
Cerita mengandung sedikit unsur kekerasan
“Tak apa – apa sayang\, itu hanya masa lalumu dan itu tidak penting bagiku. Yang terpenting saat ini aku milikmu dan kamu milikmu. Tak akan ada yang bisa merubah itu semua. Ku kira levelmu seperti aku sayang. Bodynya memang sexy tapi aku juga tidak kalah sexy kan sayang? Dan yang paling penting selain cantik aku juga bisa mem***kanmu di ranjang hingga berkali – kali kau menginginkannya bukan?” Ucap Tara mengelus lembut rahang kokoh Marvin yang bermaksud menggoda lelaki itu.
Marvin yang mendengar ucapan Tara sontak membuatnya berpaling kembali melihat bibir
yang sengaja dibuat sensual oleh Tara. Tak lama kemudian Marvin mencium dan me****ut bibir sexy Tara lagi.
Marvin memang tak bisa menahan hasratnya ketika Tara sedikit saja menggodanya.
Shita yang melihat itu di depan matanya terkejut bukan kepalang. Namun ia tak benar – benar marah melainkan hanya ada rasa jengkel karenya ternyata laki – laki yang ia sayang dan ia percaya bisa melakukan hal memalukan itu ditempat umum seperti itu.
“Setahun? Katamu setahun malvin? Kamu tega Marvin”
Plaakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Marvin hingga menyisakan bekas merah.
“Itu tamparan untukmu karena sudah mempermainkan perasaanku. Benar kata orang “Penggoda dan Penghianat” tidak lebih buruk dari bangkai” tegar Shita dengan air mata sudah tumpah membasahi pipinya.
“Kamu tak apa kan sayang? Sini aku peluk” Manja Tara pada Marvin
Marvin yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Ia semakin menenggelamkan kepalanya diantara belahan p*****ra Tara yang saat ini sedang memeluknya.
Plakkkk
Shita menampar kembali Tara yang telah melerai pelukannya dengan Marvin.
“Aku hanya mengembalikan sampah dimana ia seharusnya berada. Terima kasih atas pertunjukkan tak tahu malu kalian. Dan kamu Marvin, aku akan selalu mengingat ini sampai kapanpun”
Setelah menampar kembali pipi Tara, Shita langsung berlari kencang keluar dari area food court. Setelah apa yang ia terima dari kekasih ralat kekasih yang sudah menjadi MANTAN kekasih dan wanita itu menambah trauma yang mendalam untuk Shita yang sebelumnya memiliki trauma dengan laki-laki. Karena Marvinlah ia membuka hatinya
dan mulai menghilangkan rasa traumanya terhadap laki - laki. Marvin pacar pertamanya tapi bukan cinta pertamanya. Marvinlah yang sejak 2 tahun ini menemaninya. Shita pun berharap jika Marvinlah kelak yang akan menjadi jodohnya.
Kita hanya bisa merencanakan namun pada kenyataannya Tuhanlah yang menentukan dengan siapa kita bertemu dan berjodoh. Takdir pun hanya Tuhan yang mengetahuinya. Apa yang di alami Shita saat ini membuatnya menjadi pribadi yang semakin acuh dan tidak ingin mengenal yang namanya Jatuh Hati.
Nana yang melihat pertengkaran itu pun menjadi marah hingga akhirnya ia pergi menyusul Shita yang sudah keluar terlebih dulu. Ia mencari disemua sudut yang ada dilantai tersebut bahkan di toilet wanita yang ada di tempat food court berada namun ia sama sekali tak menemukan keberadaan Shita. Ia berpikir dengan keras kemana larinya wanita sedang bersedih dan menangis itu. Bahkan ia sudah menghubungi ponsel Shita namun sayangnya ponsel Shita berada di dalam tas yang saat ini dipegang Nana.