Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 63



“Ah, a-aku tidak, aku hanya ingin membantumu sayang.” Ucap Shita tergagap ketika langkahnya terhenti dan tubuhnya menempel pada dinding. Rendra mengkukung Shita kemudian perlahan mendekatkan wajahnya.


“Tapi aku tak ingin membuatmu lelah lagi sayang. Apa kau mengerti ucapanku? Apa kau memang sengaja ingin menggodaku lagi dengan memasang ekspresi itu?” tanya Rendra dengan wajah yang begitu dekat wajah Shita.


“Kau selalu saja menggodaku, pasti kau selalu berhasil menggoda Tara dulu bukan.” jawab Shita dengan berani.


“Jangan menyebut namanya sayang, kamu juga yang pertama dalam hal ini. Aku begitu sibuk dulu hingga jarang ada waktu untuknya, tapi kini kau adalah prioritasku. Jika aku tak menggodamu maka kau harus meragukan bagaimana perasaanku padamu” ucap Rendra dengan wajah yang semakin dekat hingga hembusan nafasnya bisa di rasakan oleh Shita.


Shita menutup mata rapat saat wajah Rendra begitu dekat dengan wajahnya membuat laki – laki itu mengulum senyum melihat tingkah kekasihnya. ‘Apa dia sedang memikirkan hal lain padahal niatku tidak seperti itu’ gumam Rendra menahan tawa dan kini mengambil kunci mobil yang menggantung tepat diatas Shita. Laki – laki itu bermaksud menggoda tanpa melakukan tindakan apapun pada kekasihnya.


“Nah sudah dapat. Mari kita pulang sayang.” Ajak Rendra pada Shita yang masih menutup matanya dan menautkan tangan kekar laki – laki itu pada tangan Shita hingga membuat wanita yang sedari tadi diam menutup mata kelabakan dengan apa yang ia alami saat ini.


“Bisakah kamu menungguku membuka mata terlebih dahulu sebelum menyeretku tuan?” ketus Shita dengan langkah tergesa – gesa mengikuti langkah kaki Rendra.


"Aku yang harusnya bertanya padamu, mengapa kamu menutup matamu tadi?" tanya Rendra seakan tidak tahu apa sebab kekasihnya menutup mata.


"Kau, Ckkk"


‘Tapi mengapa aku menutup mataku tadi, bodoh sekali sihh’ gumam Shita.


Ucapan Shita membuat langkah Rendra berhenti mendadak hingga kepala Shita tanpa sadar menabrak punggung kekasihnya.


“Aduhh, mengapa kau jadi mengesalkan begi-


Cup


“Berhentilah mengomel sayang atau kau lebih ingin aku menciumi seluruh wajah serta bibirmu hingga tak membiarkan kau pulang? Bagaimana?” ucap Rendra berhenti di depan pintu keluar dan dengan berani mengutarakan isi hatinya.


“Ti-tidak ahh i-iyaaa., tidakk. Ayo kita pulang sekarang Rendra.” Sahut Shita dengan cepat kemudian membuka pintu berlarian ke arah lift.


‘Menggemaskan’ lirih Rendra yang kini sudah berlari mengejar Shita menuju lift.


Sesampainya dilobby Rendra menggandeng tangan Shita dan itu terlihat oleh semua orang yang berada di lobby. Sang manajer yang mengetahui kehadiran pemilik gedung serta pemilik apartemen khusus berlarian menyapa Rendra.


“Malam pak. Maaf saya tidak melihat kehadiran bapak tadi. Tolong maafkan saya” ucap sang manajer.


‘Mengapa laki – laki ini begitu di hormati siapa dia sebenarnya sampai laki – laki berjas ini member hormat dan minta maaf padanya. Apakah dia pemilik saham apartemen ini?’ gumam Shita mentelaah apa yang dilihat dihadapan matanya.


Seakan mengetahui apa yang ada di benak wanitanya, Rendra mengatakan hal yang membuat Shita terkejut.


“Kau akan mengetahuinya nanti, kita pulang sekarang. Dan kamu kembali ke tempat kerjamu, urus semuanya dengan baik” ucap Rendra mengedarkan pandangan mata dan kembali menggandeng tangan Shita keluar dari lobby apartemen menuju mobil yang telah terparkir di depan lobby.


“Jangan kaget setelah mengetahui seluk beluk tentangku ke depannya, jangan terlalu dipikirkan. Hanya jalani semuanya dengan keyakinanmu dan percaya denganku” tegas Rendra yang kini melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Shita.


30 menit kemudian mereka sudah sampai di depan tempat tinggal Shita.


“Shita jika kamu mau kamu boleh tinggal diapartemenku daripada kau tinggal di apartemen Anna. Jaraknya juga cukup dekat ke JMC, juga aku jarang ke sana karena aku tinggal di rumah bersama keluargaku itupun kalau kamu mau Shita, aku takkan memaksa. Jika besok setelah kamu menyelesaikan tugas dan begitu lelah pulanglah kesana. Passwordnya tanggal lahirmu Shita.” Ucap Rendra kemudian mengecup kening Shita begitu mesra dan menatap kedua manik mata Shita.


“Secara tidak langsung kamu memintaku untuk datang kesana? Baiklah aku akan datang nanti ya sayang. Aku juga begitu mencintaimu” teriak Rendra lantang saat Shita sudah berjalan menjauh dari mobilnya berharap wanita itu mendengar apa yang dikatakannya.


Setelah melihat wanitanya masuk ke dalam rumah, Rendra tersenyum penuh arti dan melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Jaya.


---


Disisi lain seorang laki – laki tengah meminum wine yang berada diruang kerjanya. Seorang laki – laki masuk ke dalam ruang kerja laki – laki yang tengah berdiam diri merenungi kata – kata wanita yang ia suka tadi siang.


“Kamu bisa mabuk begini juga, gara – gara wanita?” tanya laki – laki yang bernama Jodi.


“Kau selalu tahu aku. Aku sudah menyukainya begitu lama, tapi dia menolak cintaku dan hanya menganggapku sahabatnya. Aku begitu marah melihat dia bersama laki – laki lain dan pernyataannya tadi siang membuatku sadar aku takkan bisa masuk dalam hubungan mereka berdua.” Jelas Andi panjang lebar.


Jodi dan Andi adalah sahabat sejak mereka melanjutkan spesialis kedokterannya. Mereka bertemu di salah satu universitas ternama di Australia, karena berasal dari negara yang sama akhirnya mereka memutuskan menjadi teman dan sahabat sampai sekarang.


“Siapa wanita yang berani menolak pesonamu saat semua wanita mengantri untuk mendapatkanmu.” Tanya Jodi yang meneguk wine nya bersama Andi.


“Dia seorang ahli bedah hebat di tempatku bekerja. Namanya Akshita. Wanita cantik dan manis dengan tatapan hangat dan teduh.” Jelas Andi yang kembali meneguk wine yang berada ditangannya.


Jodi mengkerutkan dahinya saat mendengar nama wanita yang disebut Andi. Jodi membuka sosial media dan mencari foto seorang wanita yang memiliki nama sama dengan sahabatnya ketika menempuh pendidikan kedokteran awal.


“Apa ini wanita yang kamu maksud? Akshita Lyla Gayatri dari Bali?” tanya Jodi yang menyerahkan ponsel yang terdapat foto wanita yang dimaksud.


“Mengapa kamu bisa mengenalnya?” tanya Andi setelah melihat begitu lekat foto yang berada diponsel Jodi lalu meletakkannya diatas meja.


“Dia teman kuliahku sekaligus sahabatku dulu sebelum aku melanjutkan sepsialis ku di Australia. Hatinya begitu lembut, dia wanita yang baik, hangat, pintar dan ceria tapi aku malah mengenalkannya pada laki – laki brengsek. Itu saja yang aku tahu karena dia dulu menjalin hubungan dengan teman dari temanku.” Jelas Jodi yang mengingat bagaimana temannya itu menceritakan bagaimana kandasnya hubungan Shita dan Marvin.


“Apa mungkin karena itu Shita berubah menjadi wanita yang cuek dan dingin? Bodoh sekali laki – laki yang menyianyiakan perempuan hebat seperti itu.” sesal Andi setelah mendengarkan kisah percintaan Shita.


“Mungkin, aku juga tidak tahu. Yang ku tahu dia hidup sendiri disini, dengan bantuan beasiswa yang ia dapatkan sejak awal mulai perkuliahan. Bahkan ia tidak punya teman selain aku dan perempuan bernama Nana. Aku berteman dengan Shita sebelumnya, entah darimana Shita bisa mengenal Nana, walaupun aku tidak pernah melihat dan bertatapan langsung pada Nana. Tapi aku yakin dia baik mendengar dari cerita Shita padaku sebelum lost contact dengannya.” Jelas Jodi mengenang perjalanan kuliahnya dengan Shita.


Andi mengernyitkan dahinya, “Mengapa kau tak menghubunginya sekarang bukankah kau bilang kau sahabatnya?” selidik Andi dengan tatapan tajamnya.


“Aku hanya malu secara tidak langsung aku mengenalkan Shita pada laki – laki brengsek itu. Biarkan aku yang mengurusnya. Kau tak perlu ikut campur dalam persahabatanku dengannya. Jadi bagaimana dia bisa menolak seorang Andi?” Ucap Jodi yang memukul lengan Andi.


“Kau tahu Jaya Corps? Anak pemilik JMC tempatku bekerja yang menjadi kekasihnya sekarang, walaupun aku sanggup melawannya secara materi, tapi tidak dengan perasaannya pada laki – laki itu. Aku memutuskan untuk mundur secara perlahan, secara tidak langsung Shita mengatakan jika menjadi seseorang yang penting tidaklah harus dengan status pacaran. Dan itu membuatku menyadari jika perasaan tak bisa dipaksakan.” lantang Andi menjelaskan apa yang ia alami. Jodi yang mendengar hanya bisa manggut – manggut.


“Dia memang wanita sederhana namun berkelas dimataku, tak mudah untuk menaklukan hatinya. Itu yang membuatku senang menjadi sahabatnya, dia yang selalu tetap pendirian tak mau berbagi masalah yang sedang ia hadapi” tutur Jodi mengenang sosok sahabat baiknya itu.


“Apa mungkin kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?” ucap Andi tanpa melihat ke arah sahabatnya.


“Tidak, jika aku lakukan itu maka aku akan kehilangan seseorang yang begitu berharga. Dia pernah mengatakan padaku jika putus sebagai pacar maka seorang itu tidak akan bisa ia terima lagi menjadi sahabat maupun temannya. Kau orang pintar, jadi pahami apa yang barusan aku katakan” ucap Jodi yang meletakkan begitu saja gelas wine yang isinya telah tandas.


Mereka pun hanyut dalam pikiran masing – masing tanpa mengatakan sepatah katapun.