
2 minggu setelah keberangkatan Rendra. Keadaan perusahaan aman dan terkendali atas tanggung jawab Hendra dan Asisten pribadi Rendra yaitu Rian.
Begitupun dengan keadaan dirumah sakit tidak ada yang berubah dari hiruk pikuk orang – orang yang datang untuk berobat.
Rendra dan mama nya selalu menyempatkan bertukar kabar dengan keluarga dan sahabatnya terutama asistennya untuk mengetahui perkembangan perusahaan yg sementara dipegang oleh papanya. Walaupun sudah dipegang oleh papanya namun ia ingin tahu perkembangan perusahaannya sendiri.
Siang itu di ruangan Shita
"Ta, nanti sore anterin aku ke mall dong. Aku mau beli baju dan kebutuhan yg lainnya. Kamu sudah tidak ada jam kerja kan setelah ini atau jangan - jangan kamu sudah ada janji dengan pacarmu itu?? " selidik wanita yang sedang
duduk di sofa yang tak lain adalah Nana sahabatnya sambil memainkan ponselnya yang sejak tadi berbalas pesan dengan seorang pria.
"Baiklah aku hanya akan mengantarmu. Kamu tahukan minggu depan aku akan pulang kampung.
Aku juga merasa sedikit kesal. Sudah 2 minggu ini Marvin tidak mengabariku. "ucap Shita jengkel.
"Ya elah gak usah sedih. Mari kita bersenang- senang nanti sore" ajak Nana dengan antusias. "Bagaimana jika minggu depan aku ikut bersamamu untuk pulang ke kampungmu? Aku ingin tahu Bali itu seperti apa. Karena aku belum pernah kesana sebelumnya" Ucap Nana berbohong yang sebenarnya dulu ia sering bolak balik Bali – Jakarta sebelum ia bekerja menjadi dokter spesialis anak. Keluarganya juga memiliki rumah di Bali karena kakek juga orang Bali dan menikah dengan wanita Amerika. Kedua orang tuanya pun lama tinggal di Bali
sebelum memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk meneruskan perusahaan peninggalan Kakek dan Rumah sakit yang dirintis oleh kakek dan ayahnya Hendra.
"Benarkah kamu akan menemaniku? Baiklah nanti akan aku ajak kamu jalan2 ke tempat indah
di tempatku" Jelas Shita dengan gembiranya karena tidak akan pulang kampung sendiri lagi.
Sore itu sesuai dengan kesepakatan kedua wanita cantik itu mereka pun ke mall yang
ada di daerah Jakarta Selatan dengan mengendarai mobil Nana.
sering kamu ceritakan itu dan membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tuamu" terang Nana setengah berlarian menggandeng tangan Shita telah memasuki kawasan mall.
"Tidak usah Nana, itu hanya akan merepotkanmu dan kita nantinya diperjalanan. Aku tahu gajimu sudah kamu bayarkan untuk membayar biaya sewa rumah dan cicilan mobilmu itu" Ucap Shita dengan lantangnya karena memang Nana mengatakan selama ia bekerja ia memakai uang gajinya untuk membayar uang sewa dan cicilan mobil yang sebenarnya pemberian ayahnya setelah lulus sarjana kedokteran sebelum mencari spesialisasi dan yang selalu Nana bawa setiap harinya untuk bekerja.
Nana terlihat sedikit terkejut mendengar penuturan Sahabatnya hanya tersenyum. Ternyata sahabatnya masih mengingat apa yang ia katakan walau itu hanya sebuah kebohongan untuk menutupi identitas dirinya. Dirumah sakit tempatnya bekerja pun ia pura-pura tidak kenal dengan kakaknya Dharma karena memang kesepakatan sebelum ia bekerja disana ia tidak akan membawa nama keluarga JAYA.
Nana hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Shita dan membeli keperluan yang dibutuhkan oleh Nana. Sampai pada satu outlet pakaian dalam tanpa sengaja Shita melihat seorang laki - laki yang sangat ia kenal sebelumnya.
"Mengapa dia ada di outlet pakaian dalam wanita? Apa yang ia lakukan disana? Mungkin dia
sedang menemani adik atau mamanya disana. Shitaa kamu harus positif thinking" gumam Shita dalam hati.
"Beiby, mengapa kamu melamun aja? Kamu menginginkan pakaian dalam yang ada di sana? Jika memang seperti itu mari kita masuk saja" Nana yang sudah siap menyeret tangan Shita untuk masuk ke dalam outlet tersebut berhenti setelah mendengar jawaban sahabatnya.
"Bu-ukan seperti itu Nana. Aku hanya tidak sengaja melihat seseorang yang aku kenal didalam
sana." cegah Shita pada Nana yang sudah siap menyeretnya masuk kesana.
Dear Readers terkece
Terima kasih sudah membaca novelku ...
Jangan lupa kritik dan sarannya..
Ayo vote dan rate juga ya.. terima kasih