
“Dia seorang dokter. Dia sungguh cantik dalam kesederhanaannya, tapi begitu dingin. Seperti mudah rapuh namun tak pernah ia perlihatkan. Tatapan acuh sekaligus teduh itu begitu menggetarkan hati saya. Begitu menawan untuk dipandang.” Jawab Rendra dengan senyum tak pernah hilang di bibirnya.
“Heh, diam kamu Rian. Saya mengaku saya kalah darimu dalam urusan begini karena kamu sudah menikah. Awas saja kamu saya potong gajimu bulan ini” tambahnya yang kini terlihat kilat amarah tak berarti dari sorot mata Rendra.
“Silakan potong gaji saya pak. Tapi sebagai gantinya saya tidak akan memberi saran pada bapak. Bapak yakin tidak ingin saran dari saya? Baiklah kalau begitu saya permisi pak.” ucap Rian meraya melangkah menggapai pintu. Belum sempat Rian memegang handle pintu, suara bariton Rendra menghentikan langkahnya.
“Saya butuh saranmu.” Dengan senyum seringai tanda kemenangan Rian membalikkan badannya menghadap bosnya.
“Bos dekati dia dengan hati. Mungkin laki – laki yang mendekatinya dulu terlalu menyakiti hatinya. Jadi sekarang bapak dekati dia pelan – pelan. Dia seorang dokter, jadi mengapa bapak tak kunjungi saja dia ditempat kerjanya setiap hari? Beri dia perhatian yang lebih, cari tahu kesukaaannya. Jika sudah berhasil dengan saran pertama, nanti saya beri saran selanjutnya.” jelas Rian panjang lebar pada bosnya. Rendra yang mendengar saran asistennya hanya manggut – manggut.
“Saya terima saranmu Rian, jika ini berhasil maka gajimu akan saya naikkan 20%. Saya akan lakukan saranmu sekarang, jadi kamu handle semua pekerjaan saya sampai seminggu ke depan. Saya pergi dulu, ingat pesan saya”.
Dengan semangat Rendra melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat Shita bekerja.
“Selamat siang. Panggilan kepada dr. Akshita untuk segera datang ke lobby, karena ada yang sedang menunggu. Sekali lagi panggilan kepada dr. Akshita segera datang ke lobby, sedang ada yang menunggu, dan mengatakan jika dia penggemar anda dokter.”
Begitulah suara receptionis yang menggema diseluruh pelosok rumah sakit. Nana, Dharma, Hendra dan seluruh staf pegawai JMC yang bisa mendengar panggilan tersebut hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Tanpa terkecuali dokter Andi, laki – laki yang selama ini mengagumi Shita dan terus mendekati wanita itu tapi malah diacuhkan oleh Shita. Wanita yang kini sedang beristirahat di ruangannya dengan cepat bergegas menuju lobby
mendengar informasi yang di sampaikan. Dengan nafas ngos – ngosan Shita menghampiri laki – laki yang menunggunya di depan lobby.
Rendra pun berbalik kala mendengar suara langkah yang mendekat ke arahnya.
“Hei”
“Kamu” sergah Shita dengan wajah dinginnya.
“untuk apa kamu kemari? Aku sedang sibuk.” Tambahnya lagi seraya berbalik meninggalkan Rendra yang berdri didepannya. Menyadari apa yang akan selanjutnya terjadi, Rendra mencekal lengan Shita hingga wanita itu dalam sekejap menoleh ke arah Rendra lagi.
“Apa aku mengganggumu? Jika memang kamu sibuk aku akan menunggumu disini sampai pekerjaanmu selesai. Tak peduli jam berapa kamu pulang aku akan menunggu.” ucap Rendra yang kembali duduk di tempat duduk ruang tunggu. Shita yang mendengarnya hanya memutar mata dengan kesalnya. Shita juga malu karena sedari tadi tindakannya dilihat oleh orang yang lalu lalang disana.
“Ikut denganku. Aku tak ingin ada yang berbicara hal - hal tak penting dibelakangku.” Tegas Shita dengan cepatnya Shita membalikkan badannya dan pergi meninggalkan lobby. Rendra yang mendengar apa yang dikatakan Shita hanya tersenyum sembari mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruangan Shita, tanpa basa basi Rendra langsung duduk di sofa yang berada diruangan itu. Shita yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan duduk dikursi belakang mejanya.
“Untuk apa kamu menemuiku? Mengapa kamu membuat pengumuman seperti itu disini? Kamu bisa menghubungiku jika kamu ingin bertemu. Membuatku malu saja dengan tingkah konyolmu itu.” ucap Shita memainkan kursor komputernya.
“Tingkah konyol? Aku tak bertingkah konyol Shita. Dan menghubungimu? Aku tak punya nomor ponselmu, jadi bagaimana aku bisa menghubungi dan bertemu denganmu?” jelas Rendra yang kini terduduk menyenderkan punggungnya disofa ruangan Shita.
“Jadi yang menghubungiku siapa jika bukan kamu? Malam saat kamu datang ke tempatku. Ku kira kamu yang menghubungiku saat itu.”
“Aku tak pernah menghubungimu. Lalu kamu sudah tahu siapa yang menghubungimu? Saat itu aku baru pulang dari perusahaan entah kenapa aku ingin menghampirimu. Hanya ingin mengobrol ringan pikirku, tapi kamu malah mengusirku.” ucap Rendra dengan nada sedihnya.
“Aku tak tahu dan tak ingin tahu siapapun itu. Maafkan aku jika saat itu aku mengusirmu. Aku sedang tak ingin diganggu”
“Jadi kau merasa bersalah padaku? Baik lupakan itu. Apa kau tak berniat menebus kesalahanmu padaku?”
“Merasa bersalah? Tidak sama sekali. Menebus kesalahanku?” ulang Shita mengkerutkan dahinya. “Baiklah, tapi dengan cara apa? Jangan pernah berharap apapun padaku selain menjadi teman.” ketus Shita pada Rendra.
Rendra yang mendengar penuturan Shita bersorak penuh kemenangan dihatinya.
“Apa? Makan siang dan makan malam denganmu selama seminggu? Kau mau memanfaatkan situasi heh?” sinis Shita.
“Itu tidak berlebihan Shita, dan berikan nomor ponselmu padaku agar memudahkanku menghubungimu. Serta kamu harus datang bersamaku ke pesta perayaan Anniversary pernikahan orang tuaku minggu depan. Bagaimana? Ku rasa semua itu cukup. Ah 1 lagi, jika aku menghubungimu dan mengirimkan pesan padamu harus kamu terima dan balas pesanku. Oke princess?” tegas Rendra kemudian menjulurkan tangannya meminta ponsel Shita.
“Princess, princess gundulmu.” lantang Shita. Rendra yang mendengar hanya terkekeh, tangannya tetap terjulur menunggu apa yang ia inginkan dari wanita yang ada di depannya.
Shita yang merasa terpojokkan mau tak mau memberikan ponsel dan menuruti keinginan Rendra walau ia sedikit kesal dengan perbuatan Rendra yang semena – mena terhadapnya.
“Ini ponselmu. Aku sudah mencatat nomor
ponselku di ponselmu. Jika sewaktu – waktu aku menghubungimu atau mengirimu
pesan jangan diabaikan. Jika kau mengabaikan maka aku akan menambah seminggu
lagi penebusan rasa bersalahmu. Baiklah aku pergi sekarang dan aku akan
menjemputmu nanti malam. Ingat berdandanlah yang cantik.” ucap Rendra seraya
pergi dari ruangan Shita menuju perusahaannya.
Dalam perjalanan Rendra berhenti di toko bunga, ia berniat mengirim bunga untuk pujaan hatinya sebelum ia kembali ke perusahaan.
Setelah menyelesaikan apa yang ia lakukan, kini ia pun kembali memacu mobilnya melanjutkan perjalanannya ke puskesmas.
Ditempat berbeda, Shita baru saja menyelesaikan operasinya dengan prof. Dharma segera menuju ruangannya untuk beristirahat. Dengan lelahnya membuka handle pintu ketika ia ingin merebahkan tubuhnya disofa, matanya melirik sekilas bunga yang ada dimejanya.
“Sejak kapan bunga ini ada disini? Bunga dari siapa?”
Shita menggenggam buket bunga merah bercampur bunga anggrek yang tak begitu besar, ia melihat catatan yang ada disana
“Dear : Wanita dingin bermata teduh
Aku tak tahu bagaimana masa lalumu tapi ku yakin
Kau wanita yang hangat dan tatapan yang meneduhkan.
Senyum manis yang indah nan menawan,
Aku suka sifat dinginmu,
Terima kasih karena tidak mengacuhkanku lagi.
Sampai jumpa nanti malam ya jegeg. Aku akan menjemputmu.
From: Laki – laki angkuhmu.