
Sementara itu,
“Kamu ini sering sekali menggoda orang lain” kata Shita yang sudah berada di luar tempat acara.
“Aku memang selalu begitu pada semua sahabatku dan itu karena aku juga dekat dengannya” jawab Rendra yang kemudian merangkul pinggang ramping Shita. “Aku juga ingin seperti mereka, tapi aku sedikit gugup”
Shita mengernyitkan dahinya kemudian menatap intens manik mata milik Rendra yang masih saja menempel padanya seakan bertanya ‘mengapa kau harus gugup’
“Ya karena aku ingin seperti mereka tapi aku tidak tahu kapan saat yang benar – benar baik untuk mengatakannya pada kedua orang tuamu” ujar Rendra yang memang tak pernah bercanda pada kekasihnya.
“Bagaimana jika kamu mengatakan niat baikmu itu setelah kamu menyelesaikan perjalanan bisnismu?” tawar Shita ternyata diangguki oleh Rendra. “Kamu kenapa tak meghubungiku kemarin sore hingga malam?Kemana saja kamu sayang?” tanya Shita sambil mengusap dagu kokoh laki – laki itu.
Rendra terkesiap mendengar pertanyaan Shita, “Ah aku diajak ngobrol oleh sahabatku, bukankah aku sudah mengatakan padanya kemarin huh?” jawab Rendra dengan nada yang dibuat setenang mungkin menutupi kegugupan yang ia rasakan.
Ting
Ponsel Rendra mendapatkan notifikasi dari Rian asistennya itu.
“Tuan ada paket untuk anda lagi, saya akan mengantarkannya ke kamar tuan sebentar lagi”
Isi pesan yang masuk di ponsel Rendra dan membuatnya mengernyitkan dahi melihat isi pesan itu, ‘Paket apa lagi kali ini, Tuhan aku ingin mengetahuinya tapi aku takut tak bisa mengontrol emosiku nanti’ gumam Rendra.
“Sayang, kamu pulanglah sekarang bersama Bimo aku ada urusan dengan ayah juga Rian. Aku janji besok pagi aku akan ke rumahmu ya sayang” kata Rendra sembari mengecup kening Shita. Wanita itu merasa jika ada yang berbeda dari Rendra namun ia menepisnya dengan cepat karena tak mau berpikir negative tentang kekasihnya itu.
“Baiklah, aku pulang. Ingat janjimu juga jaga kesehatanmu sayang” sahut Shita yang kemudian berlalu dari hadapan Rendra tanpa menengok ke belakang lagi. Rendra yang sudah tak melihat bayangan Shita berlari dengan cepat menuju lift yang membawanya ke kamar yang ia pesan kemarin karena tempat ia menginap dengan tempat acara riko satu wilayah.
Tingtong
Dengan cepat Rendra membuka pintu kamar saat ia sudah berada di dalam beberapa detik yang lalu dan menampakkan Rian di depan pintu.
“Ini tuan paket untuk anda, silakan. Saya permisi dulu tuan, silakan beristirahat.” ucap Rian.
“Siapa yang mengirimkan ini?” tanya Rendra dengan cepat sebelum Rian melangkah menjauh.
“Saya tidak tahu tuan, itu diberikan oleh petugas resepsionis tadi setelah acara tuan Riko” jawab Rian yang kini menatap wajah Rendra.
“Selidiki semuanya, jangan sampai ada yang mengetahuinya” jawab Rendra sembari menutup pintu, Rian pun berlalu dari sana untuk menjalankan apa yang diperintahkan Rendra.
Pintu kamar ditutup dengan cepat oleh Rendra kemudian ia beranjak ke tempat tidur lalu membuka paket yang ternyata isinya sama seperti paket yang ia terima beberapa hari yang lalu.
“Tidak, jangan lagi. Aku tak ingin lagi. Pergi, pergi sekarang juga. Kamu sudah tidak ada di dunia ini lagi, pergilah”
Dengan cepat Rendra mengambil kunci mobil pergi meninggalkan kamar yang masih menyisakan paket yang telah ia buka dengan debaran jantung yang tak karuan.
---
Di tempat yang sama namun kamar berbeda.
“Tuan, saya baru saja menyelesaikan meeting bersama Tn. Machiko, saya akan pulang ke tanah air nanti sore tuan, saya akan mengirimkan berkas kontraknya” ucap seorang laki – laki lewat panggilan video yang ternyata adalah Jack.
“Tak usah terburu – buru, kau bisa kembali besok atau lus-
Mata Wisnu memicing melihat selebaran yang ada di tiang tepat dimana Jack berdiri tanpa melanjutkan kalimatnya.
“Apa tuan, saya tid-
“Bisa kau ambil selebaran di tiang yang ada disebelahmu? Dekatkan juga perlihatkan padaku”
Jack membalikkan tubuhnya dan mengambil selebaran yang dimaksud Wisnu.
“Ini maksud Tuan?” tanya Jack setelah ia mendekatkan ponselnya itu.
“Cari tahu juga jangan lupa tanya masa lalunya” ucap Wisnu seraya mematikan panggilan itu.
‘Akhirnya si bos melirikku juga, apa karena aku cantik hati ini?’ gumam Nisa dengan ekahan senyum seraya melangkah mendekati sumber suara.
“Kenapa pak Wisnu?” tanya Nisa yang sudah berada di hadapan Wisnu.
“Maaf, apa aku boleh tahu tentang keluargamu? Apa kau punya saudara kembar?” tanya Wisnu to the point.
‘Hah mengapa dia menanyakan Nisa si***n itu\, apa dia sudah mengetahui yang sebenarnya?’
“Ah tidak pak Wisnu, saya saudara sendiri pak. Kenapa memangnya?” tanya Nisa yang penasaran dengan apa yang dipikirkan Wisnu.
“Oh begitu, apa kamu pernah tinggal di Bandung sebelumnya?”
‘Hahaha jadi dia uring – uringan sedari tadi karena kembaranku itu, ckckck takkan aku biarkan kalian bersatu. Kamu adalah milikku Wisnu, aku begitu menyukaimu sejak awal aku melihatmu jauh sebelum wanita itu bekerja di tempatmu’
“Ah yaa, aku pernah tinggal di Bandung bersama nenekku sejak kecil pak” jawab Nisa pelan.
Deg
Jantung Wisnu berpacu dengan cepatnya, tapi sekali lagi dia memastikan hatinya entah mengapa ketika ia bersama wanita ini berbeda sekali rasanya tak seperti pertama mereka bertemu juga mengapa masakan Nisa sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran Wisnu, ingin sekali rasanya ia menanyakan hal itu tapi tidak mungkin ia lakukan hanya akan membuat risih asistennya itu.
“Baiklah, saya hanya menanyakan itu saja kamu boleh pergi. Saya mau istirahat” ucap Wisnu yang kini sudah membelakangi Nisa yang sedari tadi di hadapannya. Nisa pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Wisnu tersenyum.
‘Semoga dia percaya dengan apa yang aku katakan, aku telah menghabiskan banyak uang untuk membuat wanita itu pergi. Tak akan aku sia – siakan semua ini dan memilikimu Wisnu’
---
21 pm waktu Tokyo, Jepang.
Nisha sudah menuruti apa yang dikatakan oleh sahabatnya Ines tapi sampai saat ini tak ada yang menghubunginya hanya untuk sekedar menanyakan tentang gelang itu.
‘Mungkin kita tidak di takdirkan untuk bersama, mari kita tidur saja dan mengubur kenangan itu’ ucapnya dalam hati.
Dreettt dreettt
Ponsel yang sedari tadi berada diatas meja bergetar namun tak di dengar oleh Nisa yang kini sedang merapikan tempat tidurnya dan bersiap menuju alam mimpi
“Untuk apa sebenarnya tuan menyuruhku menghubungi nomor ini, aku akan cari besok saja tubuhku juga butuh istirahat” ucap Jack yang sedari tadi berada di kamarnya dengan ponsel yang masih setia di samping telinganya.
---
Kediaman keluarga Jaya di Jimbaran, Bali.
“Aakhh tolong mama papa tolong Rendra” teriak Rendra yang sudah berada diambang pintu dengan debaran jantung yang begitu kencang serta nafas yang cepat dan pendek. Teriakan itu begitu menggema dan memekik ditelinga dan terdengar oleh semua keluarga.
“Rendra, kamu kenapa nak?” tanya Ratna berlarian dari arah dapur yang sudah dilanda kepanikan melihat keadaan anaknya.
“Ma kita bawa ke kamar dulu, kak Rendra lagi kambuh kayaknya ma” ucap Dharma yang memang saat itu ada diruang keluarga menghampiri Rendra dan membopong tubuh lemas kakaknya itu.
“Rendraaa” teriak Hendra yang baru saja turun dari kamar setelah mendengar keributan di lantai bawah. Semua asisten rumah tangga yang ada di rumah itu hanya bisa menangis dan iba melihat apa yang dialami tuan mudanya. Bertahun – tahun lamanya ia menderita seorang diri tapi kini setelah mendapatkan kebahagiaannya ia malah mengalami kejadian itu lagi.
“Aku takut ma, papa aku takut. Peluk Rendra pa.” teriak Rendra dengan tangis yang begitu memilukan.
“Jangan, jangan lagi”
“Takut, jangan lagi”
“Sayang, ada mama disini jangan takut buka matamu nak. Ada papa juga adikmu Dharma disini ayo perlahan – lahan buka matamu”
“Tidak ma, tidak aku tidak mau. Takut jangan lagi aku takut”
Berulang – ulang kata itu keluar dari bibir Rendra keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya hingga membuat Ratna semakin panic saat ia menenangkan juga merawat anaknya. Malam itu adalah malam yang kelam kembali bagi keluarga Jaya dimana mereka menyaksikan keterpurukan yang terjadi pada Rendra tanpa di ketahui oleh Nana karena ia menginap di rumah temannya yang baru saja ia temui setelah lama tidak berjumpa.