
“Haruskah aku menceritakan padamu siapa pemilik gelang itu huh? Dengar kalian berdua aku bisa saja melaporkan kalian atas tuduhan penculikan karena kalian memaksaku untuk ikut bersama kalian. Kalia-
“Lelaki penunggu pohon. Apa kau tahu siapa itu? Apa kau mengenalnya?” tanya Wisnu yang nampaknya kesabaran untuk mendengar penjelasan wanita itu telah habis, kini tatapannya terlihat begitu sendu.
Deg deg deg
‘Mengapa aku sedikit sakit melihat wajah mantan bosku ini seperti itu, apa yang salah denganku hari ini’ ungkapnya dalam hati.
“Kau hanya mantan bosku jadi aku tidak akan memberitahukan padamu karena itu privasi-
“Karena aku anak kecil yang selalu duduk dibawah pohon dan kamu anak kecil cerewet kepang dua pengganggu yang datang berkali – kali saat itu, apa aku benar?” tanya Wisnu yang lagi – lagi memotong kalimat Nisha.
Deg
Jantung Nisha berdetak sangat cepat, seketika luruh sudah ego wanita yang tadinya terlihat menampakkan kekesalan. Ternyata ini lah alasan mengapa dulu ia begitu familiar dengan laki – laki itu hingga bisa dengan mudahnya membua makanan kesukaannya, mengapa ia begitu perih perasaannya melihat laki – laki itu menampakkan wajah sendu.
“Kau hanya mengarang kan? Bukan kamu, bukan. Nama laki – laki itu Wardana dan saat ini berada di Jepang sementara kamu tidak disini sekarang. Kamu di Indonesia” ucap Nisha dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata.
“Apa aku mengatakan jika saat ini aku ada di Indonesia? Aku berdiri tepat di sampingmu”
Deg
Lagi lagi jantung Nisha berpacu dengan kecepatan di atas rata – rata mendengar apa yang dikatakan oleh Wisnu.
Ceklek
“Apa kamu sudah melihatku? Kini aku berada di Jepang kan?” ungkap Wisnu yang segera menarik lembut tangan Nisha sedikit memaksanya keluar dari mobil yang di kemudikan oleh Jack dengan panggilan yang masih tersambung.
Jack tidak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Wisnu karena ia tahu seberapa besar usaha bos sekaligus temannya itu menemukan anak kecil yang selama ini ia cari.
“Aku tanya sekali lagi, apa kamu Nisa Astari teman masa kecilku juga pengganggu itu?”
Nisha yang tak kuasa menahan perasaannya memilih untuk memeluk Wisnu sebagai jawaban atas pertanyaannya. Tumpah sudah tangis dan rindu yang selama ini Nisha pendam seorang diri. Laki – laki yang ia cari ternyata begitu dekat dengannya waktu itu.
“Mengapa kau tadi membohongiku, kamu kemana aja Nisa aku begitu merindukanmu kekasih kecilku” ungkap Wisnu tanpa sadar air matanya luruh bersama dengan isakan tangis kencang wanita itu.
Kedua manusia itu menumpahkan rasa yang selama ini terpendam begitu dalam tanpa menghiraukan seseorang yang melihat adegan dramatis itu sejak tadi.
‘Jadi nyamuk gue, nasib apes banget dahh’
“Kau harus menjelaskan semua ini padaku, kau telah membohongiku. Aku belum yakin tentang siapa identitasmu yang sebenarnya, mengapa kau memalsukan identitasmu?” kata Wisnu setelah ia melerai pelukannya kemudian menyodorkan selembar berkas kepemilikan pasport. Dengan mudahnya ia bisa mendapatkan apapun itu jika ia sudah menginginkannya.
“A-aku akan menjelaskannya tapi tidak disini” ucap Nisha lalu memutar tubuhnya melangkah menjauh dari Wisnu namun sayang langkahnya itu terhenti ketika lengan besar milik Wisnu mencekal lengannya.
“Ikut denganku dan jelaskan semuanya ditempat milikku” sahut Wisnu kemudian menggiring tubuh Nisha masuk ke dalam mobil. Jack yang memang tahu kemana tujuan Wisnu langsung menancap gas mobilnya. Selama beberapa saat keheningan terjadi di jok belakang mobil Jack sebelum akhirnya mobil itu berhenti disalah satu hotel elite yang ada di Jepang.
Jack turun terlebih dahulu kemudian disusul oleh Wisnu namun tangannya terulur ke dalam dengn maksud membantu wanita yang masih berada disana untuk keluar menyusulnya. Nisha menelisik setiap jalan dan orang yang sedari tadi berlalu lalang dalam mobil.
‘Apa dia benar – benar yakin mengajakku ke tempat seperti ini’ gumam Nisha yang nampaknya khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya. ‘Apa aku harus percaya pada laki – laki ini walaupun aku sudah bertemu dengannya bahkan hanya sekali saja? Bagaimana mungkin aku bisa berjalan beriringan dengannya jika penampilannya seperti itu’
Nisha yang masih memperhatikan penampilannya juga penampilan Wisnu menggelengkan kepalanya lemah. Wisnu dapat menangkap maksud pikiran Nisha.
“Dimana keberanianmu dulu sewaktu mengejekku juga mendekatiku? Apa keberanianmu hilang ketika beranjak dewasa? Apa perlu aku meneriakimu maling agar kamu menerima uluran tanganku dan keluar dari mobil?” tanya Wisnu bertubi – tubi hingga membuat mata Nisha membulat dengan sempurna.
Tak ingin memperpanjang masalah, Nisha meraih uluran tangan Wisnu namun setelah itu kesialan menghantuinya. Baru satu kali ia menggerakkan badannya agar lebih dekat dengan pintu, kaki kedua yang akan ia gunakan untuk berpijak terantuk pada pintu mobil hingga membuat badannya terhuyung ke depan tepat di dada Wisnu. Mereka terdiam denga bersamaan.
“Kau memanfaatkanku dan memelukku dengan leluasa. Jangan kamu kira jika tadi aku memelukmu saat pertemuan kita kamu juga bisa bebas memelukku seperti ini. Aku tidak ingin kamu peluk sebelum aku memastikan identitasmu. Anggap yang tadi adalah sebuah kesalahan”
Dada Nisha bergemuruh mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Wisnu.
“Dengar ya tuan muda yang terhormat, aku juga tidak sudi untuk memelukmu jika bukan karena kamu yang menyeretku kesini aku juga tidak mau pergi denganmu. Kalau memang itu sebuah kesalahan dan jika memang aku Nisha yang kamu cari jangan pernah berharap aku akan mau kamu peluk lagi seperti itu” teriak Nisha tepat dihadapan Wisnu hingga membuat laki – laki itu mendadak mengatupkan bibirnya secara sempurna. Setelah mengatakan itu Nisha memutar tubuhnya melangkah menuju lobby hotel agar ia bisa menyelesaikan semua urusannya dengan laki – laki gila itu.
Wisnu sebenarnya bermaksud sedikit bercanda dengan wanita itu namun respon yang diberikan Nisha diluar dugaan Wisnu. Jack tertawa terpingkal – pingkal melihat ekspresi tak berdaya yang selama ini tak pernah ditunjukkan Wisnu. ‘jika memang wanita itu adalah anak kecil yang Wisnu cari dipastikan setiap hari aku akan mendapatkan tontonan yang menarik’
Jack terkikik geli hanya dengan membayangkannya saja, tanpa ia sadari Wisnu sudah berada dihadapannya dan mengawasi tingkahnya. “Tak ada bonus dan gaji di potong 15%” katanya yang kemudian berlalu dari hadapan Jack yang sudah terdiam mendengar apa yang terlontar dari bibir Wisnu.
Wisnu yang sudah menapaki kakinya dilobby hotel mengedarkan pandangannya mencari keberadaan wanita yang dengan berani sudah meneriakinya. Tepat disebelah kiri ia melihat sosok yang ia kenal meski itu pertemuan pertama mereka. Dengan cepat Wisnu merangkul pundaknya dan menggiring wanita itu menuju lift.
Nisha terperanjat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Wisnu saat itu. Dadanya yang sedari tadi bergemuruh kini berdesir setelah apa yang dilakukan Wisnu. Ia juga tak mampu menghindari laki – laki itu karena memang ia ingin menyelesaikan semuanya.
Ting
Lift yang membawa mereka ke lantai paling atas terbuka. Wisnu yang masih dengan setianya merangkul pundak Nisha menggiring tubuh wanita itu mendekati kamar yang hanya ada satu disana.
“302207” ucap Nisha lirih ketika ia sudah berada di depan pintu berwarna coklat dengan ukiran di samping kiri dan kanan.
“Jika kau memang Nisaku kau pasti mengerti makna angka itu” sahut Wisnu sembari membuka kunci dan menarik handle pintu. ‘Masuklah’ tambahnya saat ia sudah berjalan terlebih dahulu di depan Nisha.
Mata Nisha terbelalak melihat interior yang ada dikamar itu.
“Jika kau memang masa laluku kau pasti tahu apa ini” lagi lagi Wisnu berucap seolah – olah menekankan kata masa lalu juga kenangan yang masih sangat ia ingat.
“Ke-kenapa bisa seperti ini? Dan bagaimana kau bisa ingat detailnya?” tanya Nisha dengan mata yang sudah berkaca – kaca. Apa yang ia lihat dalam kamar adalah apa yang selalu ia ucapkan dan ceritakan dulu pada teman kecilnya ketika mereka bertemu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Nisha, laki – laki yang sedari tadi menghadap jendela kini memutar tubuhnya berjalan cepat ke tempat wanita yang masih setianya berdiri sejak tadi. Ia ******* bibir Nisha dengan rakus tanpa menyisakan seinci pun terlewat dari sapuannya.
Nisha yang tidak pernah berciuman sebelumnya hanya bisa pasrah dan meresapi setiap gerakan dan perlakuan Wisnu pada dirinya, ‘Haruskah aku percaya denganmu walaupun ini adalah pertemuan kedua kita, apa memang kamu adalah laki – laki yang aku cari'
Karena tak mendapat respon apapun atas tindakannya, Wisnu menghentikan aktifitasnya dan menyatukan dahinya pada dahi Nisha.
“Apa kau tak menyukaiku?” Nisa menggelengkan kepalanya.
“Apa kau tak menginginkannya?” lagi, Nisha menggelengkan kepalanya.
“Apa kau tak meng-
Ucapan Wisnu tertahan kala bibirnya dipaksa berhenti oleh bibir Nisha yang sudah mengecup bibirnya. Seuntai senyum tipis terlihat di bibirnya melihat apa yang dilakukan Nisha. Entah sudah menit keberapa bibir kedua insan itu masih saja saling beradu mencari kenyamanan dan kepastian di antara mereka.
Dirasa cukup, Wisnu menghentikan aktifitasnya lalu mengecup singkat bibir Nisha kemudian meninggalkan wanita itu dengan mata yang masih terpejam menuju letak dimana kulkas berada dan mengambil 2 botol minuman.
“Buka matamu dan duduklah disini” kata Wisnu lembut setelah ia duduk disalah satu kursi depan mini bar yang ada disana dan menepuk kursi disebelahnya agar wanita itu mengerti dengan maksudnya. Nisha berjalan mendekat dan menuruti apa yang dikatakan Wisnu.
“Bisa kau jelaskan padaku sekarang bagaimana kamu bisa sampai ada disini?” tanyanya lembut dengan tangan kanannya yang tak berhenti memaikan anak rambut yang berada disisi kiri Nisha, membawanya ke belakang telinga wanita itu.
Terdengar helaan nafas beberapa kali keluar dari bibir Nisha sebelum ia menjawab pertanyaan laki – laki di hadapannya. “Aku dan kakakku bertukar posisi. Dia menginginkan tempatku dan dimana aku bekerja tepat setelah kamu menerimaku. Awalnya aku tak mengerti mengapa dia menginginkan pekerjaanku karena yang aku tahu pekerjaannya dulu sudah sangat bagus menurutku, tapi belakangan aku tahu jika dia menyukaimu dia juga mengetahui niatku ingin mengumpulkan uang dan mencarimu kesini jadi dia menawarkan padaku uang yang sangat banyak”
“Lalu?”
“Ya aku menerima uang itu karena memang aku berniat mencarimu, karena aku pikir kita kembar jadi tak ada yang mengenaliku jika aku bertukar tempat dan aku juga bisa mencari temanku itu. Namamu kan Wisnu, tapi mengapa kau mengaku jika kamu adalah anak laki – laki itu?” tanya Shita setelah ia menerima minuman yang telah dibuka Wisnu dan diberikan padanya.
“Memang siapa nama anak laki – laki yang kau ketahui itu? Mengapa kau tidak percaya padaku tadi”
“Wardana, nama yang indah” ucap Nisha tanpa ia ketahui jika laki – laki itu tersenyum melihat ke arahnya. “Mengapa kau senyum – senyum sendiri, gila?”
Wisnu tertawa mendengar apa yang dikatakan Nisha, “Hah gila? Tidak tidak. Namaku Wisnu Wardana Nisha, coba kau ingat – ingat lagi apa yang aku katakan saat kamu memaksaku untuk berkenalan denganmu”
“Aku hanya mendengar suara mobil dan terakhir aku mendengar nama belakangmu, maaf” ujar Nisha seraya menundukkan kepalanya.
Wisnu menepuk dahinya, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Nisha “Bukan salahmu jika memang seperti itu, aku yang seharusnya mengulang menyebut namaku saat bunyi mobil itu terdengar sangat jelas. Maafkan aku” cicit Wisnu yang kini beralih mengusap pipi kiri Nisha dan tersenyum ke arah wanita itu.
“Tak apa, karena semua itu membuat aku berusaha begitu keras untuk menemukanmu bahkan hanya dengan mengetahui nama belakangmu. Aku ingin mengembalikan sesuatu” ujar Nisha sembari mengambil sebuah barang dari tasnya. “Ini, aku ingin mengembalikan ini. gelang ini milikmu bukan?” tanya Nisha setelah ia berhasil menemukan gelang Wisnu dan meletakkannya di meja.
Wisnu mengambil gelang itu dan mengamatinya, “Ini sudah ada bersamamu dalam waktu yang begitu lama jadi sudah sepantasnya kamu memakai ini. Karena gelang ini juga kita akhirnya bisa bertemu dan bersama” ucap Wisnu kemudian memasangkan gelang yang ia genggam dan mendekatkan dahinya pada dahi Nisha.
“Mulai saat ini berjanjilah kamu tidak akan pergi kemana pun lagi karena aku takkan membiarkannya” cicit Wisnu yang kini sudah berdiri dan memeluk tubuh Nisha yang masih duduk di hadapannya.
“Mmm, aku takkan meninggalkanmu lagi” jawab Nisha seraya membalas pelukan erat Wisnu pada tubuhnya.