
“Woyy main nyelonong pergi aja. Untung ketemu disini btw nanti ada acara tidak malamnya?
Aku pengen ajak kamu nonton film ni. Udah lama kan kita gak pergi nonton bareng
setelah kelulusan spesialis kita kemarin” Ucap Nana Sahabat dekat Shita
“Kamu tahu kan ekonomiku bagaimana, aku tak bisa setiap waktu seperti itu Nana, aku
juga tidak ingin merepotkanmu terus menerus. Bagaimana jika nanti kamu datang
ke tempatku kita nonton disana. Kebetulan aku akan memasak makan malam untukku sendiri, jika kamu datang aku bisa sekalian aku buatkan makan malam untukmu” Terang Shita
“Seriuosly?
Baiklah aku takkan menyia nyiakan masakan buatan sahabatku ini. Makanan terenak
yang pernah aku makan selain d restoran bintang lima” ucap Nana Antusias
“Oke aku tunggu kedatanganmu, jadi sekarang aku boleh kan pulang terlebih dahulu
untuk menyiapkan semuanya? Kamu datanglah nanti jam 8. Menginap juga tidak
masalah besok dari tempatku kita berangkat bersama”
“Baiklah Shita. Hati – hati. Sampai jumpa nanti malam”
Shita pun akhirnya pulang tergesa2 agar tidak mengalami kemacetan yang panjang.
Dalam perjalanan Shita tak sengaja melihat orang – orang yang berkerumun di depannya
hingga menyebabkan kemacetan tak seperti biasanya. Tak sengaja ia mendengar pembicaraan orang yang
berlarian menuju kerumunan tersebut.
“Kecelakaan yang sungguh tak terduga. Orang yang bawa motor sepertinya tak sadarkan diri selama
beberapa saat. Mungkin sekarang keadaannya masih setengah sadar. Yang
disana mengatakan sudah menghubungi Rumah Sakit terdekat dan sudah dikirimkan
ambulance. Kalau macet seperti ini gimana mau sampai cepat” gerutu salah satu
laki – laki itu.
Shita pun memarkirkan motornya dengan sembarang untuk melihat kecelakaan yang ada di
depannya dan membawa ransel sedang yang selalu ia bawa kemanapun agar
memudahkannya dalam melakukan pekerjaannya seperti kejadian yang ia temukan
sore ini.
“maaf,
permisi bisa tolong minggir sebentar, saya dokter. Saya ingin melihat keadaan
orang yang kecelakaan ini” teriaknya
keadaan pasien tersebut. Shita mengecek keadaan seorang pria yang tak lain
adalah korban kecelakaan tersebut, mulai dari mengecek keadaan jantungnya
hingga kesadarannya. Dilihat korban yang masih setengah sadar. Ia mulai
meneliti keadaan pria tersebut dari atas sampai bawah hingga ia menemukan kaki
kiri pria tersebut dalam posisi berbeda.
Ia berpikir kemungkinan pria di hadapannya ini mengalami patah tulang pada tulang
keringnya. Dan benar saja dugaan Shita setelah ia selesai menggunting celana yang dikenakan pria itu penuh dengan darah.
“Pak, pak bisa dengar suara saya?" Shita menepuk - nepuk kedua bahu pria tersebut. "Saya dokter. Jika bapak bisa melihat atau mendengar suara saya cukup anggukkan kepala bapak”
Pria itu menanggukkan kepalanya perlahan.
“Bapak
– bapak bisa bantu saya mengangkat bapak ini kesamping sana?”. Beberapa orang
akhirnya membantu mengangkat pria tersebut ke trotoar. Shita setengah berlarian
mencari beberapa kayu yang ada disana. Setelah mendapatkannya ia kembali ke
tempat pria itu di bawa.
“Sementara
saya akan pakai ini dulu untuk menyangga tulang bapak untuk mengurangi
kerusakan dan resiko cidera yang lebih parah. Bapak – bapak saya bisa minta
tolong bantu saya bersihkan kayu ini sebelum saya menggunakan untuk menyangga
kaki bapak ini, saya akan persiapkan keperluan lainnya.” Ucap Shita ramah.
Sementara menyiapkan keperluannya ia melihat motor sport yang digunakan oleh
pria itu penyok di bagian kirinya. karena menabrak pembatas jalan.
Setelah selesai dengan persiapannya ia perlahan – lahan menempelkan kayu dan
mengikatnya dengan kasa gulung yang ia bawa agar kayu tersebut menempel
sempurna. Hampir 1 jam ia menunggu ambulance datang hingga akhirnya ia
memberitahukan kepada petugas ambulance nya untuk membawa pria tersebut ke JMC
tempatnya bekerja. Shita pun sudah menghubungi teman yang bertugas sore itu
untuk menangani pasien yang sudah ia kirim.