Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 88



Setelah menghadiri pernikahan Riko dan Anna, keesokan paginya pasangan Niko dan Nana menghabiskan waktu mereka di Bali dengan jalan – jalan di daerah Gianyar dan Kuta.


2 jam yang lalu.


Kriinngg kriingg


“Halo” jawab seorang laki – laki yang masih berbaring dengan nyaman di ranjang kamar hotel yang ia sewa.


“Halo kak Niko, ini aku Dharma. Apakah aku mengganggu waktumu aku ingin meminta tolong padamu” ucap Dharma dari seberang telepon.


“Ada apa Dharma? Sama sekali tidak mengganggu cepat katakan jika semua ini mengenai Rendra, kenapa dengannya?” tanya Niko dengan segera, ia benar – benar tidak sabar jika itu tentang Rendra.


“Bukan kak, aku ingin minta tolong padamu untuk mengajak Nana pergi selama mungkin, agar ia tak melihat keadaan kak Rendra walau aku tahu jika cepat atau lambat ia akan mengetahuinya. Mama dengan sengaja tidak memberitahukan kondisi kak Rendra akhir – akhir ini takut jika Nana memikirkannya terlalu dalam, kau tahu Nana bagaimana bukan jadi aku minta tolong padamu kak. Kau juga tak usah khawatir karena kondisi kak Rendra sudah kembali normal” jelas Dharma yang membuat Niko kaget sekaligus lega mendengarnya.


“Jadi Nana tidak tahu kondisi Rendra sebenarnya?” ulang Niko sekali lagi memastikan apa yang ia dengar tidak salah.


“Benar kak, juga aku minta tolong untuk merahasiakan kondisi kak Rendra juga tolong jemput Nana dirumah temannya, akan aku kirimkan alamatnya sebentar lagi. Terima kasih untuk bantuannya kak, aku tutup panggilannya” ucap Dharma sekaligus menutup panggilannya.


Tak berapa lama seperti apa yang dikatakan Dharma, sebuah pesan masuk di ponsel Niko yang isinya alamat teman Nana.


“Kita mau kemana kak?” tanya Nana pada Niko yang kini mengemudikan mobilnya dari arah Nusa Dua ke arah Kuta.


“Kak, kakak kenapa? Ada masalah?” tanya wanita itu lagi ketika ia tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan sejak tadi.


“Ah eh iya tidak ada apa – apa kok, kita akan berjalan – jalan di kawasan kuta, melihat pantai dan jalan – jalan di sekitar sana juga. Jika ada waktu kita bisa melanjutkan perjalanan kita ke daerah Gianyar, kakak yakin kamu akan menyukainya sayang” ucap Niko yang sudah terbangun dari lamunannya sembari mengelus wajah Nana dengan tangan kiri dan sesekali melirik Nana yang sibuk dengan makanan yang di bawanya. ‘maafkan aku Nana, kita tak ingin kamu melihat keadaan Rendra yang sebenarnya sekarang. Walaupun cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya sendiri’


“Kau begitu banyak membawa makanan ringan, kita akan ke kawasan pariwisata sayang. Jangan takut akan ada banyak tempat makan disana dan kamu tidak akan kelaparan jika bersamaku. Nanti di Gianyar aku ajak kamu ke warung makan nasi ayam yang sangat enak, ku yakin kau pasti suka” tambahnya.


Bukan Niko tak suka Nana membawa banyak makanan tapi ia tak ingin merepotkan kekasihnya itu, ia pun ingin menikmati saat – saat berdua seperti pasangan RikoXAnna yang baru saja menikah.


Niko mengiyakan apa yang diminta Dharma kebetulan ia juga ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya karena akhir – akhir ini Niko sangat sibuk dengan perusahaannya lebih tepatnya perusahaan Inti Jaya Grup yang di minta oleh Rendra tanpa diketahui oleh semua keluarganya dan Rendra sendiri yang meminta agar Niko sendiri yang mengelolanya. Perusahaan itu terletak di Vietnam. Rendra dengan sengaja hanya ingin perusahaan yang dikelola olehnya di Indonesia saja yang namanya di ketahui dalam dunia bisnis yang ia jalani.


Tak jarang Niko harus bolak balik luar negeri untuk bertemu dengan klient atau sekedar mengurus berkas dan semua keperluan perusahaan.


Sementara itu dikediaman keluarga Jaya.


“Ughh, air” kata Rendra saat baru saja ia membuka matanya dan melihat dua pasang mata berada di depannya. “Mengapa kalian disini?” ucapnya kembali merujuk pada Hendra dan Ratna yang dari semalam menemani anaknya.


“Kamu sudah sadar nak, syukurlah. Apakah ada yang sakit? Apa kau tak ingat dengan apa yang terjadi padamu kemarin?” tanya Hendra memastikan keadaan Rendra.


“Tidak papa, tidak ada bagian yang sakit dari tubuhku. Aku hanya ingat kemarin adalah pernikahan Riko dengan Anna setelah itu aku pulang” jawab Rendra setelah meneguk segelas air putih yang diberikan oleh Ratna yang juga masih bingung dengan apa yang dialami anaknya. “Memang ada apa pa?” tanya Rendra yang kini melihat wajah bingung papanya.


“Ah tidak, apa kamu ingat dengan wanita yang bernama Shita?” tanya Hendra sekali lagi.


“Tentu saja papa, dia kan calon istriku apa kalian meragukan calon istriku itu? Sudahlah aku ingin mandi sekarang karena aku sudah janji dengan Shita akan ke rumahnya sekarang” ucap Rendra sembari bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi.


“Papa, bagaimana ini apakah tidak apa – apa?” tanya Ratna berbisik setelah berhasil menggiring suaminya keluar dari kamar Rendra.


“Kita lihat ke depannya ma, papa harap tidak akan ada yang buruk” ucap Hendra menenangkan istrinya kemudian mendekap erat tubuh yang masih terlihat menawan bagi yang melihatnya.


“Mama juga berharap seperti itu, kita beritahu Dharma juga pa. Bagaimana pun dia juga berhak tahu yang sebenarnya” sahut Ratna yang masih betah berada didekapan Hendra.


---


Suasana kota Tokyo pagi ini nampak terik dengan sinar matahari menembus awan putih yang melingkar di langit Negeri sakura itu.


Dreett dreettt


Drreett drreett


Suara ponsel sedari tadi mengganggu tidur seorang laki – laki yang masih saja terlelap dari tidurnya.


“Berisik, siapa sih. Hal-


“Jack, kau mau ku pecat?” teriak seorang laki – laki di seberang sana.


Serasa meledak genderang telinga Jack mendengar teriakan itu dalam hitungan detik mata yang masih ngantuk itu terbuka begitu saja.


“Hei, mengapa kau teriak – teriak seperti seorang wanita sih” ucapnya begitu santai.


“Kau masih saja seperti ini, mana hasilnya?” tanya Wisnu lagi.


“Kau pagi – pagi menghubungiku untuk menanyakan itu saja apa kau gila. Aku sudah menghubunginya kemarin tapi dia tak mengangkat panggilanku jadi aku putusin buat cari dia hari ini. Sabar dong Wis” ucap Jack dengan santainya.


“Woy woy jangan bawa masalah kerjaan dong, iyaa aku cari tahu sekarang” ucap Jack menutup panggilan itu kemudian menggunakan baju dan celananya keluar dari hotel tempat ia menginap.


‘Gara – gara tu orang gue jadi keluar gak mandi mana mata masih belekan. Tapi tak apa yang penting ganteng’ ucapnya dalam hari seraya melajukan mobilnya ke alamat yang di tuju. Ia memang berteman dengan Wisnu tapi untuk pekerjaan juga apa yang melibatkan Wisnu ia memang tidak segan – segan untuk melakukannya.


Tak berapa lama ia sampai disebuah mini market yang terbilang cukup besar.


“Selamat pagi, selamat datang silakan berbelanja sesuai kebutuhan anda” ucap seorang wanita yang saat ini sedang mengecek persediaan toko.


Jack yang mendengarnya menoleh ke sumber suara dan perlahan mendekatinya.


“Maaf permisi apa kau yang membuat selebaran ini?” tanya Jack menggunakan bahasa jepang. Wanita itu membalikkan badannya menatap manik Jack begitu lekat hingga membuat laki – laki itu mematung.


“Aku yang membuatnya kenapa tuan?” jawab wanita itu lagi.


“Iness, iness kemarilah kita sarapan terlebih dulu” teriak seorang wanita yang baru saja masuk dari arah pintu.


Degdegdeg


‘Wanita itu’


‘Pria ini, bukankah sekretaris tempatku melamar kerja kemarin untuk apa dia datang kemari?’ gumam Nisha yang baru saja masuk ke dalam toko.


“Nisha kau memang baik kau membelikan aku apa?” tanya Ines namun tak mendapat jawaban dari sahabatnya itu. Ines memandang Nisha yang ternyata sedang beradu pandang dengan Jack.


“Ehhhemm, Nisha laki – laki itu datang menanyakan gelang yang ada diselebaran yang aku buat bersamamu bukankah begitu maksud kedatanganmu tuan?”


Suara Ines yang agak meninggi membuyarkan lamunan Jack yang masih berada di tempatnya.


“Be-benar. Apa kamu pemilik gelang ini?” tanya Jack dengan tergagap dengan pikiran yang masih bingung namun perasaannya juga dliputi amarah.


“Bukan aku pemilik gelang itu, aku hanya menyimpannya. Seorang laki – laki pemiliknya teman masa kecilku” jawab Nisha dengan tenang tanpa ia tahu laki – laki memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.


“Bisa kau ceritakan masa lalumu padaku? Mari kita mengobrol sebentar aku akan bayar waktumu” sahut Jack dengan cepat menarik tangan Nisha keluar dari mini market menuju mobilnya.


“Lepas lepaskan aku. Apa maumu sebenarnya” teriak Nisha hingga menjadikannya pusat perhatian orang yang berlalu lalang disana.


Braakkk


Tubuh Nisha terhuyung di dalam mobil belum sempat ia keluar dari mobil itu kembali ia dikejutkan karena mobil itu bergerak dengan kecepatan di atas rata – rata sampai akhirnya mobil itu berhenti di salah satu taman.


“Jelaskan, jelaskan padaku mengapa kau mempermainkan temanku” tanya Jack yang sudah tidak sabaran.


‘Teman?’ Nisha bingung dengan apa yang dikatakan oleh laki – laki yang sudah mengacak – acak rambutnya dan terlihat begitu prustasi namun ia berusaha untuk menjawab pertanyaan Jack dengan tenang.


“Teman? Teman siapa yang anda maksud tuan, saya rasa saya tidak pernah mempermainkan teman tuan” ucap Nisha yang memang tak tahu apa maksud perkataan Jack.


“Kau pura – pura bodoh atau bagaimana? Bagaimana kau bisa memiliki gelang di selebaran ini” teriak Jack yang begitu memekakan di telinga Nisha.


Drreett drettt


“Kau lihat kau lihat ini, ini adalah orang yang selama ini kamu permainkan. Setelah ini jangan coba – coba kamu kabur atau memikirkan untuk lepas dari tanganku atau keluargamu akan hancur” ucap Jack penuh penekanan kemudian menggeser tombol ponsel yang saat ini mendapat panggilan.


“Halo Wisnu”


“Halo Jack, bagaimana apa kau sudah bertemu dengannya?” tanya Wisnu dari seberang sana.


“Sudah aku sudah bertemu dengan orang itu tapi aku benar – benar tak percaya jika wanita ini begitu mirip dengan asistenmu itu bahkan namanya juga sama. Bukankah kedua wanita ini telah mempermainkanmu?” sinis Jack menatap tajam ke arah Nisha yang  semakin menundukkan kepalanya.


“Apa kau tak salah? Aku akan mengalihkan ke panggilan video perlihatkan wajahnya padaku” ucap Wisnu yang mengganti mode panggilannya.


“Mana Jack” ucap Wisnu.


Seketika laki – laki dalam layar itu begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Bagaimana mungkin ada 2 orang yang begitu mirip namun berada di dua belahan dunia yang berbeda.


“Kau Nisa? Namamu Nisa Astari?” tanya Wisnu dari layar ponsel yang dijawab gelengan kepala oleh Nisha.


Wisnu dan Jack mengusap wajahnya gusar melihat apa yang di lakukan oleh wanita yang ada di hadapan mereka.


‘Mengapa aku seperti di interogasi oleh kedua laki – laki ini? Jika aku membuka identitas asliku, kakak bisa marah padaku. Apa yang harus aku lakukan’


“Bisa ceritakan padaku mengapa kau bisa memiliki gelangku itu?” ucap Wisnu dengan nada memerintah juga tatapan mata tajam menyelidik ke dalam mata Nisha.