
Rendra kini melajukan perjalanannya menuju tempat berkumpul sahabatnya yang berada didaerah Jakarta Selatan.
“Sayang, bagaimana jika akhir minggu ini kita makan malam bersama keluargaku? Jadwalmu luang?” tanya Rendra melirik Shita yang berada disampingnya.
“Kenapa begitu mendadak?” tanya balik Shita menatap lekat laki – lakinya.
“Aku hanya ingin kamu lebih cepat mengenal orang tuaku, bukankah aku mengatakan jika aku ingin cepat memilikimu?” goda Rendra.
Pipi Shita bersemu kala Rendra mengatakan demikian dan hal itu terlihat oleh Rendra.
“K-kau benar – benar serius? Tapi kenapa?” Shita berusaha menyembunyikan wajahnya dengan merangkupkan kedua tangan diwajahnya.
“Jika aku tak serius, mengapa aku mengatakan semua itu? Cobalah percaya pada hatimu, maka kamu akan tahu seperti apa jawabannya” ucap Rendra mencoba meyakinkan wanitanya.
“Baiklah, akan aku luangkan waktuku akhir minggu ini” ujar Shita tersenyum dengan manisnya. Ia mencoba meyakinkan hatinya untuk menerima ajakan makan malam bersama, wanita itu juga memutuskan untuk percaya pada kekasihnya. Rendra yang melihat jawaban Shita merasa sangat bahagia.
“Terimakasih sayang, pakailah anting yang aku berikan tadi. Kamu akan terlihat sangat cantik menggunakannya” ujar Rendra yang kini mulai mengelus rambut panjang Shita.
20 menit kemudian..
Rendra dan Shita masuk ke restoran, melihat ke segala penjuru namun tak menemukan keberadaan mereka. Rendra pun berinisiatif mengajak Shita duduk dipojok kanan yang menghadap ke jalan raya. Tak lama kemudian ketiga sahabatnya datang dan berkumpul disana.
“Udah lama Ndra? Sorry gue lama, macet Jakarta lu tahu kan. Silakan duduk Sayang” ucap Riko pada Anna kekasihnya.
“Terima kasih honey” ucap Anna duduk di salah satu kursi yang di tarik oleh Riko.
“Gak apa, gue tahu. Tumben lu ngajakin kumpul Riko, kenapa?” tanya Rendra pada Riko yang kini sudah duduk disebelah kekasihnya.
“Sabar dong.. ni buat kalian. Eiit bentar dulu kalian kenapa duduknya rapat gitu? Ada apa ni?” goda Riko pada Rendra yang duduk sangat berdekatan dengan Shita hingga kedua lengan mereka saling berbenturan. Merasa menjadi bahan pembicaraan para lelaki itu Shita yang sedari tadi diam kini menundukkan kepalanya.
“Kak Rendra, Shitaaa” teriak Nana yang baru saja bergabung dengan Niko.
“Iya adekku cantik bisakan gak jangan teriak – teriak, nguing – nguing ni telinga kakak. Lu juga ko, Kepo banget sih lu. Gak liat ni yang lain juga mepet duduknya.” ketus Rendra sembari menunjuk tempat duduk Nana dan Niko.
“Eh gue gak perhatiin yang lain kecuali lu. Hahahha. Oh ya nih gue mau kasi undangan ke kalian. Pada dateng ya semua.” Riko menyerahkan satu persatu undangan pada sahabatnya. Terlihat senyum dan rona bahagia terpancar dari wajah Riko dan Anna yang sejak tadi berada disebelah Riko.
“Et dah lu, kirain apa. Ya kita pasti dateng lah. Acara dimana rencananya ko?” tanya Niko yang mengambil undangan yang diberikan oleh Riko, sembari memberikan undangan itu pada Nana.
“Rencananya sih di Bali. Karena tempat tinggal orang tuanya Anna sekarang di Bali. Gue udah bilang ortu dan mereka juga setuju aja. Nikahnya lagi tiga minggu ini lah” Ucap Riko sembari mengelus punggung tangan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
“Sayang aku punya permintaan boleh? Mmmm aku mau Shita dan Nana jadi Bridesmaid aku saat acara nanti. Kalian mau kan?” tanya Anna pada Riko menunjuk kedua wanita yang berada disebelah pasangan mereka dengan dagunya.
“Bagaimana ladies?” tanya Riko pada kedua wanita yang berada di depannya.
”Baiklah Anna, dengan senang hati.” Jawab Nana yang diangguki cepat oleh Shita.
“Yeeeaayy, terimakasih yaa cantik – cantikku. Untuk gaunnya nanti akan aku berikan ketika sudah di Bali. H-2 hari sebelum acaraku digelar kalian harus sudah di sana.” ucap Anna lagi yang diangguki oleh kedua wanita itu.
“Semua sudah clear kan sayang. Nah sekarang lu mau kasi tau apa ke kita?” tanya Riko pada Rendra.
“Ehhemm pertama – tama gue mau ngucapin makasih pada kalian semua yang udah men-
“Woy kelamaan lu, mau ngasi pengumuman emangnya lu?” cegat Wisnu yang melihat perbuatan Rendra yang hanya dibalas cengiran oleh Rendra.
“Ehmm sebenarnya gue dengan wanita cantik disebelah gue ini udah deket lebih dari teman alias pacaran ya itu gue dan dia emang sepakat mau pacaran sih sekarang tapi gue rencananya mau ngajak dia langsung nikah setelah minta restu ke orang tuanya di Bali, sekalian ngajakin lu semua pada jalan – jalan. Eh taunya acara Riko nanti di Bali ya udah pass itu aja temenin gue ke rumahnya dia. Gimana?” tanya Rendra pada sahabatnya. Shita yang melihat Rendra menaik turunkan alisnya dengan cepat segera memalingkan wajahnya menahan malu.
“Kak Rendra udah ngomong sama mamah Papah? Gak ajak mereka juga?” tanya Nana sambil memasukkan potongan pizza yang dipesannya sejak tadi.
“Nanti kakak beritahu adek, masa acara sakral begini gak kasi tau mamah papah. Yang ada kepala kakak dipenggal sama mereka. Lagian kan mereka udah ngebet pengen cucu, jadi kakak pengen cepet tunangan sama Shita. Kakak juga sangat serius sama Shita.” tegas Rendra kemudian tersenyum simpul pada Shita.
Dreett dreett
Getar ponsel memecahkan keributan yang ada dimeja itu.
“Halo pa” jawab Rendra yang ternyata itu panggilan dari ayahnya.
“Sudah pa, dia disini bersama dengan aku dan teman – teman. Sudah ya pa”
“Baiklah, hati – hati ya nak, salam untuk teman – temanmu”
Tuttt
“Sorry tadi papa yang telepon” ujar Rendra mengembalikan ponsel disaku celananya.
“Gini gimana kalo setelah acara nikah gue aja? Nanti gue bantuin acara persiapannya deh.” cetus Riko.
“Ide bagus, sekali dayung 2 pulau terlampaui. Bener kan Wisnu? Wisnu? Woy diem ajja dari tadi kenapa lu? Ada masalah diperusahaan atau ada masalah lain? Lu biasanya juga cerewet napa jadi gini setelah berapa hari gak ketemu kita.” tanya Niko kemudian menyenggol pundak sahabatnya yang sedari tadi diam tak membuka suara.
“Gak ada apa. Gue baik kok. Cuma lagi gak mood ajja hari ini. sedikit mumet otak gue.” Sangkal Wisnu.
“Ya udah kalo lu ada masalah cerita ke kita, kayak lu sama siapa ajja sih. Kita ni kan udah temenan dari dulu Wisnu.” Tegas Riko menoyor kepala Wisnu.
“Eh dah gue tau gila lu semua. Gue gk ada masalah apa juga apanya yang gue harus ceritain? Kalo ada masalah nanti gue cerita, puas kalian?” teriak Wisnu pada ketiga sahabatnya.
“Eh ya gue hampir lupa, Wisnu bantuin gue, Shita dari kemarin ada yang ngirimin pesan dari nomor gak dikenal. Sayang coba kasi tau Wisnu berapa nomor ponselnya. Dia bisa lacak nomor telepon.” ucap Rendra pada Shita yang kini mengelus rambut panjang Shita.
“Ciiee sayang” teriak Nana
“Adduu sayang – sayangan lagi” ejek Riko.
Semua orang berteriak dan saling menggoda saat mendengar panggilan Rendra pada Shita. Seketika candaan mereka membuat riuh suasana pojok restoran yang sempat hening. Shita yang kini hanya bisa tersenyum menahan malu dan pipi bersemu merah tak lepas dari pandangan Rendra yang membuat laki – laki itu semakin gemas dengan wanitanya.
Perasaan hangat dan kebersamaan yang sudah lama tak dirasakan oleh Shita, ia dapatkan kembali ditengah – tengah kekasih dan sahabatnya. Ia teringat dan rindu dengan keluarganya, karena kesibukan Shita yang membuat ia jarang untuk bisa berkomunikasi dengan orang tuanya.
“Udah lu semua ketawanya, gak jadi – jadi tu P.A.C.A.R gue ngasi nomor ponselnya.” ucap Rendra dengan penuh penegasan.
“Ciie yang punya pacar, lu gak kesiksa Wis liat yang begini – begini?” goda Riko pada Wisnu menatap wajah Rendra menahan malu.
“Berisik lu.” Ketus Wisnu.
Suasana mulai mereda, Shita pun memberikan nomor yang selalu mengirimkan pesan dengan intens pada Wisnu.
“Oke gue udah catat nomor yang ngirim pesan itu, gue kasi informasi orang itu secepatnya. Gak ada yang aneh dari pesan yang dikirim ke kamu Shita?” tanya Wisnu.
“Gak kak, biasanya setiap pagi, saat makan siang dan makan malam ia mengirim pesan. Nah diluar itu terkadang dia juga mengirim pesan bisa sampai 3 kali tapi tidak sebanyak saat waktu yang aku katakan tadi, dia sempat kirim bunga ke aku di Rumah sakit.” ucap Shita yang kini menunjukkan beberapa pesan yang ia terima.
“Mengirim bunga? Kok kamu gak cerita ke aku sih Shita?” tanya Rendra dengan nada agak tinggi menyela perbincangan wanitanya dengan Wisnu.
“Bukankah sudah aku katakan jika pesan itu dikirim 3 bulan yang lalu sebelum aku menjadi pacarmu sayang dan juga bunga itu. Jangan cemburu gitu dong” sahut Shita dengan lembut dan merangkup wajah Rendra.
Rendra yang diperlakukan seperti itu kemudian tersenyum begitu manisnya.
“Sini aku periksa ponselmu. Tumben lu begini Ndra. Hahaha dari analisis aku sih, kayaknya yang ngirim pesan ini tahu semua tentang kamu deh. Bahkan dia nanyain kamu udah nerima paket yang dia kirim ke kamu dan mengirim bunga ke tempat kerjamu, jadi kemungkinan besar yang ngirim pesan ke kamu itu ya orang yang pasti kamu kenal dan dia juga kenal kamu.” tebak Niko sembari menyerahkan kembali ponsel Shita.
“Gue setuju nih sama Niko, coba inget – inget dulu siapa aja yang tahu tempat kerjamu” timpal Riko.
“Ya udah sih, lu cari aja dulu. Nanti lu simpulin, kasi gue dan Shita. Oke kan. Ohya gue mau cerita, tadi pagi gue didatengin Tara ke kantor. Dia minta balikan sama gue, dia juga tahu gue deket sama siapa, sempet ngancem bakalan ganggu Shita juga. Niko Riko gue mau minta tolong dong selidikin latar belakang perusahaan ayahnya. Gue percaya kalian lebih cepet dapet apa yang gak bisa didapetin sama sekretaris gue.” ucap Rendra.
“Hah? Tara yang dipesta itu?” tanya Nana Serius yang segera dijawab cepat dengan anggukan oleh Rendra.
“Brengsek, Tara itu yang merebut kekasih Shita dulu, maksudku man-
“Marvin maksudmu sayang?” tanya Niko pada kekasihnya. Bukannya menjawab Nana hanya terdiam mendengar pertanyaan kekasihnya.
“Kakakmu sudah tahu semuanya, jauh sebelum Rendra mengenal Shita. Bisa jadi yang mengirimi Shita semua pesan itu adalah laki – laki itu. Ada yang sependapat denganku?” tanya Wisnu pada semua sahabatnya.
“Tidak mungkin Marvin kak, aku tahu dia seperti apa. Dia tidak akan mengambil apa yang sudah ia buang, terlebih lagi seorang wanita seperti aku.” jawab Shita dengan tatapan marah. Nana dan Anna melihat ekspresi Shita mengelus pundak dan tangan wanita yang ada didepan mereka sembari menguatkan hatinya agar tidak mengingat apa yang telah lalu dan meninggalkan trauma dalam untuk wanita itu.