
Perlahan Dharma mendekat dimana tempat adiknya berdiri dan memeluknya dengan erat. Tumpah sudah tangis yang ia tahan sedari tadi.
“Apa kau percaya dengan hasil pemeriksaan itu? Apa kau percaya huh?” ucap Dharma begitu prustasi, ia tidak bisa melakukan apa – apa untuk sang kakak. “Jika aku jadi kamu aku tidak akan percaya begitu saja”
“Tapi kenapa kalian menutupi keadaan kak Rendra dariku? Kenapa? Dan apa maksudnya 50% dan 80% itu?” teriak Nana. Ia memukul –mukul dada Dharma yang masih memeluknya dengan erat. “Hanya kalian yang tahu tapi aku tidak kalian begitu tega padaku"
“Kami hanya tak ingin membuatmu semakin sakit Nana, kami tahu kamu adalah orang yang paling dekat dengan Rendra dan tak ingin melihatnya terluka. Kami juga takut itu akan berimbas pada tubuhmu jadi mengertilah kami tidak ingin kehilangan kedua anak yang berharga bagi kami” ujar Hendra. Laki – laki itu tidak bisa lagi menyembunyikan wajah sedihnya, luruh sudah air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.
“Kakakmu menderita PTSD dan semua itu menyebabkan ia tidak memiliki ketertarikan pada wanita dulu selain Andika sahabatnya yang juga mengalami trauma yang sama dengannya. Hanya saja kondisi Andika lebih parah dari kakakmu. Papa janji, akan lakukan yang terbaik untuk kakakmu sayang tolong berjanjilah juga untuk menjaga kesehatanmu agar asma mu tidak kambuh seperti dulu. Kau tahu bukan jika kakakmu itu kuat dalam segala hal, jadi kamu juga harus seperti itu”
“Kakak juga berjanji akan mencari cara agar kak Rendra bisa sembuh dari PTSD-nya itu Nana. Pegang janji kakak” timpal Dharma.
“PTSD kak? Apa sampai separah itu kondisi kakak?” tanya Nana menatap secara bergantian wajah keempat orang yang ada di hadapannya.
“Iya PTSD, bukankah mama sudah mengatakan padamu dan semua itu akibat kelalaian kakekmu yang tidak bisa menjaganya juga teman kecil Rendra. 3 tahun lamanya seorang anak kecil harus menjalani perawatan agar rasa traumanya itu menghilang tapi etelah beranjak dewasa pun masa kelam itu seperti kembali lagi menghantui kakakmu” jawab Ratna yang kini berdiri mendekat dan memeluk anak perempuan miliknya.
“Ayo kita duduk, kita dengarkan penjelasan dokter Agus lagi. Dia yang menangani masalah kakakmu”
Kini Hendra dan Dharma mengajak Nana juga Ratna untuk duduk bersama mendengarkan penjelasan dokter Agus.
“Maaf tuan, jika tuan ingin kesembuhan tuan Rendra dia harus dirawat mulai sekarang dan tidak beraktifitas yang memicu kerja pikirannya terlalu keras, jangan sampai juga ia merasa kehilangan yang membuatnya benar – benar lupa dengan keadaannya sendiri. Saya juga sudah menghubungi rekan sesama dokter jaringan saya diluar negeri tapi belum ada yang mengirimkan balasan dari hasil pemeriksaan tuan Rendra. Kita hanya bisa menunggu berharap keajaiban akan datang untuk tuan muda lagi” jelas dokter Agus, ia mengusap kedua matanya yang nampak mengeluarkan bulir bening sebelum berhasil jatuh mengenai pipinya.
"Saya juga tidak bisa berbuat apa - apa selain berusaha tuan, tuan Rendra sudah saya rawat sejak dulu dan sudah saya anggap anak saya sendiri. Maafkan saya tuan"
Selain pasiennya itu adalah anak dari direktur tempatnya bekerja, Ia juga sangat menyayangi Rendra karena Rendra lah ia bisa menjadi dokter spesialis jiwa terkenal karena metode penyembuhan yang diterapkan pada Rendra sebelumnya, keluarganya pun ditopang sejak dulu oleh keluarga Rendra. Melihat apa yang kini terjadi pada Rendra, ia pun tak berhenti untuk berusaha dan berharap jika anak kecil ceria yang ia kenal dan rawat sejak dulu kali ini juga bisa sembuh secara total.
“Papa, bukankah kak Rendra malam ini akan berangkat untuk perjalanan bisnis bagaimana ia akan melewati semua itu sementara keadaan kakak seperti ini?” tanya Nana yang baru saja ingat jika Rendra akan pergi selama lebih dari satu minggu.
“Dia perlu melakukan sesuatu agar tidak selalu mengingat traumanya dan mungkin dengan cara ini pikirannya bisa teralih dan tidak melihat bayang – bayang masa lalunya. Itulah mengapa papa membiarkan kakakmu masih bekerja bahkan setelah papa tahu bagaimana keadannya” jawab Hendra.
“Nana, mama mohon sama kamu untuk merahasiakan ini semua dari dokter Shita. Jika ia tahu kondisi Rendra dari orang lain dia pasti akan kecewa. Biarlah kakakmu sendiri yang memberitahu keadaannya pada Shita, itu akan membuatnya jauh lebih merasa dihargai” ucap Ratna kini memeluk tubuh Nana yang sedari tadi diam setelah mendengarkan penjelasan sang dokter.
Semua orang yang ada disana nampak terdiam dengan pikiran masing – masing. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini yang terpenting adalah kesembuhan bagi Rendra.
---
‘Jaga hatimu baik – baik sayang, sampai bertemu 2 minggu lagi disini sayang, aku begitu mencintaimu’
Cup
Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen dimana ada seorang wanita yang begitu cintai tengah terlelap dan sangat nyenyak, entah mengapa rasanya sangat sangat berat bagi dirinya pergi hari itu. Hanya kecupan di kening pagi itu salam untuk perpisahan mereka.
“Aku tak ingin berpisah walau hanya sedetik saja denganmu. Mungkin hanya firasatku saja semua mimpiku semalam, aku tak ingin berdiam saja karena aku pastikan bayang wanita itu akan datang di pikiranku dan aku tak ingin kamu melihat sisi gelapku sekarang. Aku masih butuh waktu untuk mengatakan semuanya, aku tak ingin membuatmu malu jika orang lain mengetahui kamu bertunangan orang dengan gangguan jiwa sepertiku maafkan aku Shita” gumamnya lagi. Ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen menemui Rian juga Desi yang telah menunggunya di bandara.
Beberapa jam kemudian..
“Hooaahheemm mengapa tidurku nyenyak sekali, Rendra udah bangun belum ya, aku lihat deh” ucapnya seraya bangun dari tempat tidurnya.
Tok tok tok
“Sayang, kamu sudah bang-
Suara seraknya seketika tertahan melihat kamar yang ia ketok sedari tadi telah kosong. ‘Ah iya dia kan ada perjalanan bisnis sekarang’
Dengan langkah gontai ia menuju dapur membuat jus jeruk kesukaannya dan duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya. Betapa terkejutnya wanita itu melihat namanya dan Rendra menjadi trending topic di semua sosial media. Shita begitu syok kala ia tahu jika tunangannya itu bukan laki – laki pemilik perusahaan kecil melainkan pemilik perusahaan besar dengan kapasitas dan skala Internasional.
“Sudah hampir setahun aku berhubungan dengannya dan bahkan bertunangan tapi aku tak begitu mengetahui identitasnya seperti apa. Aku kira ia hanya memiliki perusahaan kecil dan juga rumah sakit. Ya Tuhan laki – laki seperti apa yang aku dampingi ini. Dengan gampangnya aku membentaknya tadi malam, bodoh Shita bodohhh” runtuknya dengan tangan yang mengetuk kepalanya berulang kali.
“Bukankah ia mengatakan jika perusahaannya itu besar waktu makan malam bersama keluarganya, apa maksudnya dia mengatakan besar itu sampai punya cabang dimana – mana bahkan di negara besar ini? Oh my, bodoh Shita bodoh” gerutunya lagi. “Seorang dokter kecil sepertiku dengan beraninya bicara kasar dengan CEO perusahaan besar tapi dia dengan mudahnya menangis dihadapanku, heh wanita gila” teriaknya begitu frustasi memaki dirinya yang dengan mudah meneriaki kekasihnya.
Tuutt tuutt
“Halo Nanaaaa ke apartemen Rendra sekarang. Kenapa banyak sekali yang kamu sembunyikan dariku” teriak Shita yang saat ini sedang menghubungi sahabatnya.
“Aku akan kesana nanti sore Shita, aku akan ijin sebentar lagi tak usah teriak – teriak ampun deh ni telinga uratnya hampir putus gara - gara teriakanmu itu Shita” ucap Nana diseberang sana.
“Cepatlahh”
Tuuttt.
Dengan cepat Shita melangkahkan kakinya ke dapur membersihkan tempat minum yang ia gunakan dan merapikan kamar tidurnya serta membersihkan apartemen Rendra.
---
Dreett dreett dreeet
Dreett dreett dreett
Dreett dreet dreet
Sebuah ponsel yang berada diatas meja berdering menandakan ada panggilan masuk dan pesan. Seorang wanita yang masih berbaring ditempat tidurnya menggerakkan tangannya untuk meraih ponsel yang berada di atas nakas.
“Hallo”
“Halo sayang, kamu sedang istirahat?” ucap suara berat di balik telepon yang membuat senyum Shita mengembang penuh dengan mata yang masih terpejam.
“Iya aku istirahat siang sayang, mengapa kau bisa menghubungiku? Apa kau tidak sedang bekerja?” tanya Shita dengan nada perlahan nyaris membuat orang dibalik panggilan tak mendengar suaranya namun bagi Rendra itu adalah tantangan untuknya karena sifat Shita yang sangat jarang ia lihat.
“Apa kamu menyuruhku untuk bekerja seharian penuh? Aku begitu merindukanmu sayang”
“Berhenti untuk mengatakan hal seperti itu, kau sungguh menggelikan. Apakah ini sikap seorang presdir besar huh?” tanya Shita yang perlahan membuka matanya. “Apa memang semua presdir perusahaan besar sama sepertimu, alay begini seperti tidak ingat dengan umurmu saja” tambahnya hingga membuat Rendra terkekeh geli mendengar julukan yang baru saja diberikan untuknya.
“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku dan rasanya menjadi aku Shita, aku tahu kamu belum sepenuhnya mencintai aku dan aku tahu kebohonganku membuatmu sedikit meragukanku, tapi ketahuilah aku sangat mencintaimu dan akan menerima semua kurangmu” ujar Rendra yang terdengar sangat lembut ditelinga Shita hingga membuat wanita itu merona bahkan hanya dengan kata – kata kekasihnya.
“A-apa kau tak lelah seharian ini? Lebih baik sekarang kamu istirahat untuk memulihkan tenagamu, masih ada seminggu lebih untukmu bekerja bukan?”
“Aku akan membuatnya menjadi seminggu bahkan kurang dari itu aku bisa jika kamu menginginkannya. Baiklah aku akan menuruti kata – katamu ratuku, selamat bersenang – senang dengan adikku yang menggemaskan itu ya sayang, jaga dirimu baik – baik juga ingat untuk mengabariku. Aku sangat mencintaimu Shita, sangat” sahut Rendra perlahan membuat Shita menguling – gulingkan badannya diatas ranjang dan menutup panggilannya saat itu juga.
“Laki – laki ini, perfect” gumam Shita meletakkan ponselnya dan tertidur lagi. Tak berapa lama ponselnya kembali
bergetar.
Drrett drrett dreett
drett
“H-hallo kak. Kakak, kakak dimana?” terdengar suara wanita menahan tangis diseberang sana.
“Ah kakak baru bangun tidur, kakak kerja sore Nay. Ada apa?” ucap Shita yang sedari tadi berbaring dan memejamkan mata kini terlihat duduk diatas ranjang mencoba untuk menjelaskan apa yang akan ia lakukan hari ini pada wanita yang sedang menghubunginya yang ia tahu itu adalah saudaranya.
“K-kak, bapak kak, bapak. Bapak mendadak pingsan tadi setelah menerima panggilan dari tante Rani kak. Sekarang Nay sudah ada dirumah sakit S Nusa dua mengantar bapak bersama ibu. Ibu meminta untuk tidak menceritakan pada kakak, tapi aku merasa bersalah jika tak memberitahukannya. Aku minta maaf kak.” Ucap Nayna sesegukan ditengah kebingungan yang ia rasakan.
Tangis wanita itu pecah seketika kala mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya. Dengan cepat ia menutup panggilan itu dan mengemasi barang – barangnya, memesan tiket untuk keberangkatannya menuju bali.
Dreett dreett
“Halo Na, hikss”
“Aku akan kesana sekarang. Kamu kenapa Shita? Kenapa kamu nangis? Apa kau begitu merindukanku sampai menangis?” tanya Nana diseberang telepon.
“Bapakku pingsan dan masuk rumah sakit, nanti aku ceritakan padamu juga jangan beritahukan siapa – siapa mengenai apa yang aku alami aku tak ingin membuat yang lain khawatir, Aku pergi dulu juga mintakan aku izin 1 minggu karena aku akan ke Bali menjenguk bapakku ya Na aku minta tolong padamu.”
“T-tapi-
Tuttt
“Apa kak Rendra tahu tentang bapak Shita? Nanti saja aku beritahu mungkin masih dalam perjalanan. Aku juga harus menjaga perasaan kakak untuk sekarang” gumam wanita itu,
Tak membutuhkan waktu lama Shita keluar dari apartemen dan menaiki sebuah taxi, 30 menit perjalanan yang ditempuh wanita itu sudah berada di bandara dan berjalan cepat masuk pesawat yang membawanya ke Bali. Tangisnya pecah dan tergugu mengingat ia tak bisa mendampingi orang tuanya yang sedang sakit. 2 jam perjalanan kini wanita itu sudah berada di Bali dan segera menuju ke rumah sakit yang diberitahukan oleh adiknya.
Berulang kali ponselnya berdering namun ia tak pedulikan, pikirannya kini dipenuhi kekalutan dengan keadaan orang tuanya. Sesampainya dirumah sakit ia langsung berlari ke ruang ICU untuk menemui adik dan ibunya.
“Nay, ibu. Bagaimana keadaan bapak? Maafkan Shita yang tak pernah berada disamping kalian. Shita hanya sibuk mengejar apa yang menjadi keinginan Shita. Maafkan Shita bu.” Tangisnya begitu memilukan bila orang lain mendengarnya. Ia begitu rapuh, seketika luruh berlutut mencium kedua kaki ibunya.
NB: Akhirnya terungkap juga apa yang dialami Rendra...
Bonus up 1 episode untuk kalian yang sudah selalu setia membaca novelku..
Jangan lupa like, vote dan dukungan lainnya...
See you next episode guys..