
"Kak jika kakak tidak keberatan maukah kakak dirawat di Amerika agar kakak bisa sembuh secepatnya. Kira2 sebulan kakak disana sudah singkat. Nanti aku akan menghubungi teman baikku yang juga seorang dokter disana untuk merawatmu" Kini Dharma menimpali omongan Hendra setelah sekian lama menyimak percakapan papa dan sahabat Rendra.
"Bener banget Tu ndra, emang lu pengen jalan pake tongkat? Mau taruh dimana muka lu yang ganteng dan dingin itu. Bisa2 lu dijauhin sekian banyak fans lu ndra " canda Wisnu yang sebenarnya berharap Rendra agar berjalan normal dengan cepat.
"Gue cincang lu nanti Wisnu. Oke Dharma kakak terima usulmu. Katakan pada temanmu untuk merawat kakak dengan baik agar kurang dari sebulan kakak sudah bisa pulang. Kamu tahu kan kakak tidak bisa jauh dari kalian semua terutama mama dan papa" ucap hangat dan manja Rendra yang memang sebenarnya memiliki sifat
hangat dan penyayang. Berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan dihadapan orang lain selain keluarga dan sahabat dekatnya.
"Baiklah kak. Aku kemarin sudah menghubungi dr. James. Dia temanku, seorang dokter spesialis ortopedi/tulang. Dia yang akan merawatmu. Dia dokter ortopedi terbaik di Amerika" ucap Dharma antusias setelah penuturan kakaknya itu.
"Aku percayakan semuanya padamu Dharma. Untuk masalah keberangkatan kakak tidak masalah
jika berangkat hari ini bukan? Lebih cepat lebih baik. Tapi Aku akan menghubungi Rian terlebih dahulu agar dia tahu papa yang menggantikanku sementara diperusahaan selama aku masih dalam pemulihan di Amerika" terang Rendra.
"Baiklah kak. Aku akan mengurus surat perpindahan perawatanmu terlebih dahulu" ucap Dharma.
Setelah mengurus perlengkapan pemindahan pasien, Rendra dibawa oleh Hendra, Ratna, Dharma dan sahabatnya ke atap gedung rumah sakit guna memasuki jet pribadinya yang telah dipersiapkan dan akan mengantarkan Rendra ke Amerika. Sesuai kesepakatan yang sudah di bicarakan telebih dulu akhirnya Rendra di dampingi oleh Ratna menjalani perawatan pemulihan di Amerika. Sebelum menaiki jet pribadinya, terlihat Nana yang ngos-ngosan setengah berlarian ke arah mereka. Nana melihat kakak pertama dan mamanya akan segera menaiki jet pribadi kakaknya pun bingung sekaligus kesal.
"Kalian mau kemana tanpa aku? Mengapa kalian meninggalkanku tanpa memberitahukanku? Apa kalian tak mengingatku walau sebentar? Kakak tak sayang lagi padaku." ucap Nana yang masih ngos-ngosan memaksakan nada bicaranya.
Niko yang melihat Nana yang kala itu berkeringat banyak merasa kasihan dan menyeka keringat Nana. Riko yang melihat gelagat temannya hanya bisa menggeleng2kan kepalanya. Begitupun dengan Wisnu yang mengetahui jika Niko sudah menyimpan perasaan terhadap adik Rendra itu sejak dulu.
Melihat Nana yang sudah hampir menangis Rendra hanya merentangkan kedua tangannya. Nana yang mengerti apa yang dilakukan kakaknya langsung berhambur ke pelukan kakaknya.
"Bukan kakak mikirnya seperti itu adik kakak yang paling cerewet. Kakak hanya ingin kamu fokus dengan pekerjaanmu sayang. Kakak tidak mau merepotkan kamu apalagi membebani kamu. Kamu tahu kan kakak sayang sekali padamu adikku sayang" ucap Rendra sembari mengelus rambut Nana.
"Kakak memang kakakku yang paling aku sayang. Tapi nanti jangan seperti ini lagi padaku, aku tak suka. Beruntungnya aku memiliki dua kakak yang begitu menyayangiku. Berjanjilah kak untuk cepat kembali berkumpul dengan kita disini" ucap Nana menangis dipelukan sang kakak.
"Kakak berjanji sayang. Jaga dirimu. Jika ada yang menyakitimu siapapun itu beritahu kakak atau Dharma, kakak akan membunuhnya dan menyiksanya. Tidak peduli siapa dia yang terpenting adalah dia sudah membuatmu bersedih dan menangis." tegas Rendra.
"Baiklah kak. Selamat tinggal kak. Kabari Nana jika kakak sudah sampai dan kakak harus sering memberi kabar aku ya kak" rengek Nana pada Rendra
"Yaa cantikku. Kamu prioritas kakak setelah mama. Karena mama bersama kakak kamulah yang pertama yang akan kakak beri kabar nanti" ucap lembut Rendra pada adiknya.
"Sudah dek. Sudah waktunya kakak berangkat. Masih ada kakakmu lagi satu ini yang akan menjagamu dek. Bila perlu kakak akan mengawasimu 24 jam setiap harinya." Ucap sayang Dharma pada adiknya.
"Kalian berdua kakak yang paling terbaik untuk Nana. Terima kasih yaa kakakku tersayang." Nana memeluk kedua kakaknya secara bergantian. Tidak dipungkiri memang mereka sangat sayang pada adik perempuannya. Tidak akan mereka biarkan ia tersakiti maupun menangis. Hanya boleh ada air mata bahagia. Itulah prinsip yang ditanamkan pada keluarga JAYA itu.
Walaupun terlalu sering dimanja oleh kedua orang tua nya tidak menjadikan Rendra, Dharma dan Nana menjadi sombong apalagi tinggi hati. Kesederhanaan dan rendah hati, melihat orang yang lemah dan membutuhkan bantuan itulah yang sering diajarkan oleh mendiang kakek nenek serta kedua orang tua mereka.
Karena kesuksesan Tidak akan pernah didapatkan dengan mudah jika masih ada rasa Tinggi hati dan kesombongan.