
“Ini balasan untuk anak sepertimu. Pakai ini jika kamu berani melawan aku tidak akan segan – segan memukulmu dengan cambuk ini seperti kemarin mau kamu?” ancam Lita yang membuat Andika begitu ketakutan,
“Tidak apa – apa dik, ada aku yang menemanimu disini” kata Rendra di sela ketakukan yang ia alami. Andika pun mengangguk melihat Rendra kemudian menuruti kemauan Lita. “Kau tampak cantik dengan pakaian ini juga rambut palsu ini. Nah sekarang coba kalian lihat ini”
Lita berniat merusak moral juga mental kedua laki – laki itu dengan mempertontonkan adegan dewasa juga adegan menyeramkan secara bergantian.
“Kalian lihat, ini begitu mengasyikkan begitu menyenangkan hingga membuatku bergairah lagi dan lagi. Kalian harus coba ini”
Lita mendekatkan kedua pay***ranya juga memperlihatkan miliknya pada kedua anak kecil itu setiap hari bahkan tidak terhitung berapa kali wanita itu mencapai puncaknya di hadapan Andika juga Rendra.
“Huhuhu, mbak kami sudah tidak sanggup lagi” kata Andika. Tangisnya begitu pilu dan sesegukan.
“Mbak, jangan paksa Andika lagi biar aku saja yang melakukannya untuk mbak. Aku mohon mbak dia sudah lelah tapi aku masih kuat untuk mengikuti semua yang ingin mbak lakukan”
“Kalian sudah memahami semuanya bukan? Sekarang
kalian berdua lakukanlah di depanku, jika tidak aku akan mencambuk kalian
berdua secara bergantian, Hei kau yang berperan jadi wanitanya” tunjuk Lita pada
Andika yang kemudian memaksa Rendra dan Andika secara bergantian menyiksa,
melakukan pelecehan seksual hingga kedua anak itu hampir tidak bisa berbuat apa
– apa selain menerima semuanya.
"Mbak, aku mohon jangan paksa Andika untuk melakukannya"
"Kau ingin bernegosiasi denganku rupanya, Aku akan membiarkan Andika beristirahat setelah kalian berdua menyelesaikan satu adegan lagi setelah itu kamu harus menuruti apa yang aku katakan Rendra jika tidak aku akan mencambuk Andika lebih lama lagi”
‘Inilah balasan yang setimpal untuk apa yang kamu lakukan pada keluargaku Anton, merusak keturunanmu tua Bangka’
“Hahaha kalian memang sangat pandai, sekarang beristirahatlah lain kali akan aku ajarkan hal yang lebih menyenangkan lagi dan kamu Rendra pulihkan tenagamu secepatnya” ujar Lita kemudian pergi meninggalkan Andika juga Rendra yang menangis sesegukan setelah melakukan apa yang di inginkan Lita.
Hendra juga Rendi tidak pernah berhenti mencari dimana keberadaan anak mereka. Sedangkan Anton ia memang dari awal sudah mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan cucunya juga anak Rendi namun tetap saja tidak membuahkan hasil.
"Papa bagaimana ini? Sudah 3 bulan mereka diculik dan kalian pun tidak mendapatkan hasil sama sekali. Apa kalian tidak becus hanya mencari dua anak kecil hingga membutuhkan waktu yang begitu lama? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku pa" kata Ratna yang tidak pernah berhenti menangis setiap hari begitu Hendra pulang dari pencariannya bersama Rendi.
"Papa harus bagaimana ma? Papa sudah lakukan semua cara namun wanita itu begitu licik dan kejam. Aku yakin tidak akan lama lagi mereka pasti ditemukan karena wanita itu sudah tidak memiliki apa - apa lagi"
"Benar apa kata suamimu Ratna, ayah sudah menyuruh anak buah ayah untuk mencari Lita di kediamannya di pinggiran kota Inggris. Papa yakin mareka akan segera di temukan"
---
“Hei anak tampan dan gadis manis mari kita bermain lagi da aku sudah membawakan apa yang aku janjikan kemarin. Kalian tahu kandungan cairan yang ada di alat suntik ini ini adalah obat perangsang” bisik Lita tepat di dekat telinga kedua anak yang masih saja ia ikat tangannya. “Dan aku akan menyuntikkan ini pada kalian berdua dan pastinya aku akan menikmati pemandangan indah kalian bercinta, hahahha”
“Jangan, jangan tante aku tidak ingin disuntik itu sangat menyakitkan. Kakek tolong Rendra”
“Diam”
Plllaakkkk
“Jika kalian berani teriak – teriak maka kalian akan menerima akibatnya. Dan kamu Rendra apa kamu tahu mengapa aku seperti ini terhadap kalian terutama kamu? Aku ingin memusnahkan keturunan Anton yaitu dirimu Rendra, membuatmu menikmati duniamu sendirian nanti setelah aku pergi jadi nikmati saja semua yang aku lakukan dan lihatlah layar didepan juga lakukan semua adegan itu” perintah Lita setelah ia menyuntikkan obat perangsang di lengan masing – masing.
“Hei bergeraklah, aku tahu obatnya sudah bereaksi ditubuh kalian”
Ctaakkkk ctaaakkk
Lita mencambuk secara bergantian keduanya yang sudah melalukan hubungan intim di depannya.
“Bagaimana enak? Kalian ingin mencobanya lagi? Baiklah aku akan menyuntikkan kalian lagi dan lakukan sepuas kalian, hahahaha”
‘Sebelum kakek tua itu memohon aku tidak akan menghentikan apa yang aku lakukan pada dua anak ini. Kita lihat Anton, aku atau kamu yang akan menderita nantinya’
Pyarr, “Ini makanlah ini untuk mengisi tenaga kalian dan istirahatlah karena kalian akan melakukan permainan yang lebih panas lagi nanti”
“Bocah, apa kalian tahu hal yang ternyaman jikakalian merasakan kesakitan? Kalian pasti tidak akan tahu, baiklah aku akan mengajarkan bagaimana caranya agar kalian bisa tenang jika kalian merasa tertekan dan sakit dan yang pasti rasanya sedikit menyakitkan namun hasilnya jauh lebih indah dari perkiraan. Lihat ke arahku”
Perlahan Lita menaiki kursi yang ia letakkan tepat di bawah seutas tali yang di gantung.
“Selamat tinggal adik – adik cantik dan tampan, ingatlah apa yang aku lakukan pada kalian juga ingatlah wajahku ini sampai nanti”
Lita meletakkan seutas tali itu tepat di lehernya dan menjatuhkan kursi yang ia gunakan untuk tumpuan badannya. Lidah Lita terjulur, matanya melotot serta darah yang keluar sedikit dari bibir Lita.
“Ahhh mbak mengapa mata mbak melotot Rendra, aku takut sekali, huhuhu”
“Aku juga tidak tahu dik, kita pejamkan mata saja selama mbaknya begitu siapa tahu nanti mbaknya turun dan tidak menyeramkan seperti itu lagi”
“Huhuhu, aku takut Rendra”
2 hari setelah kematian Lita, akhirnya anak buah suruhan Anton menemukan dimana keberadaan Andika juga Rendra dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rendra juga Andika ditemukan dalam kondisi sedang menangis hingga mata mereka bengkak dan kemerahan melihat Lita yang menggantung dirinya tepat di atas kedua anak laki – laki itu.
Kedua keluarga yang mendengar kabar baik sekaligus kabar buruk dari anak buah Anton sangat bahagia akhirnya mereka bisa berkumpul kembali namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama setelah Rendra juga Andika menutup diri dan menyendiri selama beberapa bulan, berteriak histeris juga sering melamun sendiri.
Khawatir dengan keadaan anaknya kedua keluarga itu memeriksakan keadaan Rendra juga Andika ke pskiater dan menceritakan dari awal bagaimana keduanya bisa seperti itu.
“Rendra silakan ikuti arahan saya, kamu percaya dengan saya? Nama saya dokter Agus dan tadi bukankah kita sudah berkenalan, mari kita coba saya akan melakukan hipnosis pada anak tuan. Nah Rendra karena kamu sudah berada di dalam pengaruh saya, boleh kamu ceritakan apa yang terjadi?”
“Papa, papa Rendra takut. Jangan suntikkan lagi, sangat sakit”
“Apa yang di suntikkan pada tubuhmu?”
“Obat, cairan bening obat perangsang. Akkhh akhh tidakk jangan lagi, huhuhu”
“Cukup jangan di teruskan lagi, kamu harus melepaskan dan melupakan masa itu Rendra karena kamu harus tumbuh menjadi anak kecil yang hebat dan sesuai dengan usiamu. Lupakan kenangan itu perlahan kemudian bangunlah dari tidur sementaramu ini”
“Maaf tuan dengan berat hati saya mendiagnosis Rendra menderita PTSD atau post trauma stress disorder, semacam gangguan mental yang terjadi dan sering dialami oleh kebanyakan orang yang pernah mengalami trauma di masa kecilnya. Akan sangat berbahaya ke depannya bahkan anak tuan bisa melakukan bunuh diri kapanpun jika PTSDnya tidak segera di tangani” ucap dokter Agus pada Hendra. Ia menatap secara bergantian Rendra juga dokter yang ada di hadapannya yang menganggukkan kepala.
“Lalu solusinya bagaimana dok? Apa dia tidak bisa hanya di rawat dirumah saja?” tanya Hendra yang sudah menggenggam tangan Rendra yang masih saja terlihat melamun.
Flashback off
“Jadi begitulah masa kecil Rendra, tak banyak orang yang tahu akan hal itu. Dia menjalani masa pengobatannya sendiri selama 1 tahun, karena Rendra menunjukkan perkembangan yang baik ia di perbolehkan untuk melakukan terapi dirumah dan ditemani oleh om atau pun tante”
“Hikss hikss, papa mengapa wanita itu begitu kejam hingga memperlakukan kak Rendra juga Andika seperti itu”
“Lalu bagaimana dengan Andika om?”
“Terakhir yang aku dengar Andika menderita hal yang sama, PTSD namun dokter juga mengatakan jika ia menderita Parafilia jenis Transvestitisme karena trauma yang ia dapatkan dan itu berlanjut hingga ia dewasa. Semua yang di alami Andika membuat keluarga Sanjaya akhirnya memutuskan hubungan pertemanan kami juga kakek Rendra memilih menjauh hingga saat ini dari kami”
“Ya, Andika juga pada akhirnya memiliki ketertarikan pada Rendra hingga mereka menjalin hubungan seperti sepasang kekasih selama beberapa tahun tanpa sepengetahuan kami bahkan ia merubah penampilannya ketika bersama Rendra. Lambat laun Andika perlahan merubah kebiasaannya karena seorang perempuan yang bernama Clara, cinta pertama Rendra juga Andika. Rendra yang menyukai wanita itu lebih dulu mengalah pada Andika
yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap Clara dengan maksud agar Andika bisa lepas dari traumanya namun hal lain terjadi di luar dugaan, Clara merasa di bohongi dan salah paham menganggap Andika dan Rendra masih menjalin hubungan namun dari yang tante tahu Rendra dan Andika sudah tidak berhubungan sejak kedekatan Clara dengan Andika” timpal Ratna yang kini bergabung bersama suami dan sahabat anaknya.
“Lalu?” tanya Wisnu yang masih penasaran.
“Tante tidak tahu lagi bagaimana keadaan Andika karena keluarganya menutup akses dan keberadaan Andika pada semua orang seolah – olah ia sudah meninggal. Dan karena semua itu Rendra menutup diri dan seperti kata orang – orang dia seperti tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Tapi setelah melihat kedekatan Rendra dan Shita tante yakin wanita itu bisa membangkitkan apa yang terpendam dalam diri Rendra dan itu terbukti” ucap Ratna setelah itu ia berusaha menetralkan debaran jantungnya setelah menceritakan masa lalu anaknya.
“Jadi apa kalian ingn membantu kami menjaga Rendra?” tanya Ratna, kini ia memegang tangan Hendra cemas menunggu jawaban dari ketiga sahabat Rendra yang ada di hadapannya.
“Kami akan membantu menjaga Rendra dan membantu mencari Shita”
“Baiklah, mulai hari ini kalian bisa bergiliran menemani Rendra disini. Jika ada apa – apa segera panggil om atau tante. Om akan mencari dimana keberadaan Shita, juga om akan memberitahu Rian juga Desi untuk bergiliran sama seperti kalian”
“Baik om” jawab ketiganya kompak.
Hendra dan Ratna begitu bahagia karena anaknya memiliki sahabat yang mendukungnya dan masih ada untuk Rendra.