Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 48



Tiba jam makan siang, Nisa dengan hati – hati membawa makanan itu memasuki lift khusus presdir. Sesampainya di depan ruang presdir entah mengapa perasaannya sedikit sedih seperti ada sesuatu yang sudah lama tertutup rapat diingatannya. Sekelebat bayangan tentang masa lalu menghantui pikirannya namun segera bisa ia tepis dengan baik.


Tok tok tok


“Masuk”


Ceklek


“Maaf pak, menganggu pekerjaan bapak. Saya membawakan makan siang sesuai permintaan bapak. Silakan dicicipi pak.” Ucap Nisa yang kini sudah meletakkan diatas meja sofa dengan beberapa piring dengan makanan diatasnya dan sepiring nasi.


Wisnu bediri dari tempat duduknya dan melangkah menuju sofa tempat dimana wanita itu berdiri.


“Kamu duduk disamping saya, makan bersama saya.” Seketika perasaan wanita itu menghangat kala berada di dekat laki – laki itu.


“Tapi saya tidak pantas pak, silakan bapak menikmatinya.”


“Tidak ada bantahan untukku NISA” ucap Wisnu dengan penekanan dikata akhirnya.


Jantung Nisa berdegup kencang saat Wisnu mengeja namanya yang ketika itu suara laki – laki itu terdengar mengusik telinganya. Nisa melangkah dengan hati – hati dan duduk disamping Wisnu.


Laki – laki itu begitu terkesiap kala melihat tutup makanan yang telah dibuka oleh Nisa.


“Ingatkah kamu denganku Nisa?”


Ayam pedas manis dan telur gulung kecap adalah makanan kesukaan Wisnu sejak kecil dan kadang ia menikmati makanan itu bersama kekasih kecilnya. Wisnu begitu yakin jika wanita yang berada disampingnya kini adalah kekasih masa kecilnya, tapi mengapa wanita itu tidak mengingatnya sama sekali?


Setelah selesai makan siang, Wisnu memanggil asistennya Jack untuk menerima Nisa sebagai asisten pribadi Wisnu.


“Jack, ke ruanganku sebentar. Nisa kamu boleh pulang. Pengumuman akan diberitahukan langsung oleh sekretarisku.” Ucap Wisnu tanpa menoleh sedikitpun ke hadapan Nisa. Ia takut tak bisa mengontrol diri jika memandang lagi wajah wanita itu.


“Baik saya permisi.”


Tok tok tok


“Masuk”


Jack dan Nisa berpapasan saat berada dipintu masuk. Jack begitu lekat memandang wanita yang saling bersebrangan dengannya.


“Ada apa tuan?” tanya Jack setelah menundukkan kepala.


“Terima wanita itu.” Jawab dingin Wisnu yang kemudian diangguki oleh asistennya.


“Apa dia wanita itu? Kau bisa berbicara padaku sebagai teman”


“Apa perlu aku menjelaskannya lagi?


“Baiklah, semoga wanita itu benar kekasih kecilmu Wisnu. Aku hanya tak ingin kamu seperti ini terus. Tapi aku lebih tak ingin jika kamu terjatuh dalam kesalahan” Ucap Jack yang kini membalikkan badan menuju pintu keluar.


Tanpa banyak bertanya Jack menuruti perintah bosnya. Beberapa hari kemudian Nisa yang mendengar berita itu berteriak kegirangan karena sudah mendapatkan pekerjaan setelah hampir 1 bulan menganggur. Nisa bertekad agar ia bisa lama bekerja diperusahaan itu sampai ia bisa mengumpulkan uang untuk mencari keberadaan kekasih kecilnya.


---


Hari – hari berlalu tak terasa sudah 2 bulan kedekatan Rendra dengan Shita. Shita yang awalnya risih dan dingin pada Rendra perlahan – lahan menerima Rendra dan membiarkan laki – laki itu mendekatinya secara terang – terangan. Perhatian dan apa yang dilakukan Rendra padanya membuat hati Shita melembut kembali. Bahkan Shita dalam kesehariannya yang jarang tersenyum bersama orang lain selain sahabat dan keluarga, kini bisa tersenyum bersama Rendra.


Hari ini Rendra akan mengajak Shita ke taman hiburan. Rendra ingin memenuhi kenangan wanita itu dengan hal yang manis, karena hal yang manis bisa membuat tersenyum. Laki – laki itu sekarang sudah berada di depan rumah Shita. Wanita itu sudah bersiap karena mendapat panggilan dari Rendra yang akan mengajaknya keluar, tak berlama - lama langsung keluar dari rumah menuju tempat Rendra menunggunya.


“Hai princess. Kau selalu cantik dan memikatku. Silakan masuk.” Ucap Rendra membuka pintu mobil dan tersenyum.


“Terima kasih tuan.”


“Kita mau kemana tuan muda Jaya?” tanya Shita sedikit melirik ke arah laki – laki itu.


“Kita ke tempat yang bisa membuatmu senang percaya padaku.” Jawabnya singkat.


Sesampainya disana, Shita melongo seperti anak kecil yang baru kali ini diajak ke taman hiburan.


“Apa ini kali pertamamu ke taman Hiburan?” tanya Rendra yang hanya diangguki oleh Shita.


“Kalau begitu kau boleh bermain sepuasnya.” Tambah Rendra lagi.


“Benarkah? Aku boleh bermain sepuasnya? Yeyyy “ teriak Shita yang tanpa sadar memeluk lengan Rendra. Rendra sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shita. Ia terus tersenyum dengan lebarnya kala ia menemani Shita menikmati semua wahana yang ada ditaman Hiburan.


“Kau lelah? Tunggulah sebentar disini aku segera kembali.” Tak lama kemudia Rendra datang membawa kantung belanja.


“Apa ini?” tanya Shita yang menerima kantung belanja ditangan Rendra.


“Bukalah”


Mata Shita berbinar – binar melihat isi kantung.


“Yess es krim dan gulali. Makanan legend taman hiburan. Kau tadi begitu lama tapi makasi Rendra, darimana kau mendapatkannya?” tanya Shita yang kini membuka es krimnya.


“Aku membuatnya sendiri, lihatlah bentuknya berbeda dari punya yang lain” jawab Rendra dengan penuh penekanan.


Rendra membelikan Shita es krim dan gulali. Shita yang merasa tenaganya sudah kembali kini mengajaknya Rendra ke stan pemeran ditaman hiburan. Shita berlarian ke beberapa stand an mencoba beberapa hiasan kepala.


“Rendra, ayo kita pakai itu” ajak Shita menunjuk hiasan kepala kucing


“Kau mengujiku? Mengapa harus hiasan sialan itu sih, kita terlalu tua untuk memakainya” jawab Rendra melangkah pergi dari sisi Shita. Namun beberapa langkah berikutnya Rendra berhenti ketika menyadari jika wanita itu tak mengikutinya.


Rendra menghela nafasnya kemudian berbalik dan melihat wanita menatapnya dengan dingin


‘Gue salah lagi Tuhan, ya ampun harus segininya senengin hati wanita. Ya sudahlah’ gumam Rendra menghela nafas sembari mendekat ke tempat Shita berdiri.


“Pilih salah satu untukku” singkat Rendra.


“Jika kau tak suka, tak usah memaksa. Kita pergi saja” terang Shita yang melenggang pergi dari hadapannya.


Dengan cepat Rendra mengambil hiasan kepala itu kemudian membayar dan berlari mengejar Shita.


“Huh, ini pakailah. Kau lihat aku sudah memakainya bukan. Ayolah Shita, jangan begini.” Ucap Rendra dengan memelas.


Melihat ekspresi Rendra yang membuat wanita itu begitu sekuat tenaga menahan tawanya kemudian mengambil hiasan kepala dan memakainya sama seperti Rendra.


Tak ingin kehilangan moment, Rendra mengajak Shita berfoto bersama menggunkan hiasan kepala bentuk kucing. Rendra melakukan hal – hal kecil dan manis yang tak pernah ia lakukan seumur hidup sesuai dengan saran yang diberikan oleh asistennya dan hal itu membuat Shita begitu bahagia.


“Shita ini sudah mau sore. Maukah kau ikut bersamaku?” tanya Rendra pada Shita yang sedang duduk di bangku taman hiburan.


“Kita mau kemana lagi?”


“Nanti kamu akan mengetahuinya. Ayo kita harus cepat agar tak sampai malam.” ucap Rendra mengulurkan tangannya dan disambut oleh Shita. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Rendra.


“Kita mau kemana Rendra? Bukankah sebelumnya kau bilang jika hari ini adalah hari untukku mengapa kau yang mengatur semuanya?” cecar Shita yang kini berada didalam mobil yang dilajukan oleh Rendra.


“Ini kejutan untukmu Shita” ucap Rendra menoleh ke arah Shita dan tersenyum.