Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 18



“Ta, kamu sudah makan? Kamu terlihat murung terus dari tadi, masih ingat dengan kejadian kemarin?” tanya Nana pada sahabatnya yang terlihat sedikit murung dan tak seperti biasanya.


“Bagaimana aku bisa baik – baik saja Na? Setelah kejadian kemarin membuatku mengalami trauma untuk kedua kalinya terhadap laki-laki. Mereka hanya merasa benar dengan apa yang mereka lakukan tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Aku hanya tak ingin mengalami traumaku kembali. Kamu tahu Na, dulu aku bisa menekan rasa traumaku seorang diri dengan menguatkan hatiku dan mengingat keluargaku di Bali. Mereka alasanku untuk kuat dan menjadi seperti ini. Aku juga sering melihat foto peninggalan Alm. Nenek dan Kakekku. Karena mereka berdua lah yang mengajarkan bagaimana indah dan senangnya ketika bisa menolong orang banyak,


Ada kebanggaan tersendiri ketika semula melihat orang meringis kesakitan dan kita menjadi orang yang bisa mengobati hingga bisa melihat mereka tersenyum lagi.” Lirih Shita memegang ponsel yang berlatar foto keluarganya saat dulu masih ada nenek dan kakeknya.


“Jika aku boleh tahu, apa yang menyebabkan kamu trauma sebelumnya? Mengapa kau tak


pernah ceritakan padaku Ta?” Tanya Nana sembari memberikan cup coffe yang dipegangnya setelah mereka duduk ditaman yang ada di samping rumah sakit.


Malam itu seakan mengikuti bagaimana hati Shita yang begitu rapuh. Tak ada bintang dilangit. Yang ada hanya rasa sepi menyelimuti hati dan sekitarnya.


“Ada beberapa hal yang belum bisa aku ceritakan padamu Na. Aku berjanji saat aku siap nanti aku akan menceritakan padamu bagaimana aku bisa mendapatkan traumaku.” Ucap Shita yang sudah memasukkan ponselnya ke dalam jas dokternya dan meminum coffee yang diberikan sahabatnya.


“Baiklah sahabat. Ingat masih ada aku sahabatmu ini yang akan selalu mendengar apa yang


menjadi keluh kesahmu. Tak perlu terburu – buru. Seorang teman tidak akan memaksakan kehendaknya pada temannya walaupun mereka telah lama menjalin persahabatan. Aku akan menunggu kapan pun itu Shita. Dengar Shita, aku begitu menyayangimu lebih dari persahabatan kita, jika kamu membutuhkanku jangan


sungkan memberitahuku. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat baikku. Aku berharap kamu tak seperti yang lainnya Shita.” Ucap Nana yang sudah meletakkan cup coffenya kemudian memeluk Shita.


“Aku akan mengingat itu Na. Bolehkah kau ceritakan tentang kehidupanmu? Dari kemarin ku rasa hanya aku saja yang bercerita tentang kehidupanku. Jika kau keberatan maka tak apa Na.” ucap Shita melerai pelukan Nana serta menyesap kembali coffeenya.


“Biar ku tenangkan hatiku dulu Shita. Kejadian itu sudah 4 tahun berlalu namun rasanya jika aku mengingat kejadian itu, aku ingin menangis dan mengutuki diriku sendiri karena kebodohanku yang terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang yang selalu ku sebut dengan ‘TEMAN’. “ kenang Nana.


sesederhana yang kau pikirkan Shita. Banyak hal yang aku perbuat dan tentu saja masih mendapatkan maaf dari keluargaku. Merekapun tak menyalahkanku sepenuhnya. Aku beruntung memiliki mereka dalam kehidupan ini. Hingga detik ini juga mereka masih menganggapku layaknya anak kecil yang perlu mereka jaga secara utuh.


Terlebih kedua kakak laki – laki ku, mereka memanjakanku dan tak pernah membuatku bersedih.” Ucap Nana mengenang kembali peristiwa mengerikan itu.


 Ponsel Shita berdering…


So I say a little prayer


Hope my dreams will take me


there Where the skies are blue


To see you once again my love


“Halo selamat malam dengan Shita”


“……………….”


“Baik saya akan segera kesana bersamanya”


“Nana, ku rasa kau harus menghentikan ceritamu. Ada pasien yang membutuhkanmu dan begitupun aku. Ada pasien kecelakaan yang menunggu kita dan sangat membutuhkan kita. Mari bergegas” ucap Shita menarik lengan nana yang masih menyeruput kopinya.