
Di dalam mobil Rendra…
“Ini untukmu sayang” ucap Rendra memberikan setangkai bunga mawar merah yang berada di depan kemudinya.
“Sok romantis, tapi aku suka” Shita menerima bunga yang diberikan oleh Rendra dengan perasaan bahagia.
“Aku memang begitu kan dari dulu. Mmm Boleh aku bertanya padamu Shita?” tanya Rendra.
“Boleh, apapun akan aku jawab” ucap Shita tersenyum menatap kekasihnya.
“Mengapa selalu saja kau membuatku khawatir? Meninggalkanku tidur saat panggilan ponsel masih terhubung, kau benar – benar membuatku khawatir setengah mati Shita.” ujar Rendra pada wanita cantik yang sedang duduk disebelahnya. Shita yang mendengar hanya menganggukkan kepala tersenyum dengan manis.
“Membuatmu khawatir?” gumam Shita pelan namun dengan cepat bibirnya melengkung dengan sempurna mengetahui apa maksud kekasihnya. “Baguslah, aku menjadi yang pertama bukan. Toh kamu juga akan terus menghubungiku, harus terbiasa dengan itu bukan” jawab Shita yang tak berhenti tersenyum.
Seketika darah Rendra mendesir saat Shita mengatakan kalimat itu, jantungnya berpacu dengan cepat melihat senyum Shita yang selama ini tak pernah ia lihat. Senyum yang begitu hangat dan menyejukkan hatinya.
“Boleh aku mencium tanganmu, kening dan umm bibirmu?” tanya laki – laki yang berusaha menahan rasa gugupnya setengah mati.
“Mmmmm bagaimana ya?” ucap Shita sedang berpikir dengan memonyongkan bibirnya. Rendra yang melihat ekspresi Shita untuk pertama kalinya seperti itu mendadak menghentikan laju mobilnya.
“Aduhh”
“Maaf Shita, yang mana sakit sayang? Katakan padaku mana yang sakit. Maafkan aku sayang” tanya Rendra yang terlihat guratan kekawatiran diwajah tampannya dan kedua tangan kekarnya merangkup wajah cantik Shita.
“Aku tak apa Rendra. Kenapa kamu berhenti mendadak? Kamu yang kenapa.” Ucap Shita ketus.
“Maaf, aku hanya terkejut melihat senyum dan ekspresimu yang baru pertama kali aku lihat.” Jawab Rendra cengengesan.
“Oh. Aku takkan berekspresi seperti tadi. Besok – besok jangan jemput aku lagi. Aku tak mau keningku yang menjadi sasarannya” Sinis Shita.
“Maaf Shita. Aku takkan seperti itu lagi. Maafkan aku ya sayang. Cupp"
Blusshhh wajah Shita merona kala Rendra mencium kening yang masih berdenyut.
“eee baiklahhh. Cukup s-sekali ini saja.” Tergagap Shita menjawab pertanyaan Rendra.
‘Mengapa kau begitu manis huh?’
Rendra kembali menyalakan mobilnya dengan senyum yang semakin mengembang karena berhasil mencium kening Shita dan melanjutkan perjalanan mereka,
“Sayang, bisa kau ceritakan tentang keluargamu? Aku hanya ingin tahu sedikit tentang mereka darimu” tanya Rendra disela – sela mengemudi.
“Keluargaku orang biasa, bapakku hanya seorang pensiunan PNS disebuah Sd sedangkan ibuku hanya seorang pedagang makanan biasa. Aku memiliki Adik perempuan masih SMA kelas 3.” Ucap Shita.
“Pasti mereka ganteng dan cantik tak heran jika kamu juga cantik seperti ini” ujar Rendra
“Kadang kamu pinter yah, hahahah. Apa kamu yakin ingin bersamaku, apakah keluargamu merestui hubungan kita ini? Kau tahu bukan bagaimana keadaanku” ujar Shita.
“Jangan khawatir, mereka akan menerimamu dengan baik. Ohya orang tuaku mengajakmu makan malam, jika kau ada waktu kabari aku ya?” ucap Rendra tersenyum manis sambil melirik ke arah wanitanya.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Rendra memasuki lobby Rumah sakit.
“Rendra, makasi tumpangannya, hati – hati ya. Cupp ” ucap Shita setelah mencium pipi dan tersenyum pada kekasihnya seraya berbalik masuk ke lobby rumah sakit. Rendra terpaku dengan apa yang dilakukan kekasihnya.
‘Mengapa kau berdebar dengan begitu cepat dan tak terkendali. Jangan sampai kau kenapa – napa jantung. Aku bahkan belum sempat menikah dengannya.’ gumam Rendra cengengesan sembari menepuk – nepuk dada kirinya. Setelah melihat Shita masuk kemudian ia melajukan mobilnya menuju perusahaan.
Shita yang kini memasuki lobby rumah sakit JMC bertemu dengan dokter Andi secara tak sengaja.
“Hai dokter Shita. Selamat pagi.” Sapa Andi.
“Pagi juga dok.”
“Kau baru datang? Dengan siapa?” tanya Andi.
“Ah aku berangkat dengan temanku, aku permisi dulu dokter Andi. Ada pasien yang harus aku periksa.” Ucap Shita sembari melangkahkan kakinya menjauh dari dokter Andi berdiri.
“Hanya temankah? Sampai ia menjemputmu ke tempat tinggalmu? Berarti aku boleh mendekatimu kan. Aku begitu menyukaimu Shita, aroma tubuhmu seperti candu bagiku. Kamu takkan bisa kemana – mana Shita.” gumam Andi dalam hati dengan senyum manisnya.
---
“Mana informasi yang aku minta? Bagus kirimkan ke emailku. Dipercepat” ucap wanita itu dengan senyum menyeringai.
“Halo, kau bisa membantuku? Menyingkirkan wanita ah bukan menghancurkan hidupnya. Ayo kita bertemu nanti. Aku akan membayarmu dengan harga sepantasnya”
Sementara itu….
Niko kini sudah berada didepan rumah kekasihnya, ya rumah besar bergaya eropa klasik adalah rumah kediaman keluarga Jaya. Niko ingin mengajak Nana melanjutkan liburan mereka yang hanya mereka lakukan 1 hari di Bogor.
Tok tok tok
“Selamat pagi bi, saya bisa bertemu dengan Nana?” tanya Niko pada Mirna, kepala ART.
“Siapa bi?” Ratna yang mendengar ketukan pintu menyusul Mirna. “Eh Niko, ayo masuk. Kita sarapan bersama dulu, Nana masih di kamarnya.”
“Ee i-iya tante. Permisi”
Niko mengikuti langkah Ratna menuju ruang makan yang masih menyisakan Hendra, ayah Nana.
“Pagi Niko, silakan duduk. Kamu sudah sarapan?” tanya Hendra sambil menyesap kopinya.
“Sudah om. Om tidak bekerja?” tanya Niko yang kini duduk di samping Ratna.
“Sebentar lagi om berangkat.”
“Om, tante saya mau mengajak Nana liburan ke Lombok. Bolehkan tante om?” tanya Niko yang menatap secara bergantian ayah dan ibu Nana.
“Boleh sayang. Tapi ingat jangan sampai terjadi hal yang tidak – tidak ya Niko.” Ucap Ratna memperingati.
“Baik tante, terima-
“Kak Niko” teriak Nana yang baru muncul diatas tangga.
Nana berlarian menuruni anak tangga menuju arah meja makan.
“Kak Niko sudah dari tadi?” tanyanya ketika sudah berada di samping meja makan.
“Nana jaga sikapmu dong sayang. Masak begitu dihadapan calon suamimu. Ya kan Niko?”
Pipi Niko dan Nana tampak merona mendengar kalimat Ratna.
“Ee-ee Mama apaan sih. Masih jauh ya kan kak” tanya Nana yang kini duduk didepan Niko meneguk susu putih dalam gelas.
“Kalau di izinkan saya juga ingin secepatnya tante, om.”
Craaaattt
“uhuk uhuk”
Nana reflek menyemburkan susu yang ia minum tadi tepat diwajah Niko. Dengan cepat Nana menghampiri dan mengusap sisa susu di wajah kekasihnya dengan tisu basah.
“Nana, kamu tak sopan sekali” ucap Hendra mengulum bibirnya ke dalam.
“Kak Niko nih pah, bikin jantungan. Secepatnya apa maksud kak Niko?” tanya Nana yang memasang wajah menahan tawa.
“Ya apa lagi kalo bukan menikah, betul Niko?” ucap Ratna menggoda Nana.
“Betul tante, seperti itulah” singkat Niko masih terus menggoda Nana sesekali mengelap wajahnya dengan tisu basah.
“What the- kak Niko kan janjinya Kak Rendra dulu yang nikah. Gak ada yang melangkahi kedua kakakku. Jadi berangkat apa tidak sih?” gerutu Nana pada Niko.
Ketiganya tertawa menatap Nana yang salah tingkah karena perkataan mereka.
“Sudah sana siap – siap Na, Niko udah nungguin dari tadi lo.” Ucap Ratna yang sudah menghentikan tawanya.
Secepat kilat Nana berlarian menaiki tangga. Tak lama kemudian wanita cantik itu datang membawa tas perlengkapannya.
“Ayo kak Niko, aku sudah siap. Pah mah aku berangkat dulu ya. Nanti Nana yang kasi kabar ke kakak” ucap Nana pada kedua orang tuanya.
“Tante om Niko berangkat sekarang ya.”
“Hati – hati nak” teriak Ratna saat keduanya melangkah menjauhi meja makan.
Kini Niko mengajak Nana berlibur untuk menikmati pemandangan alam di Pulau Lombok selama 2 hari untuk sekedar melepas rindu mereka yang tak sempat mereka lepaskan begitu lama. Selesai sarapan dan berpamitan pada kedua orang tua Nana, mereka melanjutkan perjalanannya menuju bandara.
“Sayang, kamu sudah tak ingin beli keperluan yang kamu butuhkan? Kita akan mampir sebentar jika kamu ada yang mau dibeli.” Tanya Niko dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari wajah tampannya.
“Aku hanya membutuhkan Sunblock saja kak, nanti kan pasti panasnya menyengat disana, jadi biar kulit gak terbakar juga. Oh ya kita jadi menginap di Gili Trawangan?” tanya Nana dengan senyum manisnya.
“Baiklah nanti aku yang akan membelikan keperluanmu. Iya sayang, kita menginap disana.” Niko berucap dengan senyum yang begitu manis dan mengecup punggung tangan kekasih hatinya.
30 menit perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai di Bandara dari rumah Nana. Niko menyerahkan Kunci mobilnya pada bodyguard yang sedari tadi mengikuti mobil mereka dari arah belakang.
2,5 jam perjalanan dari Jakarta ke Lombok menggunakan pesawat, tak menyurutkan kebahagiaan yang terpancar pada kedua wajah pasangan itu. Tertawa lepas bersama, saling menatap penuh cinta dan tetap menautkan kedua jemarinya mereka berjalan beriringan keluar dari bandara. Mereka menaiki sebuah mobil yang sudah Niko sewa dari Bandara menuju ke daerah kawasan pariwisata Senggigi.
“Sengigi aku datang.” Teriak Nana yang kini berdiri dari tempat duduknya.
Mereka menikmati pemandangan pantai dan pegunungan yang ada disana. Niko menepati janjinya pada Nana yang akan mengajak wanita itu bersama ke pantai indah dan Niko akhirnya memilih pantai Senggigi yang berada dilombok.
“Sayang kemarilah, jangan lari – lari, tak Ada aku yang menjagamu jika kamu jauh dari aku. Namun yang pasti aku takkan membiarkanmu terjatuh atau tersesat dan jika kita terjatuh haruslah bersama, bukan aku ataupun kamu. Tapi kita.” Nana yang mendengar ucapan Niko seketika merona kala Niko mengucapkan kalimat itu padanya.
Niko berlarian ke arah Nana, melihat wajah Nana yang kini mereka saling berhadapan namun kepala Niko sedikit menunduk karena tinggi Nana sampai hidung Niko. Laki – laki itu membisikkan sesuatu ditelinga Nana hingga terasa hembusan nafas hangat Niko menggelitik telinga Nana.
“Bibirmu begitu menggoda, aku ingin menciummu, bolehkah?” Setelah mengucapkan kata – kata dan tanpa menunggu persetujuan kekasihnya, kini Niko mengecup lembut bibir milik Nana yang sedikit tebal dibawahnya. Nana merasakan kehangatan bibir Niko yang kini mengecup bibirnya. Tak cukup mengecup kini Niko ******* dengan lembut bibir milik kekasihnya, yang tercipta disana hanyalah untaian rasa kasih sayang dan cinta yang melekat dihati keduanya.
Cukup lama mereka saling mengecup, kini mereka menautkan kening mereka kemudian tersenyum mengenang apa yang terjadi tadi dan menetralkan perasaan yang menggebu – gebu dihatinya.
“Aku mencintaimu Nana.”
“Aku lebih mencintaimu kak, apa kau tak lapar kak? Aku sedikit lapar” ucap Nana menahan malu.
“Ayo kita cari tempat makan sayang.”
Kini mereka menuju ke restoran untuk makan siang dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju gili terawangan tempat mereka akan menginap.