Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 90



Tok tok tok


Seorang laki – laki siang itu telah berada di depan rumah yang tampak sederhana.


“Hai nak Rendra, silakan masuk. Shita masih di dapur menyiapkan makan siang, kamu makan di sini bersama kita ya nak” ajak Widya yang membuka pintu dan mempersilakan tamunya masuk.


Rendra siang itu merasa keadaannya jauh lebih baik setelah mendapat pengobatan dari Hendra dan juga Ratna yang memang pendidikan mereka spesialis kejiwaan yang mereka ambil ketika menempuh pendidikan namun bukan berarti apa yang dialami oleh Rendra kemarin hilang begitu saja.


“Ya tante terima kasih banyak, eh ada om juga siang om” sapa Rendra ramah dan duduk berhadapan dengan ayah Shita.


“Siang juga Rendra, silakan duduk” ucap Fendra yang kini memulai pembicaraannya dan mengobrol santai bersama calon menantunya.


Tak berapa lama…


“Ibu, ibu” teriak Shita berlarian dari arah dapur dengan penampilan rumahan masih berantakan menuju ruang keluarga. Tak sadar jika lelakinya sedari tadi berada di sana membuatnya begitu terkejut. ‘Ya ampun penampilan kucel begini dilihat Rendra, malu sekali’ ucapnya dalam hati kemudian melenggang pergi dari hadapan mereka.


“Oh my God” teriak Shita berlari ke arah dapur.


Ketiganya yang melihat pun hanya tertawa dengan kencang hingga terdengar oleh wanita itu.


“Kenapa ibu sekongkol dengan bapak tidak memberitahu aku jika ada dia disini sihh. Ibu ngeselin” teriak Shita lagi dari arah dapur yang hanya ditanggapi tawa lebih keras oleh ketiganya.


“Mengapa dia begitu menggemaskan” lirih Rendra namun bisa di dengar oleh Widya dan Fendra. Kedua pasangan itu tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari calon menantunya.


“Dia memang seperti itu, dia anak yang rajin dan membanggakan. Dia juga mandiri tak ingin merepotkan kami saat dia kuliah dulu di Jakarta. Dia juga yang membiayai sekolah Nayna semenjak dia sudah bekerja” tutur Fendra mengenang perjalanan kuliah Shita.


“Benar, dia sampai menyuruh ibu untuk tidak bekerja lagi karena takut kondisi ibu dan bapak memburuk kalau terlalu banyak bekerja. Begitu banyak hal berat yang ia lewati tapi ia selalu menampakkan senyumnya ketika kami bertanya keadaannya, ‘jangan khawatir ibu bapak, Shita baik – baik saja’ begitulah yang selalu ia katakan tapi ibu malah merasakan sebaliknya” tambah Widya dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya.


“Bapak, apa saya boleh menjadi bagian keluarga bapak untuk menyayangi, mengasihi kalian dan menjadi bagian dari diri saya. Begitupun saya akan menjadi bagian dari keluarga bapak untuk melindungi dan menjaga kalian dengan baik. Bolehkah saya menikahi anak bapak? Wanita yang akan saya cintai seumur hidup saya” ucap Rendra dengan lantangnya tanpa ada rasa keraguan sedikitpun diwajah laki – laki tampan itu.


Entah dari mana keberanian itu datang, mengapa laki – laki yang tadinya berniat datang untuk bersilahturahmi dan menjalin keakraban dengan keluarga kekasihnya kini dengan lantang memohon pada orang tua kekasihnya meminta dengan tulus anaknya untuk ia nikahi.


“Jika kamu sudah memintanya maka bapak tidak akan menolaknya, nak Rendra bapak menitipkan anak bapak padamu, anak cantik yang bapak miliki dan hanya dia yang selalu bapak jaga dengan adiknya, jaga dia dengan baik seperti aku menjaganya sedari kecil hingga ia sebesar ini. Jaga hati dan perasaannya karena aku tidak pernah sekalipun membuatnya menangis atau menyakitinya dulu. Jika nanti kau sudah tak mencintainya lagi nanti tolong kembalikan dia sama seperti kamu memintanya hari ini padaku, aku akan siap menerimanya dengan sepenuh hati meskipun tubuhku sudah renta nantinya” ucap Fendra dengan mata yang berkaca – kaca dengan segera ia usap air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata dan siap akan tumpah.


Tanpa di sadari oleh ketiganya, Shita menangis sesegukan mendengar semua ucapan Fendra di belakang pintu kamarnya yang berada tak jauh dari dapur yang langsung terhubung dengan ruang keluarga tempat mereka berada. Begitupun dengan Rendra yang sedari tadi menangis mendengar kata demi kata yang terlontar dari bibir Fendra.


“Saya janji om, saya akan menjaga Shita dengan baik sampai akhir hayat saya. Sekalipun jika nyawa saya harus dipertaruhkan” ucap Rendra sungguh – sungguh dan mengusap air matanya. ‘Apakah aku bisa membahagiakan Shita dengan keadaanku seperti sekarang? Aku akan berusaha Shita, aku hanya membutuhkan kamu disampingku tak ada yang lain lagi. Hanya kamu dan kehadiranmu’


“Saya percayakan itu padamu, jika kamu mengingkari janjimu aku sendiri yang akan datang padamu dan membuat perhitungan denganmu” tegas Fendra.


Begitu besar beban yang selama ini berada dipundak Fendra menjaga, menjadi seorang ayah yang merawat dan mengasihi anak pertamanya itu, namun siang ini dengan iklas sudah ia serahkan sepenuhnya beban itu di pundak Rendra, tunangan Shita, kekasih hati anaknya. Widya tak kuasa menahan tangis sekaligus haru mengingat jika anaknya sudah memiliki orang terpenting selain mereka sekarang.


Shita yang mendengar itu hanya menangis tertahan tak menyangka jika akan sesakit ini rasanya mendengar kata – kata yang keluar dari bibir ayahnya. Walau ia tahu kehadiran Rendra akan menjadi sosok pengganti ayahnya tapi tetap saja hati seorang anak tidak akan bisa membohongi kenyataan jika hatinya perlahan – lahan sedih jika akan berpisah untuk membina keluarga baru bersama seseorang yang ia cintai dan yang ia pilih.


Seketika rekaman masa kecil Shita berputar di ingatannya seperti kaset usang yang beberapa isi di dalamnya tak terlihat jelas. Perlahan Shita bangkit dari duduknya berniat mengajak semua orang makan siang, ia berlari ke kamar mandi membasuh wajahnya agar tak menampakkan bekas tangisnya nanti di hadapan ketiga orang itu.


“Bapak, ibu, Rendra ayo kita makan siang” teriak Shita dengan senyum diwajahnya dan kini sudah keluar dari kamar dengan sedikit bedak yang ia aplikasikan di wajahnya guna menutup wajah bengkaknya.


“Ayo nak Rendra, kita makan siang bersama. Jangan sampai Shita ngambek karena kita tidak makan masakannya” ucap Widya dengan suara sumbangnya. Widya berdiri disusul oleh suaminya dan Rendra.


“Nah silakan dimakan” ucap Shita yang kini sudah duduk bersama dimeja makan. Tampak satu kursi kosong saat sarapan pagi itu yang tidak di isi oleh adik Shita, Nayna. Gadis kecil itu kini tengah menjalankan aktifitasnya sebagai seorang siswa.


Mereka berempat makan dalam suasana khidmat tanpa ada perbincangan diantara mereka. Masing – masing sibuk dengan pikiran mereka sedari tadi.


“Terima kasih untuk semuanya. Masakanmu memang yang paling enak” puji Rendra.


Blusshhh


Wajah Shita memerah karena pujian Rendra.


"Bukankah kau terbiasa memakan ini juga di Jakarta?" ucap Shita menahan rasa malunya.


"Tidak, masakanmu adalah yang terenak setara dengan masakan mamaku" sahut Rendra yang membuat pipi Shita makin memerah.


Widya menahan tawanya melihat reaksi Shita atas pernyataan Rendra. 'ternyata masakan anakku mampu bersanding dengan masakan calon besanku'🤭🤭


Shita beranjak dari duduknya dan bergegas merapikan piring kotor dan sisa makanan, Rendra pun berniat ingin membantu namun dihentikan oleh Widya. Wanita paruh baya itu menyuruh calon menantunya untuk menemani suaminya di ruang keluarga.  Rendra pun menuruti apa yang dikatakan oleh Widya.


"Bapak dengar kamu akan melakukan perjalanan bisnis nanti, semoga semuanya lancar ya nak" ucap Fendra tulus setelah ia duduk diruang keluarga.


"Doakan yang terbaik untukku ya pak, semoga semuanya lancar tanpa kendala"


Satu hal yang pertama kali dilakukan oleh Rendra selama hidupnya saat ini,  datang ke rumah seorang wanita dan duduk berdua dengan laki – laki sekaligus cinta pertama seorang ayah pada anak perempuannya dan perempuan itu adalah wanita yang begitu ia cintai. Shita pun ikut bergabung dengan keduanya hingga telinganya mendengar suara ponsel yang ada di kamarnya bersamaan dengan dering ponsel Rendra.


Beruntung ponsel Rendra dalam mode getar jadi ia tak perlu khawatir Shita mengetahui jika ponselnya juga memiliki panggilan masuk yang sama seperti Shita. Rendra mengaktifkan kembali perangkat penyadap di ponselnya.


Shita beranjak masuk ke kamar mengambil ponselnya.


'Yah orang halu ini lagi' Shita mengingat nomor ponsel itu walaupun hanya sekali ia menerima panggilan dari nomor itu. Rendra meminta ijin pada ayah Shita untuk menyusul Shita ke kamar dan dibalas anggukan oleh ayah Shita.


"Siapa?"tanya Rendra sedikit berbisik.


"Orang halu sayang" ucap Shita dengan santainya.


"Angkat saja\, aku juga ingin tahu apa maunya dia" ucap Rendra yang seketika itu membuat Shita menyernyitkan dahi. “Keceplosan gue. Dasar mulut b******k”


Shita mengernyitkan dahinya, 'Tahu darimana Rendra jika ada orang yang pernah menghubungiku sebelumnya?'


Melihat Shita yang menatapnya intens seketika laki – laki itu berkilah agar rahasianya tak terbongkar mudah.


"Aku mengetahuinya dari Nayna, kemarin dia menceritakan padaku saat di pesta Riko bagaimana marahnya kamu menerima panggilan dari seseorang yang kamu bilang orang halu itu" ucapnya sedikit berbohong. Seakan mengerti dengan penjelasan Rendra ia pun mengangkat panggilan itu.


"Halo,  mau apa lagi kamu?" ucap Shita tak sabar.