
Author POV
Rendra pun berbaring kembali dengan masih tetap melihat Shita sampai dokter itu selesai membalut luka Rian. Setelah Rian sadar 1 jam kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali ke kantor.
“Rian kamu pulang saja. Kamu istirahat hari ini besok kembali bekerja lagi. Saya yang akan membawa mobilnya kali ini. Kamu bisa naik taxi.” Ucap Rendra seraya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Sesampainya di kantor senyum tipis Rendra tak pernah pudar. Semua karyawan yang melihatnya tak percaya dengan apa yang terjadi. Bos yang dikenal Dingin dan acuh bisa tersenyum seperti itu.
Menyadari tatapan karyawannya Rendra pun menetralkan kembali wajahnya dan melangkah menuju ke kantornya dengan acuh dan dingin seperti dulu.
Setelah selesai dengan pekerjaannya di UGD, Shita kembali ke ruangannya. Beberapa langkah Shita memasuki ruangannya ia dikejutkan dengan teriakan Nana dari arah pintu.
“Shittaaaaaa. Aku hubungi ponselmu dari tadi kenapa tak kamu angkat?” tanya Nana langsung duduk di sebrang kursi yang biasa di duduki Shita.
“Kamu bisa gak sih kalo masuk ketuk pintu dulu. Bikin jantungan tau gak. Aku lelah Na banyak sekali pasiennya. Kapan berakhir cobaanku Tuhan.” Ungkapnya seraya duduk di tempatnya biasa menerima pasien sesekali menyesap kopi yang sedari tadi ia pegang dan mengusir rasa lelahnya.
“Lagi beberapa hari aja kan. Sabar aja. Ohya ada yang mau aku katakan padamu. Pembicaraan kita yang sempat tertunda. Kamu ingat?” selidik Nana.
“Takkan pernah ku lupa Nana. Jadi mau mulai dari mana? Dari Amerika apa dari Bali? Hahahaha.. mukanya gak usah tegang gitu. Bagaimanapun kamu dan siapapun kamu, kamu tetaplah sahabatku sampai nanti.” Ucap Shita tertawa kemudian melangkah menuju sofa yang berada tak jauh dari Nana.
Nana tercekat mendengar apa yang dikatakan oleh Shita. Tanpa basa basi lagi, Nana mendekat dimana Shita berada dan mulai menceritakan dirinya.
Flashback On
Nana Adiatma Jaya yang akrab disapa Nana. Aku adalah anak ketiga dari pasangan Hendra Adiatma Jaya dan Ratna Saraswati Jaya. Aku juga memiliki 2 kakak laki – laki yang begitu menyayangiku. Keluargaku terkenal dan terpandang karena memiliki perusahaan terbesar di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri Khususnya yang terbesar stelah di Indonesia adalah di Amerika. Aku memiliki 2 sahabat yang selalu bersamaku sejak SMA. Mereka mengatakan jika kita adalah sahabat sampai nanti. Mereka juga mengetahui identitasku yang sebenarnya karena aku memulai perkenalan yang jujur dengan mereka.
Awalnya mereka tak mempermasalahkannya dan menerimaku. Setiap minggu kedua temanku selalu minta meminjam uang padaku dengan alasan ekonomi keluarga mereka sedang tak baik – baik saja. Aku pun memberikan pada mereka secara sukarela tanpa mengharap mereka mengembalikannya padaku. Namun puncaknya terjadi setelah Ujian Akhir masa SMA ku terlewat beberapa hari, mereka mengajakku berpesta di sebuah vila yang sudah mereka pesan khusus untuk merayakan ujian akhir yang sudah terlewat. Tanpa ku sadari kedua temanku memasukkan beberapa buah obat yang mampu membuat melayang jika sedikit saja
mengkonsumsinya. Orang – orang sering menyebutnya narkoba dan itu dilarang di Indonesia.
Ketika ku tanya darimana mereka mendapatkannya, mereka hanya mengatakan jika itu dari temannya. Aku yang tak tahu apapun hanya mengiyakan apa yang dikatakan temanku. Setiap hari aku diberikan satu butir oleh mereka untukku konsumsi, awalnya aku menolak namun mereka beralasan atas nama sahabat aku pun menurutinya hingga beberapa minggu aku mulai bergantung pada obat itu dan secara diam – diam mengirimkan begitu banyak uang untuk mereka agar mereka memberiku obat terlarang itu perhari. Aku tahu aku salah dalam bertindak, akupun tak memberitahukan keluargaku.
Aku hanya takut aku akan mengecewakan mereka. Sudah 3 bulan aku mengkonsumsi obat terlarang itu. Aku berubah menjadi pribadi yang pendiam dan cepat marah. Kak Rendra peka yang menyadari perubahan yang terjadi padaku, menanyakan mengapa aku berubah menjadi pendiam. Aku hanya menjawab jika diriku baik – baik saja. Terkadang tidak setiap hari mood kita baik, bisa juga mood kita buruk. Aku berusaha menyembunyikan dengan rapat ketika ku lihat tatapan mata kakakku yang sangat tajam menyelidik ke arahku. Aku tahu kakakku takkan percaya begitu saja ucapanku.
Sampai bulan ke 4 aku mengkonsumsi narkoba, saat itu aku berpesta bersama dengan temanku. Kakakku datang ke tempat kami berpesta dengan laki – laki yang aku sukai yaitu kak Niko. Aku yang kala itu
sudah terpengaruh obat hanya bisa mengutarakan perasaan marahku pada kedua laki – laki yang datang untukku.
Bahkan aku memaki kak Niko karena dia mulai jarang datang ke rumah. Perasaanku membuncah kala itu. Dan pada akhirnya aku berakhir di tempat rehabilitasi dan kak Niko melihat keadaanku seperti itu. Betapa malunya aku. Saat itu pula aku memutuskan untuk mengubur rasa cintaku untuk kak Niko. Tapi bayang kak Niko yang sedang tersenyum selalu membayangiku.
Flashback off