
Shita mengernyitkan dahinya membaca pesan ia terima.
“Masa laluku? Bagaimana dia tahu? Ahh itu pasti ulah si Nana. Tu orang kenapa bocor kayak ember pecah gitu sihhh. Terus apa maksudnya ini ‘laki – laki angkuhmu’? ya ampun, ada – ada saja.” ucapnya dalam hati. Kembali ia meletakkan bunganya dan pergi beristirahat disofa.
Waktu berlalu sangat lambat bagi laki – laki yang kini diliputi rasa bahagia akan segera bertemu dengan wanita yang telah mengikat hatinya. Waktu yang disepakati telah tiba, jam 7 malam Rendra yang sudah rapi sedari tadi siap untuk menjemput Shita melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju garasi rumah. Ia pun mengirimkan pesan pada Shita saat ia sudah didalam mobil.
Ting
“Sedang dimana? Aku akan menjemputmu sekarang untuk makan malam pertama kita.”
Shita yang menerima pesan Rendra pun membalasnya.
“Aku masih dirumah sakit, kita bertemu direstoran nanti. Kirimkan saja aku alamatnya.”
Drreet
Rendra mengernyitkan dahinya menerima balasan Shita.
“Aku tak ingin dibantah Shita, biarkan aku menjemputmu dan menunggumu bersiap – siap sebelum kita makan malam.”
Shita yang menerima balasan pesan Rendra hanya bisa pasrah menunggu kedatangan laki – laki itu menjemputnya. Rendra yang tak mendapat balasan apapun dari Shita melangkah turun menuju bagasi mobilnya, melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menjemput Shita.
Dari kejauhan Shita melihat mobil sport silver berhenti tepat di depannya. Pengemudi yang tak lain adalah Rendra melangkah keluar dari pintu kemudinya menghampiri Shita.
“Lama?”
“Tidak”
“Baiklah, ayo masuk.”
Rendra dengan senangnya membukakan pintu mobil untuk Shita. Shita pun hanya membiarkan apa yang dilakukan Rendra. Rendra menutup pintu ketika Shita sudah berada di mobilnya. Dengan sedikit berlari Rendra masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju ke tempat Shita.
Shita turun dari mobil Rendra setelah sampai di tempatnya, mempersilakan Rendra masuk dan duduk disofa. Sementara Shita pun berpamitan untuk mandi dan bersiap – siap.
Setelah beberapa menit menunggu Shita yang sudah bersiap keluar dari kamarnya menuju sofa tempat Rendra berada. Rendra yang mendengar langkah kaki seketika menoleh ke sumber suara. Darah Rendra seketika berdesir kencang, jantungnya berpacu dengan cepat memompa darahnya hingga ke kepala Rendra. Seketika Rendra gugup dan wajahnya sedikit merah melihat penampilan Shita.
Shita yang sedari tadi di tatap lekat oleh Rendra pun hanya terdiam melihat tingkah laku Rendra yang terlihat gugup dan melihat wajah merah laki – laki itu.
“Jadi makan malam atau tidak kita sekarang?”
“Eee i-iyaa iya jadi. Ayo”
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan mencari restoran tempat mereka akan makan malam.
“Kamu mau makan apa Shita?” tanya Rendra sambil memegang kemudinya sesekali melirik ke arah Shita.
“Mmm terserah kamu. Aku ikut saja. Aku bisa makan apapun.”
Senyum Rendra tak pernah pudar dari wajahnya dan itu terlihat jelas oleh Shita. Beberapa menit kemudian mereka sampai direstoran mewah yang ada di Jakarta. Mereka menempati meja yang telah dipesan. Beberapa saat pelayan datang menghampiri mereka.
“Kamu mau makan apa Shita? Silakan pesan.”
“Samakan saja denganmu. Aku tak pernah makan disini jadi aku tak begitu tahu.” ucap Shita kemudian menutup buku menu yang dipegangnya.
Tak lama kemudian pelayan pun membawakan pesanan mereka.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Pasiennya banyak? Ada pasien yang dioperasi?” tanya Rendra disela – sela makannya.
“Baik – baik saja. Tidak terlalu banyak. Ada tadi siang 2 pasien yang aku operasi” jawab Shita dingin.
“Tak bisakah kau tak dingin padaku? Aku tahu kamu bukan orang dingin seperti ini, itupun jika kamu tak keberatan dengan permintaanku”
“Inilah aku. Jika kamu tak suka mengapa mendekatiku dan mengajakku makan malam seperti ini?” jawab ketus Shita.
Rendra hanya menghela nafasnya karena salah mengajukan pertanyaan. Entah mengapa mendengar jawaban yang keluar dari mulut wanita itu membuatnya semakin bersemangat untuk mendekati dan menaklukan hatinya.
“Kau berapa saudara Shita? Kau asli orang nusa dua?” tanya Rendra lagi.
“Iya, Aku orang asli sana. Jadi kenapa menanyakan hal itu? Keberatan?” sinis Shita.
“Maaf jika aku menanyaimu seperti itu. Jadi bolehkah aku kamu beritahu tentang masa lalumu itu seperti apa?” tanya Rendra lagi.
“Bukannya kamu sudah tahu bagaimana masa lalu ku dari adikmu?” Shita membalikkan pertanyaannya pada Rendra.
“Bukan yang itu Shita, baiklah tak usah kita bahas lagi. Lanjutkan makanmu.” ucap Rendra dengan sedikit kesal.
“Baiklah aku akan menceritakannya. Tapi setelah aku selesai dengan ceritaku, ku harap kamu menjauhiku.” tegas Shita.
“Tidak Shita. Aku takkan menjauhimu. Sudah lama aku ingin dekat denganmu. Tak peduli masa lalumu bagaimana, aku akan berjuang untuk ini semua.” jawab Rendra dengan sorot mata yang terlihat menahan amarah. Shita yang melihat itu hanya membiarkannya.
“Jika nanti kau tahu masa laluku kau akan menyesal Rendra. Aku tak ingin menghancurkan perasaanmu lebih jauh dari ini.”
“Lebih baik aku sakit mendengar masa lalumu dan aku bahkan sudah mulai mendekatimu. Daripada aku belum memulai semuanya namun aku sudah menjauhimu. Aku bukan orang seperti itu Shita. Jika memang seperti ini, lebih baik untukku tidak pernah bertemu denganmu dan memilih tak memiliki rasa padamu.” ucap Rendra meletakkan sendoknya.
“Simpan rasamu yang takkan bisa ku balas nantinya. Itu hanya akan menjadi sia – sia.” ucap Shita dengan santai.
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita itu, membuat Rendra tercekat dan menghentikan makannya.
“Baiklah Shita, aku mengalah padamu. Niatku baik untuk dekat denganmu. Maaf membuat makan malam kita berantakan seperti ini. Silakan lanjutkan makanmu. Aku akan menunggu di atas restoran ini. Datanglah jika sudah selesai.” ucap Rendra meninggalkan Shita melangkah ke arah tangga yang menghubungkannya langsung ke rooftop restoran.
Dengan cepat Shita menyelesaikan makannya dan menyusul Rendra ke rooftop restoran.
“Ada apa mengajakku ke sini?” tanya Shita setelah menemukan keberadaan Rendra dipojok rooftop restoran.
Shita terkejut melihat ada bulir bening yang jatuh di pipi Rendra.
“Maafkan aku Shita, jika aku sudah memaksamu untuk menceritakan masa lalumu, untuk dekat denganku dan menuruti keinginanku. Maaf jika aku terkesan memaksa karena sebelumnya aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini pada wanita lain. Anggap saja aku temanmu sampai waktu penebusan rasa bersalahmu selesai. Maka saat itu aku takkan memaksakan lagi perasaanku. Bolehkah aku seperti itu sekali ini saja? Egois dengan perasaanku walau aku tahu perasaanmu padaku.”
“Maafkan aku, aku hanya tak bisa percaya dengan mudah pada laki – laki setelah aku disakiti dulu.”
“Baiklah tak usah dibahas lagi. Hanya denganmu memenuhi keinginanku selama seminggu ini saja sudah membuatku senang. Kau sudah selesai? Coba lihat pemandangan diatas sini. Sangat indah bukan. Aku ingin melihatnya bersamamu.” ucap Rendra yang memandang jauh ke gemerlapnya malam kota Jakarta dari rooftop restoran.
Shita yang mendengar pun hanya mengikuti saran Rendra dan memandang takjub pemandangan dari atas sana. Ia yang tak pernah melihat pemandangan seperti itu tak menyianyiakan waktunya untuk melihat keindahan itu dan menyimpannya lekat di memori kepalanya.