
“Tapi aku mencintainya. Aku menerima semua hal yang ada di dirinya bahkan jika itu bukan hal besar yang ia miliki” ucap Shita seketika menghentikan tawa Tomy yang wajahnya sudah menunjukkan kemarahan. Kedua tangannya mengepal sempurna hingga memperlihatkan urat yang ada di sepanjang kedua tangan juga di dahinya.
“Jadi kau benar – benar ingin pergi dari sini dan kembali padanya? Baiklah aku akan mengabulkan keinginanmu tapi kau juga harus memenuhi apa yang aku inginkan” ucap Tomy kini membalikkan tubuhnya berjalan tanpa memandang Shita yang berdiri tak jauh dari pintu. “Aku menunggumu”
‘Dia benar – benar akan melepaskanku, tapi mengapa semudah itu setelah dengan susah payah dia memaksaku kemari. Aku harus waspada” Shita bergegas mengenakan baju namun di sela itu ia mengingat lagi ekspresi yang di tunjukkan oleh Tomy namun tak nampak perubahan yang di perlihatkan Tomy, ia tetaplah laki – laki pemarah dengan sejuta taktik liciknya berbalut topeng hello kitty di depan Shita.
“Akhirnya kau datang juga kemarilah dan makan semua makanan yang sudah aku persiapkan khusus untukmu” kata Tomy saat kedua matanya menangkap sosok Shita tengah berjalan menuju ke arah duduknya. “Nikmati semua ini dan hargai apa yang sudah aku lakukan untukmu. Setelah ini aku benar – benar akan membawamu kembali pada laki – laki itu. Aku juga tak ingin menjadi seseorang yang kamu ingat memiliki sikap dan sifat buruk ingat aku bahkan sampai hal – hal kecil yang akan aku lakukan” ucapnya lagi, namun entah kenapa apa yang dikatakan Tomy tak juga bisa meredam kekesalan dan emosi yang ia tahan sejak tadi.
Tanpa menjawab Shita sudah duduk di seberang Tomy hingga membuat posisi duduk mereka seakan – akan pasangan yang sedang menikmati sarapan yang benar – benar romantis dengan lilin kecil yang sudah di nyalakan dan di pasang di setiap sudut meja makan.
Shita mulai mengambil makanan yang ada di hadapannya karena ia pun sedang ingin menikmati sarapan paginya tanpa ada rasa marah. “Apa kau benar – benar akan membawaku kembali ke Indonesia? Kau tidak sedang menipuku bukan?”
"Sudah ku katakan berulang kali padamu dan masih saja kamu mempertanyakan semuanya. Aku akan menepati janjiku padamu setidaknya apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan dan ya kalau memang kamu memilih laki - laki gangguan mental itu, aku tidak apa - apa." jawab Tomy enteng namun terdengar begitu mengesalkan di telinga Shita.
Beberapa saat kemudian Shita yang sejak tadi sudah menghabiskan setengah porsi makanannya merasakan sakit di bawah perutnya.
'Apa ini, apa yang terjadi dengan perutku mungkinkah semua ini,' Shita begitu kesakitan merasakan betapa besar nyeri yang mendera tubuhnya, "Kau apakan tubuhku Tomy"
"Aku tidak melakukan apa - apa padamu. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya di kembalikan. Bagaimana apakah obatnya sudah bereaksi dan juga apa bayinya sudah lepas dengan sendirinya?" ucap Tomy. Senyum seringai terlihat jelas di wajahnya. Ia menaruh kembali Sendok yang ia pegang dan beranjak dari duduknya.
"Kau berapa banyak obat yang kamu masukkan? Tolong aku Tomy aku tak bisa menahannya lagi"
"Bagaimana aku bisa menolongmu jika aku juga tidak menginginkan bayi itu ada di perutmu. Mungkin ada puluhan butir aku lupa, ah ya aku juga sempat menambahkan lagi 10 jadi totalnya sekitar mungkin 40-50 butir sepertinya itu cukup membuat perutmu bereaksi penuh dan meluruhkan calon bayimu" ucap Tomy lirih tepat di telinga Shita. Ia menarik kembali wajahnya menatap lekat wanita yang sedang kesakitan di hadapannya.
"Tolongg.. T..tolongg " teriak Shita. Suaranya tercekat di tenggorokan ia sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit juga tak memiliki kekuatan lagi untuk berteriak bahkan mengeluarkan suara.
"Tahanlah sedikit lagi Shita semuanya akan kembali normal seperti dulu dan kamu akan menjadi milikku menjadi ibu untuk anak - anakku, hanya anak - anakku bukan anak orang lain ataupun laki - laki lain. Tahanlah sendiri tidak akan ada seorang pun yang membantumu hari ini" ucap Tomy dengan penuh penekanan. Ia meninggalkan Shita sendiri yang sudah tak berdaya di meja makan sampai akhirnya Shita yang sudah tak mampu menahan rasa sakit hingga tak sadarkan diri.
---
"Ibu apa ibu tidak merasakan keanehan dari sikap yang ditunjukkan dan diperlihatkan tuan muda? Mengapa ia mau repot - repot datang ke dapur dan menghidangkan makanan tidak seperti dirinya yang biasa. Ibu juga dengar bukan apa yang ia katakan tadi hanya karena ia ingin membuat hari ini spesial ia rela menghidangkan makanan. Melakukan hal - hal yang tak masuk akal yang selama ini, maksudnya spesial apa ya bu?" tanya Rina panjang lebar. Ia menaruh kembali pisau yang sedari tadi ia gunakan untuk memotong sayur di halaman belakang rumah.
"Mengapa kamu jadi curiga begitu dengan tuan muda apa salahnya jika ia menghidangkan makanan untuk calon istrinya sendiri tak ada yang salah dengan itu" jawab Wita enteng. Ia memang tidak pernah berpikir yang aneh - aneh mengenai majikannya.
"Tapi bu apa ibu tidak melihat senyumnya tadi senyum yang tak pernah di tampakkan tuan muda begitu menyeramkan jika aku mengingatnya. Aku takut terjadi apa - apa dengan Shita bu apa mungkin rencana yang sudah kita susun berjalan dengan baik? Aku akan memastikannya sendiri bu, aku akan kembali sebentar lagi jika keadaannya memang baik" teriak Rina beranjak pergi meninggalkan Wita yang tengah sibuk dengan apa yang di lakukannya.
Rina yang sedari awal sudah menaruh rasa curiga dengan tindakan tak biasa yang di lakukan Tomy mengendap - endap masuk ke ruang makan setelah ia melihat bayangan Tomy sudah berlalu dari sana. Ia begitu terkejut melihat sahabatnya tergeletak tak berdaya di atas meja.
"Shita shita kamu kenapa Shita" Rina menepuk pelan pipi Shita namun tak kunjung membuat wanita itu sadar. "Hei jangan bercanda jangan membuat orang lain khawatir, sadarlah"
Mata Rina menatap sekujur tubuh Shita. Bibir Shita nampak pucat hingga matanya menangkap sesuatu yang tak biasa di antara kaki Shita, 'Apa Shita sudah memberikan tes kehamilan itu pada tuan muda tapi Shita hanya berpura - pura hamil jadi mengapa ada darah yang keluar'
"Shita tahan sebentar aku akan mencari bantuan"
Rina meletakkan Shita seperti semula kemudian bergegas menghampiri Wita, "Ibu tolong Shita ibu tolong Shita wajahnya sudah pucat juga ada darah keluar dari organ dalamnya merembes keluar mengenai kaki Shita padahal dia tidak hamil jadi mengapa ada darah ibu" ucap Rina tersedu - sedu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang di alami oleh sahabatnya.
"Apa maksudmu? Ayo kita bawa dia ke rumah sakit sekarang"
"Tunggu ibu, tak bisakah kita berkemas lalu pergi dari sini membawa Shita? Kita rawat dia di tempat kita dulu aku
yakin jika tuan muda tahu apa yang sudah kita lakukan dan rencanakan dia tidak akan membiarkan kita tetap hidup. Kita juga harus membawa ayah juga suamiku pergi dari sini" ucap Rina, ia mengusap air matanya dengan cepat.
"Lalu kita harus kemana jika kita keluar dari sini Rina"
"Kita bisa pergi ke kampung halaman kita, kita juga punya cukup uang untuk membawa semuanya pergi" ucap seorang laki - laki dari balik pintu yang ternyata Deni suami Rina.
"Sayang, kamu tak keberatan?"
"Untuk apa aku keberatan jika semua ini begitu mengkhawatirkan kamu, aku juga tak ingin membuatmu dalam bahaya juga anak kita." Deni menghela napas, ia mengusap perut Rina yang masih tampak rata. Deni mengerti dengan apa yang di rasakan Rina wanita itu begitu bahagia menceritakan keseharian yang ia lalui bersama Shita padanya ia juga tak ingin kehamilan Rina terganggu ke depannya.
"Mari kita pergi, Deni kamu minta ayah untuk mempersiapkan semuanya. Rina kamu kemasi barang - barang berharga milik Shita juga kenakan dia pakaianmu agar tidak ketahuan oleh orang lain. Jam segini tuan muda masih di perusahaan ibu yakin dia akan pulang nanti sore kita bertemu di belakang rumah jangan sampai ada yg curiga dengan apa yang kita lakukan, ingat jangan sampai kalian tertangkap kamera cctv." Ujar Wita setelah beberapa menit ia mempertimbangkan apa yang di katakan menantunya.
Tanpa menunggu lagi mereka semua pergi mempersiapkan apa yang seharusnya mereka bawa. Rina yang di bantu oleh Deni membawa Shita ke kamarnya dan mengganti pakaian Shita dengan pakaian milik Rina.
Hai Pembaca yang masih setia menunggu up novelku,
Maaf kalau upnya kelamaan, ada urusan di luar menulis yang sedang aku jalani juga kondisiku yang tidak memungkinkan untuk up cepat. Aku akan usahakan up mulai sekarang doakan aku agar cepat pulih, terima kasih
Salam sayang author