Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 101



Tuuttt tuutt


“Halo”


“Halo Tomy ini aku, ada berita buruk. Percepat keberangkatan Shita nanti karena Rendra ingin pulang secepatnya. Mungkin setelah ini dia akan pulang jadi jika di hitung waktu perjalanannya akan sampai di Indonesia bertepatan dengan kepergian Shita” ucapnya pada Tomy.


“Kau tidak usah khawatir, apa kau lupa dengan apa yang terjadi pada Rendra di kamarnya. Hahha aku begitu terpesona melihatnya seperti itu. Kamu tenang saja karena begitu laki – laki itu sampai wanitaku akan menaiki pesawatnya, juga untuk keluarganya aku akan suruh Arya untuk tidak menahannya lagi karena aku tidak butuh orang – orang seperti itu, yang aku butuhkan hanya wanitaku. Itu saja”


Tuutt


1 jam kemudian


Tingtong


Shita yang sudah menyelesaikan mandinya dengan cepat berjalan ke arah pintu ketika mendengar bel apartemennya berbunyi.


Ceklek


“Hai Anna, Nana kalian datang juga” ucap Shita seraya memeluk kedua sahabatnya yang masih berdiri di ambang pintu.


“Kau kenapa Shita apa kau ada masalah? Kau bisa menceritakannya pada kami” tanya Anna yang memang sangat mengerti keadaan Shita walau pertemanan mereka bisa dihitung dengan jari beberapa bulan terakhir, namun Shita hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu.


Nana dan Anna tampak sangat bingung ketika Shita makin mengeratkan pelukannya.


“Hei kau mau membuatku mati”


“Ya apa kau ingin membuat kita mati, kau memelukku terlalu erat” ketus Anna hingga perlahan Shita melepaskan pelukan mereka tanpa ia sadari matanya sedari tadi mengeluarkan air mata.


“Hei kenapa kamu menangis Shita kita ini sahabatmu ceritakan pada kami” ucap Nana sedikit terkejut melihat butiran bening jatuh di pipi Shita.


“Aku tidak apa – apa, tadi aku sedang mencoba memakai bedak tapi kayaknya masuk ke mataku makanya jadi gini. Ayo silakan masuk” kilah Shita kemudian masuk ke dalam apartemen.


Nana dan Anna saling berpandangan mengangkat kedua bahunya melihat tingkah Shita dan segera masuk ke dalam apartemen menyusul wanita itu masuk. Merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu Anna dan Nana menyusul Shita yang kini berada di dapur.


“Kalian ingin minum apa?” teriak Shita dari arah dapur.


“Mengapa kau menyembunyikan semua hal dari kami Shita? Apa kau tidak pernah menganggap kami sahabatmu, aku selalu menceritakan semua masalahku padamu begitupun juga Nana. Tapi kenapa giliran kamu memiliki masalah kamu tidak ingin berbagi dengan kami sahabatmu ini? ah aku ingat aku baru berteman denganmu beberapa bulan ini dan itu membuatku yakin jika kamu tidak nyaman denganku” tanya Anna begitu tak sabar mengetahui masalah sahabatnya.


Tes tes


Tetes demi tetes air mata Shita jatuh dari tempatnya mendengar apa yang dikatakan oleh Anna.


“Maaf, aku hanya tidak ingin membebani kalian karena sedari dulu aku menanggung semuanya sendiri jadi aku tak menceritakannya pada siapapun. Maafkan aku”


Anna dan Nana yang mendengar jawaban Shita kini memeluk erat sahabatnya itu.


“Kau bisa membaginya dengan kami, kami sahabatmu dan akan selalu ada buat kamu. Kami akan berusaha membantu jika kau memang perlu bantuan kami. Tidak usah sungkan pada kami Shita. Kami menyayangimu, bahkan aku sudah menganggapmu lebih dari sahabat” ujar Nana sembari mengelus punggung sahabatnya itu.


“Jadi bisa kau ceritakan pada kami apa masalahmu pada kami? Kami akan mendengarkannya” tambah Anna yang kemudian mengajak keduanya duduk di sofa apartemen.


“Hikss, bapakku masuk rumah sakit dan butuh perawatan intensif dengan biaya yang tidak sedikit. Aku bingung harus bagaimana, juga ada laki – laki yang mengancam keluargaku jika aku tak menuruti keinginan dia” tumpah sudah tangis Shita yang sedari tadi ia sembunyikan.


“Terus?”


“Aku lah targetnya,dia juga mengancam akan membuat Rendra jatuh sejatuhnya jika aku tak memenuhi keinginannya” ucap Shita dengan tangis sesegukan.


“Mengapa kau menyembunyikan semuanya dari kami dan kak Rendra, mengapa kau tak mengatakan saja semuanya. Tenang Shita semuanya akan baik – baik saja” ucap Nana menenangkan juga kini beralih memeluk tubuh Shita.


“Tapi aku tak ingin membuat kalian apalagi Rendra dalam bahaya karena aku, dia juga mengancam akan menghancurkan perusahaan Rendra hingga membongkar masa lalunya, dia hanya mengatakan itu padaku” sahut Shita yang masih sesegukan namun membuat Nana begitu terkejut mendengarnya, tumpah sudah air mata Nana.


“Jangan memberitahu Rendra Na, aku mohon. Jika dulu ia berjuang untukku maka sekarang biarkan aku yang berjuang untuknya jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri aku tak mau membebani Rendra. Jika memang semua terasa semakin berat aku akan berusaha membuatnya menjadi baik – baik saja. Kalau aku belum mengabari kalian berarti aku masih baik – baik saja, kalian harus percaya padaku, setelah apa yang aku lalui aku jadi semakin kuat menahan semuanya” tambahnya.


‘Apa yang harus aku lakukan kali ini, aku tidak ingin mengecewakan Shita juga kakakku. Bagaimana ini’ ucap Nana dalam hati.


“Terus kamu akan kemana dan dengan siapa?” tanya Anna yang benar – benar penasaran dengan apa yang dialami oleh sahabatnya. Ia yang sedari tadi berusaha terlihat kuat tiba – tiba menangis sesegukan sama seperti kedua sahabatnya.


“Ke luar negeri tapi dimana persisnya aku tidak tahu, hanya pengawalnya saja yang akan menjemputku jika sudah waktunya”


“Kapan kamu pergi?” tanya Nana dengan mata yang berkaca – kaca.


“Besok. Jadi mulai hari ini kalian harus menemaniku bagaimana? Kalian juga harus janji padaku untuk tidak mengatakan semuanya pada siapapun. Aku mohon”


“Baiklah kami janji akan menjaga rahasiamu ini, ingat selalu jaga dirimu disana. Kami akan selalu merindukanmu disini” sahut Nana setelah ia memikirkan dengan matang apa yang harus ia lakukan.


“Udah – udah jangan sedih terus, sekarang kita manfaatin waktu yang singkat ini untuk bersenang – senang. Ayo kita buat makanan enak” ujar Anna berdiri setelah mengusap beberapa bulir cairan bening yang tadinya mengalir di kedua pipi dan mengajak kedua sahabatnya ke dapur lalu memasak bersama. Ketiganya menghabiskan waktu bersama – sama sebelum keberangkatan Shita.


Tak terasa besok ia akan meninggalkan semua yang ia sayangi. Malam ini Shita memutuskan untuk pergi menemui sahabatnya Andi yang memang menjadi tujuannya juga.


Tuutt tuutt


“Halo Shita, ada apa kamu menghubungiku?” tanya Andi setelah panggilan itu terhubung.


“Ah tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja kau ada waktu hari ini? Luangkan sedikit waktumu untuk sahabatmu ini” pinta Shita. Andi mungkin hanya memiliki perasaan sebagai sahabat pada Shita karena perasaannya kini dimiliki oleh wanita lain, namun ia juga tak tega pada Shita setelah mendengar permintaan wanita itu.


“Baiklah, bagaimana jika di seberang rumah sakit saja kita bertemu? Bukannya aku tak ingin keluar denganmu tapi aku masih menjaga persahabatan kita dan perasaan kekasihmu itu Shita. Aku juga memiliki banyak pekerjaan” jawab Andi karena memang pekerjaannya sangat banyak dari sebelumnya. “Apa kau juga sedang menjaga perasaan wanita lain? Baiklah kita bertemu saat jam makan malam” jawab Shita cepat seraya menutup panggilannya.


‘Mengapa ia sangat berbeda hari ini, apa dia sedang ada masalah?’ gumam Andi yang masih saja tidak percaya jika wanita itu akan mengajaknya bertemu siang nanti. Andi menggidikkan bahunya dan melanjutkan tumpukan pekerjaan yang sudah menunggunya.


“Anna, Nana bangunlah aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian. Ckck yang mau pergi siapa yang dilayani siapa” kata Shita pada kedua sahabatnya dengan senyum kecut di wajahnya.


“Jika kamu melayani kami, maka kami akan membalasnya berkali – kali lipat. Ayo setelah ini kita lakukan yang terbaik untuk sahabat kita ini” ucap Anna pada Nana yang baru saja meletakkan ponselnya.


“Oke Anna aku sudah siap, kita makan malam dulu lalu kita lakukan apa saja sesuka kita pada dia” sahut Nana dengan penuh penekanan menunjuk Shita yang berada di sampingnya dengan dagu.


Beberapa saat kemudian setelah makan malam, Anna dan Nana mengajak Shita bermain kartu untuk menghabiskan waktu.


“Hahaha ayo Shita kita bermain kartu” ajak Anna pada Shita yang baru saja keluar dari kamar menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia bahkan tidak ikut makan malam bersama kedua sahabatnya.


“Hei, jika semua terasa sakit seharusnya kamu tak memendam semuanya sendiri Shita. Berbagilah dengan kami, jangan lagi menampilkan senyum palsumu itu, aku tidak tahu apa yang kau rasakan tapi ku yakin itu pasti sakit” ujar Anna lalu memeluk tubuh Shita.


Anna menangis sesegukan mengingat apa yang dialami oleh Shita sejak dulu seorang diri. Nana pun ikut menangis membayangkan apa yang terjadi pada kakaknya jika ia mengetahui jika kekasihnya sudah pergi.


“Sudahlah, aku sudah menerima semuanya dengan hati yang lapang jadi jangan lagi menyurutkan semangatku. Kalian harus tetap baik – baik saja sampai aku kembali. Dan kamu Anna aku tunggu kabar baiknya nanti setelah kepulanganku” Anna hanya menganggukkan kepala seraya mengeratkan kembali pelukannya pada tubuh Shita.


“Aku akan menemui sahabatku yang lain juga mempersiapkan semuanya. Aku tak ingin kalian melihat persiapanku jadi aku mohon pulanglah nanti jika kalian sudah selesai makan malam ya. Aku hanya tak ingin ragu lagi” tambah Shita seraya melerai pelukan kedua sahabatnya.


“Kita bisa apa jika kamu sudah keras kepala begini, ya sudah kami akan pulang nanti. Sekali lagi jaga dirimu disana Shita” cicit Nana yang tak pernah berhenti meneteskan air mata.


“Pasti” jawab Shita tersenyum dengan manis.


Setelah mengantar kedua temannya, Shita bergegas keluar menepati janji bertemu dengan Andi saat ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam waktu makan malam tiba.


Tingting


Shita memasuki sebuah café setelah ia menempuh perjalanan 20 menit menaiki taxi. Ia berjalan melewati beberapa meja dan duduk di meja yang ada di pojok café setelah memesan beberapa menu untuknya juga Andi.


Tak berapa lama seorang pelayan datang membawa secangkir kopi cappuccino kesukaan Rendra yang kini sering ia nikmati. Semilir angin menerpa wajah cantiknya yang sudah menyesap kopi diatas meja.


Tingting


“Dimana Shita, apa dia sudah datang?” ucap lirih seorang laki – laki yang ternyata adalah Andi yang baru saja datang. Ia mengedarkan pandangannya menatap semua penjuru café sampai matanya tertahan pada satu meja yang menampakkan wanita dengan senyum manisnya menatap ke jalanan.


“Sudah lama dokter Shita?” kata Andi yang kini duduk di hadapan Shita.


“Mengapa kau berbicara formal padaku?”


“Aku hanya sedang mencoba berbicara sopan karena aku tahu Shita yang ada di hadapanku ini bukan sahabatku seperti biasa” ucap Andi yang kini meneguk minuman yang dibawa oleh pelayan.


“Aku masih Shita sahabatmu, hanya saja aku sedikit merindukan sifatku yang dulu. Ya seperti ini, bisa kau tahu dengan pasti bagaimana aku denganmu”


Keduanya tertawa dengan apa yang Shita katakan hingga datang seorang pelayan membawakan makanan yang sudah dipesan Shita tadi.


“Kau memesan makanan untukku? Come on, ini bukan Shita yang aku kenal” ucap Andi lagi yang kini nampak sudah berbedaan wanita yang ada di hadapannya.


“Kau, pemikiranmu negatif sekali. Aku hanya ingin mentraktirmu apa yang salah dengan itu? Apa ada yang melarang seorang sahabat membayar makanan sahabatnya sendiri? Kau memang benar – benar ya Andi” sahut Shita yang kini mulai memakan makanan yang ada di hadapannya begitu juga Andi, ia melakukan apa yang dilakukan Shita.


“Jadi bagaimana dengan dokter Nita?”


Uhuukk uhuk


“Kau tak usah berpura – pura, coba tanya sekarang satu rumah sakit tahu jika kamu menyukainya. Jangan sampai sepertiku lagi, dekati ia terus jika memang perasaanmu benar untuknya” kata Shita santai. Memang ia bermaksud ingin membuat kedua orang yang sama – sama memiliki rasa bisa menyatukan perasaan mereka.


“Darimana kamu tahu? Kau hanya berbohong padaku, aku bahkan tidak lagi menampakkan rasa sukaku seperti dulu” sergah Andi karena ia memang tidak seperti dulu lagi.


“Jika aku bilang aku tahu dari orangnya sendiri bagaimana? Apakah kamu masih akan berdiam diri jika dia juga punya perasaan yang sama sepertimu? Jangan saja kamu menyesal jika ditolak lagi”


Shita tertawa melihat tingkah gugup Andi juga wajah laki – laki itu menjadi merah setelah mendengar ucapan begitu entengnya keluar dari bibir Shita.


“Ingat Andi, kamu adalah sahabatku dan selamanya adalah sahabatku. Kejar wanita itu jangan sampai dia lari lagi.


Kejarlah sedari tadi ia melihatmu diseberang jalan sana, lihat di dalam café itu”


Shita menunjuk dengan dagu seorang wanita yang ada di seberang café karena sejak tadi ia menatap ke arah jalanan dan melihat seorang wanita yang ia kenal bersamaan dengan masuknya Andi ke café tempat mereka bertemu.


Andi mengikuti arah pandang Shita, ia terkejut mengetahui jika Nita kini melihatnya sedang berdua dan makan malam bersama Shita. Dengan cepat laki – laki itu beranjak dari duduknya keluar dari café dan menghampiri Nita yang terlihat sedang menunggu sesuatu.


‘Bahagia itu ketika bisa melihat senyum dan tangis suka cita orang lain karena kita. Ah aku jadi ingin cepat Rendra pulang dan memeluknya. Kamu harus menemaniku dimanapun aku berada nantinya, semoga kalian bisa bahagia’ gumam Shita yang kini memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya serta kalung pemberian Rendra yang akan selalu ia pakai.