Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 114



“Aku memang menyesal bertunangan dengan Rendra, tapi aku lebih menyesal tidak menyetujui ajakannya untuk menikah dulu. Jika saja aku tahu apa yang di derita Rendra adalah hal yang ingin ia lupakan aku tidak akan meninggalkan dia bahkan jika harus mengorbankan orang tua juga nyawaku. Aku yakin keputusanku memilihnya sangat direstui oleh orang tuaku” ucap Shita,


“Aku yakin kamu pun tidak akan memperlakukan dengan layak orang tua juga kakakmu melihat dari caramu begitu memaksaku dan sangat ingin menghancurkan Rendra. Aku tidak ingin lagi mengenalmu atau berhubungan denganmu jadi biarkan aku pergi. Aku tidak bisa mencintaimu sekeras apapun aku mencoba dan inilah kenyataannya” tambahnya, ia memilih beranjak keluar dari sana menuju taman dimana ia biasa menghabiskan waktu.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dari sisiku\, ingat itu Shita. Kamu hanya milikku dan selamanya adalah milikku. Cobalah lebih keras mencintaiku aku akan menunda pernikahan kita sampai kamu mencintaiku” teriak Tomy\, ia menghancurkan semua barang untuk melampiaskan kemarahannya. “Br****ek\, bagaimana mungkin aku bisa kalah dari laki – laki yang bahkan kini sudah tidak memiliki apapun di hidupnya. Aku tidak akan membiarkan


semua ini terjadi”


Ia meraih ponsel yang berada di samping kakinya.


“Halo, jalankan rencana kita tambahan kita secepatnya” ucap Tomy saat panggilan sudah terhubung sebelum ia putuskan lagi secara sepihak. “Aku harus menenangkan hati Shita mulai sekarang”


Tomy bergegas menyusul kepergian Shita ia menyusuri setiap sudut rumah namun apa yang ia cari tak juga ia temukan. “Shita kamu dimana jangan membuatku khawatir”


“Wita Witaaaaa” teriak Tomy.


“Ada apa tuan?” jawab Wita cepat setelah ia sampai di hadapan tuan mudanya.


“Dimana calon istriku? Mengapa kau tidak menjaganya apa kau ingin di pecat juga seluruh keluargamu menderita begitu yang kamu inginkan hah?”


“T..tidak tuan maaf tuan sepertinya nona Shita ke taman tuan ia biasanya berada disana ketika ia merasa sedih dan kesepian. Saya juga merasa kasihan dengan nona Shita apa sebaiknya tuan pulangkan saja nona Shita” ucap Wita pelan, ia begitu tak ingin mencampuri urusan majikannya itu namun saat ini ia lebih mengutamakan apa yang sudah ia janjikan.


“Tutup mulutmu. Kau tahu apa tentang calon istriku itu Wita kamu hanya kepala pelayan disini kamu tidak berhak mencampuri urusanku”


“Bagaimana dengan segala sesuatunya, saya yakin tuan sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada nona Shita. Ingat tuan orang tua tuan tidak akan merestui hal ini bagaimana pun juga tuan tidak bisa-


“Cukup, cukup untuk semua nasehat yang tak bergunamu itu Wita” teriak Tomy kemudian meninggalkan Wita dengan wajah merah padam.


‘Aku sudah membantumu Shita sekarang giliranmu untuk berjuang dan memperjuangkan apa yang kamu inginkan doaku selalu menyertaimu’ gumam Wita. Kedua tangannya mengepal begitu kuat rasa iba dan kasih sayangnya tak bisa ia tutupi untuk wanita yang baru saja dekat dengannya itu.


Tak berapa lama Tomy menemukan apa yang dicarinya wanita yang selalu ia puja dan ia harapkan menangis sesegukan di pelukan pelayannya sendiri.


“Apa yang harus aku lakukan Rina aku tak ingin menikah dengan Tomy. Bagaimana jika Tomy memaksaku untuk melakukan hal yang paling aku benci Rina aku benci dengan diriku sendiri aku benci ketidakberdayaanku seperti ini” ujar Shita dengan tangis yang begitu kuat dan kencang yang ia piker jika seseorang bisa mendengarnya bahkan jika orang itu berada dalam jarak 100 meter dengan tempatnya berada.


“Tenangkan hatimu Shita tidak akan ada yang terjadi padamu”


“Shita bisakah kita bicara sebentar dan kamu masuk sana” kata suara berat yang begitu mereka kenal. Kedua wanita itu menoleh melihat siapa yang tengah berdiri di belakang mereka, “Iya tuan. Shita aku akan masuk sekarang kamu selesaikan semuanya. Selamat berjuang” bisik Rina tepat sebelum ia beranjak dari tempatnya duduk.


Setelah kepergian Rina kedua manusia beda jenis itu hanya diam tanpa mengeluarkan kata, “Apa memang tidak ada lagi harapan bagiku untuk mencintai dan memilikimu” kata Tomy perlahan. Ia menatap lekat wanita yang masih duduk di sampingnya.


“Kau tahu apa jawabannya. Aku tidak ingin ia tergantikan dan aku pun tak ingin menggantikan sosoknya di hatiku kau juga tahu sudah berapa lama aku disini dan betapa besar usahaku melupakannya tapi sepertinya takdir yang tak berpihak padaku sekarang”


“Tapi dalam segi apapun akulah yang terbaik bagimu apa yang membuatmu tidak bisa melupakannya, aku memiliki segalanya aku bisa membahagiakanmu aku bisa memberikan semuanya padamu, cinta harta juga kehormatan yang di dambakan oleh semua wanita”


“Aku juga tidak tahu apa yang membuatku tidak bisa melupakannya jika di ingat berapa lama kami menghabiskan waktu. Kau tahu aku begitu mudah melupakan Marvin bahkan sangat mudah karena penghianatan yang ia lakukan sampai aku begitu terpuruk dan Rendra lah yang ada saat itu mungkin semua itu yang membuatku tidak bisa melupakannya dengan mudah. Kau tahu aku mengenalnya dengan kesederhanaan, aku mencintainya tanpa tahu bagaimana latar belakangnya juga keluarganya apa yang ia miliki dan apa yang ia jalani” jelas Shita, begitu mudahnya ia menceritakan bagaimana awal ia dan Rendra bertemu,


“Lalu bagaimana denganku kenangan bersama kita selama ini apa itu tidak cukup untukmu Shita” tegas Tomy bahkan ia mencoba menggenggam tangan Shita namun di tepis dengan mudah oleh wanita itu. “Maaf”


“Bahkan apa yang sudah ku lalui bersamamu tidak bisa menandingi apa yang sudah ku lalui bersama Rendra jadi aku ingin kamu belajar dengan iklas merelakan segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu impikan” jawab Shita, “Kamu boleh memaksakan semuanya tapi tidak dengan hatiku” tambahnya sebelum ia benar – benar beranjak dari tempatnya.


“Lalu bagaimana jika aku mengembalikanmu pada Rendra apa balasan yang kamu berikan padaku sebagai gantinya?” teriak Tomy kencang membuat Shita menghentikan langkahnya.


Shita terdiam bahkan pertanyaan Tomy tak bisa ia jawab seperti biasa, “Katakan apa yang akan kamu berikan padaku jika aku mengembalikanmu pada Rendra Shita”


“Aku tidak bisa memberikan apapun padamu dan seperti yang kamu tahu kamu pun tidak kurang sesuatu bukan selama ini jadi apa lagi yang kamu harapkan dari wanita yang sudah kamu bawa namun hatinya dimiliki oleh orang lain yang kamu yakini perasaan wanita itu bisa berubah jika kamu memberikan segala yang kamu miliki”


Shita melanjutkan langkahnya meninggalkan Tomy yang masih duduk terpaku mendengar apa yang di ucapkan olehnya. Dengan cepat Tomy mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu. “Ku kira jika aku memiliki semuanya kamu akan berlari ke arahku Shita tapi aku salah. Jika saja aku lebih memikirkan perasaanmu juga perasaanku dulu pasti ada harapan aku bisa memilikimu maaf Shita aku sudah di butakan oleh semuanya.” Tomy mengusap air


mata yang jatuh tanpa ia ijinkan sedari tadi, “Bahkan aku pun sudah kalah sebelum aku benar – benar memulai”


---


Sinar hangat mentari menyelinap masuk di celah kain berwarna maroon yang menutupi jendela sebuah ruangan yang hanya di tempati seorang wanita yang tengah duduk manis di depan meja rias berlapis emas dan berlian.


Tok tok tok


“Selamat pagi nona sarapan sudah siap dan nona juga sudah ditunggu oleh tuan muda di meja makan” ucap salah seorang pelayan dari balik pintu.


“Aku akan turun sebentar lagi, jika dia begitu lapar minta untuk makan terlebih dulu” teriak Shita,


“Tapi nona tuan mengatakan ingin membahas sesuatu yang sangat penting pada nona” sahutnya sang pelayan lagi,


‘Kenapa dia sangat cerewet seperti ini’ gumam Shita, ia melangkahkan kaki menuju pintu lalu membukanya, “Kamu turun sekarang dan katakan padanya aku akan turun sebentar lagi jadi jangan memaksaku”


“Baik nona”


“Apa lagi yang di inginkan laki – laki itu apa dia tidak ingin menyerah melihat keadaanku yang seperti ini, apa dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan sudahlah biarkan saja aku akan mengatur hal lain agar dia mau melepaskanku”


Shita berjalan melewati ranjang besar menuju kamar mandi melakukan ritual yang biasa ia lakukan. 20 menit berlalu tampak wajah Shita terlihat sangat segar dengan rambut yang masih basah hingga menetes di lantai yang ia lewati.


“Sudah selesai dengan ritualmu Shita?” tanya suara berat tepat di sebelah kanan membuatnya menolehkan kepala hingga hampir membuat pertahanan dirinya runtuh.


“Apa yang kamu lakukan disini Tomy, kamu benar – benar melanggar privasiku”


“Kau bilang apa melanggar privasi? Sejak kapan aku melanggar privasi calon istriku sendiri bahkan aku bisa saja menarik paksa apa yang kamu kenakan. Kamu pikir kamu punya hak disini” ujar Tomy yang masih menatap jauh ke luar jendela.


“Aku bukan istrimu Tomy, aku sudah punya tunangan dan aku akan menikah dengannya sebentar lagi” Shita memundurkan langkah matanya menatap di sekitar mencari sesuatu yang bisa ia gunakan agar laki – laki itu mau meninggalkan kamar pribadinya.


“Ah ya aku lupa aku ke sini bukan untuk berdebat denganmu tapi aku hanya ingin mengajakmu sarapan pagi dan menemaniku sebelum aku benar – benar membiarkanmu pergi dari sini. Aku akan mengantarmu menemui kekasih cacatmu itu, cacat mental. Hahaha”