Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 62



Rendra meneguk salivanya dengan kasar. Dagdigdug jantung Rendra berpacu dengan cepat melihat wanita yang baru keluar dari kamarnya begitu cantik dengan apa yang ia kenakan. Dress biru muda yang melekat dan pas ditubuhnya serasi dengan kulitnya yang putih menambah kecantikan dan kesan anggun wanita itu.


Rambut berantakan digelung ke atas dengan anak rambut yang masih tersisa di leher putihnya menambah kesan sexy kekasihnya. Rendra menelan ludah yang tercekat dilehernya dengan kasar.


Dengan cepat ia menetralkan perasaannya karena takut jika wanita yang kini berada dihadapannya melihat tatapan yang penuh dengan oleh hasrat. Sebisa mungkin Rendra menahan hasratnya sedari tadi. Sebagai laki – laki normal yang melihat keadaan wanita yang ia cintai tampak sexy seperti itu membuat darahnya mendesir hingga bulu kuduknya merinding, namun ia sadar tak ingin menyakiti wanita itu.


“Kau cantik. Ah i-iya Shita, aku akan mandi terlebih dahulu bolehkan? Sepertinya tubuhku bau asap. Yang wanita cantik masak laki – lakinya begini, apa kata dunia? Haha, nikmati dulu camilannya ya sayang, sudah aku siapkan diatas meja.” Ucap Rendra dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin mengontrol ledakan hasrat di dalam dirinya.


Dengan cepat Rendra berlarian ke kamarnya dan menuju kamar mandi  untuk membersihkan diri, kata – kata ‘ingin mandi’ itu terlontar begitu saja karena Rendra tengah berusaha menutupi hasratnya. Rendra bergegas menanggalkan pakaiannya dan mengguyur kepala hingga badan dengan air dingin yang mampu mengembalikan perasaan yang tak karuan sejak melihat Shita keluar dari kamarnya.


20 menit kemudian Rendra menyelesaikan ritual mandinya “hanya mandi”. Dengan cepat laki – laki mengambil baju di walk in closet dan keluar mencari keberadaan wanitanya yang ia tinggalkan sejak tadi. Rendra menemukan Shita yang sedang tertawa menonton acara di sebuah channel tv dengan camilan ditangan kirinya.


Rendra mendekati Shita dengan perlahan sengaja untuk mengejutkan wanita itu.


“Duarrr”


“Eh cicak nyolong” spontan Shita berteriak.


Reflek Shita melempar camilannya hingga berserakan dilantai dan naik di atas sofa tempat wanita itu duduk. Rendra begitu kaget mendengar kata yang keluar dari bibir Shita dan tertawa melihat reaksi lucu dari wanitanya.


“Hahaha, mana ada cicak nyolong. Apanya yang diambil sayang?” tambah masih dengan kekehannya.


“Noh nyolong palamu. Kenapa sih kamu suka sekali mengangetkanku? Ya ampun Hyang Widhi. Bisa mati jantungan aku kalau begini terus.” Ucap Shita kesal yang kemudian turun dari sofa menuju dapur untuk mengambil minuman. Sadar dengan apa yang dilakukan wanitanya, ia pun menyusuli Shita yang berjalan ke arah dapur dan memeluk pinggang ramping wanita itu.


Rendra yang memeluk Shita kini bisa merasakan aroma wangi tubuh wanitanya. Shita pun merasakan hal demikian, wangi maskulin khas laki – lakinya begitu menyengat di hidung Shita.


“Aku minta maaf sayang, aku hanya ingin bercanda denganmu, aku takkan mengulanginya lagi ya?” Ucap Rendra yang kini melepaskan gelungan rambut Shita. “Kau begitu ingin menggodaku sayang, mmm? Jangan pernah menggelung lagi rambutmu ketika hanya berdua denganku sayang, kamu terlihat sangat sexy dan begitu membuatku bergairah.” ucap lirih Rendra tepat ditelinga Shita yang seketika itu membuat kembali rona merah dipipinya.


Blussshh


“Aku akan menahannya sebisa mungkin sayang, aku tak akan menyakitimu seperti laki – laki lain. Nah begini lebih cantik dibanding seperti tadi. Ayo kita makan. Aku lapar.”  Rendra membalikkan tubuh Shita dan merapikan rambut kekasihnya kemudian berjalan meninggalkan wanita yang masih berdiri mematung mendengar perkataan laki – lakinya.


“Mengapa kau hanya diam saja? Tak ingin duduk atau aku harus menggendongmu kemari?” tanya Rendra yang sudah menarik kursi di depannya untuk Shita.


“Ckk, Ti-tiidak usah Rendra aku bisa jalan ke sana sendiri” sahut Shita cepat dan duduk di kursi itu. Rendra hanya bisa menahan senyum dan melipat ke dalam bibirnya melihat tingkah kekasihnya.


Shita dan Rendra mulai makan makanan yang berada diatas meja. ‘Begitu enak dan pas dimulutku, tak ada yang berubah dari masakannya sejak waktu itu. Sempurna sekali laki – laki ini. Aku hanya berharap setelah ini takkan ada perpisahan diantara kita. Tuhan yang aku mau dia adalah jodohku.’ gumam Shita hanyut dalam lamunannya.


“Ehmm, sudah puas memandangi kekasihmu yang tampan ini? Kok makanannya gak dimakan, gak enak masakanku ya?” tanya Rendra disela – sela makannya hingga membuat Shita tersadar dari lamunannya itu.


“Ah, bukan seperti itu. Masakannya enak, aku suka. Kau jangan terlalu percaya diri tuan. Pasti kamu sering masak untuk mantanmu dulu.” Ucap Shita yang kini memakan makanan yang ada dipiringnya.


“Kamu yang pertama saat di kontrakanmu dulu”


‘Mengapa dia malah tersenyum sih’ gumamku kesal.


Rendra tersenyum dalam kepanikan melihat Shita terbatuk karena ucapannya. Laki – laki itu menjulurkan tangannya yang menggenggam segelas air untuk Shita.


“Kau wanita pertama yang aku buatkan makanan, yang pertama menginjakkan kaki di apartemenku, dan kau wanita pertama yang mampu meluluh lantahkan hatiku. Jadi ingatlah itu Shita. Bagaimana jika kita membahas soal dokter Andi?” ujar Rendra dengan setiap penekanan pada kalimatnya saat keadaan Shita dirasa membaik.


“Benarkah? Iya, aku akan mengingatnya tuan Narendra. Aku dan dia sepakat untuk menjadi sahabat. Awalnya dia mengatakan perasaannya, dan aku mengatakan jika aku tak bisa bersama dengannya.” Ucap Shita dengan santainya dan kembali memasukkan makanannya dalam mulut.


“Apakah dia memaksa dan ada melukaimu?” tanya Rendra lagi dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.


“Tidak, aku sudah tegaskan aku tak nyaman dengan dia dan hanya menganggap dia teman sampai kapanpun. Aku sudah nyaman dengan laki – laki lain dan it-


Senyum Rendra mengembang dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan wanita didepannya dan secepat kilat mencium kening Shita yang sedari tadi wanita itu menunduk sibuk dengan makanannya.


“Kamu itu ya, aku sedang makan tapi kamu main sosor aja.” Ketus Shita melihat tindakan Rendra namun wajahnya terus di tekuk sejak tadi. Rendra nampak bingung namun ia tak memperlihatkannya.


“Aku hanya sangat senang. Baiklah kau boleh berteman dengannya tapi ingat tidak pernah lebih dari teman. Aku percayakan itu padamu sayang.” Ucap Rendra yang meletakkan sendok makan dan meraih gelas minum miliknya.


“Mengapa kau begitu posesif Rendra? Aku hanya ingin berteman dengannya. Dan kau tahu bagaimana hatiku. Ah ya, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” ucap Shita kini menatap Rendra. ‘Apa aku tanyakan saja padanya ya?” ucapnya dalam hati.


“Karena aku begitu mencintaimu sayang, aku tak ingin kehilanganmu. Kau ingin bertanya apa?” tanya Rendra yang kini meletakkan sendoknya dan fokus pada Shita.


“Umm, siapa wanita pemilik baju yang berada dikamarmu dan yang aku kenakan ini?” dengan secuil keberanian dihatinya, Shita menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya dengan tangan yang tak berhenti mengaduk – aduk sisa makanan dipiringnya.


Akhirnya terjawab sudah kebingungan yang dialami Rendra sedari tadi, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir


kekasihnya. Rendra tersenyum penuh makna lalu berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke arah Shita duduk.


Dengan tangan yang menyangga tubuhnya dari belakang agar tak mendesak tubuh kekasihnya, ia mendekatkan bibir tepat di telinga Shita “Itu semua milikmu calon istriku. Jika kau tak keberatan untuk hidup berdua denganku. Bagaimana?”


Ucapan Rendra terlontar begitu saja disertai hembusan nafasnya yang menerpa telinga Shita hingga membuat bulu kuduknya merinding. Menyadari hal itu Rendra menarik kembali kepalanya.


“Kamu sudah selesai sayang? Aku antarkan kamu pulang sekarang. Besok jadwalmu jaga malam bukan?” tanya Rendra berjalan memutari meja makan, mengambil piring bekas makannya dan membawanya ke wastafel.


Shita menahan gugup setengah mati dengan apa yang dilakukan Rendra tadi padanya. “I-iya aku a-aku memiliki jadwal jaga malam besok. Mungkin juga ada banyak operasi, Kau tinggal sendiri disini?” tanya Shita gugup dan berusaha menetralkan degub jantungnya yang kemudian membantu membawakan piring kotor ke wastafel.


“Iya aku tinggal sendiri karena itu aku jarang kesini. Tapi ada pembantu yang aku suruh membersihkan seminggu 2 kali. Kamu diam saja sayang. Aku bisa melakukannya sendiri.” Ucap Rendra yang kini menggendong Shita dan mendudukkan wanita itu di dapur lalu mengambil piring kotor yang sedari tadi di pegangnya. Shita yang tak terbiasa dengan hal itu langsung turun dan menjauh dari Rendra.


“Kau selalu seperti ini tak bisa menurut sedikitpun padaku. Kau mau membuatku marah?” tanya Rendra yang kini sudah berada dihadapan Shita.


Shita mundurkan langkahnya perlahan ketika Rendra berusaha melangkah mendekat dimana tempat ia berdiri.