Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 93



20 menit kemudian,


Tok tok tok


“Pengantar makanan” teriak seorang laki – laki dibalik pintu. Shita beranjak dari sofa membukakan pintu mengambil pesanannya.


“Ini mas, kembaliannya diambil saja” ucap Shita setelah berhasil mengambil makanan dari tangan si pembawa makanan dan menutup pintunya kembali.


“Kita makan dulu sayang, ini makanan kesukaanmu juga kesukaanku. Ayo” ajak Shita setelah ia duduk disamping Rendra dan membuka makanan yang ia bawa.


“Suapi aku ya” kalimat yang terlontar begitu saja membuat Shita geli saat mendengarnya.


“Kau seperti anak kecil saja, baiklah ini yang pertama untukmu dan tak ada lagi lain kali” Shita pun menyetujui keinginan Rendra.


‘Bahkan saat ini aku begitu takut membayangkan jika ini suapan pertama dan terakhir darimu jika kamu mengetahui yang sebenarnya tentangku’


Lagi lagi, wajah senyum Rendra ia tampakkan begitu jelas. Sungguh laki – laki hebat dan perfect tentunya jika dilihat dari segala keberhasilan yang ia lakukan untuk menutupi perasaan juga luka dihati.


“Sayang, kamu hati – hati ya kerjanya. Jangan terlalu dipaksakan kerjanya nanti aku suruh Rian buat antar kamu ke apartemen, ada banyak hal yang harus aku urus sekarang mungkin akan sampai malam juga” ucap Rendra setelah keduanya sampai parkiran di JMC setelah menyelesaikan makan siang mereka.


“Iya, aku gapapa sayang udah sana aja selesaikan pekerjaanmu dengan benar. Kamu hati – hati juga ya.” Sahut Shita yang kemudian melambaikan tangannya ketika ia lihat mobil Rendra pergi dari hadapannya.


Tak terasa hari sudah berganti malam. Rendra yang masih berkutat dengan berkas – berkas yang harus ia periksa dan hanya ditemani oleh kedua bawahannya, Desi dan Rian. Pikirannya begitu terganggu ketika ia lihat ada lagi paket untuknya di atas meja depan sofa.


“Rian, ke ruanganku sebentar” panggilnya melalui intercom yang terhubung langsung ke ruangan Rian.


Tok tok tok


“Ada apa pak memanggil saya?”


“Kau tahu siapa yang menerima paket – paket ini? Mengapa begitu banyak paket untukku hari ini” teriak Rendra yang semakin frustasi dengan apa yang terjadi.


“Maafkan saya tuan, saya tidak begitu tahu mengenai hal itu tadi saat jam makan siang saya menjalankan perintah tuan, juga izin keluar menemui istri saya yang sedang hamil sekarang tuan. Mohon maaf atas keteledoran saya” ucap Rian tergagap. Baru kali ini ia mendapati kemarahan Rendra seperti ini.


“Arrggg kau boleh keluar, siapkan mobil dan antar aku pulang cepat”


Dengan cepat Rian keluar dari ruangan Rendra, ia tak ingin menjadi sasaran kemarahan bosnya.


‘Mengapa hari ini begitu banyak paket untukku’ lirihnya kemudian beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan.


“Desi kamu pulanglah sekarang kerjaanmu sudah beres kan, saya juga akan pulang bersama Rian” ucap Rendra berlalu dari hadapan Desi tanpa menunggu jawaban wanita itu.


Kini Rendra telah berada di dalam mobil bersama Rian menuju apartemen miliknya.


“Kau sudah mengantarkan Shita dengan selamat tadi?” tanya Rendra. Kini ia menyandarkan punggungnya ke belakang.


“Sudah tuan, maaf tuan saya ingin mengatakan sesuatu apa kerjasama kita dengan Tsanjaya Grup tidak berlebihan? Maaf jika saya lancang”


“Ah aku juga akui itu, pertamanya aku memang curiga tapi setelah kerjasama ini terjalin sepertinya tidak ada masalah serius. Aku akan tetap waspada” sahut Rendra setelah ia berpikir lebih lama dan mendalami pernyataan Rian. Laki – laki itu berusaha menutupi kegusaran di wajahnya dengan memejamkan mata namun sepertinya usaha itu sia – sia, bahkan kini saat ia memejamkan mata selalu bayang wanita dewasa dan ingatan masa lalunya datang secara bergantian.


Tak membutuhkan waktu lama mobil Rendra telah terparkir rapi di lobby apartemen mewah miliknya. Rendra memepercepat langkahnya agar serangan panik juga cemasnya tidak datang saat ia belum sampai di apartemen. Rian pun pulang setelah ia melihat bosnya menghilang dari pandangannya.


Trilili


“Sayang” panggil Rendra setelah ia masuk ke dalam apartemen tapi sama sekali ia tak melihat keberadaan kekasihnya dibeberapa ruangan yang ia lewati.


‘Ah tempat yang paling nyaman dan sangat wangi setelah kamu ada disini’ ucap Rendra dalam hati, perlahan panik dan cemasnya berkurang ketika ia berhasil menemukan Shita yang sudah tertidur karena memang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“Good nite sweetheart, nice dream” lirih Rendra tepat ditelinga Shita kemudian mencium lama kening kekasihnya dan segera berlalu menuju kamarnya. ‘Kau seperti candu sekaligus obat penenangku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku”


---


Malam yang begitu gelap kini tergantikan dengan sinar matahari yang selalu setia menemani setiap insan dengan sinarnya.


“Akhh, kepalaku sakit sekali kemarin bahkan sampai apartemen aku langsung tertidur. Apa Rendra pulang semalam? Aku cek ke kamarnya saja sekarang ”


Shita melangkahkan kakinya keluar dari kamar memastikan keberadaan Rendra di kamar sebelah juga menyiapkan sarapan.


Ceklek


“Ah ternyata dia masih tertidur, biarkan sajalah mungkin dia sangat lelah semalaman” ucap Shita dalam hati setelah ia melihat betapa nyenyaknya tidur laki – laki miliknya. Namun apa yang dilihat Shita tidaklah sama seperti yang dialami Rendra.


Semalaman ia tidak bisa tertidur, terlalu takut untuk memejamkan mata yang berakibat bayang wanita juga masa lalunya datangseperti sebelumnya. menjelang subuh Rendra baru merasakan kantuk mendera dan tidur hingga saat Shita membuka pintu kamarnya.


Ia pun beranjak dari kamar Rendra menuju dapur dan membuat sarapan untuk mereka berdua. Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuknya membuat sandwich juga teh lemon untuk menu sarapan. Shita melihat jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 07.50 tandanya ia harus cepat menyelesaikan sarapan juga bersiap – siap.


Perlahan ia membuka pintu kamar Rendra bermaksud mengajak kekasihnya untuk sarapan bersama.


“Rendra, sayang ayo bangun sudah pagi. Apa kau tidak ke kantor?” tanya Shita sembari memindahkan beberapa helai rambut yang berada di dahi Rendra.


“Ehhm, selamat pagi sweetheart. Morning kiss”


“Kau begitu jorok dan tidak sabaran. Cepatlah bangun sudah waktunya kita bersiap” cicit wanita itu kemudian keluar dari kamar Rendra dengan rona merah di pipinya. Rendra pun menyusul kepergian Shita setelah membersihkan diri dan sarapan bersama serta bersiap untuk aktifitas hari ini.


“Aku hanya ingin menu sarapan pagiku seperti biasa apa itu salah?” kata Rendra yang sudah


“Sayang hati – hati kerjanya ya, mungkin aku akan sibuk hari ini. Jika ada apa – apa kau hubungi saja aku” ucap Rendra saat mereka sudah sampai di JMC.


“Oke bos, kamu juga hati – hati ya. Cuuupp cup” jawab Shita tanpa ia lupa memberikan ciuman semangat untuk Rendra sebelum ia keluar dari mobil. Shita pun melambaikan tangannya menatap kepergian mobil Rendra yang semakin jauh dan menjauh lalu hilang dari pandangan matanya.


“Shitaaa” teriak seorang laki – laki dari arah belakang wanita yang masih saja melambaikan tangannya.


Ia yang merasa dipanggil namanya pun menoleh,


“Andi, baru dateng juga padahal sudah lewat jam masuk begini” kata Shita dengan ramah.


“Memang hari ini semua dokter dan professor di minta datang jam segini. Ah kamu gak tau ya, sekarang kan ada dokter baru yang direkrut direktur atas saran dari kepala professor di divisiku dan memang acaranya agak siang. Yuk barengan ke sana.” ajak Andi seraya mensejajarkan langkahnya dengan Shita.


“Ah aku tak tahu apapun, aku sangat lelah dengan banyaknya operasi kemarin sampai kepalaku sedikit sakit, hah aku sangat lelah pagi ini”


Andi mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Shita.


“Habis ngapain kamu lelah sepagi ini? jangan – jangan” kata Andi menggantung kemudian berlari dari hadapan Shita.


“Hus sembarangan kamu bicara, awas kamu akutonjok kamu sini” sahut Shita yang tentunya ia tahu kemana arah  bicara Andi, langsung mengejar dan mengikuti kemana arah laki – laki itu berlari.


Seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka berdecak kesal dengan apa yang ia lihat.


“Dulu Marvin, sekarang Andi. Sudah punya yang setampan itu kenapa dia masih saja ganjen sama laki – laki lain sih. Memang benar – benar aku harus merebut kekasihnya itu, dia sudah merebut gebetanku untuk kedua kalinya” gerutunya semakin kesal melihat tawa lepas Andi yang tak pernah ia lihat selama ini.


“Awas kamu Shita, aku tidak akan membiarkanmu tenang” ucap wanita itu yang tak lain adalah Nita.


Nita melangkahkan kakinya masuk ke JMC dengan gaya khasnya. Ia pun menjadi pusat perhatian karena memiliki wajah yang sangatcantik, putih juga tubuh proporsionalnya. Ia tersenyum dengan ramah ke semua orang yang menatap ke arahnya hingga membuat heboh siapapun yang melihatnya.


“Hei kau kenapa bengong terus, ngeliatin apa sih?” tanya Andi pada Shita yang sudah ada di lantai 4 tanpa sengaja melihat ke lobby dan sedari tadi melamun. Andi yang penasaran mengikuti kemana sorot mata Shita.


“Oh kamu ngeliatin wanita itu. Ya itu dia dokter yang baru saja direkrut oleh direktur atas rekomendasi professor, anak baru di divisiku. Tapi aku gak tau jika kedatangannya bisa buat heboh satu rumah sakit” tambahnya. Shita yang mendengar perkataan Andi tampak bingung, kenapa ia bisa tahu wanita itu.


“Kenapa kamu tahu dia?” tanya Shita dengan cepat.


“Kepooo” sahut Andi yang kemudian melenggang lari dari hadapan Shita


“Dasar ngeselin banget tu orang” gerutu Shita yang kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Tuutt tuutt


“Halo Na, kamu dimana?” tanya Shita pada Nana setelah panggilan tersambung.


“Halo aku baru saja sampai dilobby, tapi kok aku ngerasa aneh ya. Kenapa di sini jadi riuh banget gak kayak biasanya”


“Sudah cepatlah kamu ke ruang pertemuan, aku akan menunggumu disini”


Tuutt


“Anak ini udah kelihatan aslinya sekarang kayak gini, bakalan betah gak ya kak Rendra?” celetuk Nana senyum – senyum sendiri memikirkan hubungan pasangan itu.


“Ah kenapa jadi melamun sendiri, bisa – bisa dimarahin papa” ocehnya setelah ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya menunjukkan jika pertemuan akan di langsungkan sebentar lagi.


Sesuai dengan pengumuman yang sudah diberitakan sebelumnya, kini semua professor, dokter spesialis maupun dokter fellow di rumah sakit itu perkumpul untuk menghadiri pertemuan perdana sekaligus pengenalan seorang dokter spesialis penyakit dalam yang tak lain adalah Nita.


Setelah sambutan dari direktur utama yang tak lain adalah Hendra, kini tiba giliran Nita memperkenalkan dirinya.


“Halo selamat pagi semuanya perkenalkan nama saya Nita Purnami panggil saja Nita. Saya harap saya bisa bekerja dengan baik bersama dengan kalian tanpa harus menggunakan wajah dan kecantikan untuk merebut perhatian semua orang” sinisnya hingga semua orang menatap wanita itu yang tengah mengarahkan pandangannya pada Shita.


‘Kenapa dia liat Shita gitu banget? Apa mereka saling kenal, kalo emang mereka gak saling kenal tidak mungkin tatapan wanita itu begitu mengerikan pada Shita’ gumam Nana.


Beberapa menit kemudian acara penerimaan pun selesai dilaksanakan. Para atasan juga professor berhambur keluar meninggalkan tempatnya terlebih dulu.


Kebahagiaan Shita yang selama ini ia rasakan nampaknya harus di tunda dulu sampai hari dimana ia dan Rendra mengikat hubungan mereka karena kerikil kecil yang tiba – tiba jadi pengganggu kehidupan tentramnya selama ini setelah mengetahui jika di rumah sakit tempat ia bekerja telah merekrut seorang dokter wanita yang tak pernah ia bayangkan.


Ya seorang wanita dengan gelar dokter spesialis penyakit dalam dalam adalah wanita yang tak pernah ingin ia temui lagi. Wanita yang dulu mengacaukan hidupnya, membuatnya terpaksa berhenti dari kedai kopi tempatnya bekerja karena kesalahan yang tak pernah ia lakukan.


“Hai Akshita, kita bertemu lagi. Masih ingat denganku?” ucap wanita itu yang tak lain adalah Nita setelah mereka berada diluar ruangan, seorang dokter yang baru saja diperkenalkan oleh atasannya yang juga merupakan calon mertuanya saat acara pertemuan sedang berlangsung.


“Tentu aku masih mengingat wanita yang dulu menghancurkan hidupku dengan mudahnya” ucap Shita sinis yang berada disamping Nana.


“Kalian saling mengenal?” tanya Nana menatap keduanya bergantian.


“Ya kami saling mengenal. Jadi berhati – hatilah dokter, ah iya dokter Nana jangan sampai kekasihmu direbut oleh dia seperti gebetanku dulu. Urusan kita belum selesai Shita, bye” ucapnya melenggang pergi dengan senyum yang menyeringai.


“Kau harus menceritakan padaku nanti. Hei wajahmu seperti kaleng penyok tuh ditekuk begitu. Dia memang cantik sih, tapi mulutnya sangat pedas. Kita lihat mulutnya bisa sepedas aku atau jauh dibawahku. Ayo kita pergi, ada pasien yang nungguin dari tadi senyum dong” ucap Nana menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat menahan amarah.