
“Sayang, apa kau tak dengar bel apartemen kita berbunyi sedari tadi?” tanya Rendra berusaha untuk setenang mungkin namun dibalik ketenangan itu tersimpan sejuta mantra yang ia panjatkan agar suara yang ia keluarkan tak bergetar karena gejolak birahinya.
“Bel? Apartemen? Aku tak mendengarnya. Baiklah kau saja yang membukanya ya sayang, aku pakai maskerku dulu karena aku sudah selesai dengan wajahmu” ucap Shita dengan santainya kemudian turun dari
pangkuan Rendra tanpa memikirkan penderitaan kekasihnya itu. ‘emang bener – bener ni junior gak bisa di ajak kompromi, sepertinya jadi besar sekali. Sekalinya on malah sama yang polos begini’ gerutunya sembari mengacak – acak rambutnya kemudian beranjak dari sofa untuk membukakan pintu.
Rendra yang saat itu memakai boxer dan kaos putih rumahan dengan wajah yang baru selesai di isi masker oleh kekasihnya berjalan ke arah pintu dengan santai tanpa ia tahu suara bel itu yang menyelamatkan dirinya sekaligus menyakitkan baginya.
Tingtong
Bunyi bel apartemen yang sedari tadi dibunyikan oleh orang yang berada di balik pintu, Rendra melihat siapa yang datang di balik intercom layar yang ternyata Rian datang dengan beberapa map di tangannya.
Krieeett
“Selamat siang tuan, maaf mengganggu saya mem-
Rian menundukkan kepalanya memberi hormat tepat saat pintu apartemen itu di buka dan segera mengucapkan salam tapi saat ia menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah Rendra betapa terkejutnya laki – laki itu melihat bosnya membukakan pintu dengan masker pada wajahnya hingga ia tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Rian menahan tawa melihat penampilan Rendra dari atas sampai bawah yang hanya menggunakan kaos putih dan boxer tak segagah saat Rendra memakai baju formal. Mata Rian tak sengaja melirik bagian bawah Rendra yang menampakkan cetakan yang sedari tadi mengembang di dalam sana seketika membuat Rian harus menahan tawanya lebih keras dari sebelumnya.
Rendra mengernyitkan dahinya tak mengerti mengapa asistennya itu menahan tawa ketika melihatnya seperti itu. ‘Apa ada yang salah dengan wajah dan tubuhku? Bukankah seorang laki – laki juga memerlukan perawatan diri’
“Mengapa kau seperti ini, apa ada yang lucu?” ketus Rendra menahan amarahnya.
“Ti- tidak tuan, maaf. Hanya saja seharusnya tuan lebih memperhatikan penampilan tuan saat membuka pintu jika ada tamu ke depannya. Maaf saya sudah mengganggu waktu senang - senang anda dengan nona Shita” jawab Rian sembari menunjuk tonjolan dibawah perut Rendra dengan matanya.
Rendra yang sedari tadi melihat gelagat aneh Rian mengikuti kemana arah mata Rian. Betapa bodohnya laki – laki itu melupakan apa yang baru saja terjadi padanya karena ulah kekasihnya.
“Astaga”
Braakkk
Rian tertawa terbahak – bahak di luar pintu saat Rendra berbalik dan menutup pintu dengan kencangnya.
“Ternyata bosku bisa naik juga, kirain gak bisa. Dulu waktu sama mantannya juga gak gini – gini amat. Mantap banget jurus dokter Shita” gumam Rian yang masih tertawa cekikikan hingga matanya menatap kotak yang ada di depan pintu apartemen Rendra.
Shita yang melihat Rendra yang masuk ke dalam apartemen tanpa membawa apa – apa menanyakan siapa yang tadi membunyikan bel apartemen. Namun matanya terhenti melihat tonjolan besar yang berada di bawah perut sispack Rendra.
“Siapa yang datang sayang? Aku sudah selesai nih, Oh my God. Rendraaa aku gak liat apa – apa kenapa siang – siang gini kamu menodai mataku sih” teriak Shita berlarian ke arah dapur mencoba menetralkan debaran jantungnya namun seperti magnet apa yang sedari tadi ia lihat sekilas membuatnya tak berhenti memikirkan dan ingin menatapnya berulang – ulang.
“Bodoh, bodoh. Aduhh mataku ternodai Tuhan, tapi itu besar banget. Kenapa juga aku membayangkan itu dari tadi sih” Shita menepuk – nepuk jidatnya tak sadar dengan apa yang ia katakan sejak tadi.
Rendra yang mendengar teriakan Shita tersenyum kecut, jika bukan karena dia yang tak henti – hentinya bergerak juniornya juga tidak akan seperti ini. Cepat – cepat Rendra menggunakan celana selutut untuk menutupi tonjolan yang masih saja belum kendor itu untuk menemui asistennya.
Dengan langkah yang pelan ia berusaha mengontrol emosinya di hadapan asistennya nanti setelah ia membuka pintu apartemen.
Kriieett
Rian menghentikan tawanya mendengar pintu apartemen yang telah dibuka.
“Apa yang kamu bawa?” ucap Rendra tegas dan mencoba bersikap professional ketika kini ia harus menahan malunya.
“Kau bisa ambil besok pagi, sekarang kau boleh pergi” usir Rendra yang tak ingin lebih lama melihat Rian dengan wajah yang seperti mengejeknya.
“Baik tuan” jawab Rian cepat melangkah memasuki lift yang membawanya ke lobby apartemen Rendra.
Rendra segera menutup pintu apartemen berjalan menuju kamar dan membuka paket yang ia terima. Matanya terbelalak melihat isi kotak yang menampilkan berita dan foto – foto Rendra bersama seseorang dari masa lalunya.
Ia berusaha dengan keras menahan debaran jantungnya dan menghilangkan sekelebat bayang masa lalu yang tak berhenti berputar di otaknya. Rendra tak henti - hentinya memukul dadanya yang kian sesak sejak tadi.
Dengan cepat ia menyembunyikan itu di dalam brankas rahasianya dan segera mencari keberadaan Shita yang sedari tadi tak dilihatnya untuk menenangkan debaran jantung dan kepanikan yang sedari tadi terlihat diwajahnya. Ia mencari ke setiap sudut ruangan apartemen, perasaannya begitu lega setelah menemukan kekasihnya berada di dapur sedang melamun.
“Apa kau sedang memikirkan apa yang tadi kamu lihat?” ucap lirih Rendra di telinga Shita mencoba menghilangkan rasa yang bergejolak dihatinya dan memeluk tubuh Shita hingga membuyarkan lamunan Shita.
“Ihh, apaan sih sayang. Ti-tidak yaa, kan aku sudah bilang aku hanya melihatnya sedi-
‘Ups, mati mati’
Rendra yang mendengar Shita mengatakan hal seperti itu berusaha menggoda balik kekasihnya agar pertahanan dirinya kembali seperti sebelum ia membuka kotak itu.
“Apa sayang? Aku tak mendengarnya, kau bilang kau melihatnya bukan? Apa kau suka?” tanya Rendra sedikit gugup.
“Jelaslah aku, aku tidak suka” ucap Shita bohong namun sebenarnya bayang – bayang apa yang ia lihat tadi masih terlintas begitu jelas di pikirannya.
Seketika wajah Shita merona dan menahan malu dengan apa yang ia katakan.
“Benar kamu tak suka? Baiklah jangan lagi menggodaku jika kamu memang tak menyukainya” sahut Rendra yang kini melepas pelukan Shita dan memasang wajah sedihnya.
Shita yang melihat perubahan wajah Rendra begitu cepat merasa bersalah telah membohongi tunangannya itu.
“Rendra tunggu dulu sayang, sebenarnya aku se-sedikit suka tapi ini baru pertama kali aku melihatnya selain punya pasien” ucap Shita gugup tapi berhasil menghentikan langkah Rendra dan membuat senyum di wajah Rendra mengembang dengan sempurna.
“Aku tahu sayang, tapi apa kamu juga menginginkannya?” goda Rendra yang mencubit hidung Shita dengan gemasnya.
“Iya, tapi nanti sayang setelah nikah ya. Sebentar kenapa sepertinya kamu terlihat panik ada apa?” tanya Shita yang memang sangat paham dengan perubahan wajah Rendra walau ia sedang memakai masker.
“Ah, itu aku hanya sedikit gugup karena Rian juga melihat punyaku yang tadi kamu lihat juga. Ini juga hasil perbuatanmu, ayo tanggung jawab” jawab Rendra berkilah.
“Aaku aku kan tidak berbuat apa – apa, sudah ayo basuh wajah kita sekarang” sahut Shita yang mengalihkan pembicaraan mereka.
Rendra tahu jika ini adalah pengalaman baru untuk Shita hanya bisa menahan senyum dan mengikuti langkah Shita ke ruang tamu membawa air dan sapu tangan untuk membersihkan masker di wajah mereka.
Up Segitu dulu ya teman - teman..
Terima kasih untuk teman - teman yang sudah mendukung karya saya,
See you next episode yaa..