Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 80



“Maaf, aku hanya menjalani semua ini denganmu tanpa harus mencari tahu latar belakangmu Rendra, karena bagiku latar belakang bukan apa - apa, aku hanya sedikit terkejut mendengarkan apa yang kamu katakan. Maafkan aku, aku yang salah tak mencari tahu tentangmu, maaf” cicit Shita yang kini air matanya tak bisa di bendung lagi. Ia menangis sesegukan di depan semua keluarga Jaya ia juga teramat malu dengan orang tua Rendra.


Rendra mengusap wajahnya dengan kasar, bisa – bisanya ia berbicara tinggi seperti itu pada kekasihnya di hadapan keluarga besarnya. Semua yang ada disana melihat pertengkaran pasangan itu tidak terkecuali Mirna  kepala asisten rumah tangga keluarga Jaya. Rendra membalikkan tubuhnya menghampiri Shita yang masih berada dalam dekapan Ratna.


“Maaf Shita maafkan aku sayang. Maaf aku sudah


berkata seperti itu. Aku hanya tak berniat menyembunyikan semuanya aku hanya


tak ingin kamu merasa aku lebih tinggi seperti sekarang. Maafkan kata – kataku


sayang, jangan menangis lagi. Aku mencintaimu” sesal Rendra kemudian memeluk


tubuh kekasihnya, berulang – ulang mencium kening Shita.


“Maafkan aku juga Shita yang tak jujur padamu dari awal. Aku menyesal” ucap Nana yang kini ikut memeluk Shita.


“Tak ada kata maaf dalam persahabatan Nana, aku sudah tak apa. Masih sedikit syok saja” ujar Shita yang masih betah dipelukan kedua kakak beradik itu.


“Om tante maafkan Shita sudah merusak makan malam ini, sekali lagi maafkan Shita” ucap Shita seraya melangkah mendekap erat tubuh Ratna.


“Tante yang seharusnya minta maaf sayang, cobalah untuk berusaha mengerti dan menerima apapun keadaan Rendra nantinya ya sayang” sahut Ratna yang dibalas anggukan oleh Shita. “Ayo kita lanjutkan makan malamnya” timpal Hendra yang kini berada diantara istri dan calon menantunya.


Semua yang mendengar merasakan kelegaan hati teramat dalam, sebuah tontonan bak drama romantis yang ada di depan mereka sejak tadi.


“Rendra, setelah makan malam ikut papa di ruang kerja ada yang ingin papa bicarakan”


“Baik pa”


Ting


“Gawat tuan, saham perusahaan yang ditanam oleh pak Dwi sudah berpindah tangan seperti saham pak Hartono. Jumlah saham yang tak diketahui siapa pemiliknya itu berjumlah 10% pak”


Rendra membaca pesan yang di kirim oleh asistennya sedikit terkejut, dengan cepat ia meletakkan kembali ponselnya agar tak membuat orang lain merasa cemas namun Hendra bisa melihat gelagat anaknya itu. Makan malam sudah berakhir, dengan cepat Rendra mengekori ayahnya dari belakang menuju ruang kerja Hendra.


“Ada yang tak beres lagi Rendra?” tanya Hendra setelah sampai di ruang kerjanya.


Rendra sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir ayahnya.“Saham kita sudah dibeli 10% pa, tadi asisten Rendra memberitahukan semuanya” jawab Rendra yang sudah duduk di samping ayahnya.


“Sudah ayah duga akan seperti ini, papa mendapatkan informasi jika saham perusahaanmu di beli oleh orang dari masa lalumu, Andika Sanjaya. Ini berkas yang papa dapatkan, papa khawatir kehadirannya bisa membuatmu seperti dulu kau harus jujur dengan masa lalumu pada Shita, papa takut hal ini akan membuat keributan seperti tadi lagi dan mempertaruhkan hubunganmu dengannya” kata Hendra dengan ekspresi yang tak terbaca.


Rendra terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu, tapi bagaimana bisa bagaimana mungkin orang yang sudah lama tidak ia temui dan dengar kabarnya bisa membeli saham perusahaan, ‘Bagaimana mungkin aku jujur apakah Shita akan menerimanya?’ gumamnya.


“Papa tahu apa yang kamu pikirkan, papa hanya bisa mendapatkan informasi itu karena lingkup perusahaannya tidak di area kita. Mungkin jika kamu meminta bantuan kakekmu ia bisa menolongmu. Kau juga harus bertindak cepat, papa dengar perusahaanmu bekerja sama dengan perusahaan TSanjaya grup, itu pasti dia pemiliknya karena sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini tapi feeling papa mengatakan seperti itu”


Rendra mencerna dengan baik kata demi kata apa yang diucapkan oleh ayahnya.


“Rendra akan pikirkan semuanya pa, untuk masa lalu Rendra biarlah Rendra yang akan jelaskan tapi tidak untuk sekarang pa” jelas Rendra agar ayahnya tak salah paham.


“Itu terserah padamu, lakukan yang terbaik mungkin memang sangat menyakitikan tapi setidaknya berusahalah lagi untuk hubungan kalian” kata Hendra yang kini sudah duduk di samping Rendra memikirkan semua yang terjadi.


Sementara itu di ruang tamu


“Tante, boleh aku bicara sebentar pada Nana?” tanya Shita pada wanita paruh baya namun tetap cantik dan anggun yang sedang bersamanya.


“Tentu saja boleh, Nana bawa Shita ke kamarmu saja” ucap Ratna dengan nada lembutnya seraya melanjutkan aktifitasnya mengobrol dengan Dharma.


“Ya ma, ayo Shita kita ke atas” ajak Nana seraya diangguki oleh Shita.


Nana menuruti perkataan sang mama dan mengajak sahabatnya itu ke kamarnya yang berada di lantai 2.


“Silakan masuk Shita, silakan duduk disini” ucap Nana sembari menunjuk sofa yang ada di dalam kamarnya lalu ia mengambil minuman dalam kulkas kecil yang ada di kamarnya.


“Ini untukmu, kau boleh memakan camilan yang ada disebelah kirimu” tambah Nana yang telah mendekat dan meletakkan dua minuman itu di depan Shita.


“Wow, semua serba ada disini. Aku sampai terpesona” ucap Shita perlahan.


“Ini semua pemberian kak Rendra, jadi apa yang mau kamu tanyakan Shita, mengapa kamu serius sekali?” tanya Nana dengan santainya meneguk minuman yang ada di depannya.


Nana yang mendengar pertanyaan itu terkejut dibuatnya karena ia sebagai seorang adik dan anak di keluarga itu pun hanya sekilas tahu apa yang di alami oleh kakak tersayangnya.


“Aku tak tahu bagaimana persisnya tapi mungkin itu semua karena masa lalu kakak dan itu mengakibatkan ia sering bermimpi buruk. Orang tuaku merahasiakan itu semua dariku dan mengatakan jika kejadian itu terjadi di luar negeri tempat papa dan mamaku tinggal dulu. Tapi sampai saat ini dia sudah tidak pernah bermimpi buruk seperti dulu” jelas Nana pada Shita.


“Tapi mengapa kau menanyakan ini semua? Apa ada yang tidak beres dengan kakakku saat bersamamu?” tanya Nana dengan seriusnya menatap wajah Shita.


“Ah tidak, aku hanya melihatnya kemarin bermimpi buruk dan aku kira kamu mengetahuinya. Tolong rahasiakan ini dari keluargamu, mungkin saja Rendra kemarin sedang kelelahan saja”


“Bermimpi buruk lagi? Kenapa tidak kau tanyakan pada kakakku saja Shita?” tanya Nana menatap lekat wajah sahabatnya itu.


“Ah sudahlah, aku juga tidak apa – apa”


Perempuan itu enggan untuk menanyakan lebih jauh lagi, ia kini lebih sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Rendra tak bermimpi buruk lagi setelah ini.


“Ayo kita turun Na, aku takut di cari nanti oleh Rendra dan juga aku sangat malu sekali dengan orang tuamu tadi” ajak Shita yang telah berdiri tersenyum dan mengulurkan tangan pada sahabatnya.


Nana yang melihat hanya bisa meraih dan menautkan tangannya pada tangan Shita


“Ku harap kau dan kakakku bisa bersama selamanya Shita” kata Nana perlahan kemudian melanjutkan langkah dan mensejajarkan posisinya dengan Shita yang sudah keluar dari kamarnya dan turun dari tangga menuju tempat Ratna dan Dharma yang masih asik berbincang.


"Tante, kalian sedang membicarakan apa? Aku ikut dong tante" kata Shita yang kini sudah duduk di samping Ratna.


"Kemarilah nak"


---


Ruang Kerja Hendra.


“Papa, bagaimana jika penyakitku kambuh lagi pa?” tanya Rendra hingga membuat Hendra begitu terkejut mendengarnya.


“Papa tidak tahu apa yang akan terjadi padamu nak, tapi sebisanya akan papa usahakan agar kamu bisa melewati semuanya dengan baik seperti dulu. Pulanglah ini sudah malam, jaga calon menantu papa baik – baik. Beristirahat yang cukup karena besok kamu juga akan ke Bali untuk acara Riko. Papa akan menyusulmu besok siang” ucap Hendra yang dibalas anggukan oleh Rendra.


Rendra dan Hendra keluar bersama – sama dari ruang kerja dan menghampiri Shita yang sudah sampai di ruang tamu tengah berbincang dengan keluarga yang lain. Terdengar tawa dari semua yang berada disana mendengar ocehan Shita.


“Apa yang kalian tertawakan sampai begitu senangnya? Sayang, ayo kita pulang ini sudah larut malam. Besok juga kita akan berangkat pagi bukan. Nana besok kamu berangkat sama Niko atau sama kakak?” tawar Rendra yang kini duduk di samping Shita.


“Aku sama kak Niko saja kak. Kita sudah janji berangkat bersama” sahut singkat Nana.


“Tidak sedang menertawakan apa – apa ya kan tante? Tunggu sebentar ya sayang, aku rapikan ini dulu” cicit Shita yang kemudian merapikan beberapa gelas dan camilan yang sedari tadi di hidangkan untuk obrolan mereka.


“Kamu makin kepo sama urusan kita Ren, tak usah sayang biarkan saja seperti itu, biar bi Mirna yang rapiin nanti”


“Tidak tante Shita bisa rapikan sendiri kok, Shita tak mau merepotkan yang lain”


Sungguh hati keluarga itu menghangat mendengar apa yang di ucapkan oleh wanita yang masih sibuk dengan aktifitasnya. Rendra yang melihat apa yang dilakukan oleh kekasih hatinya merasa terpentil hatinya, akankah ia sanggup mengatakan bagaimana masa lalunya pada wanita yang benar – benar ia sayang itu. Setelah merapikan semuanya Shita membawa gelas dan tempat camilan itu menuju dapur.


“Aduhh non Shita sini kemarikan nampannya, seharusnya non bisa panggil bibi saja tadi” ucap Mirna yang ingin mengambil nampan itu namun langkah Shita terus saja mendekati wastafel.


“Maaf bi, Shita hanya ingin melakukan pekerjaan yang Shita bisa tanpa harus membebani orang lain. Shita tak ingin merepotkan orang yang seumuran dengan ibu Shita” jawab Shita dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


“Saya pamit sekarang ya bi, terima kasih atas makanannya” tambahnya seraya pergi dari dapur kembali ke ruang tamu menghampiri Rendra dan keluarganya


“Hati – hati ya non”


‘Semoga kelak non Shita benar – benar menjadi nyonya muda dikeluarga ini’ doa tulus Mirna dalam hati.


“Tante, om Shita permisi dulu ya. Nana dan kak Dharma Shita juga pamit pulang” pamit Shita pada kedua orang tua Rendra dan mengecup punggung tangan mereka.


“Hati – hati ya Rendra jaga Shita juga ya. Kita ketemu nanti di Bali lagi ya sayang. Juga jangan panggil tante lagi, panggil sama seperti Rendra” ujar Ratna membuat Shita terkejut.


“Ah, iy-ya tan eh Mama. Shita pamit dulu ya ma”


Rendra dan Shita keluar dari kediaman keluarga Jaya dengan perasaan bahagia. Setelah mereka berdua memasuki mobil Rendra melajukan mobilnya ke arah apartemen untuk beristirahat sebelum besok melakukan perjalanan kembali.