Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 31



Dari jauh Nana melihat sosok yang sangat ia kenal, ia pun belari menemui laki – laki berdiri tegak di koridor lobby rumah sakit yang tak lain adalah kakaknya Rendra.


“Kakak, untuk apa kakak kemari? Apakah ingin menjemputku?” Tanya Nana sambil bergelayut manja dilengan Rendra.


Rendra yang tak melihat adiknya datang dari arah belakang dan memeluk erat dari samping membuat Rendra terkejut. Ia dikejutkan lagi dengan kehadiran sosok wanita yang ia tunggu sejak tadi. Dengan cepat Rendra mengembalikan ekspresi wajahnya dan tersenyum ke arah wanita yang tak lain adalah Shita.


“Eh iyaa adik nakal. Kakak menjemputmu kemari. Ayo kita pulang bersama.” ucap Rendra dengan senyum manisnya.


“Ahh kakak mengapa tiba – tiba datang seperti ini tanpa menghubungiku sebelumnya? Aku akan makan malam dengan sahabatku. Ahh ya Shita ini kakakku yang pertama namanya kak Rendra, kak Rendra ini temanku


Shita.” ucap Nana memperkenalkan kedua insan yang tengah sibuk sendiri dengan pikiran masing – masing.


“Ahh yaa perkenalkan aku Rendra. Kita bertemu lagi dokter.” ucap Rendra menjulurkan tangannya ke arah Shita.


“Aku Shita” jawab Shita dingin.


Mendengar perkataan Rendra, Nana pun melihat gelagat yang berbeda dengan kakaknya. Kakaknya tak pernah mau menjemputnya jika bukan  Nana yang meminta. Nana yang peka dengan situasinya langsung mengajak keduanya untuk ikut makan malam bersama. Shita yang sedari tadi hanya diam bermaksud untuk tak mengganggu perbincangan kedua kakak beradik tersebut.


“Nana aku pulang sekarang ya. Traktirannya bisa nanti kan. Kau makan berdua saja dengan kakakmu.” ucap Shita menunggu jawaban Nana. Rendra yang mendengar ucapan Shita pun seketika wajahnya berubah sedih.


“Jangan Shita. Aku sudah janji akan mengajakmu makan malam, karena sekarang kakakku ada disini jadi kakakku yang akan mentraktir kita. Benar kan kak?” tanya Nana yang menatap Shita mengalihkan pandangannya ke arah Rendra.


“Ahhh i-iyaa aku yang akan membayarkan makanan kalian. Jadi terserah kalian mau makan apa.” jawab Rendra dengan cepat.


Mendengar ucapan kedua kakak beradik itu Shita pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Baiklah. Aku akan ikut kalian.” ucap Shita yang sudah berjalan mendahului kakak beradik itu.


Nana berlari dengan cepat ke arah mobil dan melajukannya tanpa Shita. Dari kejauhan Nana sedikit berteriak agar didengar oleh Shita dan Rendra.


“Shita ikut dengan kakakku, aku pergi ke supermarket sebentar membeli keperluanku. Kau pergilah ke restoran 125 dan tunggu aku disana dengan kak Rendra. Kak Rendra jaga baik – baik temanku. Jika ia lecet sedikit saja kakak tanggung akibatnya.” ucap Nana berlalu dengan membawa mobilnya.


Shita dan Rendra pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nana. Rendra tak tahu harus berbuat apa hingga membuat dirinya salah tingkah. Dadanya kembali berdesir, detak jantungnya 10 kali lebih cepat sama seperti tadi siang saat berdekatan dengan Shita. Rendra tak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya dengan Tara ataupun dengan wanita lain yang berusaha mendekatinya. Namun lain halnya saat ia berdekatan dengan Shita, hanya dengan menyebut namanya saja sudah membuat jantungnya berpacu dengan cepat.


“Bagaimana jika kita mempersingkat waktu kita ke restoran yang disebutkan adikku tadi? Tak enak rasanya jika kita membuatnya menunggu begitu lama. Bagaimana?” Rendra mulai pembicaraan walau ia merasa gugup setengah mati di samping Shita.


“iya” jawab Shita dingin.


Mendengar jawaban Shita seperti itu, Rendra pun membukakan pintu tempat duduk disamping kemudi. Shita tak mempermasalahkan dan membiarkan apa yang diperbuat Rendra sesuka hatinya. Setelah Shita masuk dan menutup pintu, Rendra dengan setengah berlari masuk ke kursi kemudi.


Dengan cepat Rendra menyalakan mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Shita mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang ia lewati sedangkan Rendra fokus dengan kemudinya dengan jantung yang berpacu dengan cepat dan keringat dingin timbul di kedua tangan Rendra seiring dengan berpacu cepatnya jantung Rendra.


Dering ponsel Rendra memecah keheningan yang terjadi dalam mobil.


Separuh langkahku saat ini berjalan tanpa terhenti, Hidupku bagaikan keringnya dunia tandus tak ada cinta…


“Halo Niko”


“…..”


“…..”


“Makan malam dengan adikku dan temannya, namun Nana sudah mendahuluiku”


“…..”


“Aku tak suka basa basi, cepat katakan”


“…..”


“Baiklah sampai jumpa”


Rendra menutup telepon dari Niko sesekali ia melirik ke arah wanita cantik yang tetap tenang sedari awal masuk ke mobilnya.


30 menit kemudian mereka sudah sampai direstoran yang di maksud Nana. Mereka pun masuk dan mencari dimana keberadaan wanita yang sudah meninggalkan mereka berdua diparkiran Rumah Sakit.


“Kakak, Shita disini.” Nana yang melihat kakak dan sahabatnya kebingungan seketika berteriak berharap mereka akan menemukan keberadaannya.


Rendra dan Shita yang mendengarnya menoleh ke arah wanita yang sudah duduk di meja yang berada dipojok restoran.


“Maaf ya kak, Shita aku meninggalkan kalian. Aku tadi mampir ke supermarket untuk membeli sesuatu.” Kilah Nana yang sebenarnya berniat agar Rendra bisa satu mobil dengan Shita.


Tak lama seorang laki – laki menggunakan pakaian casual yang menambah daya tariknya datang menghampiri mereka. Nana pun terkesiap melihat Niko yang tiba – tiba sudah duduk disampingnya. Kembali jantung Nana bedegub dengan kencang melihat sosok yang selalu ia rindukan namun selalu ia hindari.


“Hai Na, hai Rendra dan ini siapa Na?” tanya Niko dengan suara baritonnya.


“Ini Shita teman adek gue” sebelum Shita membuka mulutnya, Rendra terlebih dulu menjawab pertanyaan Niko.


“Kenalin gue Niko Kusuma, panggil Niko aja. Gue sahabat Rendra dari masih sekolah” ucap Niko sembari menjulurkan tangannya ke hadapan Shita.


Rendra yang melihat pun reflek memukul tangan Niko dengan maksud agar Niko berhenti menjulurkan tangannya.


“Sakit Ndra. Lu kira tangan gue apaan sih. Gue mau kenalan juga. Lu terlalu berlebihan, biasanya lu gak pernah gini Ndra.”


Mendengar ocehan Niko, Rendra hanya menatap tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan. Sementara Shita dan Nana hanya memperhatikan interaksi mereka berdua.


“Udahh pesen makan gih daripada gini.”


Setelah memesan makanan, beberapa menit kemudian datanglah makanan yang sudah mereka pesan. Hanya ada keheningan selama mereka menyantap makanan masing – masing. Sesekali mata Nana melirik Rendra yang mencuri padang ke arah Shita yang masih asyik dengan makanannya sendiri. Niko pun melakukan hal yang sama. Ia mencuri pandang ke arah Nana namun sesekali mata mereka saling bertatap. Dan itu membuat keduanya salah tingkah.


“Eh bentar ya guys, gue ke toilet dulu ya” ucap Niko pada semua orang yang ada dimeja makan. Dengan sengaja Niko mengatakan ia pergi dari sana bermaksud ingin naik ke atas panggung memainkan gitar yang ia lihat.