Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 69



“Ohya sayang bagaimana dengan tawaranku waktu itu? Aku tak mau jika nanti kamu di kerumuni oleh wartawan seperti tadi pagi” tutur Rendra yang kini membelai lembut rambut kekasihnya dan kembali di tempat duduknya.


“Jadi yang tadi pagi itu wartawan, kenapa bisa banyak wartawan di rumahku? Bagaimana juga kamu bisa mempersiapkan semua pesta tadi pagi dan malam ini?” tanya Shita memandang lekat manik mata kekasihnya.


“Kau tak mengetahui sebab wartawan itu ada di rumahmu? Ah itu, ya aku menyuruh banyak orang untuk mempersiapkannya. Aku ingin melakukan yang terbaik untukmu” ucap Rendra sedikit terkejut kemudian memegang tangan Shita. “Maukah kamu nyonya muda keluarga Jaya berdansa denganku malam ini?” ajak Rendra mengulurkan tangannya di hadapan Shita ketika mendengar alunan musik dihidupkan.


“Aku bukan nyonya muda keluarga Jaya tuan, masih calon.” tegas Shita.


“Hanya menunggu waktu untuk merubah statusmu itu, apa kau meragukanku? Aku bisa membuatmu menjadi milikku hanya dengan beberapa menit” ucap Rendra yang kini sedang memeluk Shita yang hanya dibalas gelengan kepala oleh kekasihnya.


“Aku hanya ingin mengucap janji pernikahan kita dengan pesta sederhana setelah merasakan bagaimana rasanya di pingit dan tak boleh di pertemukan selama beberapa hari”


“Kau akan merasakannya nanti, bagaimana jika kita menikah setelah aku melakukan perjalanan bisnis nanti?” Rendra mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Shita beberapa kali.


“Itu terlalu cepat tuan muda, kita harus mencari hari baik untuk menikah bukan?” ucap Shita menengadahkan kepalanya menatap wajah kekasihnya.


“Kau benar, tapi aku sudah tak sabar ingin memilikimu dan bersama denganmu. Tapi karena kamu sangat pintar dan aku sangat menyayangimu maka aku akan menuruti apa kata – katamu”


“Tentu aku wanita yang pintar tuan sampai aku bisa mendapatkanmu”


“Aku yang pertama kali luluh terhadap pesonamu sayang” Rendra kian mengeratkan pelukannya pada Shita.


“Terserah kamu saja tuan yang jelas aku hanya ingin ada kamu dan aku saja”


Mereka berdua hanyut dalam irama musik yang terdengar sepanjang aktifitas yang mereka lakukan.


“Sayang, kau belum menjawab pertanyaanku tadi” tanya Rendra perlahan.


“Bagaimana mungkin aku menjadi wanita yang serakah setelah aku mendapat semuanya yang aku inginkan sekarang kamu memintaku untuk tinggal di apartemenmu itu” sahut Shita menengadahkan kepalanya menghadap laki – laki jangkung yang masih saja bertahan memeluknya.


“Sudah aku katakan, apa yang aku miliki adalah milikmu sebentar lagi. Jadi dimana pun kamu dan apapun keinginanmu kamu boleh mengatakannya padaku, maka aku akan berusaha untuk mengabulkannya mmm” tutur Rendra dengan senyum manisnya.


“Orang tuamu mengatakan jika besok mereka akan kembali, apakah kau ingin mengantar mereka?” tambah Rendra yang seketika itu membuat wanita yang tengah memeluknya menangis lagi.


‘Apakah laki – laki ini adalah jawaban atas segala doaku padamu dulu Hyang Widhi? Jika memang benar maka hari – hariku takkan begitu berat aku jalani karena ada teman untukku berbagi semua hal’


“Tentu aku akan menyempatkan diri mengantar kedua orang tuaku itu ”


“Maka kau harus menurut padaku jadi aku anggap jawabanmu atas pertanyaanku tadi adalah ya. kau tahu setelah aku memilikimu aku yang akan mendominasimu tapi aku tidak akan membuatmu meninggalkan dunia yang kamu senangi namun kamu harus tetap menjaga dirimu, ya sayang?” ucap Rendra.


“Memilikiku? Bukankah kau sudah memilikiku sekarang?” tanya Shita dengan Ragu.


“Tepat saat kita menikah kamu akan menjadi milikku seutuhnya, sekarang kita masih bertunangan jadi keluargamu masih berhak atas dirimu jadi bagaimana pun itu aku takkan melarang atau membatasi waktumu bersama mereka sekarang atau nanti setelah kita menikah.” sahut Rendra merangkup wajah Shita dan mencium kening kekasihnya itu.


“Benarkah kamu tidak akan melarang dunia yang sekarang aku jalani setelah kita menikah?” tanya Shita lagi yang sudah melerai pelukannya pada Rendra.


“Tidak sayang Tapi ingatlah batasannya jika istri terus – terusan berada dirumah hatinya akan hampa, kehilangan teman kehilangan kebiasaan mereka itu hanya akan membuat istriku stress nantinya. Kamu seorang dokter yang pasti mengerti tentang kondisi itu walaupun banyak yang mengatakan jika lebih baik istri berada dirumah tapi aku tak ingin menjadikan keluarga orang lain cerminan untuk keluarga kita ke depannya. Aku masih bisa mengurus semuanya jadi kamu bisa fokus dengan hal – hal yang menyenangkanmu lain halnya jika kita sudah punya anak, kita yang akan mengurusnya berdua” jelas Rendra yang kini membuat pipi Shita merona hanya dengan mendengar kata ‘anak’ yang diucapkan kekasihnya.


Semakin lama wajah Shita semakin dekat ke wajah Rendra, mereka hanyut dalam ciuman yang dimulai oleh Shita hingga tak sadar dengan hawa yang menyelimuti tubuh mereka.


---


Ting


“Begitu terang sinar matahari pagi ini sama seperti dirimu yang menyinari kehidupanku yang kelam selama ini. Berdandanlah yang cantik tapi jangan cantik – cantik amat aku tak mau membaginya pada orang lain jika itu berhubungan dengan cantikmu, aku akan segera menjemputmu”


‘Selalu saja bisa membuatku mengawali pagi dengan senyum, terima kasih sayang” lirih Shita yang tengah bersiap – siap untuk pergi bekerja


Ting tong


“Selamat pagi calon istriku, kamu sangat cantik” sapa Rendra yang sudah berada di depan pintu kamar hotel. “Hari ini aku ada meeting dengan klien, doakan agar aku bisa memenangkan tender ini yang nantinya perusahaanku bisa lebih gampang lagi masuk pangsa pasar Asia.” tambah Rendra tanpa jeda walaupun sebenarnya perusahaan Rendra sudah mencapai titik puncak jayanya di Asia Tenggara kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya.


Shita menghela nafas, “Morning juga sayang. Aku akan selalu mendoakanmu. Ayo kita berangkat sekarang agar kamu tidak terlambat.” Ajak Shita mulai menutup pintu kamar hotel dan berjalan beriringan dengan Rendra menuju mobilnya.


“Ibu Nayna dan bapak dimana?” tanya Rendra saat mereka sudah berada dalam mobil.


“Mereka sedang bersiap untuk sarapan pagi juga untuk keberangkatan mereka sayang”


“Aku ingin berpamitan pada mereka karena aku telah membawa anak gadisnya” kata Rendra.


Shita hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


“Sebentar, Ibu Bapak Nayna kemarilah. Ada yang ingin bertemu dengan kalian” teriak Shita dengan kencang.


Tak lama kemudian 2 orang wanita beda usia dan satu laki – laki paruh baya datang ke arah teriakan Shita.


“Ada apa nak? Eh ada nak Rendra, tidak masuk dulu?” tanya Widya.


“Tidak ibu, Rendra harus segera berangkat ada meeting pagi ini. Rendra cuma mau pamit dengan kalian” ucap Rendra yang kini sudah menyalami tangan kedua orang tua Shita dan mengusap kepala Nayna.


“Kau sudah sarapan? Hati – hati ya nak, jaga diri kalian” sahut Fendra tersenyum dengan manisnya.


“Sudah pak, kami pamit ya pak. Ayo sayang kita berangkat”


Kedua orang tua Shita melihat tingkah kedua manusia itu hanya bisa tersenyum dengan mata berbinar, berharap kebahagiaan mereka sampai mereka terpisahkan oleh takdir dan maut.


Dalam perjalanan mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan pagi ini, sampai akhirnya mobil itu berhenti karena lampu lalu lintas terlihat berwarna merah.


“Ohya Shita, orang tuamu akan pulang dengan jet pribadiku aku sudah menyuruh Rian menyiapkan semuanya. Nanti kita antar mereka sama – sama ya?” ujar Rendra pada wanita yang sedari tadi ia pegang tangannya seolah akan berlari jauh darinya.


“Kamu yang terbaik” Ucap Shita dengan senyum manisnya. Mobil yang ditumpangi mereka sudah bergerak lagi.


“Nanti aku jemput kamu, jangan menolak” Ucap Rendra tak ingin dibantah


“Iya sayang.”


Tak berapa lama Shita dan Rendra sudah sampai di JMC. Andi yang melihat Shita keluar bersama Rendra dari mobil silver yang mereka tumpangi hanya tersenyum melihat kenyataan bahwa wanita itu jauh lebih bahagia dengan laki – laki pilihannya setelah mendengar semua yang dialami wanita itu. Tanpa pikir panjang, Andi menghampiri Shita dengan niat ia juga ingin berteman dengan laki – laki pilihannya.


“Hai dokter Shita, Hai juga pak Narendra.” Sapa Andi dengan ramah.


“Oh hai Andi, aku sudah tahu semuanya dari Shita. Aku minta tolong bantu Shita ke depannya. Ku dengar kau  dokter yang hebat. Terima kasih sudah mau berteman dengan wanitaku. Ku harap kau tulus dan juga jaga tatapanmu itu.” Ucap Rendra tegas dengan tatapan mata tajamnya.


Andi bergidik ngeri melihat tunangan Shita.


“Dengan senang hati pak Narendra. Aku dan dia hanya sahabat, aku juga sudah mengubur perasaanku padanya jadi anda tak perlu khawatir dengan keberadaanku. Bukankah kalian sudah bertunangan berarti sebentar lagi akan menikah bukan” Ucap enteng Andi dengan senyum lebarnya.


“Kau pergilah, ini sudah terlambat dari waktumu. Nanti kita lanjutkan lagi obrolannya. Aku masuk dulu ya sayang. Kamu hati – hati dijalan.” Jelas Shita pada laki – laki itu dan tersenyum sangat manis hingga membuat jantung kedua pria didepannya serasa ingin meledak.


“Hei kau jangan ikut melihatnya, kamu juga Shita jangan tersenyum seperti itu didepan dia. Senyummu hanya untukku, mengerti? Aku pergi.” Ketus Rendra dengan nada cemburunya.


“Baiklah tuan posesif.” Jawab Shita pada Rendra yang kini telah berada dalam mobil dan melambaikan tangan padanya.