Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 91



"Manis sekali sapaanmu sayang. Aku tahu kamu masih ada di Bali bukan? Apa kekasihmu itu juga ada disana? Berani - beraninya dia mengobrol dengan calon mertuaku. Ckckck. Hanya aku yang pantas menjadi menantu ayahmu sayang" ucap sombong laki - laki itu.


"Jadi kau memataiku dan melihat semuanya? Baguslah jika memang seperti itu. Dengar ya laki - laki halu, aku sama sekali tidak mengenalmu jadi jangan sok akrab padaku. Siapa yang akan jadi menantu ayahku itu hanya aku yang berhak menentukan" ucap Shita yang melihat ke arah Rendra tampak menggelengkan kepalanya. "Satu hal lagi, dia adalah milikku jika kau berani menyentuhnya aku takkan tinggal diam"


Tuutt


Dengan kesal Shita membanting ponselnya ke arah Rendra dengan cepat ditangkap oleh laki - laki itu.


"Kau begitu manis jika sedang seperti ini" ucap Rendra dengan bibir melengkung sempurna yang kini memegang pinggang Shita menenangkan emosi wanita itu.


"Ayo kita keluar, aku tahu pikiranmu sedang kacau bukan. Hal terbaik akan membantumu melupakan sejenak masalahmu" tambahnya sambil mencuri cium di pipi kanannya.


"Kau akan memenuhi semuanya? Asiiiikk tunggu sebentar aku akan bersiap" sahut Shita senang dan mendorong Rendra agar keluar dari kamarnya memberi waktu untuk wanita itu mempersiapkan diri.


Beberapa saat kemudian..


“Pak, bu Ita pergi dulu ya sama Rendra” pamit Shita kemudian mengecup kedua punggung tangan orang tuanya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya yang masih berada di ruang tamu bersama Rendra.


“Pergilah, tadi nak Rendra juga sudah memberitahukannya. Kalian hati – hati ya” ucap Widya yang mengantar mereka keluar dan ke dalam mobil.


Rendra melajukan dengan kencang mobilnya ke arah pecatu dan uluwatu namun dalam perjalanan ia menepikan mobilnya dan masuk ke salah satu toko bunga.


“Kenapa berhenti disini?” tanya Shita penasaran.


“Kamu tunggu sebentar, ada yang ingin aku beli” sahut Rendra yang keluar dari mobil.


Tak berapa lama Rendra datang dengan sebuket bunga ditangannya. Shita mengernyitkan dahinya saat Rendra menyerahkan buket bunga itu.


“Kamu gak salah beli bunga kan, kamu gak lagi sakit juga kan?” tanya Shita heran.


“Tidak, semua itu adalah perasaanku padamu. Kesetiaan dan cinta yang abadi” sahut Rendra yang kini melajukan mobilnya kembali menuju tujuan awal mereka.


Betapa senangnya Shita ketika melihat pemandangan pantai juga laut kesukaannya. Hamparan laut dan samudra yang bisa ia lihat dari atas tebing tinggi yang tersedia disana seperti kata Rendra bahwa wanita itu akan begitu menyukainya.


“Kau memang paling mengerti” ucap Shita memeluk Rendra yang sudah berada di belakangnya memeluk erat pinggang wanita itu dan menggenggam bunga ditangannya.


“Kita akan berada disini sampai kita melihat sunset dari atas sini dan sampai kau bosan” ucap Rendra lirih ditelinga Shita sontak membuat bibir indahnya melengkung dengan sempurna dan dibalas anggukan oleh Shita.


‘Jika aku bisa bertemu Tuhanku, aku akan bersujud berulang kali di kaki-Nya dan berterima kasih karena telah mempertemukan aku dengan malaikat yang menjelma sebagai laki – laki hangat dan menenangkan sepertimu’


Tak henti – hentinya wanita itu bersyukur dengan apa yang ia dapatkan saat ini, satu kebahagiaan yang selama ini ia impikan ternyata ada di diri laki – laki yang dulu selalu ia acuhkan.


Beberapa jam kemudian senja yang mereka nantikan mulai menampakkan keindahannya.


“Sayang, mendekatlah sunsetnya sudah terlihat” tunjuk Rendra yang hanya diangguki oleh Shita dan tersenyum dengan hangatnya ke arah kekasihnya itu. Shita yang berada disamping Rendra mengernyitkan dahinya nampak heran dengan apa yang dilakukan kekasihnya, ‘dia sengaja membeli bunga lalu memetik semua kelopaknya bersamaan, apa maksud laki – laki ini’ Shita yang tak mengerti langsung menanyakan semua itu pada Rendra yang kini sudah selesai memetik semua kelopak bunga dan menerbangkannya dengan bebas.


“Sayang, untuk apa kau membeli bunga itu lalu memetik kelopak bunganya dan kini kau terbangkan begitu saja, apa maksudnya?” tanya Shita yang makin penasaran dengan tindakan Rendra.


“Dulu aku ingin melakukan semua ini saat aku mulai berpacaran denganmu tapi karena persiapanku kurang jadi aku urungkan niatku saat itu.”


“Lalu” ucap Shita yang semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Rendra.


Rendra berjalan menghampiri Shita, menyentuh dagu dan mengusap pipi kananya sembari berkata “Ya sekarang aku akan merealisasikannya. Hanya ada aku, kamu dan senja serta angin yang bertiup kencang. Aku ingin senja menjadi saksi dari cintaku, aku pernah mengatakan padamu jika aku sangat menyukai senja bukan, lalu angin aku ingin ia membawa seluruh kelopak bunga yang aku tebarkan hari ini ke seluruh dunia dan mengatakan jika cintaku abadi hanya untukmu dan kesetiaanku hanya padamu. Jadi nikmatilah saat dimana kau merasakan hembusan itu, ingat ada cintaku yang selalu untukmu dan menemanimu sekalipun aku jauh darimu nantinya” tutur Rendra yang kini merentangkan kedua tangannya menghadap sunset dan menikmati hembusan angin.


‘Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana pun keadaanku nantinya, bagaimana keadaanmu nanti aku adalah orang pertama yang mencintaimu karena kamu sudah memiliki tempat tersendiri dihatiku dan tak akan tergantikan bahkan jika nanti aku sudah tak berada disisimu atau mengenalimu lagi Shita. Aku hanya ingin melewati hari – hariku bersamamu dan menyimpannya dalam hati di sisi tempatmu berada, maaf jika aku egois sayang aku hanya tak ingin membebanimu dan aku begitu takut kamu akan meninggalkanku’ ucap Rendra lirih dengan tangis yang ia tahan sedari tadi.


Shita tercengang dengan penjelasan Rendra, lagi – lagi ia menangis dalam pelukan Rendra. Tangisan yang tak dapat ia tahan karena rasa bahagianya.


“Terima kasih karena kamu begitu mencintaiku, mencintai aku apa adanya dari hatimu.” terang Shita menangis sesegukan dipelukan Rendra.


“Jangan menangis, aku hanya ingin kamu tahu dan tersenyum karena aku dan cintaku sayang jangan pernah menangis lagi. Ayo kita turun sekarang sunsetnya begitu indah jika kau juga lihat dari bawah” sahut Rendra mengulas senyum indah di bibirnya mengusap air mata Shita.


Rendra menggandeng tangan kekasihnya turun melewati beberapa anak tangga sebelum menapakkan kakinya di atas pasir putih.


“Kau kesana lah cepat” suruh Rendra saat mereka sudah berada dibawah sana. Wanita itu tampak bingung namun masih menuruti apa kata kekasihnya. Rendra meraih ponselnya dan mengabadikan moment kekasihnya di pantai indah itu.


Puas dengan hasil gambarnya, Rendra mengajak Shita berjalan – jalan diatas pasir, menggoda kekasihnya, berlarian kesana kemari hingga membuat semua yang ada disana memandang ke arah mereka.


“Sayang, apa kau ingin kita mengulang saat – saat kamu menerimaku dulu?” kata Rendra dengan senyuman yang sangat jelas terpancar begitu banyak cinta untuk Shita.


“Tidakk, aku ingin kesana ayo ikut aku” ajak Shita pada Rendra yang sedari tadi ia masih menggenggam tangan kekasihnya dan menyeret ke tepian pantai.


Piiiaakk


“Rendra, kejar aku lagi” teriak Shita setelah ia berhasil menyiram Rendra dengan air laut dalam tangannya. Merasa tertantang dengan apa yang dikatakan Shita, Rendra mulai mengejar Shita kesana kemari walau kepalanya sedikit sakit ia rasakan. Namun langkah wanita itu 3x lebih kecil dari langkah kekasihnya hingga dengan mudahnya laki – laki itu bisa menggapai tubuh Shita.


Sedetik kemudian Shita sangat terkejut ketika ia tahu tubuhnya melayang karena ulah Rendra yang mengangkat tubuhnya saat laki – laki itu berhasil menangkapnya ketika sedang berlari dan menjauh dari kekasihnya itu.


“Aaaaa turunkan aku Rendra” teriak Shita begitu kencang.


“Kau adalah cintaku dan juga jiwaku, hidupku menjadi lengkap karena cintamu. Jangan ragu untuk mengekspresikan dirimu dan juga cintamu padaku” ucap Rendra tengadah menatap kekasihnya yang lebih tinggi darinya. Shita merentangkan kedua tangannya menikmati semilir angin dan senja merasakan hembusan angin seperti yang dikatakan oleh Rendra.


Jam begitu cepat bergerak hingga kini hanya ada mereka berdua yang di dalam mobil dan masih terparkir rapi di atas tebing. Rendra perlahan melajukan mobil mengantar Shita pulang agar wanita itu bisa beristirahat karena besok mereka harus kembali ke Jakarta untuk melakukan aktifitasnya.


“Sayang, tidur yang nyaman dan nyenyak ya. Aku akan menjemputmu besok saat kita akan kembali” kata Rendra setelah mobilnya berhenti di depan rumah Shita.


“Kamu juga ya, terima kasih untuk hari ini aku sangat bahagia” jawab Shita kemudian mengecup pipi kiri Rendra tanpa permisi dan hal itu menjadi kebiasaan baru Shita.


“Kamu memang sangat mengerti, keluarlah jangan lupa sampaikan salamku pada ibu dan bapak juga Nayna” ucap Rendra kemudian melambaikan tangan juga melajukan mobilnya pulang ke rumah keluarganya.


Tak berapa lama mobil mewah itu memasuki sebuah rumah yang besar dan asri, rumah keluarga Jaya. Perlahan Rendra memasuki pintu utama rumahnya dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.


‘Apa aku tidak terlalu cepat mengutarakan maksudku pada orang tua Shita, tapi orang tuanya juga menerima apa itu berarti aku bisa memberitahukan itu pada keluargaku? Ah tidak jangan sekarang kondisiku masih seperti ini aku harus memastikan dulu kondisiku setelah itu aku akan memberitahu keluargaku’ gumamnya yang tanpa sadar kini duduk di ruang keluarga tanpa melihat jika ada Ratna dan Hendra disana.


“Kamu darimana saja Rendra?” kata Ratna membuyarkan isi pikirannya sedari tadi.


“Akh mama ngangetin aja, biasalah ma Rendra tadi jalan – jalan sama Shita” jawabnya santai, entah mengapa sekilas bayang masa lalunya datang lagi, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya mencoba menepis bayang itu di pikirannya.


“Papa, mama bisakah kalian menjelaskan padaku bagaimana kondisiku sekarang? Setelah semua yang aku lalui aku hanya ingin tahu kondisiku tanpa harus kalian sembunyikan lagi” tanya Rendra dengan kepalanya yang sudah menunduk berusaha dengan keras menahan air matanya agar tidak tumpah.


Ratna yang tidak ingin menjelaskan apapun memilih untuk diam dan tak menghiraukan perkataan Rendra, begitupun dengan Hendra.


“Baik, jika memang papa mama tidak mau mengatakannya biar Rendra sendiri yang mencari tahu semuanya” ucap Rendra yang kemudian melenggang pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Tangis Ratna pecah ketika Rendra sudah tak terlihat lagi.


“Apa selamanya ia akan seperti itu pa, mama takut sekali. Kasian anak kita pa, apa kita beritahu saja sebenarnya bagaimana” ujar Ratna yang kini berada dipelukan Hendra yang mencoba untuk menenangkannya.


“Kita akan mengetahuinya nanti secara pasti dari dokter Agus. Kita istirahat dulu ya ma, tenangkan pikiran kita. Kita juga sudah memberitahu Dharma bukan, yang terpenting kedua anak kita tidak apa – apa ma, besok kita semua akan kembali ke Jakarta jadi mama harus bersiap dengan segala sesuatu yang bisa saja terjadi” kata Hendra yang mulai membimbing tubuh Ratna untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya.


‘Apa yang harus aku lakukan Tuhan, mengapa semakin tinggi harkat keluargaku semakin besar juga badai yang menerpa keluargaku. Beri aku petunjukmu’ kenang Hendra yang kini termenung sendiri setelah berhasil membujuk istrinya beristirahat terlebih dahulu.