
“Hai perkenalkan aku dokter Nita spesialis penyakit dalam yang baru. Akh ya aku juga teman dokter Shita selama kuliah dulu, yahh aku ingatkan pada kalian semua jangan perkenalkan gebetan kalian pada dokter Shita karena
dulu orang yang aku suka direbut olehnya. Dia memang tidak memiliki hati pada temannya sendiri” ujar Nita pada beberapa orang perawat juga dokter yang tengah bersamanya.
“Apa kau yakin dokter Nita? Dokter Shita sangat baik juga ramah. Bahkan dia juga sudah punya pacar sekarang” ucap salah satu perawat.
“Bagaimana aku tidak yakin jika akulah korbannya. Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana dia merebut orang yang aku suka” katanya lagi yang kini sudah memasang wajah sendu berharap semua yang ada disana terhasut oleh perkataannya.
“Jika memang seperti itu lebih baik kita tidak dekat lagi dengan dokter Shita nanti dia rebut pacar kita lagi”
“Bukankah dokter Shita sudah memiliki kekasih yang tampan? Aku ragu dia seperti itu”
“Iya kekasihnya kan Cuma dia yang kita tahu, bagaimana kalau dia memiliki yang lain dibelakang kekasihnya? Itu contohnya dokter Andi, dia kan suka sama dokter Shita sekarang dia punya pacar masih berani juga kan dia dekat dokter Andi”
“Iya ya, betul apa katamu itu”
Nita hanya tersenyum penuh kemenangan mendengar ocehan dari perawat juga dokter yang telah berhasil ia hasut agar membenci Shita. Andi yang kebetulan ingin memeriksa pasien tak sengaja mendengar ocehan – ocehan mengenai sahabatnya, Shita. Andi yang memang tidak peduli dengan omongan orang hanya bisa menulikan telinganya sepanjang hari.
“pantas saja dia memiliki banyak laki – laki disisinya ternyata pernah jadi pelakor”
“Hus kecilkan suaramu, dia berada didepan”
“Untuk apa aku seperti itu, memang kenyataannya bukan”
Bisikan dan omongan seperti itu yang selalu ia dengar saat pergi ke setiap bangsal dan unit perawatan intensif untuk melihat perkembangan pasiennya. Geram dengan semua itu, Shita yang dipenuhi amarah menutup medical record beberapa pasien yang tengah ia lihat di Nurse Stasion.
Bruukkk
“Sudah puas kalian mengoceh? Ini rumah sakit bukan tempat dan ajang untuk ngerumpi jika ada pasien gawat bisa kalian obati hanya dengan mulut dan ocehan kalian? Jangan pernah membicarakan orang lain jika kalian tidak tahu masa lalunya jangan pernah menilai orang lain jika kalian tidak tahu ceritanya seperti apa” ucapnya lembut namun sangat menusuk telinga siapapun yang mendengarnya. Shita kemudian melenggang pergi hingga membuat ketiga perawat yang ada di belakang meja terkejut, semua ucapan Shita bisa di dengar oleh Dharma yang kebetulan sedang memeriksa pasien disana.
“Tidak salah kakakku memilih seorang wanita, ia begitu tangguh menghadapi masalah yang dibuat oleh dokter baru itu. Semoga Shita bisa menerima masa lalu kakak” ucapnya pelan dengan senyum yang begitu tulus. Hari itu adalah hari yang sangat – sangat melelahkan bagi Shita. Lagi dan lagi Nita membuat ulah hingga membuatnya semakin jengkel selama jam kerjanya.
Ting
“Sayang, aku akan melakukan perjalanan bisnisku malam ini bersama sekretaris dan asistenku. Jaga dirimu baik – baik. Apakah wanita itu masih mengganggumu?”
Shita yang sedari tadi moodnya sangat kacau menjadi makin kacau melihat pesan yang dikirim oleh Rendra yang mengatakan jika laki – laki itu akan meninggalkannya sebentar lagi.
“Aku akan pulang cepat untukmu. Ya aku masih kesal dengan wanita itu seenaknya mencampuri berbagai urusanku. Tapi kau tenang saja, aku masih bisa menahannya.” Ketik Shita yang kemudian mengirimkan balasannya.
“Hah, aku begitu kesal dengan wanita itu. Mengapa dia selalu menggangguku” ucap Shita geram.
Dreett dreett
“Orang halu ini lagi, kenapa sih kedua manusia ini selalu saja menggangguku. Kalau aku jodohkan kayaknya bakalan cocok” gerutunya lagi kala melihat nomor yang tertera pada ponselnya adalah laki – laki yang terus mengganggunya dengan malasnya Shita meletakkan kembali ponselnya di dalam saku jas yang ia kenakan.
“Halo, mengapa kau terus saja menghubungiku?”
“Apa aku salah menghubungi calon istriku sendiri? Tunggulah sebentar lagi, sebuah peristiwa akan terjadi sebentar lagi dan aku yakin kamu akan menghubungiku secara sukarela” ucap seorang laki – laki dari balik telepon.
“Tutup mulutmu ba****an”
Tuuutt
“Hahaha ternyata wanitaku jika marah semakin cantik saja suaranya terdengar di telingaku, kau lebih pantas untukku di bandingkan laki - laki itu Shita” ucap seorang laki – laki yang tak lain adalah Tomy yang sedang duduk dengan senyum yang merekah diwajahnya, sampai saat ini ia tak memberitahu Shita tentang dia yang sebenarnya.
---
“Darimana saja kamu? Kau harus menceritakan padaku bagaimana kau bisa mengenal dokter baru itu. Aku sudah kesal dengannya, gara – gara dia banyak para staf membicarakanmu. Oh ya siapa yang menghubungimu tadi?” kata Nana yang tak sengaja bertemu dengan Shita.
“Sudahlah aku tak ingin membahasnya, bukan siapa – siapa tidak penting”
“Kau ingin menyembunyikan semuanya dariku?” ucap Nana menatap tajam Shita yang berada di hadapannya.
“Baiklah kau akan dapatkan apa maumu” jawab Shita mengalah, ia tak ingin terus di kejar oleh rasa penasaran Nana. “Kita ketemu sama Anna yuk, ngobrol – ngobrol. Aku tadi cari kamu buat kasi tau ini juga, aku udah telepon dia dan janjian ketemu di café deket sini baru buka juga lo, yukk” ajak Nana pada Shita yang tak sengaja Nana bertemu dengan Shita di lobby rumah sakit.
“Kita pergi pake taxi online aja ya, aku lagi gak bawa mobil” ucap Nana yang kemudian Shita menganggukkan saja kepalanya sebagai jawaban pernyataan Nana.
Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna biru berhenti tepat di hadapan keduanya lalu masuk dan menuju tempat dimana sahabatnya sudah menunggu.
Sementara itu disisi lain Andi yang memang sudah tidak tahan dengan kelakuan Nita meminta wanita itu agar menemuinya diruang kerja milik Andi.
“Mengapa kau mengganggu dokter Shita Nita?” kata Andi setelah wanita itu datang dan duduk di seberang meja.
“Kenapa kau harus ikut campur urusanku. Dia sudah merebut orang yang aku suka dulu dan juga sekarang” dengan santainya Nita berucap seolah – olah memang dialah korban selama ini.
“Karena kakakmu menitipkanmu padaku dan aku juga harus bertanggung jawab” tegas Andi. “Apa kamu memang seperti ini, selalu menindas orang lemah? Kau memiliki segalanya, cantik pintar dan berada sedangkan dia bagaimana, mengapa kau selalu saja iri dengan apa yang dia punya” tambah Andi secara perlahan mendorong tubuhnya untuk bersandar di bagian belakang kursi yang tengah ia duduki.
“Apa kau mengerti kenapa aku seperti ini? Dari dulu dia selalu saja lebih di depanku dalam hal apapun. Perhatian kak Jodi, perhatian kak Marvel juga perhatianmu. Kau benar untuk apa aku iri dengan dia, tapi apa kau bisa lihat bagaimana hatiku. Perhatian kak Jodi berkurang padaku karena dia, kak Marvin berubah karena dia dan sekarang kamu bahkan beberapa waktu yang lalu saat kita bertemu aku tak melihat senyum yang kau tunjukkan padanya untukku. Mungkin benar kata orang jika anak yang sudah di telantarkan oleh orang tuanya sejak kecil ia akan bergantung pada orang yang memberi perhatian padanya walaupun hanya sebentar. Aku permisi” terang Nita tanpa ia sadari air matanya menetes setiap ia ingat orang yang begitu ia harapkan menjauh karena apa yang ia lakukan.
‘Aku anak dari orang tua yang berpisah karena keegoisan hati keduanya, apa aku salah egois sedikit saja untuk hatiku dan mempertahankan apa yang aku yakini. Tapi mengapa semua orang rasanya menjauh dariku. Semua ini gara – gara kamu Shita, awas saja kamu’
Nita berlari keluar dari JMC dengan deraian air mata dan masuk ke dalam taxi yang sedang berhenti disana. Andi meresapi apa yang dikatakan oleh Nita menepuk berulang kali dahinya menyesali sikap dan perkataannya pada Nita.
“Apa aku keterlaluan padanya? Tapi aku tidak ingin dia mengusik Shita dan di satu sisi aku tidak mau dia menjadi bahan pembicaraan orang lain. Arrrgghh” Andi mengusap wajah prustasinya.
Sebenarnya ia juga memiliki rasa pada Nita setelah beberapa kali mereka bersama menghabiskan waktu tapi ia menyangkalnya beberapa kali bahkan menyakinkan dirinya jika rasa itu sebatas rasa tanggung jawab yang Jodi berikan padanya mengingat jika laki – laki itu tidak bisa menjaga Nita karena ia kembali ke negara asal ibunya beberapa hari yang lalu.
---
Café Sweet Home.
Tingting
“Anna udah lama nunggu ya? Maaf ni tadi aku cari mood temen kita biar bagus dulu baru ajak kesini, kamu tahu kan dia gimana sekarang udah kayak emak – emak gak dikasi uang seminggu” kata Nana yang sudah duduk di sebelah Anna, Shita memilih duduk di hadapan mereka.
“Ni anak kenapa Na? Mukanya kusut kayak gorengan semalam di anggurin” ejek Anna yang sudah berada disana terlebih dulu dengan pesanan yang ada di mejanya.
“Biasa lah, masalah wanita itu lagi. Satu rumah sakit heboh dengan kedatangannya, aku kira dia baik dan mudah diajak berteman eh ternyata seperti singa berbulu domba mengaku teman di depan tapi ternyata busuk di belakang. Jika kau juga melihatnya kau akan sama seperti apa yang aku rasakan. Ingin ku bejek seperti cucian mulut comberannya itu” geram Nana. Setiap hari ia mendengar apa yang digosipkkan beberapa staf yang bekerja dengannya dan gossip itu mengenai sahabat baiknya.
“Sudahlah, aku tak peduli. Yang penting adalah kalian percaya padaku. Aku hanya merasa hari – hariku akan semakin berat aku jalani mulai besok” ucap Shita yang menegak habis orange juice milik Anna.
“Eh ka***et ni anak jusku di embat juga. Pesan noh sana cepet biar gak emosi aja” ujar Anna sedikit meninggikan nada bicaranya. Ia memang wanita seperti itu\, tidak bisa berucap dengan nada pelan.
“Selow dong Na, ngegas gitu. Gara – gara kamu ditinggal kak Rendra perjalanan dinas?” tebak Nana tepat sasaran.
“Yah kau selalu tahu itu” ucap Shita menghela nafas panjang.
“Maka dari itu habiskan waktumu malam ini bersamanya, ku dengar ia akan berangkat jam 10 malam ini dari papa dan mama. Buatkan makanan kesukaannya gampang kan” ucap Nana memberi ide yang seketika itu wajah Shita nampak bersemangat.
“Kalian memang sahabatku, jika nanti aku kesepian temani aku di apartemen. Aku akan mengikuti saranmu” sahut Shita yang beranjak dari duduknya melangkah ke meja kasir untuk memesan makanan.
“Na, emang apa aja gosipnya di rumah sakit ceritain dong kan aku gak tau” rengek Anna pada sahabatnya yang tengah sibuk dengan ponselnya.
“Sebentar tanya sama orangnya langsung” ucapnya cuek.
Anna yang mendapat jawaban seperti itu hanya mencibikkan bibirnya karena memang begitulah Nana jika ia sudah berada dalam dunianya pasti tidak akan peduli dengan sekitar, jika ada yang jatuh di depannya mungkin ia juga tidak akan peduli.
“Ini minumanmu aku ganti” ucap Shita yang baru saja datang membawa nampan dengan pesanannya.
“Kau memang yang terbaik, wee udah dong main ponselnya. Mau ngumpul apa main ponsel?” ketus Anna.
“Ngumpul ngumpul jangan main hape aja” sahut Shita.
Nana yang mendengar ocehan dari temannya seketika menghentikan aktifitas dan menyimpan kembali ponselnya. Bukannya ia mengacuhkan temannya tapi ia hanya sedang memberi kabar untuk kekasihnya yang
baru saja sampai di Indonesia setelah perjalanan bisnis.