
“Kau melihatnya tadi? Mmmm terima kasih makanannya.” Singkat Shita.
“Aku boleh menanyakan sesuatu padamu Shita? Tas yang kamu tadi kamu gunakan untuk menolong wanita itu milik siapa? Pernahkah kamu menolong korban kecelakaan motor yang kakinya patah di daerah Thamrin?” tanya Rendra yang kini menajamkan pendengaran dan berdebar mendengar jawaban wanita disampingnya.
“Itu milikku, kenapa? Mmm rasanya pernah, kalau tidak salah kejadian itu lebih sebulan yang lalu.”
“Benarkah? Terima kasih Shita, terima kasih atas pertolonganmu padaku saat itu. Jika aku tidak bertemu denganmu, kemungkinan besar aku takkan bisa seperti sekarang.” ucap laki – laki itu dengan mata berkaca – kaca namun mulai memberanikan diri memeluk wanita yang berada disamping kirinya.
“Hah? Jadi yang kecelakaan itu kamu? Ternyata dunia sesempit ini.” ucap Shita yang kini sudah menyantap makanan yang ada dihadapannya.
“Iya, dan jika tak segera mendapat pertolongan kemungkinan saja tulangku yang patah itu bisa merusak saraf di kaki kiriku dan menyebabkan aku tak bisa berjalan lagi. Aku tak pernah tahu jika dunia sesempit ini. Kau tahu Shita, mengapa senja terdengar lebih romantis dari fajar?” tanya Rendra pada wanita yang tengah asik dengan makanannya.
“Kenapa?” singkat Shita.
“Karena perpisahan akan lebih mudah dikenang daripada pertemuan. Karena malam ini kita akan berpisah, aku begitu bahagia bisa bertemu denganmu hari ini dan mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sejak saat itu. Aku pergi Shita, jaga dirimu baik – baik. Kalau ada apa – apa jangan sungkan menghubungiku jangan lupa besok pagi aku akan menjemputmu.” Ucap laki – laki mengedipkan satu matanya pada Shita, bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Shita.
“Dasar gila.” Teriak Shita.
“Dia mengataiku Gila? Tapi mengapa aku begitu senang dengan panggilan wanita itu?” kekeh Rendra yang sudah berada di dalam mobilnya.
Dengan perasaan senang Rendra melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Jaya. Semua yang berada didalam rumah menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat, seorang CEO yang terkenal begitu dingin kini tersenyum tanpa henti, ada keajaiban apa hari ini? begitu pikir semua orang yang ada disana. Ratna mencoba menanyakan apa yang menimpa anak sulungnya itu.
“Rendra, kamu kenapa senyum – senyum sendiri, otakmu konslet? Parah gak?” ucapan Ratna seketika mengundang gelak tawa semua orang yang ada disana. Merasa dipermainkan oleh mamahnya, kini Rendra mendekat ke arah mamahnya yang berada diruang keluarga bersama semua anggota keluarganya.
“Mah, pah, Rendra ingin menikah. Menikah dengan orang yang telah menyelamatkan Rendra dari kecelakaan motor 2 bulan yang lalu. Mamah tidak lupa dengan kejadian itu kan? Aku sudah menemukan siapa yang menolongku saat itu.” Ucap Rendra tegas yang membuat keluarganya diam seketika meresap dan mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Rendra.
“Nikah kak? Aku sih oke aja, tapi calonnya siapa sampe ngebet banget nikah kayak gini.” Tanya Dharma yang kini mulai serius menanggapi perkataan Rendra.
“Akshita Lyla” jawab singkat Rendra yang membuat keluarganya makin terkejut.
“Hah? Shita yang nolong kakak kemarin? Mengapa bisa terjadi hal kebetulan seperti ini? tapi kalo dia yang jadi ipar Nana, aku sih 100000% yes. Yey, akhirnya punya ipar." teriak Nana berlarian mengelilingi ruang keluarga Jaya.
“Papa juga yes Rendra, ternyata dia pernah nolong kamu. Papa ikut seneng kalo kamu senang, anak papa memang tak salah pilih”
“Dharma juga, lengkaplah nanti keluarga kita keluarga dokter.”
“Mama ikut juga deh, mama rasa pilihan kamu terbaik. Jika bukan yang terbaik tak mungkin semua yang ada disini mendukungmu.” Ucap Ratna yang kini membelai pundak kekar laki –laki itu.
“Terimakasih untuk dukungannya pah, mah, Dharma. Dek kamu bilang yang baik – baik soal kakak sama Shita ya.” Ucap Rendra dengan cengiran Khasnya.
Rendra merongoh kantong celananya, membuka dompet dan melempar atm gold tanpa batas miliknya. “Itu jadi buatmu jika kamu bisa menyatukan kakak dengan Shita, cukup katakan yang baik-baik saja padanya, sisanya kakak yang akan melanjutkan. Aku naik ke atas ya, aku ingin memimpikan princessku.” Ucapnya yang kini sudah berlari menuju ke kamarnya dilantai atas.
"Dasar Bucinn" teriak Nana yang melihat kakaknya sudah menaiki tangga.
---
Kicauan burung yang saling bersautan, matahari telah berbangun dari tidurnya yang lelap hingga memancarkan begitu cerah cahayanya menusuk mata seorang laki – laki yang kini berdiri di balkon kamarnya membayangkan wajah wanita yang selalu menghantui pikirannya.
Ia terlihat sudah rapi dengan pakaiannya membalikkan diri menyambar jas yang sedari tadi berada diatas kasur king size dalam kamar berbau maskulin itu. Dengan gembira laki – laki itu awali harinya untuk menjemput pujaan hatinya.
Laki – laki itu sudah melajukan dengan kencang mobil yang ia kendarai. Tak berapa lama ia sudah berada di depan lobby JMC tempat wanita itu bekerja sembari menunggu wanitanya, ia memainkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada wanita itu.
Tak berapa lama Shita keluar dari lobby rumah sakit dengan wajah yang berantakan, Shita tak sempat mengecek ponselnya sedari tadi. Dalam pikirannya ia hanya ingin cepat pulang dan mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Tanpa ia sadari ada seorang laki – laki yang menatapnya begitu lekat, laki – laki kemudian menghampiri Shita yang masih betah berdiri menyerap cahaya matahari yang masuk memenuhi rongga tubuhnya.
“Hai, kamu tampak menggemaskan ketika berantakan seperti ini.” ucap laki – laki itu tepat disamping telinga wanita
itu hingga nafasnya menerpa wajah cantik. Seketika darah Shita mendesir, detak jantungnya seakan berpacu mengikuti derasnya aliran darah ke kepalanya dan membuat wanita itu sedikit merona.
Dengan cepat Shita menyembunyikan wajah malunya agar tak terlihat oleh Rendra, yang boleh laki – laki itu lihat hanya wajah dingin Shita, tak lebih dari itu.
“Apaan sih, dateng – dateng ngangetin. Kamu mau bikin saya jantungan? Kenapa menemui saya?” tanya ketus Shita.
“Tentu saja untuk menjemputmu princess, hari ini jadwalku luang aku akan menemanimu kemanapun maumu.” ajak Rendra yang tak tega melihat wajah lelah wanita itu.
“Benarkah? Baiklah awas saja jika kamu mengingkari janjimu.” ucap ketus Shita.
“Tapi, apakah kau ingin pergi dengan penampilan seperti itu?” tanya Rendra pada wanita yang kini menatap penampilannya dari atas hingga ke bawah. “Lupakan saja penampilanmu saat ini, walaupun kamu berantakan tapi aku tetap terpesona dan tak bisa berpaling.” Ucap Rendra yang kini menyentuh kepala Shita dan membuat rambutnya makin berantakan dan segera menarik tangan wanita itu menuju mobilnya.
"Heii, aiisss. Makin berantakan jadinya." dengus kesal Shita.
Dengan semangat wanita itu melangkahkan kakinya memasuki mobil Rendra dan memberitahukan tempat yang ingin didatangi wanita itu. Dengan senang laki - laki itu mengantar kemana tempat yang diinginkan wanita yang saat ini tersenyum begitu lebar seperti seorang anak kecil yang akan dibawa jalan - jalan oleh orang tuanya.
Tempat pertama yang didatangi oleh mereka adalah pasar. Shita ingin mengenang saat kecil dulu bersama neneknya yang sering mengajaknya berbelanja dipasar tradisional. Mendengar keinginan Shita, tak menciutkan nyali laki - laki itu. Dengan melepas dua kancing kemeja atasnya, kancing lengan kanan kiri dan menaikkan lengan kemeja sampai siku dan mengganti sepatu yang ia pakai dengan sandal serta memakai masker dan topi untuk menutup penampilannya dan membuat laki- laki itu siap menemani kemanapun wanita itu pergi.