Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 109



“Apa yang kau katakan Nayna? Bicaralah karena sedikit informasi pun akan sangat berguna untuk kita sekarang” kata Wisnu yang kembali memutar tubuh berjalan menghampiri Nayna dan mengajaknya untuk berbicara di ruang tunggu.


“Aku hanya mendengarnya samar – samar ketika tak sengaja ku lihat kak Shita menangis dan berlari setelah keluar dari ruang dokter yang merawat bapak ketika di Bali. Seseorang yang berbicara pada kak Shita menyuruh kak Shita untuk pergi diam – diam dan meninggalkan kak Rendra. Ku kira dokter itu tidak tahu, tapi aku pernah mendengar ia menghubungiseseorang dan menyebut kota London. Aku tidak tahu apa maksudnya tapi aku yakin ini ada hubungannya dengan kepergian kak Shita”


“London? Tapi mengapa London?”


“Aku tidak tahu kak, ku rasa instingku tidak pernah salah selama ini jadi mulailah dengan mencari kak Shita disana” ucap Nayna tersenyum simpul. Terlihat jelas bahwa ia mencoba untuk memaksa tersenyum pada Wisnu.


“Kau tidak usah ntuk memaksakan utersenyum seperti ini, kuatlah karena kakak yakin kamu juga kakakmu adalah perempuan kuat dan hebat. Terima kasih atas informasinya Nayna semoga kita bisa menemukan kakakmu secepatnya. Sekarang kamu kembalilah ke tempat ayah dan ibumu" ucap Wisnu. Ia mulai beranjak dan meninggalkan Nayna sendirian.


“Nayna, bagaimana kondisi kak Rendra?” tanya Widya ketika melihat anaknya datang menghampiri yang ternyata sudah sadar sejak tadi setelah suaminya sadar lebih dulu tanpa ia ketahui.


“Ibu jangan pikirkan hal lain dulu, ibu harus cepat sembuh agar bisa mencari kak Shita nanti” ucap Nayna dengan tangis yangsangat pelan, ia tidak mungkin mengatakan jika kondisi Rendra tadi sangat buruk ketika ia masih ada disana.


“Apa susahnya jika kamu mengatakan yang sebenarnya Nayna, ibu harus tahu karena ibu sudah menganggapnya seperti anak ibu sendiri”


“Sebenarnya kak Rendra tadi sudah kehilangan detak jantungnya ibu, namun setelah beberapa saat kondisinya kembali namun sangat buruk, aku juga tidak tahu seperti apa kondisinya. Kak Wisnu hanya mengatakan jika kondisi kak Rendra bisa terlihat jika ia sudah sadar tapi ia mungkin akan kehilangan ingatannya juga akan mengalami kebutaan sementara atau permanen. Juga Nayna ingin mengatakan sepertinya memang kak Shita pergi dari kita bu seperti yang di katakan kak Nana” jelas Nayna yang membuat Widya terkejut.


‘Hyang Widhi, bagaimana ini semua bisa terjadi? Maafkan kesalahan kami di masa lalu, sembuhkanlah Rendra juga suamiku. Kembalikan anak perempuanku itu Tuhan, jaga dia dimana pun ia berada.’ ucap Widya dalam hati.  Ia tak kuasa menahan tangis mengingat apa yang dialami oleh Shita juga Rendra.


“Widya Widya. Nayna”


“Bapak, bapak sudah siuman? Aku akan memanggil dokter tunggu sebentar”


Langkah Nayna terhenti saat ia merasakan tangan lemah yang ia pegang menyentuh dan menahan gerakannya.


“Bapak, kenapa? Yang mana sakit?” Fendra menggelengkan kepalanya.


“Tunggu sebentar Nayna bapak ingin minta tolong padamu nak, berikan semua yang ada dan tersimpan dalam kotak yang bapak miliki di tas ibumu. Jaga ibumu Nayna, kuat dan bertahanlah seperti kakakmu. Sekarang kau bisa memanggil dokter untuk bapak”


Nayna bergegas memanggil dokter seperti yang di minta ayahnya. Tak lama Andi datang dan memeriksa kondisi Fendra.


“Nayna, kamu tunggu di sini sebentar kakak akan memeriksa ayahmu” kata Andi yang kini sudah memasang tirai pembatas antar pasien.


“Kamu Andi sahabat anak saya bukan? Saya ingin minta tolong kabulkan permintaan saya. Saya sudah tidak kuat lagi, tolong berjanjilah jika kamu akan mengatakan semua ini saat semuanya telah kembali”


Andi terkejut dengan apa yang di katakana ayah Shita. “Bapak tenang sebentar saya akan memeriksa keadaan bapak”


“I-ini bacalah. Terima kasih jika kamu mau mengabulkan apa permintaan saya”


Andi menerima kertas yang diberikan oleh Fendra yang ia tulis sesaat setelah ia sadar.


“Tapi pak, bagaimana saya harus mengatakan pada semuanya?”


“Ti-tidak usah khawatir karena semuanya akan mengerti apa yang aku lakukan. Aku titip pesan sayangku untuk mereka semua”


Tiiiiitttt


“Bapak, bertahanlah. Suster tolong kemari dan bawa alat kejut jantung”


Nayna yang mendengar teriakan Andi begitu terkejut sesegera mungkin ia membuka tirai pembatas hingga menampakkan Andi sudah berada di atas Fendra yang sedang memompa jantung Fendra dengan kedua tangan.


“Kak Andi apa yang terjadi pada bapak kak?”


“Hos hos, tenanglah Nayna kakak akan berusaha untuk menyelamatkan bapakmu jadi yang kamu harus lakukan adalah berdoa jadi kamu harus tenang dan sekarang menjauhlah sedikit beri kami ruang untuk menyelamatkan ayahmu"


Beberapa perawat datang membantu Andi melakukan pertolongan pada Fendra namun sayang kali ini Andi tidak bisa menepati perkataannya pada perempuan yang merasa cemas sedari tadi menunggu hasil yang juga tidak pasti.


“Bagaimana kak bagaimana keadaan bapak?” tanya Nayna yang sudah bersama Widya saat ia melihat Andi keluar dari ruang penanganan. Namun Andi hanya bisa menundukkan kepala tidak mampu untuk menjawab pertanyaan yang biasanya sering ia dengar dan ia jawab dengan lugas, nampaknya saat ini ia tidak bisa melakukan apa yang biasa ia lakukan.


“Andi, dokter Andi bagaimana keadaan pasien?” tanya Nita yang baru saja datang setelah memeriksa pasien yang lain. Lagi lagi bibir Andi seperti kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Nita kekasihnya.


“Maaf Nayna, ibu Widya kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun sepertinya kami tidak kuasa untuk menentang kehendak Tuhan sekali lagi kami minta maaf, kami turut berduka cita” Kata Nita dengan napas tersengal setelah berlarian menuju dimana ia meninggalkan Andi yang masih dibanjiri pertanyaan oleh Nayna.


“Tidak mungkin tidak mungkin kakak pasti bohong kan, tidak mungkin bapak meninggal. Dokter mengatakan jika ia hanya tidak boleh banyak pikiran saja dan ia akan cepat pulih tapi sekarang meninggal? Perkataan kalian tidak lucu jika kalian ingin mengerjai kami saja” teriak Nayna dengan lantang. “Bapaakkk” teriakannya terdengar pilu pecah bersama air mata yang mengalir begitu deras lagi dan lagi.


Widya yang juga mendengar bagaimana kondisi Fendra ambruk kembali. Ia benar – benar tidak bisa lagi menguatkan hati dan pikirannya.


Dharma bergegas menuju UGD setelah mendapat kabar dari Nita jika Fendra telah meninggal baru saja setelah sesaat sempat sadarkan diri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, semua begitu rumit baginya masalah begitu banyak ia pikirkan namun perlahan ia memberanikan diri mengambil ponsel yang berada di dalam saku celana dan menghubungi Hendra yang masih menemani Rendra bersama ayah dan istrinya.


“Papa, aku harap papa tidak terkejut dengan apa yang aku katakan. Aku mohon papa kesini secepatnya karena om Fendra sudah tiada pa” kata Dharma sesaat setelah panggilannya sudah terhubung, “Aku baru saja mendapat informasi dari dokter yang menanganinya dan sekarang aku sedang menuju UGD untuk melihat keadaan Nayna juga bu Widya”


Tuutt


Kerutan kasar di dahi Hendra semakin terlihat kala panggilan yang ia terima ditutup secara tiba – tiba. “Ayah aku ada urusan hari ini dan sangat penting mungkin aku tidak akan bisa menemani Rendra sampai urusanku selesai. Ayah mau kan menemani Rendra menggantikan aku?”


“Ada apa pa?” kata Ratna, terlihat wajahnya bingung melihat perubahan yang suaminya perlihatkan sedari tadi.


“Mama akan segera mengetahuinya karena mama akan ikut bersama papa juga. Pa apa papa tidak keberatan?” ucap Hendra menganggukkan kepala menatap bergantian wajah ayah dan istrinya.


“Untuk apa ayah keberatan karena hanya masalah ini? Kalian selesaikan saja urusan kalian hingga akhirnya nanti kalian bisa fokus mengurus Rendra” sahut Anton yang sejak tadi duduk d samping ranjang Rendra.


“Baik ayah, terima kasih atas bantuan ayah. Nanti aku akan minta Mirna untuk menyiapkan keperluan ayah selama kami tidak ada, kami pergi sekarang ayah. Apa kalian tidak ingin ikut dengan kami karena ini mengenai keluarga Shita"


"Ada apa om? Kami akan ikut om sekarang" ucap Riko dan yang lain yang masih berada disana.


Hendra mengganggukkan kepala tanpa merubah ekspresi wajahnya kemudian berjalan ke arah Ratna dan mengajak istrinya keluar dari sana.


“Ada apa sebenarnya pa? Bisakah papa mengatakannya sekarang pada mama?” tanya Ratna yang memang sedari tadi ia sudah cukup sabar menahan rasa penasaran yang bergelayut di pikirannya.


“Ayah Shita, pak Fendra meninggal ma. Dharma baru saja mengabari papa” jawab Hendra pelan setelah ia berhasil memeluk tubuh istrinya.


“Hikss, hikss mengapa semua ini bisa terjadi pa? Ini berarti apa yang Shita lakukan sia – sia pa, kenapa harus seperti ini pada akhirnya?”


"Apa om? Ayah Shita meninggal mengapa om tidak mengatakannya secara langsung. Bagaimana ini" Riko begitu prustasi begitu juga Niko, ia mengusap wajahnya gusar menyalurkan rasa sedih sekaligus marah yang meluap di hatinya.


“Ma, papa dan yang lainnya juga sedih bukan mama saja, yang harus kita kuatkan sekarang adalah Nayna juga bu Widya karena mereka pasti merasa kehilangan berturut – turut setelah kepergian Shita yang mungkin saja tidak mereka ketahui dan sekarang harus kehilangan pak Fendra juga ma. Kita temui mereka di UGD ya ma dan ingat mama harus menguatkan hati juga menguatkan mereka” sahut Hendra menenangkan istrinya.


“Baik pa, mama akan lakukan yang terbaik untuk kali ini”


--


Sudah satu bulan lamanya Shita berada di sebuah rumah mewah yang berlapis emas. Ia menjalani kehidupannya dengan berat hati namun semua dengan mudah ia lalui ketika melihat pemberian Rendra yang masih ia bawa sampai saat ini.


Pikiran tentang kekasihnya tak sedikitpun teralihkan karena yang hanya ia lakukan diam diri dan terkurung di kamar mewah rumah seorang Tomy Sanjaya. Hari terus berganti wanita itu sudah menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan disana namun kesehariannya tidaklah sendiri, sewaktu – waktu ia minta Wita juga Rina menemani kesendiriannya disana.


“Bagaimana keadaannya saat ini? Apakah ia tetap tampan? Apa kamu merindukanku? ” ucapnya lirih menggerakkan cincin yang masih melekat di jari manisnya.


“Ibu, bapak, Nayna bagaimana keadaan kalian disana? Maafkan aku tak mengatakan semuanya ini, aku hanya tak ingin membuat kalian cemas dengan apa yang akan aku jalani untuk kalian” ucapnya sesegukan yang kala itu ia sedang sendirian menikmati keindahan malam di dalam kamar mewah di negara metropolitan yang memiliki kotak telepon warna merah di setiap penjuru kota sebagai ciri khasnya.


Tok tok tok


“Nona makan malam sudah siap Nona” ucap seorang pelayan wanita bernama Wita yang sering mengingatkan apa yang harus Shita lakukan. Seorang wanita paruh baya yang sudah mengabdikan diri mengurus rumah itu selama 30 tahun lamanya. Ia bekerja disana bersama 40 orang lainnya dimana salah satu dari pelayan yang ada dirumah itu adalah anak perempuan Wita yang bernama Rina umurnya hanya beda 2 tahun dari Shita dan sudah menikah. Wita serta Rina bekerja dari sore hingga pagi hari dan dari pagi hingga sore akan diganti oleh pelayan yang lain.


“Baik bu, saya akan segera turun” ucap Shita dari dalam bergegas mengusap air matanya dan keluar menuju meja makan. Seperti biasa ia akan menikmati makan malam seorang diri, ia pernah memaksa Wita dan Rina untuk makan bersama dengannya tapi selalu saja ditolak dengan berbagai alasan.


“Nona hari ini pun sama seperti biasa, setelah nona makan malam nona harus masuk kembali ke dalam kamar dan tidak ada kegiatan apapun dan ini adalah perintah tuan muda” ucap Wita yang sedari tadi berdiri di samping Shita.


“Ya aku tahu bi, aku akan ke kamar sekarang” lirih Shita ketika ia telah menyelesaikan makan malam. Mau tidak mau ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh Wita.