Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 72



“Kau memang selalu tahu apa yang aku butuhkan, Tapi tunggu apa kau sudah makan sayang? Mengapa kau bisa disini bukankah kau bekerja?” tanya Rendra seraya mengelus pipi kanan Shita.


“Ini jam istirahatku jadi aku sempatkan ke sini agar kita bisa berangkat bersama mengantar orang tuaku, aku membeli makan ini dengan porsi untuk dua orang jadinya kita bisa makan bersama. Wow ruanganmu begitu luas, tapi sebentar itu apa sayang?” tunjuk Shita pada sebuah kotak kaca yang berada di atas meja kecil yang sengaja di pasang di dinding.


“Oh itu kasa yang kamu gunakan untuk mengikat kakiku saat kecelakaan motorku dulu, bahkan bekas darahnya masih ada tapi aku hanya menyisakan yang sedikit ada noda darahnya dan kotak itu sudah steril sayang. Sengaja aku memajangnya karena itu adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu sekaligus menjadi kenangan yang aku ingat jika aku rindu padamu” terang Rendra sambil mengingat kejadian yang menimpanya dulu.


“Ternyata ada yang memajang karya tanganku juga, walaupun bukan hal yang bersifat seni” Shita tersenyum malu dan memalingkan wajahnya ke sisi lain.


“Ada satu lagi, sini aku kasi tahu” ucap Rendra seraya menggandeng tangan Shita dan berdiri di depan lemari kaca yang di dalamnya terdapat koleksi miniatur mobil sport dan klasik yang sangat disukai Rendra.


Shita begitu kaget tiba – tiba lemari itu berputar dah membawa tubuhnya ke sebuah ruangan yang begitu luas dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah kamar pribadi lengkap dengan toilet dan seluruh peralatan yang biasa ada di sebuah kamar seorang laki – laki.


Namun yang membuat wanita itu makin tercengang melihat begitu banyak foto dirinya dengan pose berbeda terpasang dan sebuah pajangan kayu di atas jendela kaca yang bisa melihat ke luar ruangan namun tidak bisa melihat apa yang ada di dalam jika dilihat dari luar.


“Kau masih ingat itu? Kayu yang kamu gunakan untuk menolongku pun aku rangkai seperti itu dan aku letakkan disini dan ini adalah kamar pribadiku yang tidak diketahui oleh siapapun selain aku, kamu dan juga asistenku” ucap Rendra menunjuk pajangan kayu yang sudah diukir sedemikian rupa namun tak menghilangkan kesan kayu yang sudah usang saat digunakan oleh Shita menyangga kaki Rendra.


“Dan ini bagian dari karyaku di kakimu, karya yang sangat indah dan mengesankan” ucap Shita dengan mata berbinar bahagia.


“Jadi ini tempatnya?” tambah Shita.


“Ya ini tempat untukku istirahat jika aku lembur juga saat aku pulang larut malam atau kelelahan dari perjalanan bisnisku, maka aku akan memilih tidur disini daripada membuat tubuhku semakin lelah” jelas Rendra yang kini memeluk Shita dari samping menghirup lekat aroma tubuh yang sangat ia sukai.


“Aku ingin kamu selalu memakai anting, kalung dan cincin yang aku berikan padamu sayang. Jangan hanya menyimpannya atau aku akan membelikanmu lebih banyak daripada itu” tambah Rendra yang melihat jika Shita tak memakai anting pemberiannya.


“Aku tak menyimpannya di rumah, aku selalu membawanya kemana pun sayang. Lihatlah ini” sahut Shita mengambil kotak yang selalu ia bawa dan di dalamnya ada anting pemberian Rendra.


“Aku tahu kamu tidak suka memakai sesuatu yang mewah yang tak sesuai dengan penampilanmu, tapi aku sudah membelikan itu dengan desain yang tetap sederhana namun cantik sepertimu jadi kau harus memakainya sampai kapanpun kau boleh melepaskan semua itu jika kamu sudah menikah denganku. Jadi sekarang pakailah”


“Baiklah”


Shita lebih memilih mengalah dan menyenangkan hati Rendra daripada mendebatkan hal yang tidak jelas. Ia pun memakai anting itu sesuai dengan permintaan Rendra.


“Jadi lebih cantik bukan calon istriku ini, lebih baik kita segera makan daripada nanti kita terlambat mengantar keluargamu ke bandara.” Ajak Rendra yang sebenarnya sudah merasa lapar setelah berlarian mencari kekasihnya tadi.


Shita menuruti kemauan Rendra yang mengajaknya makan siang. Shita membuka bungkus makanan yang ia bawa kemudian keduanya sama – sama memakan makanan itu dalam satu tempat yang sama.


Dreett dreett


“Shita bagaimana kabarmu? Aku begitu merindukanmu. Mengapa kau tak pernah membalas pesanku Shita, apa kau lupa padaku? Tunggu sebentar lagi aku akan datang padamu, kau sudah membuka hadiah yang aku berikan?”


Begitulah isi pesan yang masuk diponsel Shita namun tak dihiraukan oleh Shita.


“Siapa sayang” tanya Rendra di sela – sela makannya.


“Kau begitu posesif tuan. Kau mengetahuinya jangan pura – pura tak tahu”


“Dia lagi?”


“Mmmm tak usah dipedulikan, kita nikmati waktu kita hari ini” ucap Shita yang memang tak peduli siapa yang terus menerus mengiriminya pesan.


“Ah ya, sebenarnya kemarin laki – laki ini datang ke hotel tempat keluargaku menginap memberikan aku sebuah hadiah tapi itu di terima oleh adikku. Isinya adalah sebuah gelang, kau bisa melihatnya sendiri. Aku tak bisa menyimpan atau mengembalikan jadi aku kasi ke kamu saja agar kamu tak salah paham padaku” tambah Shita yang seketika membuat Rendra menghentikan makannya.


Dibukanya kotak itu oleh Rendra dan segera ia tutup rapat lagi. “Aku akan membuang ini, aku juga tak mau menyimpannya. Ya sudah lanjutkan makannya sayang” ucap Rendra mengusap lembut pucuk kepala Shita.


---


13 pm, Tokyo.


Nisha POV


Sebenarnya namaku Nisa Astari tapi sekarang berubah menjadi Nisha Suwindri ya identitas kakakku yang aku gunakan disini. Aku memiliki seorang saudara kembar hanya beda beberapa menit kelahirannya denganku, dan keluargaku dari dulu memperlakukanku tidak seperti kakakku.


“Anak si***n pergi kamu dari sini? Tak cukup kamu membuat kakakmu menangis hah? Tidak maukah kamu berbagi sedikit saja mainan mu pada kakakmu?”


Begitulah kalimat yang sering aku dengar, mereka selalu mengatakan menyesal sudah pernah melahirkanku. Hingga saat aku berumur 7 tahun, mereka meninggalkanku di Bandung bersama nenek. Aku tak tahu apa maksud mereka tapi yang jelas nenek selalu mengatakan jika keluargaku sayang padaku.


Aku yang masih kecil hanya menuruti apa kemauan mereka dan nasehat nenekku sampai suatu hari aku bertemu seseorang anak kecil laki – laki yang setiap hari aku lihat termenung di bawah pohon tempat bermainku yang dekat dengan rumah nenek.


Tapi mengapa dia mengatakan aku cerewet saat aku ingin tahu namanya? Dasar laki – laki sombong tapi dia sangat tampan.


“Nisha, Nisha hei mengapa kau melamun?” ah suara cempreng ini selalu saja membuyarkan lamunanku tentang anak laki – laki itu.


“Apa kau sedang memikirkan anak kecil itu lagi? Apakah kau sudah menemukannya disini?”


Ya keberadaanku disini untuk menemukan kekasih kecilku itu, aku sudah menyukainya sejak kita memulai perkenalan. Tapi sayang dia sudah tidak pernah datang lagi ke taman itu, tapi aku tak berhenti untuk mencarinya sampai aku dengar jika ia pindah ke Jepang ikut dengan kedua orang tuanya dan sekarang lah saatnya untuk aku menemukannya lagi.


“Hei kau selalu tahu apa yang aku pikirkan, apa kau seorang pembaca pikiran?” tanyaku pada sahabatku yang bernama Ines.


“Aku bukan peramal wanita nakal, selalu saja mengataiku sesukamu. Tapi apa yang akan kamu lakukan untuk menemukan keberadaannya?” tanya Ines.


“Aku pun tidak tahu. Kau ingat saat aku pertama kali ke sini? Sebelumnya aku pernah melamar kerja di kampungku dan aku diterima disana. entah mengapa rasanya aku sangat familiar dengan bosku itu sampai ia akhirnya menerimaku bekerja disana hanya karena masakanku” ujar Nisha yang kini menyeruput cappuccino kesukaannya.


“Trus mengapa kau jadinya kesini?”


“Setelah aku diterima ternyata kakakku diam – diam mengetahuinya dan mengetahui tempatku bekerja hingga akhirnya dia menawarkan padaku sejumlah uang agar pergi dari sana dan dia yang menggantikan posisiku, dia juga mengancam akan membunuhku jika aku tak menuruti keinginannya. Ya aku sudah tertindas dan mengalah terus padanya terpaksa aku menuruti” jelas Nisa.


“Terus?”


 “Ya aku menyerahkan apa yang dia mau dan pergi kesini ya beginilah aku sekarang. Tapi aku sedikit menyesal sudah menyerahkannya” sesal Nisha.


“Kau mengatakan jika kekasih kecilmu ada disini, tapi Jepang itu luas beb. Atau kita pajang di internet saja fotonya bagaimana? Apa kau punya foto atau sesuatu darinya?” tanya Ines dengan semangatnya.


“Foto? Wajah kecilnya saja masih terbayang begitu jelas tapi untuk foto aku tidak punya” ungkap Nisa.


“Ya ampun, fotonya saja kau tak punya bagaimana mau mencari” gerutu Ines kesal dengan apa yang ia dengar.


“Hei, aku ingat punya sesuatu sebentar” ucap Nisha seraya pergi ke kamar mengambil apa yang ia maksud.


“Bisakah kita mencarinya dengan ini?” tanya Nisha yang sudah datang membawa sebuah gelang.


“Ini perfect, kita foto dulu lalu masukkan ke media sosialku dan aku akan membagikannya dengan temanku yang lain. Nanti kita buat selebaran dan tempel di tiap jalan yang kita lewati, setuju?” jelas Ines.


“Kau memang pintar. Terima kasih karena mau berteman denganku yang tidak dianggap oleh orang yang disebut keluarga” ucap Nisha mengelus kepala Ines lalu memeluk tubuhnya.


---


Tak terasa waktu begitu cepat, setelah mengantar keluarga Shita ke bandara dan mengantar Shita kembali ke JMC, Rendra kini berada di restoran tempat ia akan bertemu dengan kliennya sore ini.


“Rian kamu jemput Shita setelah ia selesai bekerja, aku yang akan bertemu dengan klien ini sendiri juga beritahu aku nanti apa yang sudah kamu dapatkan.” Ucap Rendra pada asistennya.


“Baik tuan, silakan masuk tuan.”


Rendra pun memasuki Restoran dan mengedarkan pandangannya menatap seluruh penjuru restoran berjalan ke meja dimana ada seseorang yang menunggunya.


“Selamat sore tuan Rendra, perkenalkan saya Arya perwakilan TSanjaya Grup”


“Selamat sore tuan Arya, senang berkenalan denganmu. Maaf jika saya membuat anda menunggu terlalu lama.” Ucap Rendra menjabat tangan laki – laki yang bernama Arya.


“Tak perlu sungkan begitu tuan, saya hanya menunggu sebentar. Silakan duduk tuan” Arya mempersilakan Rendra untuk duduk


“Terimakasih. Ngomong – ngomong meetingnya sudah bisa kita mulai? Aku sudah tak sabar menantikan kerjasama kita. Ku dengar perusahaanmu cukup besar di Inggris sana.” Tanya Rendra basa basi.