
“Rendra, jangan lupa ajak wanita itu yah mamah tunggu lo. Nana, kamu juga ya ajak wanita itu. Kalau dia menolak ajakan Rendra, dia pasti tak menolak ajakanmu kan nak. Ajak pacarmu juga Nana, Dharma kamu juga ya sayang” ucap Ratna dengan cengiran khasnya.
“Baik pah. Baiklah Ma” ucap serempak ketiga anaknya.
“Mah, Pah aku berangkat ke Rumah Sakit sekarang ya, kak aku berangkat dulu ya.” pamit Nana kemudian bergegas memacu laju mobilnya.
Sesampainya di Lobby rumah sakit, Nana melihat Shita yang juga sudah sampai.
“Shitaa kamu baru sampai?” yang dipanggil pun
menoleh seraya tersenyum dengan manisnya.
“Hei Nona, aku baru saja datang. Yuk cepetan jalannya. Aku mau periksa pasien sebentar lagi.” ucap Shita yang di angguki oleh Nana.
Dreett
Ting
Sebuah pesan masuk terlihat di Ponsel Shita yang dikirim dari nomor tak dikenalnya.
“Hei apa kabar? Kamu sudah dirumah sakit?”
Shita mengernyitkan dahinya setelah membaca pesan itu.
“Mengapa tak kau balas? Apa kau sedang sibuk? Lanjutkan pekerjaanmu. Jika sudah selesai pergi ke taman disamping rumah sakit. Ada yang menunggumu”
“Siapa yang menungguku? Ku rasa orang ini salah mengirim pesan. Sudahlah” batin Shita. Ia yang merasa tak ada yang menunggu dan penting hanya mengabaikan isi pesan yang tadi ia baca.
Waktu cepat berlalu tak terasa hari sudah menjelang malam, Shita pun pulang ke kosan dengan menaiki ojek online yang sudah dipesannya sedari tadi.
Ting
“Mengapa kau tak ke taman samping rumah sakit? Aku menunggumu”
Lagi lagi ada sebuah pesan masuk, Shita yang sudah membacanya pun hanya mengabaikannya.
Beberapa menit kemudian Shita segera membersihkan diri dan masak makan malam untuknya.
Tok tok tok
“Sebentar. Siapa sih yang datang malam – malam begini. Aku tak merasa mengundang siapapun”
Shita pun membuka pintu namun tak melihat ada siapapun berada dibalik pintunya, ia pun berbalik belum sempat menutup dengan sempurna ia melihat buket bunga mawar putih berada diteras rumahnya. Ia mengambilnya dan langsung membuangnya ke dalam tong sampah. Dengan cepat Shita kembali ke dapur untuk melanjutkan masakannya.
Dreett
Bunyi ponsel Shita yang belum ia ubah nada suaranya, hanya dalam mode getar.
“Kau sudah menerima hadiah yang ku berikan? Apa kau suka?.” begitulah isi pesan yang masuk diponsel Shita namun lagi – lagi ia tak mempedulikannya. 10 menit kemudian terdengar lagi ada orang yang mengetuk pintu kosnya.
“Hei siapa sih menggangguku malam – malam begini. Kamu tak lelah meneror dan menggang-
Kalimatnya menggantung begitu saja setelah Shita membuka pintu dan melihat siapa yang ada dibalik pintunya.
“Mau apa kamu kesini? Nana tak ada disini. Ini sudah malam aku tak ingin ada omongan negative dari orang lain.” ucap Shita pada Rendra yang kini memberanikan diri mengunjungi rumah wanita itu setelah beberapa lama ia menunggu dimobilnya yang terparkir agak jauh dari kos Shita.
“Kau takkan menyuruhku masuk dan memberikanku segelas teh atau kopi? Jujur aku sangat lelah. Aku tak mencari Nana, aku mencarimu.”
Braakkk
Shita menutup pintunya dengan kencang. Ia tidak mau dan tidak akan mengijinkan Rendra untuk menemuinya lagi. Rasa trauma yang dulu menghantuinya entah mengapa ketika melihat laki – laki itu membuatnya tenang. Sorot mata lelah yang ditunjukkan laki –laki itu membuatnya ingin memeluk erat\, namun cepat Shita tepiskan rasa itu. Ia masih takut jika nanti akan mengalami hal yang sama dengan Marvin\, laki – laki br*****k yang pernah menghianatinya.
Rendra yang hanya sekedar ingin menyapa dan mengobrol dengan wanita yang disukainya merasa sangat sedih mendapat perlakuan seperti itu dari Shita. Ia sangat lelah karena pekerjaannya yang menumpuk
dikantor, ia sengaja mampir ke rumah Shita berharap lelahnya hilang setelah ia melihat wajah wanita yang mampu menggetarkan hati dan mengembalikan suasana hatinya, namun kenyataannya tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya dengan kecepatan maksimal.
Tak sampai 30 menit ia melajukan mobilnya kini laki – laki itu sudah ada di depan rumahnya, semuanya yang ada dimeja makan terkejut melihat kedatangan Rendra yang terlihat sedih dan muram wajahnya langsung masuk ke dalam kamarnya. Semua yang melihat hanya terdiam dan menggidikkan bahunya menyatakan tak tahu apa yang dialami Rendra. Tak ada yang berani menanyakan karena mereka tahu apa yang terjadi jika sampai mengusik Rendra sekarang.
Keesokan harinya dengan wajah kusut Rendra ikut sarapan bersama keluarganya. Terdengar helaan nafas berat yang didengar oleh keluarganya terlebih Nana keluar dari bibir Rendra.
“Kamu kenapa Rendra? Mengapa kamu lesu begitu? Ada masalah serius dikantor? ” tanya Hendra menyesap kopi hitamnya.
“Aku tak apa – apa pa. Aku hanya sedang bingung dan sedikit lelah.” ucap Rendra tanpa sadar memijat pangkal hidungnya.
Kedua orang tua dan kedua adiknya hanya menatap tak percaya dengan apa yang diutarakan oleh kakaknya. Rendra yang biasanya tenang, dingin dan cuek sekarang dia sedang bingung? Sebuah keajaiban pagi itu.
“Kakak bingung dengan Shita?” tebak Nana dengan benar dan pandangan Rendra dengan cepat menghadap Nana yang tampak santai memakan roti selai strawberry dengan segelas susu vanilla.
Semua terdiam menunggu jawaban dan apa yang terjadi selanjutnya.
“Kak, aku sudah pernah bilang sama kakak. Dia memiliki rasa trauma karena laki – laki kak. Jadi jangan terlalu memaksanya. Dia orang yang baik dan lembut sebenarnya, karena traumanya lah dia jadi dingin seperti ini. Perlahan – lahan dekati hatinya. Tapi apa yang kakak lakukan sebelumnya pada Shita hingga dia seperti itu?” tanya Nana yang sedang memakan rotinya.
“Kakak tak berbuat apa, kemarin sepulang dari perusahaan kakak hanya mampir ke kostnya untuk sekedar melihat wajahnya, namun belum sampai 5 menit disana sudah diusir dia.” ucap Rendra menghela nafas beratnya.
“Kak, dekati dia dengan pelan – pelan kak. Jangan sampai dia ilfiel pada kakak. Tanya kak Dharma, bagaimana dia dirumah sakit ketika bersama pasiennya.”
“Iya kak, dia orang yang baik dan hangat. Dia mampu membuat pasien dan keluarganya yang bersedih menjadi tersenyum walaupun hanya sedikit. Aku tak pernah bertemu dengan dokter seperti itu selama aku menjadi dokter.” tambah Dharma.
“Aku akan turuti saran kalian. Aku akan memikirkan bagaimana caranya. Aku berangkat dulu yaa paa, mahh, Dharma dan adik nakalku. Kalian berhati – hatilah bekerja.”
Rendra melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan langsung berangkat ke perusahaan.
Tok tok tok
“Masuk”
“Pak, bapak tidak ada meeting penting hari ini. Tadi pak Riko menghubungi saya karena ponsel bapak tak bisa dihubungi.” Rian asisten Rendra menjelaskan agendra Rendra.
“Baik, nanti saya akan menghubungi Riko secara langsung. Rian boleh saya bertanya padamu sebagai sesama laki – laki?
Rian sedikit linglung dengan apa yang dikatakan bosnya. Mengapa bosnya yang biasanya dingin, bebrbicara seperlunya sekarang mengajaknya berbicara seperti ini? pikirnya yang kemudian melihatkan senyum pada bosnya.
“Boleh pak. Bapak boleh bertanya apapun pada saya dan akan saya jawab semampu saya pak.”
“Rian, kamu ada saran bagaimana cara mendekati wanita yang sifatnya dingin? Dia memiliki trauma dengan laki – laki dari masa lalunya.” ucap Rendra dengan senyum tipisnya. Rian melihat senyum tipis tersungging dari bibir bosnya, senyum yang tak pernah ia lihat selama ia bekerja dengan bosnya.
“Bapak menyukainya? Jika bapak menyukainya maka dekati dia dari hati pak. Bapak mengatakan dia trauma dengan laki – laki karena apa pak?” tanya Rian.
“Saya pun tidak tahu Rian, saya hanya tau sedikit tentang dia. Bagaimana cara mendekatinya dengan dari hati?” tanya Rendra lagi.
“Pekerjaannya apa pak? Masalah begini bapak tidak tahu? Banyak jago bisnis tapi urusan wanita bapak tak tahu.” kekeh Rian.