Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 32



“Perhatian semuanya, maaf jika saya mengganggu makan malam kalian”


Mendengar suara itu, para pengunjung restoran, Shita, Rendra dan Nana menoleh ke sumber suara yang mereka kenal. Mereka bertiga terkejut melihat Niko yang sudah berada diatas panggung dengan gitar yang sudah dipangkunya.


“Malam ini ijinkan saya melantunkan sebuah lagu untuk mewakili seluruh perasaan saya yang selama ini saya pendam, semoga dia mengetahui perasaan saya.”


Jreenggg


Jika memang diriku


Bukanlah menjadi pilihan hatimu


Mungkin sudah takdirnya


Kau dan aku takkan mesti bersatu


Harus slalu kau tahu


Ku mencintamu disepanjang waktuku


Harus slalu kau tahu


Semua abadi untuk selamanya


Reff *


Karena ku yakin cinta dalam hatiku


Hanya dirimu sampai akhir hidupku


Karena ku yakin disetiap hembus nafasku


Hanya dirimu satu yang slalu ku rindu


 


Nana yang mendengar Niko menyanyikan lagu itu hanya tercekat dan matanya sudah berkaca – kaca. Tangannya bergetar kala melihat Niko yang menatapnya dari atas panggung. Ia pun mengulas senyum manisnya kepada Niko.


Pengunjung restoran memberikan tepuk tangan yang meriah untuk penampilan Niko yang secara tiba – tiba.


“Lagu kedua ini saya persembahkan untuk wanita yang saya cintai selama 12 tahun. Maaf jika aku hanya bisa memendamnya dan menyembunyikan terlalu rapat. Tapi kini aku memintamu untuk memberikanku kesempatan untuk menemanimu”


 


Kasihku dengarkanlah


Ingin kubicara


Tentang apa arti cinta


Yang tlah kita rasa


Cinta bukanlah sekedar


Pengorbanan semata


Tapi cinta punya rasa


Yang mengalahkan segalanya


Reff*


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


...


Abadi semua rasa


Tulus dihatiku


Tak temani malam pekat


Berikan ku cahaya


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


Biar ku ungkapkan cinta


Walau cinta itu hampa


Hanya satu kubuktikan semua


Kau beri kau rasa…


 


Shita melirik keadaan Nana yang sudah mengeluarkan air mata. Ia melihat begitu kuatnya pancaran perasaan yang sama dari keduanya. Shita meraih tangan Nana bergetar yang berada diatas meja. Menguatkan dan meyakinkan perasaan Nana pada Niko jika cintanya terbalaskan.


Rendra yang sedari tadi fokusnya pada Niko, kini teralihkan pada sosok wanita yang berada disampingnya sedang menggenggam tangan Nana dan menenangkan perasaan Nana. Rendra melihat adanya ketulusan dan pancaran kedamaian yang membuat siapapun melihatnya merasa damai tak terkecuali Rendra.


Rendra bahagia melihat adiknya memiliki sahabat yang begitu tulus menyayanginya dan ia pun merasa senang bisa mengenal Shita. Suara tepuk tangan memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka. Dengan santainya Niko berjalan menuju ke arah meja.


“Hei mengapa kau menangis? Kau kenapa?” tanya Niko dengan cepatnya.


“Tak apa, mataku hanya terkena debu sedikit”


Niko terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nana dengan begitu santainya.


“Bagaimana mungkin bisa ada debu didalam ruangan ini? Kau jangan menangis, itu hanya akan menyiksaku dan membuatku terluka.” ucap Niko dengan senyum manis manisnya.


“Siapa wanita yang kau maksud? Jika kau ingin menyanyikan sebuah lagu nyanyikan di depannya atau kau bisa menghubunginya terlebih dahulu. Jika kau menyanyi tanpa ada dia di depanmu, maka dia ak-


Niko mengecup sekilas bibir indah sedikit tebal milik Nana. Nana yang mendapat serangan tiba – tiba pun terkejut hingga membuat pipinya merona. Shita dan Rendra yang melihat kelakuan Niko pun tak kalah terkejut dengan Nana.


“Mengapa kau begitu cerewet sekarang?” ucap Niko yang mulai merapikan anak rambut yang berada di pelipis Nana danmembawanya ke belakang telinga wanita itu. Laki – laki itu melihat wanita yang dicintainya merona pun memperlihatkan senyum manisnya. Darah Nana mendesir melihat senyum manis Niko.


“Ehhhmm Jika kalian mau melakukan hal seperti itu lihat situasi dong. Kalian tak melihat kita disini? Shita, mereka tak menganggap kita ada disini.” omel Rendra. Shita yang melihat kelakuan Niko pada Nana hanya menggelengkan kepalanya.


“Jangan seperti itu didepan umum jika hubungan kalian belum jelas. Lakukan dengan benar sebagai seorang laki – laki Niko.” tegas Rendra


Nana yang mendengarnya hanya bisa gugup, menantikan apa yang akan Niko lakukan selanjutnya.


Niko berdiri dari duduknya,


“Nana Adiatma Jaya, aku akan mengatakan semuanya padamu. Jangan pernah lari lagi dariku karena aku takkan sanggup, sejak dulu aku memiliki perasaan terhadapmu. Aku tak peduli dengan masa lalumu. Biarlah itu menjadi bagian cerita hidupmu. Jika kau mengijinkannya aku akan mengukir kenangan indah mulai hari ini dan ke depannya aku tak bisa berjanji takkan membuatmu terluka namun aku akan selalu berusaha untuk itu. Nana, maukah kamu menempati kursi ratu yang telah lama ku kosongkan untukmu dengan sengaja? Ijinkan aku memiliki tempat yang berarti dalam hidupmu.” Ucap Niko dengan lantang dan lembut.


Seketika tangis Nana pecah saat Niko mengutarakan perasaannya. Ia begitu bahagia mengetahui jika cintanya terbalaskan.


“Aku bersedia kak. Aku bersedia.” mendengar jawaban Nana, Niko yang sejak tadi menatap manik mata indah milik Nana memeluknya dengan rasa bahagia. Ternyata perasaannya selama 9 tahun terbalaskan hari ini. “Kau bisa pegang kata – kataku. Maukah kamu memakai ini?” tanya Niko dengan tangannya yang mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari saku jasnya. “Aku telah mempersiapkan ini sejak lama. Berharap kamu mau memakainya.”


Nana terkejut melihat kalung indah berbandul bulan yang dibawahnya terdapat huruf NN.


“Mengapa bisa kak Niko?” Nana tak percaya Niko masih ingat dengan gambar yang dulu mereka buat bersama saat Nana masih SMA.


“Aku mengingat semua itu karena kamu Sayang. Boleh aku memakaikannya?” tanya Niko yang dibalas anggukan oleh Nana yang pipinya sudah memerah karena panggilan Niko untuknya.


“Shita mari kita pergi. Kita hanya menjadi penonton disini, heh!” ketus Rendra yang sedari tadi menyaksikan kemesraan Niko dan Nana.


“Tak bisakah kau melihatku bahagia sebentar? Jika kau ingin pergi silakan pergi sana.” canda Niko.


“Dasar tak tahu terima kasih.” Rendra bermaksud menggoda teman dan adiknya.


“Ahh sudah malam, aku harus segera pulang. Aku besok ada jadwal bertugas pagi hingga malam.” ucap Shita yang sedari tadi diam kini membuka suara.


“Kak tolong antarkan Shita pulang ke tempat tinggalnya. Malam – malam begini tak baik untuknya pulang sendirian, terlebih lagi motornya tak bisa dihidupkan. Bagaimana besok kamu akan berangkat Shita?” tanya Nana pada Shita.


“Tidak, tidak usah. Itu merepotkan untuk kalian. Aku bisa pulang sekarang dengan taxi dan besok juga berangkat dengan taxi.” jawab Shita seraya bersiap – siap untuk pergi.


“Kamu jangan membantahku Shita, kamu ingat apa yang aku katakan padamu tadi di Rumah Sakit. Jadi menurutlah padaku. Hari gajian kita masih jauh Shita. Baiklah sekarang kita pulang. Kamu dengan kakakku, aku dengan kak Niko, dan jangan membantahku lagi Shita” tegas Nana kemudian bersiap – siap untuk pulang.


“Kak, aku titip temanku. Jaga dia, karena ia sangat berharga untukku. Dia trauma dengan laki – laki jadi kau harus lembut padanya dan jangan menyakitinya.” ucap Nana setengah berbisik pada Rendra.


“Trauma dengan laki – laki? Ada apa dengannya?” gumam Rendra dalam hati.


Setelah menaiki mobil masing – masing, mereka pun melajukan mobilnya dengan arah berbeda. Dalam mobil Rendra berusaha memecahkan keheningan yang sama seperti tadi.


“Ee kamu darimana Shita? Maksudku asalmu.” tanya Rendra basa basi.


“Aku dari Nusa Dua, Bali.” jawab Shita dingin.