
Rumah Shita, Nusa dua Bali.
“Sayang ayo bangun, ibu akan menyiapkan makan malam untukmu kamu ingin makan apa?” teriak Widya dari luar kamar berharap anaknya mendengar suara cempreng khas miliknya.
Ceklek
“Ibu, bisakan jangan teriak – teriak lagi jadinya Nayna ikut seperti ibu teriak – teriak sajakerjaannya. Ibu duduk saja di ruang tamu dan temani bapak biarkan Shita yang memasak untuk kalian. Sudah lama sekali Shita tidak masak untuk kalian” jawab Shita dengan wajah yang terlihat segar karena ia memang sudah mandi saat itu.
“Kamu ini selalu saja seperti ini baiklah kamu saja yang memasak karena ibu tidak mau berdebat dengan anak ibu yang keras kepala ini. Hati – hati masaknya ya nak” ucap Widya tersenyum manis ke arah Shita yang mulai bergegas masak di dapur.
1 jam kemudian Shita yang sedari tadi berkutat di dapur kini datang ke ruang tengah dimana keluarganya sedang berkumpul.
“Bapak, ibu Nayna ayo kita makan malam dulu Shita sudah masakkan yang special untuk kalian” kata Shita yang sudah berada di hadapan keluarga kemudian memutar tubuhnya mendahului ketiganya.
“Tadaaa, Shita sudah masak makanan kesukaan kalian. Ayam pedas manis, ayam suir, opor ayam juga kentang balado kesukaan kalian. Ayo silakan dimakan jangan sungkan – sungkan” ucap Shita pada semua nya yang terlihat sudah duduk di tempat masing – masing dan makan bersama malam itu.
“Shita mengapa kekasihmu tidak kamu ajak makan malam disini?” tanya Widya yang sudah menyelesaikan makannya dan membawa piring kotor menuju wastafel.
“Dia sibuk ibu, lagi pula besok kan pernikahan kak Riko sahabatnya Rendra jadi mungkin dia sangat sibuk membantu” jawab singkat Shita walaupun ia sadar jika sedari tadi ia merasa gelisah entah karena apa, tapi ia coba tutupi dengan senyum seperti yang biasa ia lakukan.
“Ya sudah lebih baik kamu beristirahat setelah ini karena besok adalah hari yang penting bukan untukmu juga sahabatmu itu jadi jangan mengecewakan mereka”
“Siap ibu. Aku ke kamar sekarang ya” ucap Shita yang kemudian berlalu dari hadapan Widya dan mengambil ponselnya tapi tak juga ada notifikasi apapun dari kekasihnya itu.
‘Hah, mengapa Rendra tak mengabariku sejak tadi sih, perasaanku jadi gelisah begini. Dimana kamu sayang? Semoga kamu selalu baik – baik saja’
---
Hari bahagia untuk kedua sahabat Shita juga Rendra, suasana pernikahan Riko dan Anna begitu meriah mengusung tema garden party untuk acara pernikahan yang di laksanakan di salah satu hotel besar yang ada di Bali. Mereka membuat hari itu menjadi moment yang tak terlupakan oleh kedua pasangan itu. Kondisi Rendra kembali seperti semula setelah Hendra juga Ratna menemuinya di hotel kemarin dan beristirahat penuh sampai ia tak sempat menghubungi Shita kekasihnya.
Hari ini ia bersama Niko dan Wisnu menjadi pengiring pengantin laki - laki. Begitu juga Nana dan Shita, gaun cream sampai betis yang digunakan oleh Shita dan Nana menambah daya tarik tersendiri para tamu melihat iringan pengantin wanita. Nisa yang menjadi pasangan Wisnu hari itu memakai dress peach selutut dan berada di antara keluarga Jaya.
Seorang laki – laki kini berdiri di altar pernikahan mereka memakai tuxedo hitam yang didampingi oleh ketiga sahabatnya menunggu sang pengantin wanita menggunakan gaun pengantin putih bertahtakan banyak berlian dan emas putih dari leher hingga dada dengan panjang mencapai 1 meter lebih yang tengah berjalan di karpet merah yang menuju ke altar.
Hari spesial dan pernikahan yang sangat sakral, janji sehidup semati telah diucapkan oleh mempelai pria maupun wanita dan ditutup oleh ciuman hangat dari mereka berdua hingga mengundang teriakan – teriakan kecil dari sahabatnya. Detik – detik pelemparan bunga dilakukan nampak banyak wanita yang berkerumun disana. Tampak sosok Shita, Nana juga Nisa ada diantara kerumunan.
Pasangan mereka hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku kekasihnya. Bunga telah dilempar oleh mempelai dan yang berhasil mendapatkannya adalah..
“Yeaayy aku berhasil. Sayang aku mendapatkannya” teriak Nana begitu heboh berlari ke arah Niko kemudian memeluk kekasihnya yang masih kaget dengan teriakan Nana.
“Berarti kita akan menyusul mereka dalam waktu dekat?” tanya Niko yang kini melerai pelukannya.
“Dalam mimpimu kak, aku hanya akan menikah jika kedua laki – laki tampanku juga sudah menikah. Bukankah begitu kakakku sekalian?” tanya Nana pada kedua kakaknya yang masing –masing telah menggandeng pasangannya. Wisnu yang melihat Dharma bersama kekasihnya mendekat ke arah Dharma.
“Oh ini toh pasanganmu, wanita yang membuatmu uring – uringan saat itu?” goda Wisnu yang berada disebelah Nisa sukses membuat pipi Dharma merona.
“Ap-appan sih kak, aku tidak seperti itu. Ah ya perkenalkan ini kekasihku namanya Devi.” Ucap Dharma memperkenalkan kekasihnya pada semua yang ada disana dan disambut hangat oleh semua orang.
“Devi, kamu kerja dimana?” tanya Niko ikut menggoda pasangan itu.
“Aku baru lulus spesialisasiku kak di Jhon Hopkins University tempat kuliah Dharma mungkin setelah selesai urusanku disana aku akan menetap di Jakarta dan mencari kerja disana. Memang kamu uring – uringan kenapa sayang?” tanya Devi dengan polosnya memastikan omongan Wisnu.
Dharma yang memang tidak pintar berbohong dengan pasangannya mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi “Ya karena kamu sibuk ujian lah sayang, kamu kan tak mengabari-
Belum selesai mengucapkan kalimat semua orang yang ada disana tertawa lepas mendengar jawaban Dharma. Laki – laki itu terdiam merutuki kebodohannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa malunya.
“Hahaha, ternyata karena kak Devi toh kakakku yang ceria ini hilang semangat waktu itu. Sampai ngomongnya aja singkat banget lo kak, ketus gitu. percaya deh” goda Nana.
"Itu benar Dev, bahkan saat acara ulang tahun Shita juga saat lamarannya Rendra kekasihmu ini tidak fokus. Yang lebih parahnya lagi baru di akhir acara dia memperhatikan semua hal" timpal Niko
Tawa terdengar begitu lantang dari mereka yang turut menggoda Dharma, namun lain halnya dengan Rendra, seakan tawa dan canda kencang para sahabatnya tak membangunkan Rendra dari lamunannya sedari tadi setelah pengucapan janji pasangan Riko dan Anna. Shita menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dari kekasihnya itu.
“Kamu kenapa Rendra? Mengapa kamu sedari tadi hanya diam saja? Kamu ada masalah atau tak enak badan?” tanya Shita yang kini mendekatkan wajahnya.
Seperti sihir, suara Shita memecahkan lamunan Rendra dan membuatnya kikuk seketika hingga mengalihkan perhatian semua sahabatnya tertuju pada laki – laki itu.
“Aku tidak apa sayang, aku hanya memikirkan bagaimana keadaanmu selama aku tinggal perjalanan bisnisku sebentar lagi” jawab Rendra menaikturunkan alisnya dengan sengaja untuk menutupi apa yang ia rasakan namun ternyata ulahnya itu membuat Shita sedikit kesal dan memukul ringan lengan Rendra.
“Shita gak mungkin kayak lu Ndra, dia udah gede sementara lu udah kayak anak ayam gak ketemu induknya kalo bentar aja Shita gak sama lu” Sahut Niko cepat ketika menyadari apa yang dipikirkan sahabatnya itu hingga membuat suasana makin riuh dengan tawa mereka.
Salah satu orang dalam pesta yang sedari tadi melihat ke arah mereka hanya menatap tajam dan tersenyum sinis.
“Maaf mengganggu tuan, bisa kita bicara sebentar?” tanya Rian sang asisten yang memang berada disana menyusul bosnya ke Bali.
“Sayang, aku ada urusan sebentar dengan Rian. Kamu tunggu disini dan jangan kemana – mana” ucap Rendra yang dibalas anggukan mantap oleh Shita yang masih betah mengobrol dengan para wanita yang ada disana.
“Ada apa? Dipercepat” kata Rendra saat mereka sudah agak jauh dari pesta.
“Maaf tuan, saya hanya ingin memperkenalkan seseorang”
Clap clap
Seorang wanita datang menghampiri tepat dimana Rendra dan Rian berdiri.
“Ini tuan sekretaris tuan yang baru namanya Desi. Desi ini bosmu, namanya tuan Rendra” ucap Rian sembari memperkenalkan kepada wanita itu siapa bosnya.
“Halo tuan, namaku Desi. Senang bisa bekerja denganmu” ucap Desi seraya mengulurkan tangannya. Penampilan wanita itu sangat cantik bahkan lebih cantik dan sexy daripada Tara tapi entah mengapa reaksi Rendra begitu biasa di hadapan wanita itu.
“Halo, aku harap kerjamu baik” sahut Rendra yang sedari tadi memperhatikan Shita dari jauh kini membalas jabatan tangan dan menatap Desi namun tiba – tiba sekelebat bayangan masa lalu terlintas dalam pikiran Rendra saat menjabat tangan Desi.
‘Wanita ini’
“Aku akan pergi sisanya bisa kau urus semuanya Rian” kata Rendra seraya pergi dari hadapan dua bawahannya itu karena tak ingin berlama – lama meninggalkan kekasihnya.
Pesta berlangsung meriah dari pagi hingga selesai. Semua tamu telah pulang begitupun masing – masing keluarga sudah berada di kediamannya sendiri termasuk keluarga Rendra dan juga Shita terkecuali sahabat kedua mempelai. Mereka mengobrol bersama dan menghabiskan waktu hingga malam.
“Ciiee yang malam pertama, yuhuu belah duren” teriak Nana heboh yang kemudian disusul tawa semuanya.
“Kalian tak boleh mengusikku, ingat itu. Jika kalian berani kalian akan menanggung akibatnya. Ayo sayang kita ke kamar” ajak Riko pada Anna yang seketika itu pipinya berubah merah.
“Kau-“ ucap Anna tertahan.
“Ya sudah ayo kita pergi,biarkan mereka bersenang – senang dan menikmati moment mereka. Jangan lupa cek dulu kondomnya ya? Gue pergi dulu, ayo sayang” canda Rendra yang kemudian berbalik melambaikan tangan menjauh pergi dari perkumpulan itu bersama Shita.
"Kami balik juga ya Riko, sekali lagi selamat" sambung Niko yang juga pergi bersama Nana yang disusul oleh Wisnu bersama Nisa.
“Udah SAH woii, pasti kalian memberikanku hadiah seperti itu bukan?” teriak Riko pada semua sahabatnya yang mulai pergi satu persatu.
“Sudahlah, memangnya kamu masih perlu hadiah dari mereka saat kamu sudah punya segalanya? Ayo kita beristirahat, aku lelah” ucap Anna menenangkan mengusap lengan Riko dan menuntun laki – laki yang kini sudah menjadi suaminya ke tempat yang sudah dipersiapkan.
“Dengan senang hati sayangku, ayo” sahut Riko yang kemudian menggendong tubuh istrinya hingga ke tempat tujuan mereka.