Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 57



Rendra yang sedari tadi terdiam mendengar percakapan antara sahabatnya kini beralih memeluk wanita yang berada disamping kirinya.


“Memang kamu seperti apa Shita? Aku akan menjagamu juga jangan berucap seperti tadi aku tak suka mendengarnya. Itu seperti kamu masih mengharapkannya kembali.” ketus Rendra namun membelai rambut panjang Shita.


“Kau cemburu?” tanya Shita merekahkan senyum pada laki – lakinya


“Laki – laki mana yang tak marah jika wanita miliknya membela mantan kekasihnya.” Rendra menghentikan belaian di rambut wanitanya dan dengan hati – hati menyelipkan anak rambut yang terurai ke belakang telinga, kini Rendra menatap lekat kedua manik mata wanita itu kemudian mendekatkan wajah tampan dengan wajah wanitanya.


Belum sempat wajah mereka berdua bersentuhan, sebuah tangan besar milik Wisnu berada di antara wajah Rendra dan Shita. Seketika hal tersebut mengundang gelak tawa semua sahabat yang melihatnya.


“Si***n\, bre****k lu. Gangguin gue aja bisanya.” Ketus Rendra yang kini membenarkan posisi duduknya.


“Lu gak tau tempat, gak tau malu nyosor di depan umum kayak gini. Lu gak liat gue jomblo? Awas lu gue doain biar lu-


“Apa lu, lu doain gue sama Shita kenapa?” sergah Rendra.


“Eee somplak, gue belum selesai ngomong udah main lu potong aja. Dengerin dulu kek. Gue doain lu sama Shita biar langgeng sampai kakek nenek. Lu gak mau gue doain kayak gitu?” jawab Wisnu dengan tatapan kesalnya.


“Astungkara. Lu kalo doain yang baik – baik buat hubungan gue. Gue juga sebaliknya,biar lu cepet dapet jodoh dan ketemu jodoh lu yang entah dimana posisinya sekarang.” ucap Rendra yang diselingi tawa dari semua yang ada disana.


Jam terus berputar tak terasa hari semakin malam. Sejak saat itu, Anna, Nana dan Shita yang sudah bersahabat makin mengeratkan persahabatan mereka seperti pasangan mereka. Ketiganya berjanji tak akan saling menyakiti dan membenci meskipun ke depannya mereka tidak bersama dengan kekasihnya jika tidak ditakdirkan oleh Takdir.


“Gue pulang dulu ya Wisnu, Riko. Besok Shita bertugas pagi. Gue bsok ada rapat juga bahas proyek di Amerika. Sayang ayo kita pulang” ucap Rendra seraya memegang tangan Shita yang sejak tadi mengobrol dengan Anna.


“Gue juga ni, mau anter Nana. Udah malem juga gak enak sama om tante. Gue duluan ya.” Ucap Niko melangkahkan kaki keluar restoran.


“Yuk pulang juga kalo gitu sayang. Wisnu lu mau disini?” tanya Riko sambil menggandeng tangan kekasihnya.


“Gue pulang sekarang juga.”


---


Seorang laki – laki gagah dengan wajah tampannya memasuki sebuah rumah megah di wilayah Kuningan. Wisnu sudah duduk diruang kerja yang berada dirumahnya. Ia menatap dinding ruang kerjanya dengan lekat namun pikirannya melayang memikirkan wanita yang ia temui di beberapa minggu yang lalu saat berada direstoran menemui client nya dan sekarang bekerja sebagai asisten pribadinya. Kini mata Wisnu tertuju ke arah laci meja di depannya dan menjulurkan tangan membuka sebuah kotak kecil yang terlihat begitu lusuh.


Wisnu mengambil sebuah frame poto yang menampilkan wajah seorang gadis kecil cantik bermata indah dengan rambut panjang bergelombang. “Kamu dimana Nisa? Tidakkah kamu rindu padaku? Aku begitu rindu padamu. Tak bisa kah kau lihat hatiku saat ini? Apakah itu benar – benar kamu yang kini menjadi asisten pribadiku? Jujur aku merasa dia sepertimu, tapi mengapa dia tak ingat padaku?” lirih laki – laki itu tanpa tersadar air matanya menetes tepat mengenai frame poto yang sedang ia genggam.


“Taukah kamu begitu menderitanya aku? Aku berada diantara sahabatku, mereka tertawa mereka bahagia, tapi hatiku kosong. Pikiranku tertuju hanya padamu. Mengapa hanya karena kehadiranmu, kamu yang dulu tak sempat ku genggam erat kini begitu menghantuiku, begitu mengusikku? Begitu dalamkah kamu mengutukku yang dulu pergi meninggalkanmu hingga aku tak mampu membuka hati untuk orang lain jika bukan kamu? Bukankah kita berjanji akan bersama selamanya saat kita berada ditaman itu?” tangis Wisnu seketika pecah, ia sedari tadi berdiri kini luruh jatuh ke lantai dengan tangis yang begitu keras hingga menggema diseluruh pelosok ruang kerjanya.


Ia begitu frustasi dengan kenyataan yang ada dihadapannya. Ia yang dulu mengira jika asisten pribadinya yang bernama Nisa adalah kekasih kecilnya, namun tak disangka jika Nisa sudah memiliki kekasih dan berada di Jepang dan itu Wisnu ketahui secara tak sengaja menguping pembicaraan Nisa dengan seseorang saat melakukan panggilan.


Wisnu yang saat itu masih kecil berjanji pada Nisa akan menjaganya dan melindungi wanita itu, hingga akhirnya Nisa mengajak Wisnu untuk berjanji takkan saling meninggalkan. Namun takdir siapa yang tahu, hingga saat berpisah pun Wisnu tak bisa bertemu dengan Nisa, laki – laki itu hanya memiliki sebuah potret kecil Nisa yang diberikan saat mereka bertemu untuk kedua kalinya.


“Aku begitu sesak Nisa, sangat sesak. Maafkan aku yang meninggalkanmu Nisa.” Tergugu Wisnu dengan tangis terisak hingga malam berganti pagi.


---


“Pak, pak Wisnu” teriak seorang wanita yang kini berada dalam rumah Wisnu.


Wanita itu mencari – cari keberadaan Wisnu yang tak ia temui di tiap sudut ruangan. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang laki – laki tergeletak dilantai ruang  kerja Wisnu yang pintunya sedikit terbuka sejak kemarin, dengan cepat wanita itu menghampirinya.


“Pak, pak Wisnu. Pak bapak kenapa?” wanita itu menepuk pipi Wisnu namun tak kunjung mendapat respon positif dari laki – laki itu.


“Ya ampun ini frame poto bisa rusak kalau ditindih seperti ini.”


“Tidakkk”


Nisa kembali meletakkan Wisnu di lantai, dengan tertatih ia menuju dapur mengambil air dan menenangkan diri.


15 menit kemudian..


“Ah kepalaku, mengapa aku bisa tertidur disini. Mana foto Nisaku” Wisnu panik mencari keberadaan frame foto itu kemudian menghela nafas lelah saat menemukann benda itu tak jauh dari tempatnya duduk.


Dengan langkah gontai Wisnu keluar dari ruangannya sangat terkejut melihat seorang wanita meletakkan kepalanya di atas meja makan.


“Nisa, hei bangun. Kamu kenapa Nisa?”


Dengan cepat Wisnu mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar yang terdapat kasur king size.


Beberapa menit kemudian..


“Ah, aku dimana ini?” tanya Nisa mengucek kedua matanya yang tampak sedikit merah.


“Kau berada dirumahku, dikamarku” jawab Wisnu yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit di pinggang memperlihatkan perut abs nya.


Nisa terdiam sejenak melihat pemandangan yang begitu mengagumkan dan indah di depan matanya.


“Mengapa kau bengong saja? Kenapa kamu tertidur diatas meja?” tanya Wisnu lagi namun kini sudah mulai membuka handuknya.


“Mau apa kamu? Jangan macam – macam.”


‘Ahhh bodoh bodoh aku harus keluar’ gumam Nisa.


“Ah bukan, aku keluar bos”


Wisnu yang melihat tingkah wanita itu hanya mengerutkan dahi seraya tersenyum menyeringai. Tak lama kemudian Wisnu keluar dengan kemeja biru, rambut yang ditata rapi dengan jas yang nampak pas dibadan kekarnya.


“Kau sudah sarapan?” tanya Wisnu pada wanita yang sedang menyiapkan roti untuknya.


“Sudah pak”


“Jam berapa kamu kesini tadi? Apa kau melihatku-


“Tidak pak, aku tidak melihat apa – apa” singkat Nisa menyodorkan roti pada Wisnu.


“Kau tak berbohong pada bosmu? Aku tak suka memiliki karyawan yang pintar berbohong.” Tegas Wisnu kemudian meletakkan cangkir kopinya dan menerima roti Nisa.


“Maaf pak, saya melihat sebentar. Lalu apa saya boleh bertanya? Siapakah gadis kecil di frame foto itu?” tanya Nisa dengan tergagap.


“Mengapa kau ingin tahu? Haahh” Wisnu menghela nafas panjang. “Dia adalah gadis kecil yang dulu pernah menghiburku. Dia juga kekasih kecilku. Untuk apa juga aku menceritakannya padamu.” sinis Wisnu kemudian mengigit roti yang di berikan Nisa.


“Tapi aku sepertinya sedikit mengenal gadis itu, dan setelah melihat foto itu membuat kepalaku sakit, ah sudahlah” Ucap Nisa santai.


“Mari kita berangkat ke perusahaan pak, sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien di perusahaan” tambah Nisa seraya membalikkan badan dan keluar dari rumah menyiapkan mobil untuk Wisnu dengan.


‘Apa mungkin Nisa kehilangan ingatannya?’ gumam Wisnu yang kemudian keluar rumah menyusul Nisa.