Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 70



Shita menatap mobil yang ditumpangi laki – laki itu hingga tak terlihat lagi. Setelah itu ia masuk ke dalam bersama Andi.


“Dia begitu menyayangimu Shita, aku bisa lihat itu dari sorot matanya sekali lagi selamat atas pertunanganmu” ucap dokter Andi yang berjalan beriringan menuju lobby Rumah Sakit.


“Ya begitulah, aku begitu terpaku melihat perjuangannya dulu. Berulang kali menyatakan perasaan yang ia miliki tapi selalu ku tolak. Memang sangat singkat, tapi ternyata waktu yang menjawab semuanya dan menutup bekas lukaku dengan baik oleh perbuatan serta ketulusan hatinya” jawab Shita.


“Kalian nampak bahagia, jika memang dia bahagiamu aku akan merelakanmu dan berdiri disampingmu sebagai sahabatmu, ah ya kau kenal denga-


“Hei Shita, dokter Andi juga ada disini ternyata. Eh kok bisa sih?” teriak Nana seketika itu menghentikan kalimat Andi, wanita itu tampak penasaran dengan apa yang dilihat. Andi tersentak kaget ketika tanpa sengaja ia ingin menanyakan soal sahabatnya pada Shita.


“Jangan prasangka dulu, aku dan dokter Shita sudah memutuskan untuk jadi sahabat, sahabat kalian berdua. Bukan begitu dokter Shita?” jawab Andi gelagapan pada wanita yang berdiri disebelahnya dan hanya diangguki oleh Shita yang kini sudah berada dilobby rumah sakit.


“Benarkah? Bagus dong. yeyyy akhirnya sahabatmu nambah juga” teriak Nana hingga semua orang menatap ke arah mereka berdiri.


“Ehh tu liat dokter Andi sama dokter Shita”


“Kok mereka bisa barengan sih? Bukannya dokter Shita udah punya pacar ya?”


“Kok ganjen gitu sih, udah tunangan juga kan kemarin beritanya sama anaknya si bos”


“Itulah sifat aslinya, makanya jangan cepat menilai orang” ucap salah satu perawat yang mengagumi Rendra.


“Akhirnya apaan ya maksudnya dokter Nana, mungkin pacaran dokter Andi dan dokter Shita atau lamaran tuan Rendra kemarin hanya setingan?”


Begitu banyak omongan disana yang mereka dengar namun celetukan dari beberapa kata mereka membuat hati Shita meradang. Nana yang melihat perubahan ekspresi Shita mengetahui apa yang di rasakan oleh sahabatnya.


“Ayo kita samperin” ajak Nana menggandeng tangan Shita berjalan mendekati kerumunan para staf yangsedari tadi bergosip tentang mereka.


“Hei kalian tak puas hanya mencibir kami? Kalian boleh menggosipkan kami apapun tapi janga pernah menggosipkan hubungan kakakku dengan Shita” ucap Nana tegas


Semua staf yang berada disana terkejut dengan apa yang di katakan oleh Nana. Ia yang selama ini menutup rapat jati dirinya kini secara gamblang memberitahukan identitas aslinya.


“Jika kalian masih ingin hidup maka tutup mulut kalian rapat – rapat. Tentunya kalian sudah tau jika sedikit saja tuan Rendra memberi perintah itu tidak akan pernah tidak terlaksana, bubar” teriak Nana membuat gempar seisi lobby rumah sakit mendengar teriakannya.


“Sudahlah, aku tak apa – apa. Biarin aja toh juga aku udah biasa jadi buah bibir orang. Jangan buat tensimu naik dong, tapi terima kasih kamu sudah membelaku” ejek Shita kemudian memeluk tubuh sahabatnya itu.


“Tak ada kata terima kasih untuk sahabat, ayo kita ke ruangan” ucap Nana membalas pelukan Shita dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.


Dokter Andi yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku kedua wanita itu hanya tersenyum melihatnya dan berlalu dari hadapan mereka.


Dreeettt


“Sayang, aku sudah dikantor akan meeting sebentar lagi. Doakan aku ya sayang. Miss you lovely. Jaga kesehatan ya”


“Iya sayang. Semangat ya sayang (heart)”


Tok tok tok


“Masuk”


“Sudah siap dok?” tanya Sinta perawat yang bertugas dengan Shita pagi ini di Poli Bedah.


“Sudah, 5 menit lagi ya Sinta baru kita mulai.”


---


Sementara di kantor cabang TSanjaya Grup


“Tuan, wanita yang menghebohkan acara ulang tahun nona Shita bernama Tara. Wanita itu adalah mantan kekasih pak Rendra namun pak Rendra di khianati olehnya karena tidak pernah memberikan apa yang wanita itu inginkan”


Laki – laki itu mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan asisten pribadinya.


“Kepuasan batin tuan” seakan tahu apa yang di pikirkan oleh sang bos ia pun mengatakan dengan cepat.


“Bagaimana ia bisa tahu cara bermain dengan perempuan jika masa lalu nya saja seperti itu\, hahahaha. Aku jadi khawatir dengan Shita apakah ia akan merasakan hal yang sama ketika bersama ba****an itu terus. Cari wanita itu dan bawa padaku\, ah jangan lupa jalankan rencana A”


“baik tuan” sahut Arya lalu pergi dari ruangan itu.


---


“Rian ke ruanganku sekarang” ucap seorang laki – laki melalui intercom.


Tok tok


Ceklek


“Selamat pagi tuan, ini data yang tuan inginkan” kata Rian sembari menjulurkan map coklat.


Rendra dengan cermat melihat isi map tersebut.


“Aku mengerti, selidiki lebih dalam. Aku ingin tahu apa motif nya melakukan ini, aku juga ingin menanyakan semua ini pada kekasihku. Ingat perketat penjagaan untuk keluarga Shita jika ada yang tak beres segera beritahu aku”


“Baik tuan, saya permisi”


Rendra mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk seseorang


“Aku sudah tahu semuanya, aku harap kamu percaya denganku. Apapun yang terjadi ke depannya segera beritahu aku apapun yang terasa aneh dan janggal.” Pesan yang diketiknya dan langsung ia kirim.


‘Apa maksud dia seperti ini? Dari cara berjalan dan sorot matanya nampak tak asing bagiku”


Tok tok


“Tuan, meeting sudah siap” ucap Rian dari ambang pintu.


“Baik, aku segera kesana. Oh ya carikan aku sekretaris, aku tak ingin kamu kewalahan dengan pekerjaanmu itu” ucap Rendra yang sudah meletakkan ponselnya di atas meja berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang meeting.


“Baik Tuan” sahut Rian menggidikkan kedua bahunya tak mengerti dengan jalan pikiran bosnya. Sejak dulu Rendra memang tak pernah memakai jasa Sekretaris tapi mengapa sekarang ia menyuruh Rian untuk mencari sekretaris? Begitu pikir Rian.


---


Di negara berbeda tampak seorang laki – laki baru saja menginjakkan kakinya setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.


“Jack antarkan Nisa ke kamarnya aku akan keluar sebentar untuk membeli keperluanku” ucapnya pada sang asisten dan segera membalikkan tubuhnya keluar dari hotel tempat ia menginap selama melakukan perjalanan bisnis di Negeri sakura itu.


Pusat perusahaan Wisnu memang berada di Jepang namun ia tidak ingin tinggal di Jepang karena kekasih kecilnya itulah ia memutuskan untuk melakukan pekerjaannya di kantor cabang perusahaan yang berada di Indonesia.


Seperti biasa kebiasaan Wisnu jika berada di sana ia akan menyempatkan diri mengunjungi makan nenek dan kakeknya yang sudah meninggalkan Wisnu tepat saat ia berumur 10 tahun dan saat kesedihan itu melanda Nisa kecil yang menenangkannya.


“Nenek, kakek aku datang lagi. Bagaimana kabar kalian disana? Kakek, nenek aku begitu merindukan saat – saat kita bersama dulu. Setelah kehilangan kalian aku begitu terpuruk hingga seorang gadis kecil menghiburku dan membuat kesedihanku berkurang. Namun setelah kepergian kalian papa mama mengajakku berpindah terus hingga aku kehilangan jejaknya sampai sekarang, jika kalian mengetahui keberadaannya dari sana tunjukkan padaku. Apa mungkin wanita berada disampingku sekarang” ucap Wisnu berkali – kali menghela nafasnya menyadari apa yang ia katakan  hanya akan sia – sia saja.


“Wisnu pulang ya nek kakek. Tenang kalian disana ya” ucapnya lagi yang kemudian berdiri dan meninggalkan makam itu.


“Aduhhh” teriak seorang wanita saat Wisnu menabraknya dengan tak sengaja hingga membuat wanita itu terpental jauh ke belakang. Wisnu sedari tadi menyadarinya namun ia membiarkan begitu saja wanita itu ketika ia melihat begitu banyak pesan dan panggilan di ponselnya. Kemudian ia bergegas masuk ke mobil dan melajukannya.


“Sudah menabrakku seperti ini laki – laki itu bukannya minta maaf malah pergi begitu saja. Untung kamu tidak terlempar jauh” ucap wanita itu sembari mengambil gelang yang begitu istimewa baginya.


“Sial sekali aku hari ini mengapa aku memilih jalan ini untuk berangkat ke tempat kerjaku, hari yang begitu buruk untukku” tambah wanita itu terlihat dari Id yang menggantung di lehernya bernama Nisha.


Dengan langkah cepat ia berjalan setelah menyadari jika ia sudah terlambat untuk bekerja dan menyimpan gelang yang sedari tadi dipegang ke dalam tasnya.


“Hei Nisa, hampir saja kau terlambat. Darimana saja kamu?” tanya Ines yang merupakan teman Nisa di tempat kerja.


“Aku tadi hanya melewati jalan yang tak biasa ku lewati, entah mengapa aku hanya ingin lewat ke sana jadinya terlalu jauh jarak tempuhku untuk ke sini. Kamu pulanglah sekarang giliranku berjaga sampai malam” usir Nisa pada Ines yang memang kebiasaan Ines selalu menunggunya beberapa jam saat Nisa bekerja dari sore sampai malam.


“Baiklah aku akan menjemputmu, aku tak ingin ada sesuatu yang buruk menimpamu” sahut Ines yang berlalu meninggalkan toko tempatnya bekerja.