
Sementara itu ditempat lain, terlihat sosok laki – laki yang sedari tadi menunggu seseorang di teras rumahnya. 10 menit kemudian terlihat seorang wanita yang keluar dari dalam mengenakan blouse biru dengan celana panjang hitam hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya.
“Astaga Rendra, bikin kaget aja. Sejak kapan berdiri disini sih huh?” ucap wanita itu berdecak kesal sambil mengunci pintu rumahnya.
Laki – laki yang terpana dengan penampilan wanita itu hanya terdiam dan tak menjawab apa yang dikatakan wanita itu.
“Hei, malah bengong. Mau bengong disini terus?” ucap dingin wanita itu yang segera membalikkan badannya dan menjauh dari rumahnya.
“Ah eh iya iyaa. Ayo naik mobilku.” Ucap Rendra kemudian membukakan pintu untuk wanita yang sedari tadi berjalan dengan santainya. Setelah pintu ditutup Rendra sedikit berlari ke arah kemudi dan menjalankan mobilnya.
Tak berapa lama mobil laki – laki itu berhenti karena lampu jalan menunjukkan warna merah. Shita yang sedari tadi mengalihkan pandangannya pada jalan yang ia lalui, menatap dengan tajam apa yang dilihatnya diseberang jalan. Tampak seorang wanita bergandengan tangan dengan seorang anak tiba – tiba terjatuh. Reflek Shita membuka pintu mobil dan berlari ke seberang jalan.
Rendra yang sedari tadi menatap lurus ke depan memikirkan apa yang harus ia katakan untuk memulai percakapan dan mendapatkan simpati wanita itu, Laki – laki yang masih bengong itu sedikit terkejut kala mendengar pintu mobil yang ditutup dengan kencang. Mengetahui keberadaan Shita yang tak ada disampingnya, ia menepikan mobil itu dan keluar melihat ke arah sekitar. Sampai pandangannya tertuju pada kerumunan orang yang berada diseberang tempat ia berdiri. Dengan cepat laki – laki itu berlari, menerobos masuk ke kerumunan dan melihat Shita yang kini sedang memeriksa wanita yang terletak dibawah sana.
Shita yang belum menyadari kehadiran Rendra karena sibuk memeriksa keadaan wanita itu. Rendra mendekap erat anak yang sedang menangis disamping wanita itu. Rendra segera meraih ponselnya dan menghubungi ambulance.
Tak berapa lama ambulance datang melihat keadaan wanita yang sudah diberi pertolongan pertama oleh Shita. Wanita itu di bawa memasuki ambulance dengan Shita yang masih merapikan barang yang sedari tadi berserakan dan memasukkannya ke dalam tas.
Rendra mengernyitkan dahinya ketika melihat tas yang dibawa oleh Shita, ia berniat untuk menanyakan sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya sejak 2 bulan yang lalu. Satu jam waktu yang ditempuh mereka sudah sampai di JMC dan segera membawa wanita itu masuk UGD. Shita menjelaskan bagaimana kronologis yang ia lihat namun sejauh itu pertolongan pertama yang Shita berikan membuat nyawa wanita itu tertolong.
Shita seperti melupakan seseorang yang sejak tadi berada didekatnya. Helaan nafas terdengar keluar dari bibir mungil dan sexy nya. Shita yang ingin berbalik menolehkan wajahnya saat ia mendengar suara bariton yang ia kenal.
“Shita, aku baru saja memarkirkan mobilku. Aku bersama anak ini, sejak tadi ia menanyakan tantenya jadi aku bawa kesini untuk menemui keluarganya.” Ucap laki – laki itu dengan nafas yang ngos – ngosan.
“Aku yang akan membawanya pada keluarga anak ini. Terima kasih untuk bantuanmu dan tumpangannya. Aku akan bekerja sekarang, pulanglah.”
Dengan langkah gontai Rendra menuju ruangan adiknya Dharma hanya untuk sekedar bertegur sapa dengan adik laki – lakinya dan menunggu Shita, sedangkan Shita yang sudah bersiap kini menuju ke UGD untuk melihat kondisi wanita yang tadi ditolongnya. Tak berapa lama seorang dokter laki – laki menghampiri Shita yang tengah berdiri di meja Nurse Station.
Dokter Andi Pratama, dokter spesialis penyakit dalam. Laki – laki yang sudah menaruh rasa pada Shita namun tak pernah sekalipun Andi mengutarakan perasaannya pada wanita itu. Sama halnya dengan Rendra, Andi juga hanya ditanggapi dingin oleh Shita selama ini, menjadikan laki – laki itu hanya bisa menatap dari kejauhan wanita yang disukai.
“Terimakasih atas pertolonganmu dokter Shita. Wanita itu mendapatkan keajaiban bertemu dengan dokter hebat sepertimu. Ah aku akan mengoperasinya sebentar lagi. Jika kau tak keberatan maukah kamu makan malam denganku malam ini? Sudah ajakan ke 10 yang aku tawarkan padamu dokter. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kamu menolong wanita itu.” Ucap Andi pada wanita yang sedari tadi sibuk dengan catatan medis pasien yang masuk di UGD.
“Maafkan aku dokter, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mungkin lain kali saja.” Jawab Shita tanpa mengalihkan pandangannya pada catatan yang ada di depannya.
“Baiklah, maaf jika aku memaksamu. Aku pergi Shita.” Ucap Andi seraya berbalik dengan tangan yang mengepal dan pergi dari samping tempat ia berdiri tadi.
“Mengapa ia begitu keras kepala, sudah ku katakan berulang kali aku tak menyukainya. Ya ampun ada – ada saja.” gumam Shita dalam hati.
Tak terasa waktu cepat berganti menunjukkan pukul 8 malam. Rendra mengirimkan pesan pada Shita untuk mengajaknya makan malam. Namun pesannya tak dijawab oleh wanita itu sedari tadi. Dengan langkah panjang ia menuju ke UGD tempat Shita bertugas malam. Sesampainya di UGD, Rendra melihat Shita yang sedang memeriksa pasien yang datang karena kecelakaan mobil, laki - laki itu mengalami cidera yang sangat beresiko sehingga begitu banyak mengeluarkan darah dari telinga dan hidung. Pasien itu terpasang neckolar, infuse dan selang oksigen pada hidungnya.
Tak berapa lama Rendra mendengar bunyi monitor diatas pasien, laki – laki itu terkejut melihat Shita yang kini naik ke atas brankar pasien dan melakukan resusitasi jantung paru yang dibantu oleh kedua perawat didalam sana. Kegiatan yang wanita itu lakukan menambah pesona dan daya tariknya, hingga mampu menarik laki – laki idaman seluruh negeri ini bertekuk lutut dihadapan dokter cantik yang tak sebanding dengan wanita yang berada diluar sana.
30 menit berkelut dengan kegiatan diantara hidup dan mati, keadaan pasien itu membaik. Shita yang terlihat lelah menginstruksikan pada perawat yang bertugas agar memantau kondisi pasien itu. Shita berjalan gontai menuju ruangannya tanpa melihat seorang laki – laki yang sejak tadi menatap lekat padanya. Rendra hanya mengikuti langkah wanita itu berniat memberikan kantung makanan yang sejak tadi ia bawa untuk Shita.
Shita sudah masuk ke ruangannya tanpa menutup pintu, toh takkan ada yang masuk selain aku begitu pikirnya. Namun Shita begitu terkejut kala ia sudah merebahkan diri disofa dan mengedarkan pandangannya pada pintu terlihat sosok laki – laki yang berdiri disana.
“Astaga, kau begitu mengangetkanku. Suka sekali membuatku kaget hah.” Sergah Shita.
“Hei, kamu yang tak menatapku sedari tadi aku begitu memandangmu, mengikutimu sampai disini tapi kau bahkan tidak menyadari keberadaanku? Ckck, ini makanlah. Aku membelikan ini untukmu, aku tahu kamu lelah setelah menekan – nekan dada pasien tadi. Kamu sangat memukau dan sexy.” Ucap lirih Rendra dan penuh penekanan di akhir kalimat. Laki - laki itu kini sudah duduk disamping Shita dan menyerahkan kantung makanan yang ia bawa.