
Disisi lain…
Drreett dreett
Laki – laki yang sejak tadi duduk disinggasana kebesarannya melirik ke arah ponsel, dilihatnya ada pesan yang masuk. Laki – laki itu hanya mengacuhkan pesan itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Dreet
“Mengapa kau tak membuka pesannya. Lihatlah apa yang aku kirim padamu. Kau akan menyukainya”
Laki – laki itu mengernyitkan dahinya saat menerima pesan lagi dari nomor yang tak dikenalnya dan membaca sekilas pesan itu. Dengan rasa penasaran laki – laki itu membuka pesan yang ia terima sebelumnya.
Laki – laki itu hanya tersenyum ketika melihat foto yang dikirim oleh seseorang tak dikenal. Dengan cepat ia memanggil asistennya dengan intercom yang terhubung langsung dengan ruang asistennya.
“Rian ke sini sebentar.”
Tok tok tok
“Masuk”
Ceklek
“Ada apa pak?”
“Cek ponselmu, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?” tanya Rendra.
“Baik pak”
“Terimakasih” gumam Rendra lirih sembari melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
‘Apa pak bos mengatakan terimakasih,? Tak salah dengar bukan?’ gumam Rian melenggang keluar dari ruangan Rendra dengan sigap mencari informasi yang dimaksud oleh Rendra.
---
Masih dengan tempat dan keadaan yang sama, Andi sudah menyelesaikan makannya dan merapikan duduknya.
“Dokter Shita, aku ingin mengatakan sesuatu. Dokter Shita, aku menyukaimu dokter, melebihi laki – laki yang sering datang menemuimu di rumah sakit. Kita juga satu tempat kerja, bukankah itu akan hebat dokter spesialis bedah dan spesialis penyakit dalam menjadi pasangan? Pasti akan menyenangkan.” Ucap Andi sambil tersenyum begitu lebarnya setelah mengutarakan perasaan yang telah lama ia pendam.
Sesuai dugaan wanita itu bahwa laki – laki di hadapannya akan mengatakan hal itu. “Maaf Andi, aku tak bisa menerimamu. Jika dilihat dari seberapa besar mungkin rasa sukamu lebih besar dari laki – laki yang baru saja aku kenal, tapi keberadaannya membuatku nyaman dan itu tak bisa aku pungkiri. Maaf Andi.” Ucap Shita dengan tulusnya menatap wajah Andi lekat tersirat penolakan yang juga terpancar dari matanya yang menandakan keberadaan laki – laki dihadapannya tak lebih dari seorang teman.
“Tidak adakah ruang yang kosong dihatimu untukku dokter? Aku begitu menyukaimu dan tak pernah seperti ini sebelumnya. kau mengatakan padaku jika laki – laki itu hanya teman bagimu bukan” Sahut Andi dengan raut wajah sedih dan itu terlihat oleh Shita. Semoga keputusan yang ia ambil hari ini yang terbaik untuk ia dan juga Andi.
“Masih ada dokter, tapi itu hanya sebagai teman. Jika diharuskan untuk memilih takdirku sendiri, aku hanya ingin berjodoh dengan laki – laki itu bukan siapapun lagi, begitu pun sebaliknya jika ia tidak ada maka aku pun juga tidak akan bersama dengan orang lain selain dia.”ucap Shita dengan penuh penegasan disetiap katanya. 'karena hanya dia yang mampu membuat perasaanku tak menentu' ucapnya dalam hati.
“Hanya teman Shita? Tidakkah aku bisa bersaingan dengannya untuk mendapatkanmu?” tanya Andi lagi yang kini memegang tangan Shita yang berada di atas meja. Shita yang merasakan tangannya dipegang oleh Andi seketika itu menarik tangannya secara perlahan.
“Seperti yang aku katakan tadi dokter, bukankah harus bersama dengan orang yang kita suka dengan tulus tak harus menjadi seorang pacar bukan? Itu bisa jadi teman atau sahabat. Bahkan sahabat tak bisa dipisahkan jika bukan salah satu dari sahabatnya yang berkhianat ya kan? Satu hal lagi Andi, aku dan laki – laki itu sudah menjalin hubungan. Baiklah saya permisi dulu dokter.” Ucap Shita yang kali ini sudah berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari restoran.
Andi dengan cepat memproses setiap kata yang terlontar dari bibir Shita. Pikirannya membenarkan jika menyukai seseorang tak harus menjadi seorang pacar, bahkan sahabat lebih bisa berarti dibandingkan pacar. Laki – laki itu berdiri dan berlari mengejar Shita setelah membuat keputusan yang begitu berat untuknya.
“Tunggu Shita, baiklah mulai hari ini kita bersahabat? Jika memang begitu bolehkah aku mengajakmu untuk berjalan bersama kembali ke rumah sakit? Sahabat tidak akan menolaknya bukan?” ucap Andi dengan senyum manisnya. Berbeda dengan sikap yang sejak tadi ia perlihatkan direstoran.
“Baiklah dokter Andi yang terhormat. Kita sahabat.” Ucap Shita yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju rumah sakit yang diikuti oleh Andi disampingnya dan membalas senyuman Andi.
‘Aku hanya berharap setelah semua ini aku dapat menjadi seseorang yang selalu berada disampingmu setelah dia’ gumam Andi dalam hati yang sesekali melihat Shita berjalan menuju ke rumah sakit.
---
Hari berganti malam Rendra yang sudah menyelesaikan pertemuannya dengan klien dan mendapatkan apa yang di inginkan dari Rian sejak tadi sore, kini laki – laki itu sedang melajukan mobilnya sendiri tanpa ditemani asistennya seperti tadi pagi untuk menjemput wanitanya.
Flashback On
Tok tok tok
“Masuk”
Ceklek
“Pak Rendra, ini semua informasi yang bapak inginkan.” Ucap Rian lalu meletakkan map biru diatas meja Rendra.
Rendra begitu terkesiap melihat siapa yang mengirim foto Shita bersama dokter Andi.
“Dia ingin main – main denganku? Kau tahu apa yang harus kamu lakukan Rian,”
“Menghancurkannya sampai akhir pak?”
“Hmmmm. Mengapa kau jadi banyak bertanya seperti ini. Lakukan seperti yang biasa kamu lakukan sekalipun itu perusahaan mantan kekasihku.” Ucap Rendra menyeringai.
“Baik pak.”
“Kau boleh keluar, aku akan pergi menemui kekasihku, jika ada laporan dan berkas penting kirim segera ke rumah” ucap Rendra berlalu meninggalkan ruang kerjanya menuju tempat parkir.
Tuuuttt tutttt
“Halo Rendra, kenapa kau menghubungiku?” ucap seorang wanita diseberang telepon.
“Dasar laki – laki seenaknya saja menyuruhku seperti itu” gerutu Shita yang kembali duduk di kursi ruangannya.
30 menit perjalanan yang dibutuhkan oleh Rendra untuk sampai di JMC. Laki – laki itu begitu tergesa – gesa berlarian menuju ruangan wanitanya. Tanpa disadari Rendra, Shita sedari tadi menatapnya berlarian dengan senyum yang begitu manis berdiri didepan ruangannya.
“Hei tarik nafas. Kau tak lelah seharian ini bekerja di kantor dan sekarang menjemputku?” tanya Shita yang mengusap keringat di dahi Rendra dengan tisu yang ia ambil dari jas dokternya.
“Tak apa sayang, aku bisa mengatasinya. Kau tahu bukan jika aku bertemu denganmu adalah cara menghilangkan penat dan lelahku.” Ucap laki – laki itu dengan mengerlingkan salah satu matanya. Sudah berlarian seperti orang gila masih bisa juga laki – laki itu menggoda Shita.
“Kau, sedetik saja bisa untuk tidak menggodaku saat kita bertemu?” gerutu Shita dengan pipi merona dan itu terlihat oleh Rendra.
“Haha, apa kau senang atau kau malu? Hei apa yang terjadi padamu, mengapa pipimu begitu merah. Apa kau sedang demam? Kemari biar aku periksa dahimu atau kau bisa ke UGD sekarang, aku akan menggendongmu bagaimana?” ejek Rendra yang menempelkan punggung tangannya pada dahi Shita serta menaik turunkan alisnya dengan cepat.
“Apasih, terserahhh.” Ucap Shita yang kini berlarian menjauh dari Rendra.
“Hei tunggu, benar kamu tak sakit? Hei tunggu.” Ucap Rendra melipat ke dalam bibirnya menahan tawa mengejar Shita yang meninggalkannya.
“Hei mengapa larimu begitu cepat sih?” tanya Rendra yang sudah berada di depan mobilnya.
“Hah, kau kalah bukan? Lembek gitu.” Ucap Shita dengan senyum mengejeknya.
Rendra mendekati Shita dan membisikkan sesuatu “Hei, kau menang hari ini. Tapi mari kita buktikan itu nanti sayang setelah kita menikah. Bagaimana?” ucap lirih Rendra tepat ditelinga Shita yang seketika membuat wanita itu merona kembali.
“Aku lelah.” Ketus Shita yang menahan malu kemudian masuk ke mobil Rendra dan menutup pintu mobil dengan keras.
Rendra hanya tersenyum melihat tingkah malu dan rona merah dipipi Shita yang kini berada di dalam mobilnya. Dengan cepat Rendra masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
“Shita, kau lelah bukan? Bagaimana kalau aku membayar rasa lelahmu? Kau hanya harus diam dan melihatku bagaimana?” tanya Rendra menoleh ke arah Shita dengan tangan kanan memegang kemudi dan tangan kirinya memegang erat tangan Shita.
“Mengapa kau percaya diri sekali tuan jika aku melihatmu maka lelahku akan berkurang? Yang aku butuhkan sekarang makanan dan istirahat” ucap Shita tanpa menoleh ke arah Rendra karena masih menahan malunya.
“Memang itu adalah hal yang harus dilakukan, namun sebelum kita melakukan itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tenang saja sayang kau akan menyukainya, tapi sebelum itu tutup dulu matamu” ujar Rendra menyerahkan penutup mata yang ia ambil di depan kemudinya.
“Mengapa harus seperti itu Rendra?” tanya Shita cepat.
“Kau mau melakukannya sendiri atau aku yang menutupnya tentunya tidak gratis sayang. Aku akan menepikan mobilku dahulu”
“Tidak, aku bisa sendiri” Shita berdecak kesal dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya.
Tanpa banyak bicara Shita mengambil penutup mata yang berada ditangan Rendra dan mengikuti kemana Rendra akan membawanya. Beberapa menit kemudian Rendra telah sampai tujuannya. Laki – laki itu keluar dan membukakan pintu untuk wanitanya.
“Silakan sayang, pegang tanganku yang kini berada tepat didepanmu jika kau tak ingin terjatuh” tangan Rendra terulur untuk membantu wanita itu turun dari mobil.
“Bisakah tolong lepas tutup mataku semua ini begitu tak menyenang-”
“Turun bersamaku atau aku akan menggendongmu.” Potong Rendra sebelum Shita menyelesaikan kalimatnya barusan.
“Baiklah tuan pemaksa.” Shita mendengus kesal dan menerima dengan terpaksa tangan Rendra walau sebenarnya ini hal pertama yang Rendra lakukan padanya. Rendra kini menggenggam erat tangan Shita berjalan di jalan setapak. Sepasang kekasih yang tengah berjalan itu bisa merasakan hembusan semilir angin yang menyejukkan.
“Dimana ini Rendra? Mengapa begitu sunyi dan menyejukkan” tanya Shita sambil berpikir kemana ia di bawa oleh kekasihnya.
“Lepaskan penutup matamu maka kau akan mengetahuinya sayang.” ucap Rendra membantu melepaskan penutup mata yang dikenakan oleh Shita. “Aku hanya ingin mengajakmu berkencan ditempat ini untuk pertama kalinya setelah kita berpacaran.”
Shita begitu terkesiap melihat pemandangan yang begitu menakjubkan dihadapannya.
“Kau masih ingat?” tanya Shita dengan mata
berbinar.
“Aku takkan pernah lupa dengan apa yang kamu sukai sayang. Aku menyadarinya saat kita pertama kali makan bersama di restoran itu. Lihatlah, bukankah itu cantik?” tanya Rendra yang kini memeluk Shita dari belakang menunjuk pemandangan indah dari atas bukit memperlihatkan kemerlap lampu kota.
“Terimakasih Rendra, Aku sangat mencintamu. I Love You.” Ucap Shita begitu bahagia senyum yang begitu manis dari bibir Shita tak lepas dari pandangan Rendra dan seketika membuat jantungnya yang tengah berdetak kencang menjadi semakin kencang.
“Kau” ucap Rendra tertahan, “ jangan pernah tersenyum begitu secara tiba – tiba, aku takut tak bisa menerima itu secara mendadak” lanjut Rendra yang kini menepuk dada kirinya namun tetap merangkul pinggang Shita dengan tangan kirinya.
“Rendra, kamu itu. Cihh, kakiku pegal begitu lama berdiri” Ucap Shita ketus berbalik menghadap Rendra namun terlihat rona merah dipipinya.
Tanpa aba – aba Rendra telah menggendong wanita itu disampingnya dan menjadikannya lebih tinggi daripada Rendra. Shita begitu terkesiap melihat tindakan Rendra, tak ingin jatuh Shita menggantungkan kedua tangannya di leher laki – laki itu.
“Turunkan aku Rendra, aku malu” ucap Shita kini menundukkan wajahnya hingga bisa melihat Rendra dari atas.
“Jika kau malu maka diamlah, aku ingin kamu menikmati pemandangan itu lebih jelas dan nyaman.” Tegas Rendra yang kian menggeratkan pelukannya pada pinggang Shita.
“Ah, aku hampir lupa, Kamu duduk dulu disana ya. Tunggu aku, jangan kemana – mana. Nanti aku bisa setengah mati merindukanmu.” ucap Rendra yang kini menurunkan Shita kemudian setengah berlari meninggalkan Shita sendirian setelah melingkarkan jas yang ia kenakan pada tubuh Shita.
“Dasar alay, gila. Gila tapi tampan dan aku menyukainya” gumam Shita dalam hati sembari senyum – senyum sendiri mengingat perkataan Rendra tadi.
Jangan lupa dukungannya yaa...
Jangan lupa like tiap episode nya, Rate dan Vote..
Terima kasih....