
Tak terasa matahari kini berada di sebelah barat menunjukkan hari sudah sore di ibukota yang sangat padat oleh
berbagai aktifitas.
Krriiinngg kriingg
Dering ponsel yang berada di atas meja membuyarkan lamunan Rendra yang sedari tadi masih saja teringat dengan berita dan foto yang dikirim terus menerus tanpa diketahui pengirimnya.
“Halo pa”
“Halo Rendra, dimana? Bisa ke rumah sekarang? Ada yang ingin papa beritahu dan ini penting nak” suara Hendra terdengar di ujung panggilan sana.
“Sekarang Rendra tak bisa pa, masih memeriksa berkas dan kontrak perusahaan. Bagaimana jika nanti malam Rendra ke rumah dengan Shita sekalian makan malam bersama pa? Mumpung Shita juga senggang pa” ucap Rendra sedikit berbohong dan menutupi kegugupannya.
“Baiklah nak, papa juga baru pulang dari Rumah sakit. Kita ketemu dan bicarakan di rumah nanti.”
“Ya pa” sahut Rendra yang kemudian mematikan panggilan Hendra dan mendial nomor ponsel lainnya.
Tuutt
“Halo Rian, periksa siapa yang selalu mengirimkan paket untukku. Periksa cctv di kantor dan sekitarnya juga di apartemenku” kata Rendra setelah panggilan itu tersambung.
“Baik tuan, akan saya selidiki semuanya”
“mmm”
tuutt
tok tok tok
“Sayang aku buatkan kopi nih, tadi siapa yang telepon?” tanya Shita yang sedari tadi berada di ambang pintu namun tak mendengar apa yang dibicarakan Rendra kemudian meletakkan secangkir kopi kesukaan Rendra di samping meja dengan berkas yang masih berserakan. ‘Ternyata laki – laki yang sedang serius bekerja sangat tampan’ gumam Shita yang kini duduk di sebelah Rendra dan menatapnya intens.
“Udah belum liat yang tampan ini? Tadi papa menghubungiku dan meminta untuk pulang ke rumah juga menyuruhku untuk mengajakmu makan malam sama – sama. Gimana sayang?” tanya Rendra namun tak sedikit pun memalingkan wajahnya dari berkas yang sedari tadi dipegangnya tapi fokusnya berbeda.
“Ya udah deh, aku mau nepatin janji yang kemarin belum lunas juga” jawab Shita dengan senangnya.
“Kok dari tadi liatin berkas mulu sih, wajahku gak enak banget diliatnya ya? Kopinya juga gak di sentuh tuh” ketus Shita yang seketika itu membuat Rendra meletakkan berkas dan menatap Shita.
“Tidak sayang, aku kan lagi kerja ini. Kok manja banget sih, sini sayang” ucap Rendra mencubit hidung Shita dengan gemasnya. Shita pun dengan senang hati menghampiri Rendra menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendra.
Sruupppp
"Bagaimana kau bisa membuat kopi seenak ini? Padahal aku sudah pernah menikmati kopi buatanmu dulu" ucap Rendra kembali meletakkan kopi itu di tempatnya.
"Apa kau sedang memuji kopi buatanku? Mungkin lidahmu yang berubah bukan kopi buatanku karena takarannya masih sama, tak ada yang berbeda" sahut Shita. "Atau mungkin karena aku bisa mendapatkan ini darimu setelah menyesap kopimu" ujar Rendra sedetik kemudian laki - laki itu ******* dengan rakus bibir ranun Shita.
Sementara di tempat lain.
“Apa kau sudah mengirim paketnya pada ba****an itu?” tanya laki – laki yang kini menatap pemandangan indah kota metropolitan tempat ia di besarkan dulu.
“Sudah tuan, sudah saya pastikan sampai ditangan pak Rendra” sahut Arya sang asisten yang kini berada di belakangnya.
“Jangan sampai Shita mengetahuinya karena aku yang akan mengatakannya secara langsung\, juga kirimkan ke kediaman keluarga Jaya paket yang sama dengan apa yang kamu kirim pada ba****an itu. Aku ingin lihat bagaimana reaksi keluarganya” katanya lagi.
“Baik tuan, akan saya laksanakan. Tuan ini wanita yang bernama Tara” ucap arya setelah membuka pintu dan membawa masuk seorang wanita dengan penampilan kusutnya namun tak mampu menutupi tubuhnya yang sexy dan menggairahkan bagi para laki – laki yang melihatnya.
“I-iya, kenapa ya? Mengapa saya di bawa kesini, saya tidak kenal kamu juga saya sudah tak ingin ada urusan dengan Rendra ataupun Shita jadi ada apa sebenarnya kamu memanggil saya kesini?” sinis Tara.
“Wanita yang menarik, baca ini. Apa kau tak ingin bersama dengan Rendra kembali, jika memang kamu menginginkannya cermati apa yang ada di dalam map itu baik - baik” ucap laki – laki itu melemparkan map coklat ke arah Tara yang berada di depannya.
Tara mengambil dan membaca isi map dengan cermat satu persatu. Mengartikan dengan teliti apa yang ditulis di map coklat itu.
“Jadi bagaimana apa kau tertarik dengan tawaranku? Tak usah pikirkan semuanya, jika kau setuju kau akan mendapatkan apa yang kamu inginkan tapi jangan menyentuh wanitaku, Akshita” ujar laki – laki itu lagi dengan senyum seringainya.
“Apa maksudmu? Jadi kau ingin kita bekerja sama tanpa aku harus menyakiti Akshita?” tanya Tara memastikan bahwa apa yang ada di dalam map itu semua adalah benar.
“Ya kau bisa mendapatkan Rendra lagi dan begitu juga aku bisa mendapatkan Shita bagaimana?”
“Baiklah, tapi bagaimana rencanamu ke depan aku harus mengetahuinya bukan jika kau ingin kita bekerja sama” tanya Tara lagi.
“Kau hanya perlu menurutiku, kamu boleh tinggal disini sekarang karena rumah ini adalah milikku, aku sering bolak balik ke luar negeri jadi rumah ini kosong selama aku pergi. Persiapkan dirimu jika sudah saatnya aku akan memberitahumu. Satu lagi keluargamu sudah aku tempatkan di tempat yang benar – benar layak” ucapnya lagi yang kini semakin mendekatkan dirinya dengan Tara.
“Selamat datang di TSanjaya Grup, nona Tara. Perkenalkan aku Tomy, jadi mulai sekarang jika kau membutuhkan apa – apa untuk meluruskan rencananmu kau bisa mengatakan semuanya padaku lewat asistenku” ucapnya lirih tepat ditelinga Tara. Hembusan nafas Tomy membuat wanita itu menelan salivanya dengan cepat, darahnya berdesir setelah sekian lama tak merasakan perasaan seperti itu lagi.
Tomy mengibaskan tangan menyuruh asistennya itu untuk keluar dan membiarkan mereka hanya berdua dalam ruangan itu.
“Kau kira aku tak tahu kau wanita seperti apa? Sebelum aku menyeretmu kemari aku sudah mencari semua tentangmu, perselingkuhanmu dengan mantan kekasih Akshita dan menghianati Rendra. Dengan senang hati aku meminta untuk kamu bekerja sama denganku dan membalas semua sakit hatiku pada Rendra dan menghancurkannya” ujar Tomy tenang namun kepalan tangan laki – laki itu tidak bisa menutupi amarah yang ada di hatinya saat itu.
Tara yang melihat seringai dan kepribadian Tomy mendadak ikut terbawa emosi atas perlakuan Rendra padanya selama ini. “Jika nanti kamu menghancurkan Tomy lalu bagaimana aku akan hidup jika kekayaannya sudah habis kamu rebut?” kata Tara. “Kamu tenang saja, jika perusahaan Rendra yang ia bangun selama ini jatuh dalam genggamanku aku akan memberikan sahamnya sebanyak 20% untukmu. Apa kau tahu dia pemilik perusahaan terbesar ke 5 di Asia?” tanya Tomy balik.
“Kau nampak terkejut dengan pertanyaanku\, apa mungkin kamu benar – benar tidak tahu? Hahaha lihatlah wajahmu yang bodoh itu menunjukkan betapa tidak tahunya kamu tentang mantan kekasihmu itu\, hahhh tapi bagaimana dengan Shita ya\, apakah dia juga di bohongi oleh ba*****n itu\, ckckck kasian sekali wanitaku itu. Aku harus bisa membahagiakannya nanti” sahut Tomy yang sudah duduk kembali di singgasananya menikmati ekspresi terkejut Tara dengan apa yang ia katakan.
“Hahahha mungkin aku wanita yang benar – benar bisa di bodohi, aku mencintainya dulu tapi karena aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan darinya membuatku menghianati perasaan Rendra, walau memang awalnya aku menginginkan hubungan serius tapi hartanya lebih berguna untuk perusahaan ayahku dulu”
“Hahaha kau benar – benar wanita serakah aku ingin bertanya padamu kau begitu sexy jika aku lihat tapi mengapa Rendra tak pernah menyentuhmu dan memberikan kepuasan padamu, mmm?” tanya Tomy dengan entengnya.
“Aku tidak tahu, tapi ku rasa dia laki – laki impoten. Aku sudah menggodanya dengan berbagai cara hingga aku
membuka setengah pakaianku tapi dia tidak bergeming dari tempat duduknya. Tapi ku lihat kau sangat berbeda dengannya” goda Tara mendekat ke singgasana Tomy menyentuh dagu Tomy dan ******* bibirnya. Tomy yang terkejut pun hanya bisa membiarkan wanita itu menyentuhnya karena memang dia penyuka wanita seperti Tara.
"Boleh aku tahu kenapa kau sangat membenci Rendra sampai kau menginginkan kehancuran dan memisahkan mereka berdua?" tanya Tara di sela kegiatannya.
"Kau tahu\, d-dia telah menghancurkan keluargaku terutama kakak laki - lakiku. Dia harus membayar dengan mahal semua yang telah dia perbuat. Kau tidak perlu tahu kisah itu karna aku tidak ingin membaginya dengan orang lain selain istriku nanti. Kau sungguh ja***g yang sangat liar”
“Ka-kau” kalimat Tomy tak bisa ia teruskan karena perbuatan Tara.
Mereka pun melakukan pergumulan panas itu hingga mereka kelelahan dan tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun pada tubuh mereka.
Up satu dulu ya guys,,
stay tune :)
Jangan lupa dukungan juga votenya..
Juga terima atas dukungan kalian
'Muli Ani dan Clarissa Christian' terima kasih vote nya :)