
17+
Sembari mendekat ke arahku dan aku yang tidak bisa mengontrol gelisahku hanya bisa mengcengkram ujung gaun yang panjangnya dibawah lutut dan aku gunakan malam itu. Dari arah belakang ia mengulurkan tangan sambil meletakkan hadiah yang ia berikan tepat disampingku. Tiba - tiba ia mulai mencium tengkuk dan telingaku dengan gerakan sedikit memutar disebelahku dia mulai mencium pipi dan mencium bibirku.
Ya ciuman pertamaku yang ia dapatkan dengan melanggar janji yang sedari awal telah kita sepakati. Aku berusaha mendorongnya agar ciumannya terlepas dari bibirku. Lagi – lagi aku dikejutkan dengan tindakannya yang sudah mengelus punggung belakangku dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menarik tengkukku agar lebih mendekat dengannya dan lebih leluasa ******* bibirku.
Aku yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu hanya bisa pasrah dan menerima. Namun setelah itu aku dibuat tersadar marah dengan tindakan berani yang ia lakukan saat itu. Sekuat tenaga ku dorong tubuhnya ketika aku merasakan tangannya bergerak menjelajahi lebih jauh tubuhku dan seketika ia terhempas beberapa langkah ke belakang. Aku menghampirinya dan menampar pipinya dua kali.
Setelah itu yang ku lihat dimatanya hanya ada tatapan kesal dan kilatan marah karena perbuatanku padanya. Dengan berani aku menanyakan maksud dari perbuatannya padaku. Dan kalian tahu apa jawabannya? Ia mengatakan jika aku wanita yang munafik dan naïf.
“Mengapa kau sangat naïf dan munafik seperti itu? Aku tahu kau juga menginginkannya. Jadi tak usah sok suci di hadapanku. Sudah banyak wanita yang aku tahu sama sepertimu namun tidak munafik dan naïf sepertimu. Awalnya sok suci dan tak ingin disentuh namun setelah ku cium sepertimu mereka malah mendorong tubuh
mereka untukku sentuh lebih jauh. Ayolah kita bahkan sudah berpacaran selama 2 tahun dan kita hanya melakukan itu – itu saja apa tak membuatmu bosan? Mari kita cari suasana baru bersama.” Ucap Marvin yang kembali mencoba mendekat ke arah Shita.
“Aku ingin memberikannya nanti saat kita sudah menikah. Tolong mengerti keinginanku. Jika kakak memang ingin seperti itu jangan denganku. Aku tidak sama dengan wanita yang kamu maksud tadi Marvin. Kamu bahkan sudah berjanji padaku sejak awal kita mulai menjalani hubungan” tegasku dengan tatapan marah.
Jika orang lain lewat didepan pintu apartemen Marvin, maka mereka pasti dengan jelas mendengar isakan yang begitu memilukan dari dalam.
“Keluar kamu Shita, aku tak ingin melihatmu sekarang. Jika kamu tak ingin menuruti semua keinginanku lebih baik kamu pergi. Aku akan mencari cara lain untuk melepaskan keinginanku”
Mendengar itu aku keluar dari apartermen Malvin dan berlari sekencang – kencangnya. Lalu aku memesan ojek online untuk mengantarku pulang. Sembari menunggu tak lama kemudian ku lihat mobil Malvin keluar dari Apartemennya. Teringat dengan segala kalimat yang masih sangat ku ingat bahwa ia akan mencari cara untuk melepaskan keinginannya.
Dengan penuh pertimbangan akhirnya aku memilih untuk mengikuti kemana laju mobil pria yang masih berstatus sebagai kekasihku. Cukup lama aku menunggu diparkiran tempat itu sembari melihat mobil Marvin yang terparkir rapi disana. 30 menit sudah aku menunggunya, mungkin Marvin ingin menenangkan diri dengan mabuk – mabukkan itulah yang terlintas dipikiranku.
Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu, namun saat akan menaiki taxi online yang sudah ada hanya beberapa meter di depanku, aku tercekat dan kulihat Marvin keluar dari tempat yang itu dengan menggandeng seorang perempuan cantik, sangat sexy menurutku dan tengah bercumbu hingga malvin menyandarkan wanita itu disamping mobilnya lalu meremas payudara wanita itu begitu lama.
Terdengar suara yang sangat asing bagiku namun ku tahu apa yang menjadi penyebab suara itu keluar dari bibir wanita itu. Beberapa menit kemudian Marvin dan wanita itu sudah masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. Aku pun mengikutinya lagi setelah ia keluar dari club malam itu.