – laki yang sudah ditinggal oleh Shita satu bulan ini. Tangis semuanya pun pecah ketika tanda pada layar monitor yang terhubung ke jantung Rendra tidak menunjukkan perbedaan hasil.


“Kau bilang iklaskan kak? Iklaskan? Walau kau berkata begitu aku tahu jika kamu juga tidak mau kehilangan kak Rendra bukan, jadi bantulah aku bantu aku menyadarkan kakakku yang bodoh ini” teriak Nana hingga menggema di setiap sudut ruangan.


“Kau mau kehilangan Shita hah? Apa kau tahu Shita begitu mencintaimu, tak lihatkah seberapa besar apa yang ia lakukan hingga mengorbankan kebahagiannya demi melihatmu tidak terpuruk dia diancam oleh seseorang yang ingin menyakiti keluarganya juga dirimu. Ayo cepat bangun, bertahanlah dan selamatkan sahabatku juga kekasihmu” semua orang begitu tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Nana.


Dug dug dug


Lagi dan lagi Nana memukul dengan keras dada Rendra hingga membuatnya jatuh pingsan. Semuanya mendekat ke ranjang melihat Nana yang tergeletak lemah di atas dada Rendra.


Tuuttt tuuutt tuuttt


Dharma melirik layar monitor yang tepat berada di atasnya. Dharma menekan tombol merah yang ada di atas ranjang Rendra yang terhubung langsung dengan Nurse Stasion juga dokter penanggung jawab pasien yaitu dokter Agus.


“Kak Niko tolong jaga Nana, aku akan membantu kak Rendra. Ku rasa dia mulai merespon apa yang dikatakan oleh Nana tadi”


Niko sudah membawa Nana ke sofa yang berbeda di sebelah ruangan Rendra bersama Anna.


“Anna kau jaga disini aku akan memanggil dokter dan memastikan keadaan Rendra”


Dengan cepat Dharma mengambil alat kejut jantung atau defribilator yang ada di pojok ruangan dan mendekatkannya diranjang Rendra. Ia mengecek nadi juga pernafasan Rendra yang tidak kembali namun Dharma yang ingin naik ke ranjang Rendra di cegah oleh Andi.


“Biar aku yang melakukan itu, Nita kamu bantu dokter Dharma memasang alat dan persiapkan semuanya” kata Andi yang kini memompa jantung Rendra sama seperti yang dilakukan Nana.


“DC Shock Siap” ucap Nita.


“Nita kau ambil alih kantong pernafasan, aku yang akan menangani semua ini”


“Ventrikel Takikardi”


tiit tiit tiitt


“Shock”


“Hah hah bagaimana pun kamu harus bertahan Rendra, aku sudah menyerah atas Shita padamu dulu jadi kamu harus bahagiakan dia atau aku akan mencarimu sampai ke neraka sekalipun” ucap Andi di sela – sela ia melakukan pompa pada jantung Rendra.


“2 menit, Dc Shock siap”


“Ventrikel Fibrilasi”


“Shock. Injeksi Epineprin pertama masuk”


“Ayo, bangun bangun aku akan memenggal kepalamu jika kamu tidak bangun banyak orang yang menantimu. Shita menunggu bantuanmu Rendra bertahanlah sekalipun jika nanti semuanya tidak baik – baik saja untukmu tapi ku yakin cinta Shita tidak akan berubah sedikitpun padamu”


Semua yang ada disana terlihat khawatir dengan hasil yang terlihat pada monitor


Tutt tuut tut tuut


“Detak jantungnya kembali dokter Dharma” teriak Nita yang memang ia berada di bawah layar monitor. “Pernafasannya juga kembali” ucapnya lagi hingga membuat semua orang terpaku dengan apa yang ia katakan, begitu juga dokter Agus. Ia bergegas beranjak mendekati ranjang Rendra dan menjauhkan alat kejut jantung yang berada tepat di samping Dharma.


Dharma memeriksa nadi di leher juga tangan Rendra dan memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Nita denyut nadi Rendra telah kembali.


“Hos hos terima kasih kak, terima kasih sudah kembali dan kita semua akan menepati janji kita pulihlah dengan cepat karena kami menantimu” bisik Dharma tepat di telinga Rendra.


“Tuan, biar saya periksa keadaan tuan Rendra” berulang kali dokter Agus mengecek kondisi Rendra juga melihat keadaan mata juga nadi di pergelangan tangan Rendra “Ini kabar yang baik bagi kita semua kondisi tuan Rendra nampaknya sudah kembali. Kita harus memantau keadaan tuan Rendra mulai sekarang kemungkinan untuk ia mengalami TGA sangat besar dan juga akan berpengaruh untuk saraf dimata dimana ia juga akan mengalami kemunduran penglihatan sementara atau bisa saja permanen jika ia tidak sadarkan diri selama 2 hari ini” jelas dokter Agus yang makin membuat semuanya terkejut.


‘Sia**n mengapa dia begitu kembali dengan cepat kenapa tidak mati saja seperti tadi tapi kata dokter tua itu ia kemungkinan akan mengalami kemunduran penglihatan? Hah benar – benar bagus Rendra, bagus sekali’


Brakkkkk


“Apa? Mengapa sampai seperti itu” teriak seorang laki – laki yang begitu asing di telinga semua orang yang ada disana. Mereka terkejut melihat ke arah pintu mendapati pria sepuh membawa tongkat namun masih sangat gagah terlihat.


“Kakek” teriak Dharma menghampiri Anton yang baru saja datang. “Kapan kakek datang?”


“Apa aku harus datang setelah cucuku meninggal, apa itu yang kamu coba katakan? Jika saja aku tak mendengar dari orang – orang ku apa ayahmu akan memberitahu keadaan kakakmu?” tanya Anton, ia begitu pedih hatinya melihat keadaan cucu yang pernah tak sengaja ia lukai kembali seperti dulu.


“Tidak ayah, aku sudah tidak membencimu lagi dan aku memang berniat memberitahumu tapi waktunya tidak tepat ayah” ucap Hendra yang baru saja masuk ke ruangan Rendra bersama Ratna. Wajahnya begitu senang melihat monitor yang ada di samping ranjang menunjukkan hasil yang ia harapkan.


“Tuan Dharma, bisa kita bicara sebentar bersama tuan Hendra juga?” tanya dokter Agus menengahi perdebatan keluarga itu,  “Aku ingin ikut mendengarkan semuanya karena aku lebih ingin bertanggung jawab terhadap cucuku” ucap Anton yang di angguki oleh dokter Agus.


Keempat laki – laki itu keluar meninggalkan ruangan Rendra menyisakan beberapa orang yang masih enggan untuk keluar memilih untuk menemani Rendra yang keadaannya masih tidak bisa di pastikan ke depannya.


“Tuan, saya ingin memberi kabar jika ada rekan saya yang merekomendasikan seorang dokter spesialis jiwa di sana yang mampu menyembuhkan pasien dengan gangguan jiwa dengan metode baru yang dia kembangkan sendiri dan itu efektif untuk mengatasi masalah yang dialami tuan Rendra karena ia pun sudah banyak menyembuhkan orang dengan peristiwa yang sama seperti tuan Rendra alami namun sayangnya dokter itu memiliki banyak pasien jadi harus menunggu waktu yang cukup lama untuk mendapat pengobatannya” jelas dokter Agus. “Karena keadaan tuan Rendra masih sama kita hanya bisa menunggu sampai ia sadar dan melihat perkembangannya”


“Bagaimana metode pengobatannya? Boleh saya tahu siapa nama dokter itu?” tanya Dharma yang nampak secercah harapan agar kakaknya bisa sembuh total.


“Untuk lebih jelasnya bisa nanti tuan tanyakan sendiri padanya. Nama dokter itu dokter Prayoga, sangat susah untuk di hubungi juga di temui dan memiliki banyak pasien seperti tuan Rendra bahkan ada yang lebih parah saya dengar bisa sembuh dengan pengobatannya”


“Baik, saya akan berusaha untuk bertemu dengannya juga meminta untuk mengobati cucu saya” ujar Anton mantap.


“Baik tuan saya juga akan mengusahakan untuk menghubungi dokter Prayoga, hanya itu saja yang ingin saya katakan permisi.”


“Om saya pamit pulang dulu, nanti saya akan kembali lagi” kata Wisnu setelah ia keluar dan berada di hadapan Hendra yang masih saja bingung bersama kakek Anton juga Dharma.


“Ya Wisnu, terima kasih karena sudah banyak membantu”


“Saya juga pamit tuan, masih ada hal yang harus saya urus di perusahaan karena nampaknya perusahaan sangat kacau saat ini” kata Rian yang di sebelahnya sudah ada Desi juga Andi serta Nita.


Hendra mengganggukkan kepalanya dengan cepat menyetujui apa yang dikatakan oleh Rian karena saat ini yang ada di pikirannya hanya cara untuk menemukan Shita juga dokter yang di katakan oleh dokter Agus.


Diruangan berbeda tampak dua orang paruh baya berbaring dan masih belum menunjukkan tanda – tanda akan sadar setelah mendapatkan penanganan lebih awal.


“Nayna, bagaimana kondisi ayah dan ibumu?” tanya Wisnu yang baru saja datang menghampiri seorang perempuan yang masih saja menangis di sebelah ranjang tempat Widya berbaring.


“Masih belum sadar kak, lalu bagaimana dengan kak Rendra?”


“Keadaannya jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan, tadinya jantung Rendra berhenti berdetak namun tak lama kembali lagi tapi kita hanya bisa menunggu sampai dia sadar baru kita tahu bagaimana keadaannya. Kata dokter mungkin dia kehilangan separuh ingatannya juga penglihatannya akan memudar untuk sementara atau selamanya” tutur Wisnu kemudian mengusap gusar wajahnya.


Nayna begitu terkejut mendengar penuturan Wisnu padanya. “Separah itu kak?”


“Ya karena apa yang ia alami dulu kini kembali lagi dan berimbas pada ingatan juga saraf di matanya kakak pun tidak tahu detailnya seperti apa sampai hasil pemeriksaan Rendra keluar. Ya sudah kakak pulang dulu ya, nanti kakak akan kembali ke sini. Jangan lupa istirahat, jaga ibu dan ayahmu juga ya Nayna” pamit Wisnu. Ia melangkahkan kakinya begitu berat meninggalkan rumah sakit meninggalkan semua orang yang masih berada disana.


“Baik kak, uummm kak bolehkah aku berbicara sesuatu? Ku kira aku tahu kemana kak Shita pergi” ucap Nayna pelan namun masih bisa di dengar oleh Wisnu yang sudah menghentikan langkahnya.