
12.00 am waktu Indonesia.
5 jam kemudian Shita selesai memeriksa pasien dan jam istirahat sudah dimulai. Shita menghubungi kedua orang tuanya yang masih di kamar hotel untuk menanyakan jam berapa mereka akan kembali.
Tuutttt tutttt
Tuuttt
“Hallo ibu,”
“Halo nak, mengapa kamu menghubungi ibu?” tanya Widya ibu Shita.
“Tidak apa – apa bu, jam berapa ibu kembali?” tanya Shita pada ibunya.
“Ibu hanya disuruh menunggu oleh nak Rendra, dia mengatakan akan menjemput kami disini”
“Iya dia juga mengatakan seperti itu tadi, kalian sudah makan siang?” tanya Shita.
“Sudah sayang, tadi kami makan siang bersama keluarga Rendra Ita mereka baik sekali pada kami. Bahkan keluarganya mau membayar biaya sekolah adikmu ibu sudah menolak namun mereka bersikukuh sayang, jadi sekarang adikmu juga tidak perlu biaya sekolah lagi.” Jawab ibu Shita terdengar sesegukan dan menangis diujung telepon.
“Astungkara ya bu, Shita tidak pernah mengobrol lama dengan keluarganya sudah diperlakukan seperti ini. Bukankah Shita harus memperlakukan keluarga dan anak mereka dengan baik ibu? Lebih baik ibu dan semuanya bersiap – siap ya” tanya Shita menahan linangan air matanya.
“Iya sayang, kamu benar. Jaga hati dan perasaan mereka ya sayang. Jangan mengecewakan mereka. Nanti ibu akan beritahu bapak dan adikmu” ucap Widya yang kemudian menutup panggilan Shita.
Shita mengusap air mata yang mengenai kedua pipinya ‘Aku bahagia bisa menjadi bagian darimu dan keluargamu’ gumam Shita yang kini memainkan ponselnya dan mencari nama kontak yang ingin ia hubungi.
Tuuttt tuuutt
‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi’
‘Kemana orang ini? Tak biasanya begitu sibuk seperti ini. Ah aku juga jarang menghubunginya, tak tahu kapan waktu luangnya. Tapi siapa yang menghubunginya siang ini? ah ada pesan’ gumam Shita.
“Apa Rendra sudah tahu semuanya? Baiklah aku akan jujur padanya” ucap Shita pelan setelah melihat isi pesan dari Rendra.
---
Di kantor CEO Corps.
“Halo Riko”
“Halo Ndra, tumben lu ni. Kenapa?” ucap laki – laki penerima telepon yang tak lain adalah Riko.
“Lu dimana Ko? Gue mau minta bantuan lu sama yang lain. Gak ganggu kan gue untuk persiapan acara nikah lu?” jelas Rendra panjang lebar.
“Mmm gue sih gak apa, Anna harus ikut apa gimana nih?. Persiapan pernikahan gue udah 90% kok.” tanya Riko memastikan keadaan Rendra.
“Kita kumpul berempat aja, lagi 4 jam dari sekarang, gue mau meeting dulu” ucap Rendra terdengar santai.
“Oke Gue matiin dulu, gue mau ada meeting sebentar lagi sama WO” ucap Riko seraya menutup panggilan Rendra.
Senyum laki – laki itu tampak begitu lebar, sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Tok tok tok
Ceklek
“Pak, sebentar lagi kita ada meeting dengan klien jadwal kita seharusnya saat makan malam tapi dimajukan oleh klien pak” ucap Rian memecah lamunan Rendra.
“Baik, ah ya jangan lupa dengan apa yang aku katakan. Kamu carilah kandidatnya siapa atau pasang laman website dan aku ingin kedatanganku dari Bali sudah ada sekretaris yang siap bekerja” jawab Rendra mengibaskan tangan seraya membalikkan kursi singgasananya.
Dreettt dreettt
Garis senyum laki – laki itu semakin melengkung ke atas ketika melihat panggilan menunjukkan nama kekasihnya tertera pada ponsel.
“Halo Rendra”
“Halo sayang, kamu rindu denganku?” goda Rendra.
“Tebakanmu sangat salah, aku menghubungimu untuk menanyakan siapa yang kamu hubungi tadi mengapa begitu sibuk. Jam berapa kamu akan mengantar keluargaku?” tanya Shita memastikan.
“Kau cemburu? Hahaha aku hanya menghubungi Riko untuk mengajaknya bertemu sebentar di Café Wisnu. Kau begitu cerewet aku suka, Aku tak lupa sayang sebentar lagi aku kesana setelah itu aku akan meeting lagi. Setelah itu kamu harus tinggal di apartemenku” Ucap Rendra penuh penegasan.
“Huh dasar pemaksa, aku bisa apa jika kau sudah mengatakan seperti itu. Bagaimana dengan meetingmu tadi pagi?” tanya Shita mematikan panggilannya.
“Lancar sayang, aku masih menunggu keputusan klienku itu. Dalam 3 hari ke depan aku akan mengetahuinya. Aku begitu merindukanmu, aku ingin memelukmu Shita” ungkap Rendra pada kekasihnya.
“Kau bisa mendapatkannya sekarang juga tuan” Jawab Shita dengan lembutnya.
“Jangan menggodaku sayang atau kau akan tahu apa akibatnya” kata Rendra memutar – mutar kursi singgasananya.
“Aku tahu apa yang akan terjadi padaku jika menggodamu, jika aku tak salah sekarang aku berada di depan lobby perusahaan Jaya corps. Aku akan bertemu dengan direkturnya” sahut Shita dengan gembiranya.
“Benarkah? Kau tidak mengerjaiku kan? Tunggu disitu aku akan datang menjemputmu. Jangan kemana – mana tunggu aku diam di tempatmu, diam disana sayangku. Kau mengerti?” Rendra beranjak dari duduknya berlarian menuju lift khusus untuknya.
Kakinya tak diam sedari tadi menantikan pintu lift yang membawanya ke lobby terbuka.
Ting
Pintu lift yang sedari tadi ditunggu telah terbuka membuat laki – laki itu berlari sekencang – kencangnya. Semua orang yang berada di lobby menatap apa yang tengah dilakukan bos dinginnya itu. Matanya sibuk mencari kesana kemari namun tak juga menemukan sosok yang ia cari.
Buru – buru ia mengambil kembali ponsel yang ia letakkan di dalam saku celananya sedari tadi.
“Halo sayang, kamu dimana?” ucap Rendra dengan nafas yang masih memburu.
“Aku selalu berada dihatimu sayang, aku tak kemana – mana” ucap Shita cekikikan mendengar suara nafas Rendra.
“Apa kau sedang mengerjaiku, kau keterlaluan” sahut Rendra yang menunjukkan wajah sedihnya. Dan semua yang laki – laki itu tunjukkan terlihat jelas oleh semua karyawannya. Banyak karyawan berbisik - bisik dengan apa yang mereka lihat.
“Baiklah sayang, jika kau memang tak ada disini. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Tapi sungguh rindu ini begitu berat sayang” kata – kata Rendra terdengar begitu sedih keluar dari bibir tipisnya itu.
“Belum ada sehari kau tak bertemu denganku, bagaimana jika aku tak bertemu denganmu begitu lama.” Goda Shita.
“Jangan berbicara yang tak masuk akal, ingat Shita kau hanya boleh berdiri di tempatmu berpijak karena aku yang akan mendatangimu dan menjemputmu bagaimana pun keadaannya nanti.” Ucap Rendra penuh penegasan.
“Akan selalu aku ingat itu tuan. Maka kau sekarang harus menyelesaikan pekerjaanmu terlebih dahulu.” Ucap Shita mematikan panggilan.
‘Pencemburu, penggoda’ gumam Rendra segera menetralkan wajah yang terlihat sedih tadi seperti wajahnya yang biasa sembari melihat wallpaper ponselnya berjalan ke lift menuju ruangannya.
Tok tok tok
“Masuk”
Ceklek
“Tuan Rendra, gawat tuan. Saham kita dibeli oleh seseorang yang tak dikenal tadi”
“Berapa persen?” tanya Rendra nampak terkejut terlihat kerutan di dahi laki – laki itu.
“Sebanyak 5% tuan. Saham yang pak Hartono tanamkan di perusahaan kita yang dibeli oleh orang itu, bisa bapak lihat di layar computer tuan.” jelas Rian.
“Selidiki orangnya. Bila perlu sampai ke akarnya. Aku tak ingin ada masalah lain lagi. Segera persiapkan berkas untuk meeting kita nanti” ucap Rendra memalingkan wajahnya dan membalikan kursinya.
Sementara itu di lobby perusahaan seorang wanita berjalan membawa paper bag ditangan kirinya.
“Selamat siang, bisa saya bertemu dengan pak Rendra? Bisa kalian tunjukkan dilantai berapa ruangannya? Katakan jika saya kekasihnya datang menemuinya” kata ramah wanita yang tak lain adalah Shita.
“Siapa? Apa nona sudah membuat janji temu dengan beliau? Jika belum membuat janji bisa datang besok lagi ya nona, dan jangan berhalusinasi nona bahkan tuan Rendra sudah memiliki tunangan dan jelas itu bukan anda” ucap salah satu pegawai yang bernama mia.
Kesal dengan ucapan si receptionis, dengan cepat Shita merogoh tasnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Nana, ia tak ingin menghubungi Rendra karena ingin memberikan kejutan pada laki – laki itu.
“Nana, apa aku bukan kekasih Rendra? Mengapa pegawai kakakmu ini mengatakan aku bukan kekasihnya. Tolong bilang padanya agar aku bisa bertemu dengan kekasihku” kata Shita kesal.
Nana tahu kemana tujuan Shita karena saat di rumah sakit Shita sudah mengatakannya tadi pada Nana saat wanita itu akan mengajak Shita makan siang.
“Berikan ponselmu padanya” mendengar kalimat Nana, Shita pun memberikan ponselnya pada pegawai yang bernama Mia.
“Hal-
“Apa kau ingin dipecat kakakku Narendra Adiatma Jaya? Apa kau juga tak tahu siapa aku, apa aku harus mendatangkan ayahku Hendra Adiatma Jaya untuk sekedar memecatmu?” teriak Nana di seberang sana memotong kalimat yang akan dikatakan Mia dan menutup panggilan itu.
“Maafkan saya nona, silakan nona masuk ke dalam lift itu menuju ruangan pak Rendra yang berada di lantai 40. Sekali lagi maafkan saya nona” ucap Mia dengan nada memelas. 'Mengapa aku sebodoh itu sih'
“Baik saya maafkan kamu tapi jangan mengulangi perkataan sinismu terhadap orang lain siapapun bahkan dengan orang yang tak kamu kenal sebelumnya jika mereka kesini. Juga pastikan dulu apa yang dikatakan oleh orang itu” sahut Shita kemudian beranjak dari tempatnya berdiri.
Tok tok tok
Ceklek
“Ada apa lagi Rian? Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya dulu” ucapnya tanpa melihat siapa yang berada di ruangannya sekarang.
“Apa kau menyuruhku untuk keluar sekarang juga sayang”
Mendengar kalimat dan suara yang begitu ia kenali, Rendra pun memutar kursi dan melonjak kaget segera berlarian ke sumber suara.
“Kau benar – benar menyebalkan aku bahkan sudah berlarian menuju lobby tak sabar untuk bertemu denganmu tapi kau malah tak menampakkan dirimu sedikitpun, huh” gerutu Rendra yang kini memeluk erat tubuh kekasihnya.
“Aku tak bisa bernafas Rendra apa sekarang kau masih marah dan kesal padaku, jika iya maka lepaskan pelukanmu maka aku akan segera pergi dari sini” ucap Shita menggertak namun balik memeluk erat tubuh Rendra.
“Apa kau benar – benar ingin aku melepas pelukanku dan membiarkanmu pergi dari sini sedangkan kamu sendiri memelukku seperti ini” goda Rendra namun tetap dengan ekspresi kesalnya.
“Apa kau ingin aku melepaskan pelukanku ini?”
“Haihh, mengapa kau membalikkan pertanyaanku, aku yang bertanya terlebih dulu tadi bukan. Mengapa kau tadi tak berada di lobby sayang? Ayo kita duduk dulu”
“Maka aku mengembalikan lagi pertanyaanmu itu, kau sudah tahu jawabanku mengapa masih bertanya lagi. Aku memang sudah sampai di depan perusahaanmu tapi aku lupa membelikanmu makan siang jadinya aku mampir sebentar ke restoran karena aku tahu kau pasti melewatkan makan siangmu”
Jelas Shita panjang lebar sambil menaikkan apa yang ia beli untuk kekasihnya. Rendra mendengarkan penjelasan Shita tersenyum dengan mata berbinar dan mengangguk – anggukan kepala tanda mengerti.