
“Nay, siapa barusan nak?” tanya Widya yang kini masuk ke dalam kamar Nayna memastikan siapa yang datang barusan.
“Teman jauh kak Shita katanya bu, orangnya masih ada di depan sudah aku suruh tunggu” jawab santai Nayna.
“Kamu ini ada tamu bukannya diajak masuk malah disuruh menunggu diluar” sahut Widya yang kemudian beranjak pergi menemui seseorang yang masih berada di depan pintu.
“Nay, mana kak Rendra?” tanya Shita setelah keluar dari kamar mandi dengan tangan yang masih berusaha mengeringkan rambut.
“Kak Rendra?” sahut Nayna meletakkan telunjuknya di dagu seperti orang yang sedang berpikir. “Aku tak mengatakan jika kak Rendra yang datang, tapi seseorang yang katanya teman jauhmu dan dia memberikan ini padamu” ucap Nayna kemudian menyodorkan kotak sedang yang tadi ia terima.
“Nayna mana teman kakakmu? Mengapa ia tak ada diluar?” tanya Widya yang baru saja datang dari arah pintu.
“Hah beneran gak ada bu? Soalnya tadi Nay suruh dia nunggu di depan. Coba buka kotaknya kak siapa tau ada petunjuk atau pesan mungkin” ujar Nayna.
Shita hanya diam dan tak menanggapi apa yang di katakan oleh adiknya.
“Biarkan saja, sepertinya kakak tahu siapa orangnya. Ita mau siap – siap dulu ya bu, Rendra ngajak Ita keluar tadi” ucap Shita meyakinkan yang dibalas anggukan oleh ibunya. Tak ingin membuat kedua wanita dihadapannya khawatir dengan seseorang yang tak dikenalnya.
Dibukanya perlahan kotak yang sedari tadi berada ditangannya yang ternyata isinya adalah gelang berlian bermata batu sapire. Dilihatnya lekat gelang itu yang ternyata ada sebuah note di bawahnya.
“Selamat ulang tahun.
Mr.x”
“Mr.X? Apa dia laki - laki itu tapi mengapa dia pergi jika memang dia mengenalku. tau ah gelap” ucap Shita menggidikkan kedua bahunya.
“Aduh, gawat waktuku habis” Shita berhamburan melihat sisa waktunya yang hanya tinggal 15 menit. Shita kesana kemari mencoba beberapa baju yang sudah disediakan oleh Rendra sebelumnya, memilih salah satu baju dan berdandan secepat yang ia bisa. “7 menit lagi, aduhhh”
Tingtong
Shita begitu terkejut dengan bunyi bel kamar yang dibunyikan, dengan cepat ia menyelesaikan dandannya dan keluar dari walk in closet.
“Malam tante, Om dimana?” sapa Rendra ramah setelah dibukakan pintu oleh seseorang yang ternyata adalah Widya.
“Ya nak Rendra, om berada di balkon nak. Kamu tunggu sebentar ya Shita memang lama kalau sedang berdandan tapi keluar – keluar ternyata gak berdandan” ujar Widya menertawakan kelakuan anaknya.
“Ibu, mengapa ibu mengatakan itu sih. Ita kan tak pernah suka pakai make up tebal” sahut Shita yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Bukannya itu memang benar sayang? Bukankah nak Rendra akan menerima anak ibu bagaimana pun rupanya nanti?” ejek Widya pada Shita ketika melihat Rendra tak berhenti menatap anaknya.
“Ah eh engga, ah iya iya” sahut Rendra salah tingkah ketahuan menatap Shita. “Ah ya tante aku mau ajak Shita keluar dulu ya tante, boleh?” tanya Rendra terlihat gugup.
“Boleh Rendra, asal kamu bisa menjaga anak ibu baik – baik ya. Ibu dan bapak percayakan anak kesayangan ibu pada kamu, jangan di apa – apain dulu ya kan belum nikah” goda Widya seraya pergi meninggalkan kedua manusia yang masih mencerna kalimat Widya.
Keduanya merona secara bersamaan setelah berhasil mengartikan maksud wanita yang pergi meninggalkan mereka.
“Ki-kita jadi pergi? Mengapa wajahmu begitu merah?” ucap Shita gugup namun juga menahan tawa melihat rona wajah Rendra.
“Iya, ayo” ajak Rendra masih dengan wajah malunya menggandeng tangan Shita keluar dari kamar dan menuju tempat yang telah di persiapkan untuk kekasihnya.
Beberapa puluh menit kemudian….
“Mengapa kita kemari Rendra?” tanya Shita setelah mereka sampai ditujuan.
Clap clap
Seketika suasana perbukitan itu berubah menjadi terang dengan lampu berkelap kelip dan banyak lampion yang diterbangkan dari sudut kanan dan kiri menambah indahnya suasana saat itu. Langkah Rendra dan Shita terhenti di depan sebuah meja dengan dua buah kursi berhadapan.
Rendra menarik kursi untuk Shita dan setelah itu Rendra duduk berhadapan dengan kekasihnya.
“Mengapa kau mengajakku ke sini?” tanya Shita setelah melihat kekasihnya tak berhenti menatap ke arahnya.
“Kau suka?” tanya Rendra yang tak pernah melepaskan pandangan mata dari Shita.
“Aku sangat suka, ini dimana sayang? Nampak begitu lama untuk kita sampa disini dari jalan besar, kita juga melewati gerbang yang begitu besar tadi” tanya Shita yang melihat sekeliling nampak asing baginya.
“Ini hanya sebuah taman di dekat perbukitan sayang” ujar Rendra dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
‘Begitu sulitkah menjawab pertanyaanku satu saja. Sudah tunangan begini masih saja merahasiakan sesuatu dariku, huh’ ucap Shita dalam hati. Tak berapa lama dua orang pelayan datang masing – masing membawa sebuah troli dan menyajikan makanan yang mereka bawa.
“Makanlah sayang” ucap Rendra membuka seluruh tutup pada makanan yang tersaji di atas meja. Seafood dan makanan khas dari Bali lainnya yang disukai oleh Shita.
“Kau memang yang terbaik sayang, aku memang membutuhkan ini sejak tadi pagi seperti beberapa tahun lalu, terima kasih” manja Shita yang mengambil beberapa makanan yang ada di depannya kemudian mulai memakan semuanya itu dengan tangan. Seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya.
“Makan pelan – pelan sayang, blepotan kemana – mana semua makananmu” omel Rendra mengusap sisa makanan di bibir Shita setelah wanita itu menyelesaikan makannya.
Tuiiinggg duuaarrr
Tuiinggg duuaarr
Seketika Shita terkejut menatap ke arah langit begitu mendengar suara kembang api. Begitu indah, seperti mimpi bisa bersama dengan seorang yang kita cintai di hari spesial menikmati makan malam romantis dan melihat kembang api berdua.
Ting
“Ada seorang laki – laki yang tadi berada di depan kamar keluarga nona Shita dan menyerahkan sebuah kotak pada adik nona Shita ” begitulah pesan yang diterima oleh Rendra. Kemudian mengembalikannya lagi ke sakunya.
“Ini semua untukmu sayang, dan ini juga untukmu” ucap Rendra menekuk lututnya dan membuka sebuah kotak yang didalamnya ada sebuah kalung berbentuk hati berhiaskan batu permata dan berlian kecil yang mengelilinginya.
Berkali – kali ia di kejutkan dengan semua hal yang terjadi hari ini. Shita berhambur ke pelukan Rendra hingga membuat mereka terjatuh dan berguling diatas tanah.
“Hikss terima kasih untuk semuanya sayang, memiliki sahabat dan kamu saat ini disampingku adalah anugrah terindah untukku” ucap Shita terbata di sela tangisnya dalam pelukan Rendra.
“Aku yang memilikimu juga adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki di hidupku, aku pakaikan ini ya. Jangan pernah kamu lepaskan ini sampai kapan pun dan dimana pun sayang. Nah cantik sekali kamu” ucap Rendra kemudian berdiri dan memakaikan pemberiannya itu sembari mengecup lama kening kekasihnya.
“Terima kasih banyak sayang” ungkap Shita yang masih sesegukan.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca karya pertama saya.
Maaf jika ceritanya terlalu bertele - tele,
Saya hanya ingin alurnya tidak ada yang terlewat sedikitpun..
Mohon terus dukungannya karena mulai hari ini saya akan usahakan bisa up setiap hari satu episode..