Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 76



Tepat jam 3 pagi Shita beranjak menuju ranjang Rendra setelah laki – laki itu melepas pegangannya pada tangan Shita dan nampak tenang dalam tidurnya.


 ‘Hooaahhemm, jam berapa ini? Tubuhku sakit sekali setelah tidur semalaman disini, ah


ternyata sudah pagi’ gumam Rendra sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sekelebat bayangan seseorang yang berada diatas ranjang.


‘Dia begitu manis bahkan saat tidur, aku takkan melepaskanmu apapun yang terjadi pada kita ke depannya sekalipun orang dari masa laluku datang takkan ku biarkan dia menghancurkanmu atau kita. Entah mengapa aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya, biarlah semuanya tetap seperti ini saja’ lirih Rendra dengan wajah sedihnya sembari menyentuh pipi kiri Shita yang menyebabkan wanita itu menggeliat dan membuka mata.


“Morning Sunshine. Hei ilermu tuh” ucap Rendra menahan tawa menunjuk wajah Shita.


“Mana mana?” tanya Shita sembari mengusap pipi kanan dan kirinya bergantian.


“Ih Rendraaa, aku mana ileran kalau tidur. Kamu kerjain aku? Awas ya kamu.” Teriak Shita yang kini mengejar Rendra yang sudah keluar dari kamar tidur.


“Kejar aku kalau kamu bisa sayang. Hahaha”


Langkah Shita terhenti ketika merasakan lelah mendera tubuhnya sepagi ini.


“Stop, aku lelah” teriak Shita yang melangkahkan kakinya menuju sofa. Rendra yang melihatnya pun berjalan ke dapur mengambilkan air untuk wanitanya kemudian melangkah menuju sofa.


“Ini sayang minum dulu” ucap Rendra menyodorkan segelas air putih.


“Terima kasih.”


“Aku ke kamar mandi dulu ya sayang, biasa panggilan alam” kekeh Rendra yang sudah berdiri meninggalkan Shita.


“Kau begitu jorok dan mesum” teriak Shita berharap bisa di dengar oleh Rendra.


‘Apa aku harus menanyakan soal mimpinya semalam ya, tapi aku tak mau memaksanya jika ia pun tak mau menceritakan apapun. Udah ah masa bodo’


Dengan langkah pelan Shita menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk mereka pagi ini.


Tak berapa lama Rendra pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh setelah menyempatkan diri untuk mandi.  Laki - laki itu mengedarkan pandangannya setelah berhasil keluar dari kamar untuk mencari keberadaan kekasihnya, tepat di tempat akhir sudut pandangnya menangkap sosok wanita yang kini sedang asik


dengan kegiatannya didapur.


"Sayang,  kamu lagi buat apa?" tanya pelan Rendra yang kini memeluk Shita dari belakang.


Cup


Kecupan singkat mendarat dipundak wanita yang sedang bergelut dengan pisau dapur.


"Naga boker" teriak Shita sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Rendra, "Tak lihat aku sedang masak sayang? Kau tak bekerja sayang?" Tambah Shita. Ia bisa merasakan aroma wangi tubuh Rendra wanita itu


menghirup dalam - dalam, melekatkan dalam ingatan aroma wangi tubuh itu. Shita membalikkan badan


menatap wajah Rendra dengan pisau yang masih di pegangnya.


“Hei turunkan pisaunya itu berbahaya, mentang – mentang kamu sering menggunakan pisau bedah jangan seenaknya mengayunkan pisau dapur di hadapanku sayang, oke turunkan oke jangan bercanda. Aku ingin menemanimu seharian ini menyiapkan barang keperluan kita berangkat lusa. Bukankah kamu juga libur? Sini biar aku yang menumis buncisnya" ucap Rendra di sela ketakutannya melihat pisau yang di pegang Shita kemudian ia melangkah masuk ke area dapur mengambil spatula yang berada di samping tempat Shita berdiri.


"Terima kasih sayang” sahut Shita tersenyum “Iya aku tahu kita akan ke Bali lusa pagi, tapi bagaimana dengan urusanmu dikantor hari ini apa tidak ada yang penting?" tanya Shita namun tangannya tak berhenti memasukkan bumbu di masakan yang di olah olehnya juga Rendra.


"Aku sudah menyerahkan semuanya pada Rian asistenku. Jika ada yang penting dia akan datang kemari membawakan berkasnya. Kamu tak perlu khawatir seperti itu sayang.  Nah ini sudah matang, ambilkan tempat untuk buncis tumisnya sayang" ucap Rendra yang kini sudah mematikan kompor.


“Aku lebih suka memasak seperti ini bersamamu” tambah Rendra yang sudah menyelesaikan tugasnya.


"Ini. Nasinya juga sudah matang sayang. Ayo sarapan dulu. Ahh sebentar aku mau cuci wajahku yang berantakan ini dulu" terang Shita telah selesai menata makanan diatas meja.


Hupp


"Tapi ini aku masih kotor Rendra, jorok"


"Tak ada bantahan dan aku suka"


"Ter-terserahmu saja, aku akan jadi wanita baik hari ini" ucap Shita malu – malu setengah menunduk agar bisa melihat wajah tengadah kekasihnya.


“Kau begitu pintar untuk menyenangkan hatiku hari ini sayang, aku mencintaimu. Cuupp”


Rendra mengecup pipi kanan dan kiri Shita ketika wanita itu sudah ia dudukkan di kursi meja makan. ‘Hei jantungku seperti mau copot dari tempatnya apa kau tahu’ gerutu Shita dalam hati.


Seharian itu mereka lewati dengan berbagai aktifitas di dalam apartemen tanpa merasa bosan, Shita menolak ajakan Rendra untuk sekedar jalan – jalan, ia memilih untuk bersama kekasihnya seharian penuh.


‘Apa aku tanyain sekarang ya mumpung lagi santai, atau aku tanya pada Nana? Atau mungkin dia hanya bermimpi buruk seperti orang – orang, kenapa selalu kepikiran sih ahh tau lah pusing.’ gumam Shita menggetol – getol kepalanya.


Rendra sedari tadi menatap kekasihnya dan sedikit tertawa karena tingkahnya. Jam makan siang tiba, dengan sigap Rendra membantu Shita membuat makan siang.


“Sayang, udah selesai semuanya?” tanya Shita di sela – sela ia membersihkan piring bekas mereka pakai. “Kita maskeran yuk? Tadi aku udah buat sih” tambah Shita. Awalnya Rendra menolak namun dengan seribu bujuk rayu akhirnya laki – laki itu mau menuruti keinginan wanitanya.


“Ayo sayang, kita manjakan diri dulu nih pake masker wajah buatan aku. Resepnya dari ibu” ajak Shita pada Rendra yang saat itu sedang menonton animasi kesukaannya, 'Spongebob Squarepants'.


“Aku tak mau sayang, yang ada wajah tampanku ini makin tampan bagaimana? Nanti kamu juga yang susah” tolak Rendra halus namun sebenarnya ia tak ingin memakai masker wajah yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


“Apa kau mengatakan padaku untuk membuang masker yang sudah susah payah aku buat untuk kita? Ya sudah aku akan buang ini” sahut Shita sudah berdiri dan berjalan ke arah dapur pura – pura merajuk.


Namun langkahnya terhenti ketika lengan kirinya di pegang oleh Rendra yang sudah berdiri dari duduknya.


“Mmmm baiklah, ini hal pertama untukku. Tapi kenapa kita melakukannya dirumah sayang ayo kita bersiap setelah itu kita pergi ke salon agar perawatannya lebih lengkap” ajak Rendra menarik tangan Shita namun ternyata Shita tak bergeming dari tempat berdirinya.


“Apa kau tak menghargai buatanku ini? Secara tidak langsung kamu sudah meremehkanku begitu kan?” ketus Shita kini duduk di sofa samping dengan memanyunkan bibirnya.


Rendra mengusap gusar wajahnya niat hati ingin memanjakan kekasihnya lebih lama namun ternyata niatnya tak diterima Shita. Rendra sedikit gemas dengan prilaku Shita saat ini.


Cup cup


Cup


Cup


“Baiklah aku tahu kau ingin bermanja – manja denganku jadi jangan ngambek lagi ya sayang. Ya sudah sini pakaikan aku masker buatanmu itu” cicit Rendra mengalah tak ingin membuat sebuah pertengkaran hari ini.


“Kau serius? Horeee” saking senangnya dengan apa yang dikatakan Rendra tanpa Shita sadari ia sudah duduk di pangkuan Rendra dan mengecup bibir Rendra singkat membuat laki – laki itu sedikit terkejut dengan tingkah laku kekasihnya itu.


Sedikit – sedikit senang, namun sebentarnya marah dan ngambek lagi. Shita juga tak mengetahui apa yang sedang ia alami saat ini. ‘Mungkin efek mau datang tamu’ begitu pikirnya. Shita yang tak pernah seperti ini sebelumnya tampak acuh dengan tindakan yang ia lakukan.


“Upss, maaf sayang kekencengan ya? Aku mulai ya” kata Shita yang terdengar ambigu di telinga Rendra. Laki – laki itu mengira jika kekasihnya akan duduk disampingnya namun ternyata Shita masih saja berada di pangkuan Rendra hingga membuatnya menahan apa yang sedari tadi memberontak ingin keluar karena sesak dan hal itu tak di ketahui oleh Shita yang masih saja sibuk mengoleskan masker di wajah Rendra.


Dengan berbagai jurus dan tipu daya Rendra mengatakan hal – hal di dalam hati agar bisa membuat hasratnya tidak meledak – ledak dalam keadaan seperti ini namun Shita seperti memancing kembali apa yang sedari tadi ia redam dengan usahanya yang tak sedikit. Shita maju mundur ke kanan dan kiri tanpa memikirkan apa akibatnya untuk Rendra.


‘Ya Tuhan mengapa ujian ini begitu berat, rasanya aku ingin menerkamnya sekarang juga. Junior yang sabar ya nak. Tuhan tolong hambamu ini’


Mimik wajah Rendra begitu memelas dibalik maskernya, ia juga semakin menguatkan rapalan mantra dalam otaknya agar pikiran kotor tak mengusik otaknya karena ulah Shita.


Tingtong


Suara bel apartemen seketika membuatnya menghela nafas lega. ‘Akhirnya terima kasih mukjizatmu Tuhan, sungguh ku tak tahan dengan godaan calon istriku ini. Terima kasih Tuhan’ gumamnya dalam hati.