
"Apa kamu juga mengenal Tomy Sanjaya?" kali ini Wita angkat bicara. Apa yang sedari tadi ia tahan akhirnya ia keluarkan saat itu juga dan membuat tiga orang lainnya terkejut dengan apa yang di katakan Wita Begitu juga dengan Prayoga.
"Mengapa kamu bisa mengenal Tomy Sanjaya? Apa kamu melihat semua foto yang ada di box mobilku huh"
"Karena dia majikan kami" ucap santai Fredy namun matanya tak lepas dari ruangan dimana Shita sedang di periksa. "Apaa? Jadi yang melakukan ini semua adalah Tomy?" tubuh Prayoga melemah bahkan kedua kakinya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tetes demi tetes air mata Prayoga jatuh dari tempatnya membuat keempat orang yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan laki - laki yang nampak prustasi di hadapan mereka.
"Penjaga nyonya Shita" teriak seorang perawat dari balik pintu. Mereka yang mendengarnya bergegas menghampiri sumber suara. "Selamat siang tuan Prayoga maaf membuat anda menunggu lama, dokter Edwin sudah selesai memeriksa silakan ditunggu sebentar lagi untuk mendapat penjelasan yang lebih detail dan hasil pemeriksaannya setelah itu kalian boleh menjenguk pasien" ucapnya lagi segera berlalu. Tak lama seorang laki - laki berjas putih keluar dari sana menghampiri Wita dan yang lainnya.
"Bagaimana bisa keadaan wanita itu begitu parah, apa yang terjadi" tanya dokter Edwin menatap Wita dan Rina bergantian. Sepertinya mereka tidak mampu mengeluarkan kata – kata setelah mencerna perkataan sang dokter.
"To the point saja Edwin. Dia kenalanku" ucap Prayoga tiba - tiba.
"Maaf tuan saya tidak mengetahuinya. Tuan mungkin sudah bisa menyimpulkan sendiri namun sepertinya keadaan nona Shita cukup serius dia banyak kehilangan darah juga hampir saja mengalami perdarahan dalam akibat banyaknya obat yang ia konsumsi yang mungkin bisa membuat gangguan pada hormonnya. Bagaimana bisa seorang wanita yang tak pernah melakukan hal yang tak wajar dan mengandung bisa mengkonsumsi obat pengugur kandungan bisa kalian jelaskan? Dia perempuan yang masih suci"
"Maaf dokter ini kesalahan saya mungkin nona Shita di berikan obat secara tak sengaja saya mohon lakukan yang terbaik" ucap khawatir Wita juga Rina. Mata mereka berkaca - kaca menjawab pertanyaan sang dokter.
"Pertolongan sudah di lakukan jadi kita harus menunggu sampai dia sadar dan bisa kita lihat hasilnya nanti. Saya permisi tuan, saya juga harus melihat hasil pemeriksaan nona Shita" ucap Edwin segera berlalu dari sana.
"Bisa kau jelaskan lagi jawabanmu tadi?" tanya Prayoga pelan namun ucapannya terdengar begitu menyeramkan.
"Ini kesalahan saya nona Shita ingin pergi dari rumah tuan Tomy yang memaksa agar mau menikah dengannya terlintas saat itu saya mengutarakan rencana padanya karena saya ingat saya menyimpan hasil tespack kehamilan saya yang sekarang dengan menyuruhnya agar pura - pura hamil dan setidaknya membuat tuan Tomy menyerah jika melihat kondisi Shita dan segera memulangkan nona Shita. Awalnya saya mendengar pembicaraan mereka dan menangkap jika tuan Tomy sacara sukarela akan memulangkan nona Shita tapi saya juga curiga dengan sikap yang di tunjukkan oleh tuan Tomy pagi ini saya tidak menyangka jika tuan Tomy akan bertindak sejauh ini" jelas Rina, air matanya pun sudah tak bisa ia bendung lagi tumpah sudah semuanya. Deni mendekap erat tubuh Rina member kenyamanan dan ketenangan untuk wanita yang saat ini mengandung buah hatinya,
"Saya hanya kasihan dan berniat membantu, Shita mengatakan jika tunangannya sedang mengalami keterpurukan juga keluarganya sedang sakit di sandera oleh tuan Tomy hingga membawanya secara paksa namun terlihat seperti alami kemari."
Dengan cermat Prayoga mencerna kata demi kata yang di lontarkan Rina. "Lalu tujuan kalian setelah ini apa?"
"Saya akan membawa nona Shita dan merawatnya sampai sembuh juga berniat memulangkannya nanti"
"Biarkan aku yang merawat dia dan kalian bisa ikut menjaganya. Aku akan membawa kalian ke tempatku mungkin juga sekarang Tomy sedang mencari kalian juga Shita kita harus bergegas." cegah Prayoga. Dia sangat tahu bagaimana watak orang yang di sebut oleh Wita majikannya itu. "Bagaimana kita bisa membawa Shita dia juga belum sadarkan diri sampai sekarang" tanya Wita panik.
"Kita tunggu Shita sadarkan diri dulu lalu kita bawa kerumahku dalam waktu 1 jam jika ia tidak sadarkan diri juga kita akan membawanya paksa. Dia akan ku rawat dirumahku jangan khawatir disana pun ada alat pemeriksa yang lengkap. Cukup kalian membantunya saja selama dia dalam masa pemulihan nanti" jawab Prayoga.
"Aku akan menemuinya" tambahnya, "Aku ikut denganmu tuan" ungkap Rina yang beranjak dari duduknya
melepas pelukan Deni. Namun apa yang ia katakan tak mendapat jawaban dari prayoga. "Saya mohon ini bagian dari rencana saya setidaknya biarkan saya ikut bertanggung jawab dengan keselamatan Shita sebagai sahabat saya"
"Baiklah, kalian boleh melihat keadaan Shita sekarang toh juga nantinya kalian yang akan merawatnya selama berada dalam masa pemulihan. Dan aku yakin juga Shita sangat senang jika aku membawa kalian ikut serta bersamaku sadar ataupun tidak sadar aku akan membawanya pergi tepat setelah hasil pemeriksaannya keluar" ujar Prayoga.
Wita dan yang lainnya mengangguk akhirnya mereka bisa bernapas lega mendengar penuturan laki - laki tampan yang berada di hadapan mereka.
Kriiingg kriingg
"Sebentar saya akan mengangkat panggilan ini, kalian bisa menjenguk Shita terlebih dulu jangan lupa panggil dokter jika dia sudah sadar" ucap Prayoga sambil lalu.
"Dokter sedang dimana? Para pasien yang sudah membuat janji temu sudah datang dan juga ada seseorang yang sudah membuat janji dengan anda sebelumnya sedang menunggu tuan" ucap seorang wanita dari balik telepon.
"Aku tidak akan menerima pasien untuk sekarang jadi tolong batalkan semua janji yang sudah di buat. Akan aku kabari nanti jika urusanku sudah beres ah tunggu sebentar biarkan aku berbicara dengan orang yang membuat janji denganku"
"Baik tuan, silakan berbicara"
“Selamat pagi menjelang siang dokter Prayoga, saya orang yang sudah membuat janji temu dengan anda beberapa hari yang lalu nama saya Dharma Adiatma Jaya” kata suara laki – laki d seberang telepon. Prayoga mengernyitkan dahi ia memikirkan lagi bagaimana nama itu tak begitu asing ia dengar.
“Maaf tuan Dharma saya sedang ada pekerjaan dan masalah yang tak bisa saya selesaikan hari ini. Mohon atur jadwal temu kita lagi bersama asisten saya, itu saja terima kasih”
Tuuttt
'Aku harus menyelesaikan ini semua sebelum terlambat'
Prayoga mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Ia bergegas melangkahkan kaki masuk ke ruangan dimana Shita berada tapi sesaat matanya menangkap sosok seorang dokter yang tadi menangani Shita.
"Edwin apa itu hasil tes pasien yang tadi kamu periksa?" tanya Prayoga ketika matanya melihat secarik kertas sedang di pegang oleh dokter Edwin.
"Kamu benar hasil pemeriksaannya sudah keluar. Kamu mungkin tak di bidang ini tapi aku yakin kamu tahu apa yang akan terjadi pada pasien itu melihat dari gejala dan apa yang dia alami. Dia wanita yang tidak hamil tapi dia mengkonsumsi obat pelemah kandungan yang di dalamnya ada kandungan zat untuk pengugur kandungan aku yang sudah lama di bidang ini pun tak menyangka jika obat yang ia minum tidak hanya 1/2 tapi sampai berpuluh – puluh obat. Tak heran jika ia mengalami pendarahan hebat dan hasilnya menunjukkan jika ia mengalami gangguan hormon" terang Edwin pada Prayoga yang sedari tadi sibuk membaca hasil tes yang ia ambil dari Edwin.
"Berapa banyak?" tanya Prayoga pada Edwin sesaat laki - laki itu terdiam memikirkan apa maksud dari seseorang yang memiliki kuasa penuh di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Apa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku yang itu saja? Katakan berapa besar kandungan obatnya" teriak Prayoga lagi. Sontak hal itu menimbulkan kegaduhan membuat orang yang sedari tadi tak mengetahui keberadaannya menatap lekat ke arahnya dan apa yang sedang mereka lakukan. "Kau tenangkan dirimu aku akan menjawab semuanya wanita itu sepertinya mengkonsumsi pil dengan kandungan tingkat tinggi dan banyaknya kira - kira mencapai 30/40 butir. Itu baru dugaanku juga apakah dia sudah gila bahkan dia tidak hamil mengapa dia mengkonsumsi obat sebanyak itu"
"Dia itu seorang dokter, dokter yang selalu tahu keadaan pasiennya dokter yang sangat peka dan sangat teliti tidak mungkin dia mengkonsumsi obat yang berbahaya untuk tubuh juga kesehatannya bahkan seperti katamu dia tidak hamil tapi mengapa mengkonsumsi obat pelemah kandungan yang di dalamnya ada zat pengugur kandungan. Aku yakin ini pasti ulah seseorang sekarang aku sudah dapatkan apa yang aku inginkan jadi berikan aku surat pemindahan perawatan"
"Kau gila bukankah dia bukan siapa - siapamu tapi mengapa kamu mengingkannya untuk kamu rawat sendiri Prayoga. Aku juga dengar jika gara - gara wanita itu kamu membatalkan janjimu dengan beberapa klien VIP kita juga seseorang yang sudah meminta waktu luangmu beberapa hari terakhir. Ayolah jangan seperti ini kamu masih bisa melihatnya dan menyerahkan perawatan wanita itu padaku dan kamu bisa menjalani aktifitasmu lagi seperti biasa"
"Dia bukan siapa - siapa untukku? Kamu meragukan batas apa yang di miliki perempuan itu padaku? Dia adalah sahabatku sahabat baikku kau mengerti jadi jangan pernah mencampuri semua urusanku jika kamu tak ingin aku membencimu lagi dengan keberadaanmu disini" ucap Prayoga bergegas meninggalkan Edwin yang tampak mematung mendengar apa yang di katakan laki - laki yang sudah berlalu.
"Sepertinya aku sudah mengibarkan bendera perang padanya" keluh Edwin yang segera berlalu menuju ruang perawat memenuhi permintaan Prayoga.
Langkah demi langkah ia tapaki pikirannya melayang kemana - mana membuat tubuh juga pikirannya tak merespon dengan benar apa yang ingin ia lakukan. Ruangan yang sedari tadi ingin ia tuju perlahan semakin lama semakin jauh ia rasakan, tangannya bergetar hebat bersama kertas yang juga ikut bergetar akibat ulah tangannya.
"Apa yang harus aku katakan pada Shita jika membohonginya pun aku akan terlihat jahat di matanya" gumam Prayoga setelah ia berada di depan ruang rawat Shita. Ia menghela napas beberapa kali sebelum ia membuka pintu itu.
Klek,
Prayoga melanjutkan langkah bersama pikiran yang sedang merangkai kata guna menutupi kenyataan yang akan di hadapi wanita yang ia lihat masih terbaring lemah diatas ranjang sana.