
“Siapa? Kak Rendra? Dia rindu denganmu Na. Seminggu dia tidak bertemu denganmu. Dia selalu menanyakanmu setiap sarapan. Temui dia jangan sampai dia mengobrak abrik ruangan kakak dan rumah sakit ini hanya untuk bertemu dengan adik satunya ini.” ucap Dharma seraya membuka pintu ruang istirahat dokter. “Ingat untuk mengungkapkan semuanya Na. Kebohongan tidak akan bertahan lama.” Tambahnya.
“Baiklah kakakku yang cerewet.” Teriak Nana pada Dharma yang sudah melangkah keluar dan melambaikan tangannya. “Aku harus jujur dengan Shita.”
Nana pun bergegas pergi ke ruangannya menunggu Shita.
3 jam yang lalu Shita sudah berada di Ugd rumah sakit. Dia sibuk memeriksa pasien yang datang silih berganti seperti salam selamat datang kembali setelah libur panjang yang ia lalui. Baru saja ia sejenak duduk istirahat dan memulihkan tenaganya, sudah ada pasien yang datang dan membuat heboh seluruh UGD rumah sakit JMC. Bukan Karena melihat idol yang datang kesana namun dari obrolan yang Shita dengar dari perawat yang berlalu
lalang dia adalah orang yang sangat tampan melebihi seorang aktor datang membawa seorang pasien.
Shita pun bergegas ke ruang periksa untuk melihat keadaan pasien yang datang menghebohkan UGD. Dia melihat 2 orang pasien tergeletak di ranjang pasien. Seorang laki – laki yang mengalami cidera dan lecet di bagian wajah dan lengan kirinya dan 1 orang lagi hanya memiliki memar di wajahnya.
Laki – laki yang memiliki memar diwajahnya hanya terdiam menyadari kedatangan Shita. Darahnya mendesir, jantungnya berdetak 10 kali lebih cepat bahkan terdengar sampai di rongga telinga, ia terpesona dengan wajah Shita yang sangat cantik dan manis menurutnya, tubuhnya panas dingin kala Shita mendekat dan memberikan kompres dingin di wajah tampannya.
“Pak. Pak apa bapak bisa mendengar suara saya?” Suara Shita bahkan menggema, menggelitik telinganya saat wanita itu mengeluarkan suaranya. Setelah beberapa saat sadar akan keadaannya yang tak baik – baik saja, laki – laki itu berdehem dan menetralkan perasaannya.
“S-saya baik. Saya belum tua dan menikah jadi jangan panggil saya bapak. Panggil saya Rendra” Ucap laki – laki itu yang tak lain adalah Narendra Adiatma Jaya.
“Baiklah pak Rendra. Gunakan ini untuk mengompres memar diwajah bapak. Nanti saya berikan resep untuk mengurangi rasa sakitnya. Saya permisi dulu.” Ucap Shita seraya pergi ke pasien lain meninggalkan Rendra yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
“ Aww Aww Bodoh mengapa aku seperti orang ***** dihadapannya.” Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Shita memeriksa keadaan laki – laki yang datang bersama Rendra yang tak lain adalah asistennya Rian.
Shita yang menyadari jika ia di tatap sdari tadi hanya bisa acuh dan melanjutkan aktifitasnya.
Rendra POV
Flashback on
Pagi ini aku dan Rian pulang dari meetingku diluar kota. Aku berangkat pagi buta untuk menghindari kemacetan. Beruntung ketika aku dan Rian menyelesaikan semuanya dengan cepat dan lancar. Aku memutuskan untuk kembali ke kantor karena pekerjaanku yang masih menumpuk. Dalam perjalanan mobil kami berhenti ditengah jalan yang sepi karena segerombolan preman menghadang. Rian kemudian keluar untuk melawan preman – preman itu namun akhirnya Rian terpojok hingga akhirnya aku keluar untuk membantunya. Hanya beberapa menit para preman itu sudah terkapar ditanah. Aku yang melihat Rian sudah tak sadarkan diri langsung memapahnya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Seperti kejadian yang disengaja aku bertemu dengannya lagi dirumah sakit papahku. Aku sepertinya pernah melihat dia, tapi dimana? Siapa sebenarnya dia? Dia terlihat bersama adikku di Bali. Apa dia teman adikku?. Pertanyaan itu tergiang jelas di otakku ketika ku lihat wanita dengan jas dokter itu membawa apa yang ku butuhkan.
Tiba – tiba darahku mendesir, jantungku berdetak 10 kali lebih cepat, bahkan badanku panas dingin. Ku pikir ini
disebabkan karena memar yang ku dapatkan tadi, tapi ternyata tidak. Sampai suara seorang wanita memekik telingaku hingga aku tercekat dan lidahku kelu untuk menjawab pertanyaannya. Mengapa aku sebodoh ini berada dihadapannya? Ku akui aku terpesona dengan kecantikannya yang sederhana itu. Namun untuk jatuh cinta? Ku rasa aku harus memastikannya sendiri. Aku mengaguminya. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sampai beberapa lama aku memandangnya yang tengah sibuk membalut luka Rian. Detak jantungku juga tak kembali seperti semula. “Ada apa dengan jantungku akhir – akhir ini? Apa aku terkena penyakit jantung?” gumamnya sendiri.