Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 37



Malam pun semakin larut. Rendra mengantarkan Shita pulang ke kost nya terlebih dahulu. Setelah mengantarkan Shita, Rendra pun pulang kerumah dan melajukan mobilnya dengan cepat. Ia pun mengirimkan pesan pada Shita.


“Aku sudah dirumah. Terima kasih atas waktumu malam ini. Selamat tidur. Semoga mimpi indah malam ini.”


“Mengapa aku menjadi tak tenang dan seperti itu tadi terhadapnya? Bagaimana jika dia ilfiel padaku setelah hari ini? ahh bodoh!.” Ia merutuki kebodohannya yang bertindak tak sesuai dengan ia yang semestinya.


Sementara di kost Shita, ia telah membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. Ia pun mengambil ponselnya karena melihat pesan masuk. Shita hanya menatap datar pesan yang ia terima.


Keesokan harinya Shita terbangun karena bunyi alarm diponselnya. Ia yang berniat mematikan alarm tak sengaja melihat pesan diponselnya.


“Selamat pagi jegeg, bagaimana kabarnya? Apakah tidurmu nyenyak? Apa kau bermimpi indah? Ku rasa tidurku sekarang makin nyenyak setelah aku mengingatmu. Jangan lupa sarapan dan hati – hati berangkat bekerja. jaga dirimu”


Isi pesan itu yang ternyata dikirim oleh Rendra.


Shita hanya menatap datar pesan itu dan segera berlari untuk bersiap – siap bekerja.


Satu jam kemudian


Ting


“Hei jegeg, kamu dimana? Sudah sampai di tempatmu bekerja? Jika begitu, maka jaga dirilah baik – baik. Jangan sampai terlalu lelah.”


Shita menyimpan kembali ponselnya tanpa membalas pesan yang masuk di ponselnya. Sesampainya diruangan ia melihat buket bunga yang sama seperti yang ia terima kemarin. Juga ada catatan kecil disana.


“Hari yang indah untuk orang yang special”


Shita sering membuang bunga yang ia terima selama satu bulan terakhir ini. Namun kali ini ia menyimpan buket bunga yang ia terima dan meletakkan di atas rak penyimpanan file.


Ting


“Apa kau sudah menerimanya? Apakah kau suka? Aku akan menjemputmu saat makan siang nanti” Shita melihat pengirim pesan itu dari Rendra dan itu menunjukkan jika buket bunga itu darinya.


Shita menyimpan ponselnya kembali setelah membaca pesan dari Rendra. Ketika berbalik wanita itu tak sengaja menabrak seorang laki – laki dan itu adalah dokter Andi.


“Ah maafkan aku, aku terburu – buru untuk pergi ke UGD karena ada pasien disana. Sekali lagi maafkan aku.” Ucap Shita tulus


“Tidak apa dokter Shita, aku tidak keberatan jika kamu menabrakku lagi dan lagi.” Jawab Andi dengan memperlihatkan senyum manisnya yang entah mengapa saat Shita melihatnya ia tak merasakan apapun pada laki – laki di hadapannya ini. “Kau mau kemana? Biar aku antarkan” tambahnya.


“Tidak apa, aku hanya pergi ke UGD, tidak akan lari dari rumah sakit ini.” ucap Shita yang kini berjalan menjauh dari dokter Andi.


Sebelum jam makan siang tiba, Rendra sengaja menyakiti dan memukul kaca yang berada ditoilet ruangannya hingga berdarah untuk ia tunjukkan pada Shita. Ia ingin mengetahui bagaimana reaksi wanita itu karena melihatnya terluka.


Dengan langkah panjang, tetap dengan santai ia berjalan melewati lorong – lorong rumah sakit menuju ruangan wanita yang ia cari dengan keadaan tangan yang masih berdarah. Bahkan seluruh pegawai rumah sakit menatab takjub melihat lelaki itu setengah berlari membawa tas jinjing di tangan kanannya namun tak melihat tangannya sedang mengeluarkan darah.


Sesampainya ia di depan ruangan wanita yang ia cari, dengan tak sabar ia mengetok pintu ruangan tersebut. Setelah mendengar suara dari wanita yang ia kenal, ia memasuki ruangan itu.


Ceklek


“Oh Hai, bagaimana hari ini? pasiennya banyak? Oh ya ini ada sesuatu untukmu semoga kamu suka. Kita jadi makan siang? Kau tak punya jadwal operasi kan? Mmm soal kemarin aku minta maaf. Jadi ku mohon lupakanlah ya?” tanya Rendra tanpa jeda. Shita yang melihat Rendra seperti itu hanya mengulas senyum tipis di bibirnya namun tak terlihat oleh laki – laki itu.


“Aku tak ada jadwal apapun hari ini. Terima kasih untuk hadiahnya. Aku akan menyimpannya terlebih dahulu dan mengambil tasku. Baiklah mari kita makan.” ucap Shita pada Rendra seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya tanpa menoleh ke arah Rendra.


“Tunggu dokter Shita, bisakah kamu mengobati tanganku ini? Aku tadi tak sengaja melakukannya.” Lirih Rendra namun terdengar jelas oleh Shita. Wanita itu menoleh dan melihat tangan kiri laki – laki itu mengeluarkan darah dan terbalut kain hitam.


“Apa ini? Ada – ada saja kelakuanmu.” Ucap Shita dengan santainya. Ia berusaha menahan rasa terkejutnya karena melihat keadaan luka laki – laki itu. “apa yang membuatnya melakukan ini, apa dia bodoh. Dasar gila. Apa kau tahu betapa terkejutnya aku tadi melihatmu seperti ini” gumam wanita itu sembari terus membersihkan tangan laki – laki itu dan membalutnya. Usai membalut luka, Shita menghela nafasnya.


“Aku tak berbuat apa, mari kita makan siang. Aku masih bisa membawa mobilku. Jangan khawatirkan aku.” Ucap Rendra yang kini menunggu Shita membereskan kotak P3K yang ada diruangannya. Mendengar ucapan Rendra, Shita yang selesai membereskan peralatannya melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Rendra melangkahkan kakinya dengan lebar untuk mensejajarkan langkahnya dengan wanita itu menuju parkir mobil dan ke restoran untuk makan siang.


Setelah makan siang, Rendra mengantarkan Shita kembali ke Rumah sakit dan ia pun kembali ke perusahaan. Rendra mulai gencar mendekati Shita dengan mengiriminya pesan dan bunga setiap 2 jam sekali. Melihat ekspresi Shita dari dekat saat membalut tangan kirinya tadi membuatnya paham jika hati keras wanita itu tak bisa diluluhkan begitu saja.


Rendra menyibukkan dirinya sembari berpikir bagaimana cara mendekati wanita keras itu. Sesekali ia mengecek toko bunga yang menjadi langganannya sudahkah mereka mengirim bunga setiap 2 jam pada wanita itu. Rendra membuka sosial medianya mencari tahu bagaimana cara menaklukan hati wanita yang terlihat dingin dan tempat khusus yang di datangi saat pacaran yang biasa dilakukan oleh pasangan muda.


Rendra membolak balikkan halaman pencarian di ponselnya tanpa ia tahu hari sudah malam, setelah lama ia mencari, akhirnya membuahkan hasil dari pencariannya sepanjang mala mini. “Usaha tidak akan menghianati hasil, begitupun cintaku. Tunggu aku Shita, aku akan meluluhkan hatimu dengan caraku” lirih Rendra pelan yang tak bisa terdengar oleh siapapuntermasuk nyamuk dan lalat yang mungkin ada diruangan Khususnya.


Malam itu Shita pulang dengan menaiki sebuah taxi karena ia tidak membawa motornya.


Dreett dreett


Shita Mengernyitkan dahinya melihat nomor yang tak dikenalnya menghubunginya malam - malam begini. "Mungkin ini penting" gumam Shita yang kemudian mengangkat panggilan tersebut.


“Halo”


“Hai keponakanku yang manis dan sangat sexy. Apa kabar? Kau tak rindu pada pamanmu ini?” ucap laki – laki diseberang sana.


“Untuk apa kamu menghubungiku lagi, tak cukupkah penderitaan yang kamu berikan padaku hingga kamu begitu ingin menyakitiku dan menghancurkan masa depanku?” sinis Shita.