
“Shita dimana kamu?” gumam Rendra yang telah sampai dilobby apartemen dan membuat heboh tempat itu dengan kehadirannya disana. Ia menengok kesana kemari tak menemukan juga wanita yang ia cari. Rendra berkeliling apartemen mencari keberadaan kekasihnya namun tak kunjung ia temukan.
Ia merogoh kantong celananya namun tak menemukan sesuatu yang laki – laki itu cari, ia begitu frustasi dan gusar
hingga mengacak – acak rambut hitamnya. Pandangannya mulai samar dan sakit kepalanya yang menderanya tidak bisa lagi ia tahan “si***n\, dimana kamu sayang? Jangan membuatku khawatir. Jika perlahan – lahan aku tidak bisa melihat lagi siapa yang akan menjagamu jika kamu jauh dari hadapanku. Kembalilah ” ucap laki – laki itu tanpa sadar matanya berkaca – kaca tak melihat bayangan dari sosok yang begitu ia cintai.
“Ternyata memang Rendra benar – benar mencintai wanita itu, aku harap kamu bisa sembuh dan bahagia Rendra meskipun aku tak bisa memiliki kamu tapi setidaknya aku akan berusaha melupakanmu” gumam Rika melihat dari jauh keberadaan Rendra yang nampak frustasi.
“Rika, kamu liatin siapa?” tanya seorang wanita yang sudah berada di samping Rika. Wanita itu melihat ke tempat dimana Rika menatap sedari tadi tanpa menghiraukan keberadaannya.
‘Laki – laki itu bukankah dia pacarnya Shita? Mengapa penampilannya kusut begitu, tapi wajahnya tetap tampan’
Rika yang mulai menyadari keberadaan sahabatnya yang juga menatap ke arah yang sama sepertinya mulai mengatakan apa yang terjadi.
“Dia Narendra Adiatma Jaya. Laki – laki yang aku sukai sejak dulu tapi dia tidak pernah melihat keberadaanku dan hanya menganggapku sebagai saudaranya, bahkan aku berbohong padanya jika aku memiliki kekasih agar dia mau bertemu denganku juga dekat denganku. Tapi aku tak menyangka jika sudah ada wanita lain yang begitu ia cintai seperti itu, orang yang sedang jatuh cinta terlihat menyeramkan dan dia melakukan semua yang tak pernah ia lakukan untuk wanita lain.”
“Aku hanya ingin dia bahagia kali ini dan aku tidak boleh egois sendiri” jelas Rika kemudian membalikkan tubuhnya menjauhi tempat dimana ia melihat Rendra sejak tadi. Melihat sahabatnya pergi wanita itu mengikuti kemana arah Rika melangkah tanpa ia menoleh sedikitpun.
“Kau tahu, kekasih wanita itu adalah orang yang sangat aku benci. Dia sudah merebut orang yang aku cinta dulu”
“Merebut?” Rika menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap wanita yang berdiri di belakangnya yang tidak lain adalah Nita. “Bukankah kau mengatakan jika kamu mencintainya diam – diam tanpa mau memberitahukan pada laki – laki itu?”
Nita terdiam, seharian ini banyak hal yang membuatnya begitu sadar dengan apa yang ia alami dan rasakan dulu. Ia memang tidak benar – benar mengungkapkan perasaan yang ia miliki untuk seseorang yang ia cintai. Melihat diamnya Nita membuat Rika mengerti apa yang di alami oleh sahabatnya itu.
“Nita, dengarkan aku bukan wanita itu yang merebutnya tapi kamu yang tidak bisa mempertahankan perasaanmu dan mengatakannya. Saat kamu mulai nyaman dengan seseorang kamu menggantungkan perasaanmu padanya tanpa kamu mengatakan apa yang kamu rasakan jadi orang itu tidak pernah tahu bagaimana hatimu. Dan saat dia mulai nyaman dengan orang lain kamu menganggap jika orang yang datang dalam hidupnya sebagai orang ketiga dalam hubungan tanpa statusmu. Ada banyak hal yang harus kamu pelajari Nita, tidak banyak dari mereka yang tidak tahu apa kesalahan yang mereka perbuat malah kamu benci dan jauhi dia”
Lagi lagi Nita terdiam, apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Ia tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.
“Jalani kehidupanmu yang sekarang, jangan hanya melihat ke masa lalu karena kamu hidup bukan untuk masa lalu melainkan masa depan. Dan aku tahu apa yang ingin kamu lakukan pada orang yang ingin kamu benci, jangan pernah melakukan hal yang akan kamu sesali nanti Nita. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu juga untukku, relakan yang memang tidak untukmu karena aku pun akan begitu. Ayo kita kembali ke apartemenmu” ucap Rika kemudian menggandeng lengan Nita yang masih saja terdiam meresapi apa yang dikatakan sahabatnya itu.
"Apa aku salah bertindak seperti itu? Apa Rendra marah sikapku tadi seperti itu di depan saudaranya? Ah mana ada wanita yang mau pacarnya di tempeli wanita seperti itu" ucapnya lirih. Sudah 1 jam Shita berada di taman di ujung jalan kompleks apartemen terdiam memikirkan apa yang sedari tadi ia lakukan hingga ia mulai merogoh kantong celananya berharap menemukan apa yang ia cari.
"Hp dompet ketinggalan lagi mau tinggal dimana coba sekarang, kalau aku kembali ke apartemen nanti di kira aku wanita plinplan lagi. Kan mereka yang salah kenapa jadi aku yang malu jika aku kembali. Kembali saja deh bodo amat mah anggapan wanita itu"
Dengan malas Shita menyeret kakinya kembali ke apartemen Rendra. Butuh waktu yang cukup agar ia sampai di apartemen.
---
Sudah 2 jam ia menunggu di lobby nampaknya wanita itu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Dengan langkah gontai laki – laki itu beranjak dari duduknya namun tak menyurutkan perhatian orang – orang yang berada disana. Laki – laki itu begitu mempesona walaupun penampilannya sangat sangar dan berantakan.
Akhirnya Shita sampai di lobby apartemen, ia terkejut melihat ada banyak orang melingkari sesuatu yang ada di lobby sana juga tidak ia lihat secara langsung. Shita yang tak mau memikirkan apa yang sedang terjadi kembali melangkahkan kakinya.
Sreett srett sreett
Tak begitu jauh Rendra berjalan ia mendengar suara derap langkah kaki yang begitu ia kenal, dengan cepat ia menoleh ke belakang sedetik kemudian ia berlari dengan kencang membelah kerumunan orang yang kini ia sadari sedang melingkari tempatnya berada. Langkahnya semakin dekat dan memastikan langkah yang ia dengar milik kekasihnya, ia memeluk wanita yang tengah menundukkan kepala berjalan masuk ke arah lobby apartemen.
Rendra menangkap tubuh wanitanya dan ******* bibirnya dengan kasar dan dalam\, wanita itu yang kaget hanya bisa diam menerima perlakuan dari laki – laki yang masih saja me***at bibirnya dengan rakus.
Adegan itu menjadi pusat perhatian semua orang yang dengan setianya melihat apa yang tengah dilakukan sejak tadi oleh orang nomor satu di Indonesia itu. Mereka mengabadikan moment yang mereka lihat dan membagikan semuanya di sosial media tanpa harus Rendra sembunyikan semuanya lagi karena ia ingin kekasihnya itu tahu siapa dia sebenarnya.
“Jangan pergi lagi seperti itu, aku takkan sanggup lagi Shita. Maafkan atas perilaku dan perbuatanku padamu, tapi sungguh aku tak sedikitpun memiliki perasaan padanya. Dia hanya seorang yang sudah aku anggap sebagai adik tak lebih dari itu” ucapan Rendra terdengar begitu pilu dan sesegukan dengan air mata yang menetes di pipinya.
Hati Shita bergetar melihat Rendra menangis di hadapannya, semua itu tak luput dari pandangan orang – orang yang tengah mengabadikan moment mereka.
“Beruntungnya wanita yang menjadi kekasihnya pak Rendra, dicintai sampai seperti itu”
“Lihat pak Rendra sampai menangis bukan, lihatlah” ucap wanita yang terdengar begitu kencang hingga menyadarkan Shita dari posisinya dan Rendra yang sekarang menjadi pusat perhatian.
Shita memeluk tubuh Rendra dan mengajaknya keluar dari kerumunan menuju lift yang membawa mereka ke dalam apartemen Rendra.
“Memang apa kesalahanmu?” tanya Shita namun itu terdengar seperti ejekan untuk Rendra “Apa yang perempuan itu lakukan pada kekasihku?” gumam wanita itu namun sepertinya tak terdengar oleh Rendra.
“Iya, aku mengakui kesalahanku. Aku tidak akan mau ditempeli lagi oleh wanita itu, maafkan aku” ucap Rendra memelas.
“Oh itu, karena aku tak ingin berdebat denganmu maka lupakan yang terjadi tadi, aku juga tak ingin kamu memikirkan semua ini. Tadinya aku ingin pergi tapi aku ingat aku tidak membawa apa – apa aku hanya tak ingin tidur dijalan. Oh astaga sudah jam 10 ini Rendra, kamu berangkat jam berapa?” tanya Shita lembut.
“Bisa – bisanya kamu ingin pergi dari sisiku, itu tidak boleh dan tidak pernah aku biarkan. Seharusnya aku berangkat sedari tadi, tapi aku benar – benar tak ingin pergi jika kamu seperti tadi. Aku juga melihat Rian tadi datang tapi aku tak menghiraukannya” ucap Rendra yang kini mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Shita banyaknya panggilan tak terjawab dari asisten Rendra.
“Aku akan berangkat besok pagi – pagi sekali mungkin sebelum kamu bangun, kamu tak apa?” tambahnya.
“Maaf, aku sudah marah – marah seperti itu padamu. Aku hanya tak ing-
“Sssstt jangan di bahas lagi, apa yang kamu katakan memang benar sayang hanya aku yang begitu bodoh sampai mengerti perasaanmu karena aku hanya mencintai satu wanita sangat dalam kali ini, sekali lagi maafkan aku” ucap Rendra yang kini ******* kembali bibir Shita dengan penuh cinta.
“Aku tidur sekarang ya? Aku sedikit lelah hari ini” ucap Shita membelai lembut pipi Rendra. “Selamat tidur ya sayang, kamu juga harus beristirahat” ucap Shita setelah Rendra mengantarkannya.
“Mengapa ada banyak halangan saat aku ingin mengatakan semuanya? Lebih baik aku tidur saja” ucapnya lirih. Namun ia melupakan sesuatu yang sangat penting dan sebenarnya ingin ia berikan pada Shita.
---
Beberapa jam yang lalu di kediaman keluarga Jaya,
“Selamat malam dokter Agus, selamat datang di rumah saya silakan masuk” ucap seorang wanita yang tak lain adalah Ratna.
“Terima kasih nyonya” ucap dokter Agus lalu melangkahkan kakinya ke ruang keluarga yang kehadirannya sudah ditunggu oleh Hendra juga Dharma.
“Jadi, bisa kau ceritakan padaku ada apa sebenarnya? Aku tahu anakku datang menemuimu beberapa hari yang lalu” kata Hendra yang memang sudah tidak sabar mendengar kondisi anaknya.
“Maaf pak, tuan muda menyuruh saya agar merahasiakan hasil tesnya”
Hendra dan Ratna menghela nafas panjang mendengar kata dokter Agus. Hendra memijat pelan puncak hidungnya meredakan rasa penasaran yang menyelinap dalam hatinya.
“Apa kau akan menutupinya dariku yang juga merawatnya dulu? Apa dia akan selamanya seperti itu atau dia akan kehilangan ingatannya seperti dugaanku?” tanya Hendra pada Agus. Ekspresi terkejut di wajah Agus tidak mampu ia tutupi.
“Atau mungkin sistem saraf otaknya akan melemah jika ia tak bisa menahannya dan berakibat fatal pada matanya, apakah itu hasil pemeiksaannya? Jawablah dengan jujur aku ingin kamu terbuka sebagai sesama dokter terhadap hasil pemeriksaan pasien yang kita rawat dulu” tegas Hendra. Ia tak tahu lagi harus berkata apa selain mengutarakan beberapa analisanya setelah melihat keadaan Rendra.
Agus menghela nafas panjang ia begitu dilemma dengan apa yang terjadi padanya saat ini. “Apa yang tuan katakan benar, hasil pemeriksaan tuan Rendra jika pemicu dan pendorongnya begitu kuat saya tidak bisa jamin jika kita bisa menyembuhkannya lagi selama 1 tahun dan itupun jika ia rutin dirawat juga dalam pengawasan” akhirnya dokter Agus mengatakan semua hal yang memang sudah ditunggu oleh ketiga orang yang berada di hadapannya.
“Kemungkinan untuk sembuh 50% jauh lebih rendah dari yang pertama tapi jika mengingat ia kini memiliki seseorang yang begitu berharga juga bisa mengembalikan fungsi seksualnya secara normal maka kemungkinan sembuh total mencapai 80% lebih dari yang sebelumnya dan begitupun sebaliknya. Kalian tentu tahu bagaimana ke depannya kondisi tuan Rendra, dia juga sudah meminta saya menyiapkan dokumen DNR jika sewaktu – waktu kondisinya semakin memburuk”
Mereka yang mendengarkan dengan penuh perhatian nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh dokter Agus.
“Simpan, simpan untukmu sendiri semua itu Agus. Dia tidak boleh menandatangani berkas DNR dia anakku dan aku walinya jadi aku berhak membatalkan itu semua” ujar Ratna yang kini air matanya sudah luruh di kedua pipinya.
“Mengapa kalian menyembunyikan ini semua dariku” keempat orang yang sedari tadi hanyut dalam kesedihan, sangat terkejut dan tidak menyadari kedatangan seorang wanita yang sudah mendengarkan percakapan mereka dari awal kedatangan Agus yang hanya berbeda semenit dengan kedatangan Nana.